
"Oh, tapi 'kan kamu sama Rama sudah berumah tangga, Nak. Ada baiknya kamu itu ikut suami, kan memang pada hakikatnya seorang istri itu harusnya begitu," tutur Yenny. Ada benarnya memang apa yang dia katakan. "Sebenarnya sih, ada bagusnya kalian tinggal berdua. Entah nanti beli rumah atau membeli apartemen. Tapi untuk sementara saja dulu, kalian tinggal bareng Mommy dan Daddy. Masa kamu nggak mau?"
"Ya sudah deh, aku mau, Mom." Sisil rasanya tak bisa menolak. Tidak enak, takut menyakiti perasaan Yenny. "Tapi berhubung ini sudah malam, dan niatku pulang ingin langsung bertemu Kakak ... jadi malam ini aku sama Om Rama menginap di apartemen Kakak, ya, Mom. Boleh, kan? Nanti besok juga aku udah mulai masuk kuliah, dan barang-barangku ada di apartemen semua."
"Jadi tinggal di rumah Mommy dan Daddy mulai besok? Begitu?" tebak Yenny.
"Iya, kalau boleh," pinta Sisil.
"Boleh. Kalian juga pasti sangat capek. Ya sudah, nanti kalau sudah sampai apartemen Gugun ... langsung istirahat saja, ya!"
"Iya, Mom."
"Jangan lupa besok bangun sahur, kan sudah mulai puasa," tegur Yenny.
"Oh iya, aku sampai lupa, Mom."
"Untung Mommy ingetin kamu, ya, Nak. Mungkin efek kebanyakan liburan, jadi lupa," kekeh Yenny. "Ya sudah, Mommy tutup teleponnya. Assalamualaikum."
"Walaikum salam." Setelah panggilan terputus, Sisil pun memberikan ponsel Rama ke tangan pemiliknya.
"Apa kata Mommy, Dek?" tanya Rama seraya mengambil ponselnya dari tangan Sisil. Lalu menatap wajahnya.
"Mommy minta kita tinggal di rumahnya, Om," jawab Sisil.
"Terus kamu jawab apa?"
"Besok kita tinggal di rumahnya, tapi hari ini aku mau tidur di apartemen Kakak, Om."
"Oh begitu. Oke." Rama mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian mengantongi ponselnya kembali.
"Tapi, Om, aku kayaknya takut deh." Sisil memiringkan posisi duduknya untuk bisa saling memandang.
"Takut kenapa?"
"Takut kalau ... eemm ...." Sisil menggantung ucapannya, merasa ragu dan tidak enak untuk mengucapkannya. Padahal dia ingin bertanya tentang Yenny. 'Ah, tapi percuma juga aku tanya Om Rama. Dia 'kan anaknya. Pasti memuji Mommynya.'
"Takut kenapa kamu, Dek?" tanya Rama penasaran.
"Nggak, Om, lupakan saja." Sisil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kok gitu? Takut kenapa kamunya?!" Rama makin penasaran, dia juga memerhatikan wajah sang istri dengan lekat. Bola matanya tampak bergerak-gerak.
"Lupakan sama deh, Om, nggak penting kok." Sisil langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela. Tapi dilihat kini wajah Rama tampak bingung.
__ADS_1
'Kenapa dengannya? Apa yang Sisil takuti?!' batin Rama bertanya-tanya.
"Pak berhenti dulu sebentar!" Gisel menyeru di dalam mobil taksi, tepat saat tak sengaja lewat di depan sebuah apartemen.
Dia melihat, ada Rama dan Sisil yang baru saja turun dari mobil taksi. Kemudian keduanya melangkah masuk ke dalam gerbang pada gedung pencakar langit tersebut.
Gisel sendiri tidak tahu, jika di sana adalah apartemen Gugun. Namun, melihat itu semua, dadanya seketika terasa berdenyut.
Jelas itu karena dia cemburu dan tentu sakit hati. Rama juga tampak begitu mesra saat melangkah bersama Sisil dengan merangkul pundaknya. Ingin rasanya, dialah yang berada diposisi Sisil saat ini.
"Mau ngapain berhenti di sini, Nona?" tanya sang sopir taksi heran. Dia memutar kepalanya ke belakang.
"Mereka pasti habis pulang liburan." Gisel bukan asal menebak, tapi dia tahu itu dari salah satu karyawati Rama pada toko emasnya. Kemarin dia sempat bertanya tentang Rama, sebab semenjak menikah dengan Sisil dia sudah lama tak berjumpa. "Tapi kira-kira ... mereka mau ngapain sekarang, ya? Oh ... atau mungkin mereka mau tinggal di salah satu unit sana? Menyewa apartemen? Atau membeli?" Kali ini, Gisel menebak. Lantas, dia pun terdiam beberapa saat. Kemudian tersenyum menyeringai saat ada sebuah ide yang muncul di otaknya.
"Tapi ada bagusnya juga, sih, mereka tinggal hanya berdua. Ketimbang bersama orang tua Mas Rama yang dukun tukang nyembur itu. Ini akan mempermudahku mengambil Mas Rama." Gisel mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sepertinya mulai besok ... rencanaku sudah harus dimulai," tambahnya penuh tekad. Kedua tangannya mengepal di atas paha.
"Nona, sebenarnya ini Nona mau turun apa gimana?" tanya sang sopir sekali lagi. Sebab pertanyaannya tadi belum dijawab.
"Lanjut jalan, Pak," sahut Gisel.
