
"Maksudku mau gendong dia terus bawa ke rumah sakit, Dek, masa kita diam saja nggak bantu dia yang pingsan?" Rama menjelaskan, supaya Sisil tak salah paham.
"Nggak usah! Dia pasti hanya pura-pura!" seru Sisil. Baru tadi mereka sempat berdebat, rasanya tak mungkin jika wanita itu tiba-tiba pingsan tanpa alasan.
Perlahan Sisil berjongkok, lalu menepuk-nepuk kedua pipi Fuji sebab wanita itu berbaring dengan posisi terlentang.
"Mbak bangun! Jangan berpura-pura pingsan deh! Apa coba maksudnya!" seru Sisil mengomel. Geram sekali rasanya dia kepada Fuji, ditambah melihatnya pingsan begini. "Om mau ke mana?!" teriaknya, saat melihat sang suami membuka pintu utama
"Aku mau cari bantuan, Dek." Rama takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi posisinya Fuji pingsan di villa yang dia sewa. Otomatis kalau ada apa-apa dia dan Sisil yang ikut terseret.
Sisil mendengkus melihat Rama yang sudah berlari keluar dengan meninggalkan koper. Dia juga makin sebal kepada Fuji yang tak kunjung sadar meskipun sudah digoyangkan tubuhnya berulang kali. "Ish nyebelin banget, sih!" dengusnya. "Pakai pingsan segala! Aku sama Om Rama mau pergi tau!" gerutu Sisil seraya berdiri, lalu melipat tangannya di atas dada.
Tak lama kemudian, Rama datang dengan seorang pria seragam kuning. Dari wajahnya, dia seperti orang Korea.
"Dia siapa, Om?" tanya Sisil heran.
"Dia sopir taksi online kita, Dek, kebetulan sudah sampai. Jadi kita bawa Fuji ke rumah sakit dulu, dan setelah itu kita pergi ke villa baru," jelas Rama.
Lantas, pria berseragam kuning itu mengangkat tubuh Fuji, lalu membawanya keluar dari villa.
__ADS_1
Sebelum itu Rama memang sudah memintanya untuk membantu mengangkat Fuji, sebab kalau dia sendiri memang sudah dilarang oleh Sisil.
"Ayok, Dek," ajaknya seraya merangkul bahu Sisil.
Gadis itu mengangguk patuh walau terlihat jelas tidak ikhlas, kemudian mereka pun keluar dari villa dan mengunci pintu. Koper besar pun ikut terseret keluar.
"Om duduk di depan, aku di belakang!" titah Sisil ketika sopir taksi membuka pintu belakang mobilnya. Sengaja Sisil berkata demikian sebab Fuji ditaruh pada kursi belakang.
"Oke." Rama mengangguk. Setelah menyerahkan koper itu kepada sang sopir, dia lantas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan.
Tak lama, mobil taksi online berwarna jingga itu melintasi jalan raya yang hampir dikelilingi salju.
'Aku nggak mau Rama pergi dari villa. Katanya seminggu ... ini 'kan baru dua hari,' batin Fuji yang masih memejamkan mata.
Dia duduk setengah berbaring, kepala dan punggungnya menyandar pada penyangga kursi.
Benar tebakan Sisil tadi, Fuji memanglah pura-pura pingsan demi mencegah Rama cepat pergi.
***
__ADS_1
30 menit kemudian....
Saat sudah sampai ke rumah sakit terdekat, Rama langsung mengurus semua data-data supaya Fuji cepat ditangani dokter. Karena di Korea cukup ribet tidak seperti di Indonesia.
"Om, ayok kita langsung pulang dari sini," pinta Sisil seraya menggoyangkan lengan Rama. Dia juga melihat beberapa perawat pria tengah mendorong brankar yang sudah ada Fuji di atasnya. Mereka langsung membawa wanita itu ke ruang IGD.
"Sebentar, Dek, kita harus hubungi anaknya Fuji dulu. Masa kita langsung tinggalin dia begitu saja." Rama mengajak Sisil melangkah ke arah IGD.
Sisil berdecih sebal. "Ish udah kek, Om, biarin aja kenapa, sih! Kok Om peduli banget sama dia?!"
Rama langsung mengecup bibir Sisil yang telah selesai mengomel dengan nada tinggi. Selain malu dilihat umum, dia juga merasa tak enak sebab posisinya ada di rumah sakit.
"Bukan masalah peduli, Dek, tapi 'kan dia pingsannya di villa yang kita sewa sekaligus dia pemiliknya. Jadi kita musti tanggung jawab, takutnya kita disalahkan,” jelas Rama. Dia mengelus rambut Sisil dengan lembut, lalu memeluknya demi meredakan kemarahan yang mulai meradang itu.
'Alasan! Bilang saja Om memang suka sama Fuji, tapi malu buat mengungkapkannya!' batin Sisil sambil mencebik bibir.
"Sebentar ya, Dek." Rama merelai pelukan, lalu melangkah mendekat kepada seorang suster wanita yang hendak masuk ke dalam ruang IGD. Dia pun lantas berbicara dengan bahasa Korea yang entah apa artinya, Sisil sendiri tak paham.
'Si Fuji bener-bener merepotkan! Benci banget aku sama dia! Awas saja kalau dia ketahuan hanya pura-pura pingsan, kucekik lehernya langsung biar mampus!' gerutunya dalam hati.
__ADS_1
...Lapor aja ke Daddy mertua, Sil, biar dia yang nyekik lewat ghaib 😆🤣...