
"Dan satu lagi." Arga mengangkat jari telunjuknya ke atas. Tubuh Sisil sudah gemetaran. "Om, Tante dan Opanya Arya hanya mau Arya menikah dengan perempuan dari kalangan berada. Dan mempunyai orang tua lengkap. Jadi harusnya kamu itu sadar diri, kamu nggak cocok sama Arya."
Degh!
Seperti ada sebuah pedang yang menghantam dadanya. Sakit sekali rasanya. Refleks Sisil menyentuh dada dibarengi air mata yang tiba-tiba saja mengalir tanpa permisi. Akan tetapi dia cepat-cepat menyekanya.
"Maafin aku, Om, Tante. Tapi kalau memang Om dan Tante serta Opa nggak merestui, aku nggak akan memaksa," ucapnya lirih sambil menangis. Jelas disini pihak keluarga Arya menolaknya mentah-mentah dan Sisil tak bisa apa-apa. Tidak mungkin juga dia memaksa, karena memang tidak berhak.
"Bagus itu. Kalau bisa secepatnya kamu minta putus sama Arya. Tapi jangan pernah katakan alasannya karena ini. Karena kalau kamu jujur ... itu sama saja seperti mengadu domba Om dan Arya," tegur Arga.
"Mengadu domba bagaimana?" tanya Sisil bingung. Cepat-cepat dia menyeka air matanya. Akan tetapi lagi-lagi deraian air mata itu terus keluar.
"Ya mengadu domba, kan kamu mengadu. Nanti si Arya pasti marah sama Om dan merasa nggak terima. Padahal apa yang Om l lakukan adalah hal yang terbaik. Dan itu juga hak Om yang menjadi papanya, menginginkan Arya menikah dengan siapa. Restu orang tua itu di atas segalanya, kamu harus ingat itu."
"Kalau begitu aku permisi. Aku mau pulang saja, Om." Sisil langsung berdiri sambil mengusap pipinya. Tak kuat rasanya lama-lama dia ada di sana. Dia ingin segera pulang dan memeluk Gugun. Bercerita tentang segala yang telah terjadi. "Assalamualaikum."
"Tunggu dulu, Sil! Tante—" Ucapan Ayya mengantung sebab suaminya itu menahan lengannya saat dia hendak mengejar Sisil. Gadis itu sudah berlari keluar dan tampak sedih sekali.
"Nggak usah dikejar, Ma. Biarkan saja," cegah Arga.
"Tapi kasihan Sisil, Pa. Dan kayaknya ucapan Papa tadi terlalu menyakitinya."
"Apa yang Papa katakan adalah apa yang ada dipikirkan Papa. Kalau Sisil sakit hati, ya sudah nggak apa-apa. Toh memang benar, Sisil itu nggak cocok bersama Arya," jawab Arga dengan santai.
***
Di rumah sakit.
Rama baru saja datang sehabis dari mall. Selain mencukur rambut, membeli jas untuk Gugun dan buket bunga, dia juga membelikan Sisil sebuah sepatu. Semoga dengan ini, sedikit meluluhkan hati Sisil untuk mau bersamanya, meskipun memang harapannya sangat tipis.
__ADS_1
Mengingat kalau Sisil seperti membencinya.
'Pokoknya kamu nggak boleh menyerah, Ram! Sebelum janur kuning melengkung ... Sisil masih bisa aku tikung,' batinnya menyemangati diri sendiri.
Langkah kaki Rama pun seketika terhenti di depan ruang inap Sisil. Ada seorang cleaning servise yang keluar dari sana dengan membawa kain pel dan lap. Tak sengaja Rama melihat di dalam kamar tidak ada siapa-siapa.
"Maaf, Mas. Pasiennya kok nggak ada? Ke mana, ya?" tanya Rama.
Cleaning servise pria itu menghentikan langkahnya lalu menatap Rama. "Saya kurang tahu, Pak. Saya hanya disuruh Suster untuk membersihkan kamar," jawabnya kemudian berlalu pergi.
"Sus! Tunggu sebentar!" Rama memanggil seorang suster yang baru saja lewat. Wanita berseragam putih itu langsung menoleh. "Pasien di kamar ini ke mana, ya, Sus?" tanya Rama.
"Sudah pulang sejak 2 jam yang lalu, Pak," jawab Suster.