"Oke." Pria berkemeja telor asin pun mengangguk, kemudian mengemudikan mobilnya kembali.
Sementara itu di sebuah masjid berukuran sedang yang letaknya tak jauh dari apartemen, ada Gugun dan Hersa temannya yang melangkah bersama menuju bangunan tersebut.
Mereka hendak melaksanakan sholat tarawih pertama, keduanya juga sudah memakai baju koko, sarung, serta peci.
Sarung dan pecinya sama-sama berwarna hitam, hanya saja yang beda adalah baju kokonya. Gugun berwarna hijau tosca sedangkan Hersa biru awan.
"Lho, Gun, ternyata sudah banyak yang mengisi shafnya," ujar Hersa seraya menghentikan langkahnya. Begitu pun dengan Gugun.
Memang benar, shaf untuk pria sudah sangat penuh sekali. Untuk ikut bergabung pun sepertinya tidak akan bisa. Apalagi shaf belakang untuk wanita juga tak kalah banyak.
"Iya, Sa. Mending kita cari masjid lain saja," saran Gugun.
"Iya." Hersa mengangguk. "Tapi kita cari masjidnya sambil naik mobilku saja, Gun. Takutnya jauh."
"Oke."
Mereka pun lantas berbalik badan, kemudian melangkah menuju parkiran apartemen untuk mengambil mobil Hersa lalu naik bersama.
"Tumben banget masjidnya penuh. Biasanya kalau hari-hari biasa sampai kosong, ya, Gun, paling dua baris doang. Itu pun hanya cowok," komentar Hersa seraya mengemudi. Bukan sekarang mereka hendak melaksanakan sholat bersama di masjid itu, tapi memang sangat sering. Apalagi sholat Magrib.
"Iya." Gugun mengangguk. "Mungkin, karena pengaruh tarawih pertama, Sa, jadi semuanya bersemangat," tambahnya menebak.
__ADS_1
"Iya. Tapi kalau pertengahan atau bahkan terakhir, pasti sepi itu masjid," kekeh Hersa. Dia menebak sesuai pengalamannya selama beberapa tahun sholat berjamaah di sana.
"Ah jangan bilang begitu, Sa," tegur Gugun. "Harusnya kita do'ain. Biar penuh terus masjidnya, jangan hanya tarawih di hari pertama aja. Berarti dengan begitu ... banyak sebagian orang yang beriman di dunia ini."
"Iya juga, sih." Hersa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tak lama, ponsel Gugun pun berdering pada kantong baju Koko. Saat dirogoh ke dalam, ternyata panggilan itu dari Rama.
Segera, dia pun mengangkat panggilan itu. "Halo, Ram," ucap Gugun.
"Halo, Kak, Kakak di mana?" tanyanya dari seberang sana. Tapi itu suara Sisil, bukan Rama.
"Kakak lagi di mobil. Kenapa memangnya?" tanya Gugun.
"Di mobil mau apa? Aku ada di apartemen Kakak sama Om Rama," ujar Sisil.
"Kakak mau sholat tarawih sama Hersa, Sil," sahut Gugun. "Eh, tapi ... kapan kamu pulang?"
"Baru tadi. Oh ya sudah kalau begitu. Aku kira Kakak ke mana. Aku tunggu Kakak dan Om Rama di apartemen, ya?"
"Iya, Sil. Ya sudah, kamu dan Rama mending istirahat dul—"
"Wih! Ada bidadari surga, Gun!" Seruan dari Hersa membuat Gugun seketika menjeda kalimatnya, lantas pandangan matanya pun ke arah depan.
Mobil yang mereka tunggani sudah berhenti di sebuah parkiran di depan masjid besar pinggir jalan. Dan mesin mobilnya ikut dimatikan.
"Mana bidadari surga?" tanya Gugun penasaran.
"Itu, Gun." Hersa menunjuk seorang gadis berhijab berwarna hitam dan bergamis hijau tosca, yang tengah melangkah seorang diri dengan membawa sajadah dan tas mukena di tangannya. Saat diteliti dari kejauhan, wajahnya terlihat begitu familiar sekali. Dan tak berselang lama Gugun langsung mengenali kalau dia adalah Nona Manis alias Astuti. "Sepertinya, sebentar lagi masa jombloku akan berakhir, Gun!"
Entah apa maksud dari ucapan Hersa, tapi pria itu langsung turun dari mobil dengan girangnya. Kemudian melangkah cepat menghampiri Tuti.
"Mau ngapain si Hersa?!" Gugun bergegas ikut turun dari mobilnya, kemudian menghampiri mereka berdua. Namun, wajahnya tampak begitu panik, apalagi melihat temannya itu sudah mengulurkan tangannya di depan Tuti. Seperti mengajaknya berkenalan.
...Untuk beberapa hari kedepan ... semua novel Author yang ongoing akan slow update, ya! Mohon untuk dimaklumi, karena Author lagi ada di kampung sekarang, ngurusin Mama yang lagi sakit 😭...
...Author juga mau minta do'anya untuk kesembuhan Mama Author pada kalian semua. karena katanya, do'a-do'a orang baik akan cepat diijabah sama Allah. Apalagi dibulan yang suci ini 🤲...
... ...
...Dan barangkali juga, ada yang tau obat, salep, atau minyak balur yang ampuh untuk mengatasi asam urat. Tolong komen di bawah, ya! 🙏...
...Terima kasih 🖤...
__ADS_1