Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
123. Pasti dia marah sama aku


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit, Evan masih terus membujuk Gisel untuk bisa pulang bersamanya.


Namun, sayangnya gadis itu masih saja kekeh pada pendirian, yakni ingin menunggu Gugun datang untuk menjemput. Tak peduli jika sampai malam.


Evan pun lantas terdiam dikursi sambil mulai memikirkan. Juga mencari sebuah ide. 'Bagaimana, ya, caranya biar Nona Gisel nurut padaku? Aku nggak rela rasanya kalau melihat Pak Gugun mengantarkannya pulang,' batinnya.


Sedang sibuknya mencari solusi, tiba-tiba ponselnya itu berdering dan mengalihkan semuanya.


Evan terperanjat dikursi, lalu cepat-cepat merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Ternyata saat dilihat, ada sebuah panggilan masuk dari Mbah Yahya.


Segera, Evan berdiri, kemudian melangkah menjauh dari Gisel. Supaya gadis itu tak dapat mendengar percakapannya.


Setelah itu barulah dia mengangkat panggilan. "Halo, Pak, selamat sore," sapa Evan.


"Sore. Van, kamu di mana sekarang?" tanya Mbah Yahya.


"Saya di rumah sakit, Pak."


"Kok masih di rumah sakit? Kamu bisa ke sini nggak, Van? Bantuin aku."


"Ada apa ya, Pak?" tanya Evan.


"Bantu aku carikan cincin, cincinku hilang, Van. Udah cari di rumah ... sampai di rumah praktek tapi belum ketemu juga." Terdengar suara Mbah Yahya tampak lesu.


Jelas dia seperti itu, karena dengan hilangnya cincin itu berarti dia juga akan kehilangan pasien.


"Cincin yang mana ya, Pak?" tanya Evan.


"Cincin saktiku, Van. Aku juga belum menerawang Gisel jadinya nih!"


"Waduh, bahaya kalau hilang, Pak, cincin itu 'kan sangat berguna." Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa ikut pusing juga. Sebab dengan begitu Gisel akan bisa makin lengket bersama Gugun.

__ADS_1


"Iya, gimana dong, Van? Bingung aku. Mangkanya kamu bantuin aku," pinta Mbah Yahya lirih.


"Tapi 'kan Bapak tau saya belum bisa cara ilmu menerawang, dan cincin sakti begitu memangnya bisa ... kalau diterawang?"


"Nggak bisa, Van, cincin itu harus ketemu oleh sendirinya. Nggak bisa diterawang meski oleh dukun sakti sekali pun," jelas Mbah Yahya. "Kamu bantuin aku cari dulu, ke tempat-tempat yang aku kunjungi kemarin pas habis pulang dari rumah praktek."


"Oke. Bapak ada di mana sekarang? Saya akan segera ke sana."


"Aku di rumah praktek. Jemput aku di sini."


"Siap, Pak." Evan mematikan sambungan, lalu melangkah sembari mengantongi ponselnya ke dalam kantong celana.


Dirinya hendak menghampiri Gisel lagi, tapi sayangnya gadis itu sudah tidak ada di mana-mana.


"Lho, ke mana Nona Gisel? Kok hilang kayak hantu?!" gumamnya sambil menoleh ke kanan dan kiri. Kemudian kakinya itu melangkah ke arah pintu keluar dari rumah sakit.


Tepat di halaman rumah sakit, dia melihat Gugun yang baru saja datang dan turun dari mobil taksi. Gegas, Evan menyapanya, sebelum pria itu masuk ke dalam.


"Iya, Van, ada yang ketinggalan. Aku duluan, ya?" jawab Gugun seraya pamit. Kemudian berlari masuk ke dalam rumah sakit. Terlihat jelas, jika pria itu seperti buru-buru.


"Pasti dia mau jemput Nona Gisel lagi," tebak Evan dengan bibir yang mengerucut. "Ah ... mudah-mudahan saja nggak ketemu, Nona Giselnya sudah pulang." Dia pun langsung menuju parkiran, lalu masuk ke dalam mobilnya.


*


"Suster! Apa teman saya masih ada di dalam?" tanya Gugun saat kembali ke ruang pemeriksaan. Dia bertanya pada Suster yang berdiri di depan pintu, dan itu Suster yang tadi.


"Nona Gisel, kan, Pak?" tebaknya sambil menatap ke arah Gugun.


Gugun mengangguk. "Iya."


"Dia sudah pulang, Pak, tadi sepertinya marah. Dan ada seorang pria yang ngaku-ngaku jadi pacarnya juga," jelas Suster itu.

__ADS_1


"Pria?! Siapa?" tanya Gugun penasaran.


"Saya kurang tau, Pak." Suster itu menggeleng. "Coba Bapak telepon dia."


"Oh iya!" Gugun langsung menepuk jidatnya. Bisa-bisanya dia lupa dengan hal semacam itu, padahal dia juga tentu mempunyai nomor Gisel.


Saat ponselnya diambil di dalam saku dalam jas, Gugun sontak terbelalak kala melihat begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Gisel. Totalnya ada 15.


Dia juga lupa untuk mematikan mode silent. Karena memang sebelumnya habis melakukan meeting.


"Pasti dia marah sama aku," gumamnya, cepat-cepat Gugun menelepon Gisel balik. Tidak menunggu waktu yang lama, panggilan itu pun diangkat oleh seberang sana. "Nona, maafkan—"


"Mas Gugun ke mana saja? Kok tega banget sama aku? Ninggalin aku begitu saja demi perempuan lain?" cacar Gisel yang langsung menyela ucapan Gugun. Suaranya terdengar begitu nyaring. Gugun bisa menebak jika gadis itu pasti marah padanya.


"Maafkan saya, Nona, saya nggak ada maksud ninggalin Nona. Tadi itu—"


"Mas ada hubungan apa sama perempuan berhijab itu?" sela Gisel lagi.


"Dia bukan siapa-siapa saya," jawab Gugun.


"Bukan siapa-siapa kok dia bisa pulang bareng, Mas Gugun? Sampai Mas rela ninggalin aku. Aku 'kan pacar Mas. Iya, kan?" geram Gisel.


"Tapi kita 'kan belum pacaran, Nona."


"Sekarang aku tanya, Mas menerima cintaku atau nggak? Jangan bilang Mas kepincut sama perempuan berhijab yang kecentilan itu, daripada sama aku? Aku mending bunuh diri saja deh, kalau Mas Gugun nggak menerimaku. Karena aku patah hati lagi oleh pria yang aku cintai. Itu juga berarti Mas sama jahatnya kayak mantan gebetanku."


Telinga Gugun sampai berdengung mendengar celotehan Gisel, gadis itu berbicara benar-benar tanpa jeda.


"Saya ...."


...Jangan diterima, Om!! 😰...

__ADS_1


__ADS_2