
"Nona kok ada di sini? Nona sakit apa?" tanya Gugun penasaran. Dia masih memerhatikan wajah Tuti yang merona.
"Aku sakit .... aaww!" Tuti sontak memekik kecil dengan kedua tangan yang langsung menyentuh perut. Sebab dia merasakan sakit dan mulas seperti ingin buang air besar.
"Perut Nona kenapa?" tanya Gugun yang tampak cemas, dia juga refleks ikut menyentuh perut Tuti.
Bukannya dijawab, Tuti justru langsung berlari meninggalkan Gugun.
"Nona! Nona mau ke mana?!" teriak Gugun. Merasa penasaran, dia pun akhirnya berlari mengejar Tuti. Hingga sampai dirinya menghentikan langkah di depan toilet wanita. Sebab gadis itu sudah berlari masuk ke dalam sana.
"Oh, ternyata dia kebelet. Kukira kenapa," gumam Gugun sambil menghela napasnya dengan lega.
Namun, dia justru tak pergi dari sana. Malah sengaja menunggu sambil memerhatikan buket bunga yang masih berada di tangannya.
'Aku harus tau Nona Manis itu sakit apa. Kasihan juga, kan, siapa tau dia butuh bantuanku,' batin Gugun sambil menyandarkan punggungnya di tembok.
Evan yang melihat Gugun pergi, langsung menggunakan kesempatan emas itu untuk bisa mengantar Gisel pulang.
"Sus, biar saya saja yang masuk," ucap Evan seraya melangkah menuju pintu ruang pemeriksaan.
__ADS_1
Suster di sana memang masih berdiri dengan tangan yang membuka pintu. "Bapak masuk mau apa? Kalau mau diperiksa harap mendaftar dulu." Dia mencegah Evan, mencekal lengannya.
"Saya masuk karena ingin mengantar Nona Gisel pulang, Sus," ucap Evan.
"Yang mau mengantar Nona Gisel katanya Mas-Mas yang berkumis tadi." Suster itu menunjuk ke arah di mana Gugun tadi berlari menyusul Tuti.
"Dia tadi hanya teman Nona Gisel, dan saya pacarnya, Sus." Evan beralasan.
"Oh begitu ... ya sudah, ayok masuk, Pak," ajak Suster, lantas melangkah masuk lebih dulu dan Evan menyusulnya di belakang.
Gisel yang tengah berbaring pada salah satu tempat tidur untuk pemeriksaan seketika heran, sebab melihat kehadiran Evan dan Suster yang menghampirinya.
Sebenarnya Gisel ini memang tidak kenapa-kenapa. Karena penyebab pingsannya juga gara-gara dihipnotis Evan.
Dokter pun sudah menyarankan untuk langsung pulang saja, sebab tak ada yang perlu dilakukannya lagi di rumah sakit.
Namun, Gisel menggunakan sebuah alasan untuk bisa mendapatkan perhatian dari Gugun. Yakni dengan memintanya mengantarkan pulang. Sekalian juga ingin bertanya masalah pernyataan cintanya, apa Gugun sudah mengambil keputusan atau belum.
"Dia bukan pacarku, Sus." Gisel menggelengkan kepalanya. Tatapannya juga begitu sinis pada Evan. "Pacarku namanya Mas Gugun, dia ganteng dan berkumis tipis. Tapi apa dia sudah datang ke sini?"
__ADS_1
"Tadi ada pria yang berkumis sih, Nona, tapi dia bilang teman Anda, bukan pacar. Dab sayangnya dia sudah pergi," sahut Sister.
"Pergi? Pergi ke mana?!" tanya Gisel penasaran.
"Saya kurang tau, dia pergi begitu saja," jawab Suster. "Tapi kayaknya sih dia mengejar perempuan yang memakai hijab dan sepertinya mereka saling mengenal."
"Nona biar saya yang antar pulang. Kan apartemen kita sama," saran Evan dengan lembut. Perlahan dia pun menyentuh bahu Gisel, ingin membantunya bangun.
Namun, gadis itu justru menepis tangannya dengan kasar. Wajahnya tampak merengut, lalu bangun sendiri dan melangkah cepat keluar dari sana.
"Nona! Nona mau ke mana?!" Evan berlari mengejar Gisel.
Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri pada koridor, mencari-cari keberadaan Gugun. Tangannya juga langsung merogoh ke dalam tas untuk mengambil ponsel, lalu menelepon Gugun.
"Pak Gugun sudah pulang tadi, Nona, nggak perlu meneleponnya," ucap Evan yang sudah mendekat ke arahnya.
Gisel tak menanggapi. Dia masih sibuk mencoba menelepon Gugun, hanya saja panggilannya itu tidak diangkat-angkat.
'Ke mana Mas Gugun? Kok dia pergi gitu aja? Dan siapa perempuan berhijab yang suster maksud tadi?!' batinnya dengan cemas. Refleks dia mengigit kuku ibu jarinya.
__ADS_1
...Orangnya di toilet, Sel, cepat samperin sana sebelum Om Gugun berpaling 🤣...