Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
61. Padahal lagi enak-enaknya


__ADS_3

'Tadi aja malu-malu, tapi sekalinya nempel kayak nggak sabar,' batin Rama.


Dia merasa senang sekali melihat apa yang telah terjadi. Padahal saat ini, Sisil tengah berusaha untuk mendorong dada Rama demi membuat bibir mereka terlepas.


Sayangnya, apa yang dilakukannya seperti sia-sia. Rama juga sudah mulai membuka mulut dan melummat bibir bawahnya.


Sang fotografer tentu merasa senang. Segera, dia memotretnya. Mengabadikan momen itu untuk koleksi album foto pernikahan mereka.


'Dasar mesum! Kata tukang foto 'kan nempel doang, kok dia malah mengajakku ciuman?' batin Sisil kesal.


Akan tetapi, selanjutnya dia justru menyesap rasa manis pada bibir Rama. Manisnya itu sepertinya sisa jus mangga yang Rama konsumsi.


Perlahan, kedua tangan Rama kini beralih untuk menangkup kedua pipi Sisil. Dia juga memejamkan mata dan memperdalam ciumannya.


Menurut Rama, ini adalah kesempatan emas untuknya supaya dapat berciuman lagi dengan Sisil. Takutnya kalau tidak dipergunakan dengan baik, dia yang akan menyesal.


'Ih, kenapa dia makin menjadi menciumiku? Bagaimana ini? Tapi aku kok ....' Hatinya yang terus menolak ternyata tak ada gunanya. Sentuhan bibir Rama yang cukup handal itu mampu membuatnya seolah terbius. Tanpa disadari, Sisil pun membalas ciuman itu sampai-sampai terdengar suara decapan dari mulut keduanya.


"Sudah cukup Pak, Nona, kita sekarang berganti gaya," ucap sang fotografer. Dia sudah banyak mengambil gambar.


"Nona, Pak Rama," ucap wanita WO yang sejak tadi masih di sana. Dia tampak meringis melihat keduanya berciuman. Bukan karena iri, akan tetapi kalau dibiarkan lama bisa-bisa lipstik atau bedak Sisil luntur. 'Lha, gimana urusannya ini? Tadi nggak mau ciuman, sekarang justru nggak lepas-lepas.'


Sepasang pengantin itu tak sadar, jika apa yang mereka lakukan mengundang banyak perhatian termasuk para tamu undangan.


Ganjar dan Arga yang baru saja datang pun sontak terkejut, akan tetapi salah satu dari mereka langsung mengabadikannya. Lalu mengirimkan kepada Arya supaya lelaki itu tak lagi mengharapkan Sisil.


'Dasar cewek gatel. Nikah baru beberapa jam sudah nyosor. Nggak tahan banget kayaknya dia,' batin Arga dengan sebal.


"Nak Sisil, Rama, udahan dulu. Malu dilihat umum!" tegur Yenny yang balik lagi menghampiri mereka lalu menarik tubuh Sisil.


Dia melakukan hal itu sebab tangan Rama sudah berkelana. Meremmas kedua dada gadis itu. Dan anehnya, Sisil justru diam dan pasrah. Entah efek ilmu dari Mbah Yahya atau memang dia sungguh terbuai.


Saat sudah dipisahkan, bibir keduanya langsung belepotan. Lipstik dan bedak itu terlihat menyatu dan berantakan memenuhi bibir keduanya.


Tadi, Rama memang betul-betul menciumi Sisil dengan begitu naffsu.


"Ah Mommy, kenapa musti dilepas? Padahal lagi enak-enaknya," keluh Rama kecewa.


Napas terdengar terengah-engah dan wajahnya memerah begitu pun dengan wajah Sisil. Miliknya makin mengeras saja dan membuat celananya sempit. Tak sabar rasanya Rama, ingin segera bercinta dengan Sisil.


Kalau tak ada rasa malu, Rama bisa saja langsung menarik Sisil lalu membawanya ke kamar hotel yang sudah disiapkan. Hanya saja, ini masih terlalu siang jika keduanya harus memadu kasih. Yenny atau Mbah Yahya pasti akan melarang, apalagi ada banyak tamu penting yang belum datang.

__ADS_1


"Nih, minum dulu." Yenny memberikan segelas air putih kepada Sisil.


Dilihat gadis itu tengah menghirup oksigen dalam-dalam. Napasnya tersendat tadi, kedua bibir itu seperti layaknya lem yang susah untuk terlepas jika tadi bukan dilepaskan oleh Yenny.


"Maafin aku, Mom. Tapi tadi Om Rama yang duluan yang menciumiku, bukan aku," ucap Sisil membela diri karena malu. Dia langsung menenggak air minum pada gelas itu sampai habis.


"Nggak apa-apa. Tapi ini 'kan masih dalam acara pesta, dan foto kalian belum kelar. Nanti saja lanjut ciuman laginya, kalau kalian masuk ke kamar hotel," saran Yenny.


Wanita WO itu pun mendekat, lalu meraih lengan Sisil. "Ayok kita ke ruang make up lagi, Nona, untuk membenarkan riasan," ajaknya.


Sisil mengangguk setuju, kemudian melangkah pergi bersamanya. Rama pun langsung berdiri dan menyentuh miliknya yang terus memberontak itu.


