
"Kita culik dianya malem 'kan, Mit?" tanya Cemet kepada temannya.
"Iya. Tapi Nona Gisel meminta kita untuk mengawasinya sekarang," jawab Cimit tanpa menoleh.
"Apa dia memberitahu maunya jam berapa? Tapi syukur banget ya, kalau malam." Cemet menghela napasnya.
"Jam berapa pun terserah katanya, yang penting berhasil," sahut Cimit. "Tapi ... kenapa memangnya dengan malam? Apa ada masalah?"
"Enggak." Cemet menggeleng. "Maksudnya, kita 'kan posisi lagi puasa, nih, Sedangkan mau melakukan aksi kejahatan, jadi bagus banget melakukannya pas udah buka puasa. Jadi dosa kita nggak terlalu besar." Masih sempat-sempatnya Cemet memikirkan dosa.
"Ah kamu, Met, ngapain mikirin dosa? Sekarang mending kamu pikirkan cara supaya kita berhasil menculik pria tadi tanpa diketahui orang-orang. Kita 'kan akan main cantik."
"Kita lakukan seperti biasa saja, Mit."
"Biasanya gimana?" Cimit menoleh sebentar.
"Kejar mobilnya, terus buat dia berhenti, lalu bius orangnya. Beres deh." Cemet bahkan sudah sangat hafal, aksi apa saja yang mereka lakukan ketika ingin menangkap mangsa.
"Bosen, Met, kalau kayak gitu mulu caranya." Cimit tampak tak setuju. "Pikirkan cara yang lain, biar ada sensasi baru."
"Sebentar ... aku lihat go*ogle dulu." Cemet merogoh ponselnya di dalam kantong celana, kemudian mencari informasi yang saat ini mereka butuhnya.
***
Ting~
__ADS_1
Lift lantai dasar sebuah apartemen terbuka, keluarlah Gisel dengan memakai baju batik dan celana bahan panjang berwarna hitam. Niatnya pagi ini dia akan pergi ke sekolah, sebab ada urusan pekerjaan.
"Lho, itu 'kan Mas Gugun?" Langkah kaki Gisel yang menggunakan high heels itu seketika terhenti di halaman apartemen, lantaran melihat sosok pacarnya yang melangkah menuju parkiran mobil. "Ngapain Mas Gugun ada di sini dan ke mana saja dia dari kemarin?"
Kedua tangan Gisel perlahan mengepal kuat, rasa kesalnya itu seketika muncul di dalam dada sebab mengingat Gugun yang susah dihubungi. Tak ingin melewatkan waktu, serta ingin membuat perhitungan—segera gadis itu pun berlari mengejar Gugun.
"Mas Gugun!" teriak Gisel kencang, seraya mencekal tangan kanan Gugun. Padahal baru saja pria itu hendak masuk ke dalam mobil setelah sudah membuka pintu mobilnya.
"Eh, Nona Gisel?" Gugun yang menoleh dan langsung terkejut, sekaligus heran mengapa gadis itu bisa ada di sini. "Nona kok ada di sini? Mau apa?"
"Harusnya aku yang nanya! Kenapa Mas Gugun ada di sini dan ke mana saja kemarin, sampai susah dihubungi?!" teriaknya marah-marah.
"Aku tinggal di apartemen ini, Nona. Dan maaf ... dari kemarin hapeku hilang."
Gisel terlihat terkejut mendengar jika Gugun tinggal di sini, tapi dia juga senang. "Aku juga baru kemarin pindah di sini, Mas. Tapi kok bisa hape Mas Gugun hilang?" Suara Gisel sekarang sudah tak lagi bernada tinggi, malah terkesan lembut dan sedikit mendayu-dayu.
"Apa Mas sudah mencarinya? Mungkin terselip di mana gitu?"
"Sudah, tapi tetap nggak ketemu." Gugun menggelengkan kepalanya lagi.
"Mas nggak bohong sama aku, kan?" Gisel menatap lekat mata Gugun, memastikan apa yang diucapkan pria itu jujur atau tidak.
"Ngapain aku bohong, Nona. Memang benar hapeku hilang." Gugun memang jujur apa adanya. Dan karena hilang, dia sampai membeli ponsel baru beserta nomornya.
"Terus sekarang bagaimana kalau aku mau menghubungi Mas? Masa kita nggak kontek-kontekkan sih?"
__ADS_1
"Ngapain memangnya, kita musti kontek-kontekkan, Nona?" Gugun menatap Gisel dengan raut bingung.
"Dih, kok ngapain? Kan kita pacaran, Mas! Masa nggak kontekan? Mas ini ngaco!" gerutu Gisel marah.
"Pacaran?" Sebelah alis mata Gugun terangkat. Sepertinya Gugun memang suka lupa ingatan mendadak, sebab sampai sekarang dia tak ingat jika sudah berpacaran dengan Gisel. Malah sudah berpacaran dengan Tuti juga.
"Jangan bilang Mas lupa kalau kita udah pacaran?! Kita bahkan belum seminggu tau, Mas! Pacaran!" geram Gisel yang tampak begitu jengkel, apalagi sikap Gugun terlihat biasa saja tak ada ras bersalah sama sekali karena telah melupakan hubungannya.
"Belum seminggu?!" Gugun pun terdiam sebentar untuk mengingat. Dan beberapa detik kemudian—dia sontak membelalakkan mata. Kala sudah teringat semuanya dan langsung tertegun dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya. 'Ya Allah ... apa yang sudah aku lakukan?'
Gugun melirik ke arah Gisel dan gadis itu langsung memeluk tubuhnya.
"Mas Gugun jahat sih, kalau sampai nggak ingat kita sudah jadian. Padahal kita ada rencana merayakan hari jadi lho, Mas!" kesal Gisel sambil mengeratkan pelukan.
'Bisa-bisanya aku kemarin-kemarin menembak Nona Tuti, sedangkan aku sendiri sudah punya pacar? Ya ampun ... kok jadi begini?' Gugun masih terheran-heran, dan tak menyangka dengan setiap momen yang sudah terlewatkan bersama Tuti.
Anehnya, setiap bersama Tuti atau hanya sekedar bertemu saja dengannya—Gisel secuil pun seolah tak ada di dalam ingatannya.
'Kalau Nona Gisel tau aku menduakannya, berarti sama saja aku seperti mantan gebetanya dong? Kasihan dia. Tapi sebaliknya, kalau Nona Tuti tau jika aku punya pacar sebelum pacaran dengannya ... dia pasti langsung minta putus, dan lebih parahnya akan membenciku.' Gugun langsung bergidik, dengan jantung yang berdebar kencang.
Baru membayangkan saja rasanya dia takut, apalagi jika itu beneran terjadi?
Jujur—dari lubuk hati yang terdalam, Gugun sama sekali tak ada niat untuk menyakiti keduanya. Semuanya terjadi begitu singkat dan dia benar-benar khilaf.
'Terus sekarang aku musti bagaimana, dong?' batinnya bingung.
__ADS_1
...----------------...
...putusin salah satunya lah, Om gimana sih😝😝 ga boleh serakah lho, masih banyak yg jomblo soalnya 🤣...