"Oh sudah pulang. Berarti dia sudah sembuh?"
"Kemungkinan begitu." Suster itu mengangguk.
"Sama-sama."
Rama pun melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana. Selanjutnya dia berniat ingin ke apartemen Sisil.
Sebelum mengemudikan mobilnya, Rama lebih dulu bercermin di depan kaca depan. Lalu membereskan rambut sambil tersenyum manis.
Kata Tirta temannya, dengan model rambut seperti itu, dia jadi mirip aktor Korea bernama Sung Hoon. Benarkah? Dia sendiri antara yakin dan tidak yakin.
"Aku beneran tambah ganteng 'kan, ya? Duh, semoga saja," gumamnya sambil menyentuh dada. Mendadak jantungnya berdebar kencang.
***
__ADS_1
Di tempat berbeda. Sisil sejak tadi terus menerus menangis di dalam mobil taksi. Dia merasa semua harapan dan keinginannya untuk hidup bersama Arya sudah pupus. Begitu pun dengan masa depannya.
'Kak Gugun ... bagaimana sekarang? Aku mencintai Kak Arya, tapi ini sangat menyakitkan.' Sisil menyentuh dadanya. Selain sesak, dia juga merasakan sakit. Tentunya apa yang dikatakan Arga benar-benar menyakitinya.
Sudah menolak, dia juga seperti merendahkannya. Dan memintanya untuk sadar diri.
'Ya Allah, kenapa nasibku begini? Kenapa? Kenapa semuanya seperti nggak adil. Padahal hanya Kak Arya harapanku satu-satunya.'
Sisil menyeka air mata yang mengalir membasahi pipi. Akan tetapi lagi-lagi linangan air mata itu kembali keluar.
Pandangan matanya menatap ke arah jendela, memperlihatkan jalan raya dan kendaraan yang lalu lalang.
Namun, seketika fokusnya hilang lantaran melihat sebuah jembatan besar yang ada di seberang jalan. Dan tiba-tiba saja sebuah bisikan ide gila merasuk ke dalam jiwanya.
'Mending kamu bunuh diri saja, Sil, di jembatan. Lagian percuma juga kamu hidup, Kak Arya nggak bisa menikah denganmu. Sedangkan kamu juga jangan mau menikah dengan Om Rama. Dia tua, nggak cocok denganmu. Selain itu kamu juga nggak mencintai, kan?'
"Pak! Berhenti di sini, Pak!" perintah Sisil pada sang sopir taksi. Pria berkemeja telor asin itu langsung menepikan mobilnya.
Sisil turun dari sana kemudian mengambil uang 50 ribu pada kantong baju. Setelah itu dia menyebrang jalan, melangkah menuju jembatan besar yang tidak ada siapa pun di sana.
Perlahan kakinya naik ke atas penyangga jembatan, akan tetapi seketika dia pun teringat wajah Gugun.
"Ah nggak!" Sisil menggeleng cepat lalu turun lagi. "Kalau aku meninggal, kasihan Kakak. Dan aku bisa-bisa masuk neraka. Aku juga banyak dosa."
"Udah, ngapain mikirin dosa." Entah siapa yang berbicara demikian. Akan tetapi saat menoleh ke kanan dan kiri, Sisil tak melihat siapa pun. "Kalau udah mati, kamu justru akan tenang. Nggak akan ada lagi yang menganggu pikiranmu siang dan malam. Kakakmu juga akan senang karena bebanmu sudah hilang," tambahnya.
"Ah benar juga," ucap Sisil mengangguk. Hatinya betul-betul terguncang. Dia saat ini tidak bisa berpikir jernih. "Lebih baik, aku mati saja." Sisil naik lagi pada penyangga jembatan itu dan bersiap ingin lompat. "Bismillahirrahmanirrahim."
"Sisil! Apa yang kamu lakukan?!" teriak seseorang yang baru saja turun dari mobil. Wajahnya tampak panik. Cepat-cepat dia berlari menghampiri Sisil.
__ADS_1
Mungkin sedikit lagi gadis itu akan jatuh ke bawah sana dan pergi ke alam baka. Namun lengannya langsung dia tarik dan membuat tubuhnya turun dari jembatan. Setelah itu dia segera memeluk tubuhnya dengan erat.
...Wah siapa nih yang jadi pahlawan kesiangan 🤭🤔...