"Jangan ikut Sisil, di sini aja," cegah Yenny.


"Aku mau kencing, Mom," sahut Rama.


Dia menepis tangan Yenny yang menghalanginya jalannya, setelah itu berlari pergi menuju toilet.


Akibat birahinya memuncak, jadi dirinya ingin buat air kecil. Mau tidak mau Rama akan menahannya sampai malam. Dia juga belum pernah bersolo karir dan tidak menginginkan untuk melakukannya. Yang dia inginkan adalah sentuhan bersama Sisil.


"Ternyata kalian sudah saling mencintai, ya? Jadi sudah nggak sabar," kekeh Yenny bergumam sendiri.


Dia tentu melihat perilaku keduanya sejak tadi dan merasa sangat gemas. Perlahan kakinya itu turun dari pelaminan, lalu melambaikan tangan pada pria berumur 30 tahun yang tak sengaja lewat itu. Dia adalah Evan.


"Iya, Bu?" Evan menoleh dan langsung melangkah menghampiri.


"Kamu tolong ke apotek dong, belikan obat kuat untuk pria," pinta Yenny.


"Memangnya Pak Yahya lemah syahwat, Bu? Perasaan dia selalu bilang perkasa di ranjang." Kening Evan tampak mengernyit.


"Bukan buat suamiku. Tapi buat Rama."


"Oh. Maunya yang merk apa, Bu?"


"Apa saja, asalkan yang bagus dan mahal. Kalau bisa ... efeknya bisa buat burung Rama berdiri terus sampai pagi, ya?"


"Dia disuruh begadang? Sadis amat, Bu."


"Nggak sadis lah, malah itu bagus biar dia puas." Yenny mendengkus kesal. "Kamu bayangkan saja, Van. Seumur hidup ... dia baru muntah satu kali. Dan aku yakin ... Rama juga pasti ingin muntah beberapa kali malam ini."


"Mana uangnya, Bu?" Evan menadahkan tangannya.

__ADS_1


Yenny melangkah menuju kursinya untuk mengambil tas, lalu mengambil dompet dan memberikan 5 lembar uang seratus ribuan kepadanya. "Nih! Kalau kurang, pakai uangmu dulu ... nanti hitung saja biar aku ganti."


"Oke deh, tapi ada uang bensinnya ya, Bu. Aku permisi kalau gitu." Evan membungkuk sopan, lalu melangkah pergi dari hadapan Yenny.


***


Di tempat lain.


Malam ini adalah malam Minggu. Gisel yang sudah mandi dan tampak cantik di depan cermin meja rias itu mempunyai niatan untuk pergi nonton bioskop bersama teman-temannya.


Tas, ponsel dan dompet sudah dia bawa. Setelah menyemprotkan parfum, dia lantas keluar dari apartemennya lalu mengunci pintu.


Baru selangkah kakinya itu hendak berjalan, akan tetapi ponselnya di dalam tas terdengar berdering suara panggilan masuk.


Cepat-cepat Gisel membuka tasnya, ternyata saat dilihat—panggilan itu dari Olla. Teman sekaligus rekan kerjanya sebagai guru TK.


"Halo, La?" ujar Gisel.


"Kamu sudah kondangan ke pestanya Pak Rama belum, Sel?"


"Pesta? Pesta apaan?" tanya Gisel bingung dan penasaran. Akan tetapi, jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang.


"Nikahan. Suamiku diundang tapi karena dia lembur jadi nggak datang. Tapi dia menyuruhku datang sambil ajak temen, nggak enak katanya kalau amplopnya nggak sampai."


Bola mata Gisel sontak membulat sempurna. Dadanya seketika sesak bergemuruh. "Mas Rama nikah maksudmu?"


"Iya. Kan aku bilang dia nikahan."


"Kamu jangan bercanda, ini nggak mungkin!" seeu Gisel tak percaya.


"Aku serius, buktinya suamiku diundang, Sel."


"Kita ketemu sekarang, La. Aku akan menyusulmu di rumah dengan taksi."


"Oke, aku tunggu," sahut Olla.


Gisel mematikan sambungan telepon, kemudian menaruh benda pipih itu kembali ke dalam tas sambil menghentakkan sepatu high heelsnya dan masuk ke dalam lift, yang kebetulan baru saja terbuka.


Perlahan dia menyentuh dadanya yang terasa sakit. Kedua kali, dia merasakan hal seperti ini. Yakni mendengar kabar secara mendadak kalau Rama menikah dengan orang lain.


"Kenapa Mas Rama malah menikah dengan orang lain? Kan Dek Gisel yang menjadi jodohmu!" Gisel berteriak dengan penuh emosi. "Ini hanya buang-buang waktu dan aku yakin ... istri barumu itu akan meninggal setelah aku memberitahukan kalau kamu itu impoten, Mas!" tekannya dengan yakin.

__ADS_1


Gisel mempunyai niat akan membuat pesta itu hancur, lalu setelah itu dia yang akan menggantikan posisi menjadi pengantin wanitanya.


...Nggak ngaruh kali Bu Guru 🤣 yang ada kamu kena sembur lagi sama Mbah Yahya 😆...


__ADS_2