
Di rumah Mbah Yahya.
Sisil pun mengerjapkan matanya, saat mengendus aroma minyak wangi yang dia kenal betul itu milik siapa.
Sehabis sholat subuh tadi, dia begitu mengantuk dan memutuskan untuk tidur.
Sedangkan Rama sendiri memilih untuk olahraga. Sudah lama juga, alat-alat olahraganya tidak terpakai. Jadi waktunya dia kembali memakai dan beraktivitas seperti biasanya.
"Aa mau ke kantor, ya?" tebak Sisil yang melihat Rama memakai dasi, pria itu juga begitu tampan seperti habis mandi lagi dan mengenakan stelan jasa berwarna merah maroon.
"Iya, Dek," jawab Rama seraya menoleh ke arah Sisil.
"Aa 'kan baru kemarin keluar rumah sakit, masa udah kerja? Dan lagian udah mau lebaran juga ... kok kantornya belum tutup? Aku aja kuliah udah libur." Sisil langsung bangkit dari kasur, segera dia pun menghampiri Rama sebab khawatir pria itu benar-benar pergi.
"Tiga hari lagi kantorku tutup, Dek. Ini aku ke kantor rencananya mau ngecekin beberapa THR sebelum besok dibagikan pada karyawan kantor dan karyawan toko. Takut ada yang kelupaan atau apa, jadi enak kalau aku sendiri yang sudah mengeceknya."
"Aa ngasih THR-nya apa? Boleh aku tau?
"Uang, sama masing-masing aku kasih 2 gram emas logam mulia."
"Berapa uangnya? Dan 2 gram emas logam mulia itu nominalnya berapa?" tanya Sisil yang terlihat kepo.
"Kalau uang sih beda-beda, Dek. Tergantung jabatan dan lamanya mereka kerja. Kalau 2 gram emas itu setara dengan dua juta lebih. Tapi tergantung harga jual emas juga, kan kadang naik turun," jelas Rama.
"Ooohhh ... tapi kok cuma karyawan Aa saja yang dikasih THR? Aku nggak?"
"Nanti kamu aku beliin baju lebaran, Dek."
"Iiihhh ... masa baju THR-nya?"
"Terus apa?"
"Ya baju mah udah biasa kali, A. Apalagi Aa 'kan suamiku. Jadi wajar kalau lebaran ngasih baju." Sisil memanyunkan bibirnya, tapi dia langsung memeluk tubuh Rama.
"Terus apa dong? Kamu mau emas juga? Apa uang?" tanya Rama bingung. "Bilang saja, Dek."
"Waktu itu katanya Aa mau buatin aku pakaian dalam berbahan emas ... Itu udah jadi nggak?"
"Ya Allah ...." Rama langsung tepok jidat, lantaran lupa. Ditambah dia juga terkena musibah jadi tidak ada waktu untuk mengerjakannya. "Belum, Dek. Bahkan setengah jadi pun belum. Maaf, ya, kamu 'kan tau sendiri aku jarang ke kantor. Apalagi kemarin-kemarin aku kena musibah."
Sisil menggelengkan kepalanya. Perlahan dia pun melepaskan pelukan. Dan raut wajahnya tampak begitu santai. "Enggak apa-apa. Lagian bukan itu kok, THR yang aku inginkan."
__ADS_1
"Terus apa?"
"Aku ingin kita bulan madu, A."
"Lho... bukannya pas habis nikah kita sudah bulan madu ya, Dek?"
"Ya emang kenapa kalau bulan madu lagi? Haram hukumnya, ya ... kalau dalam pernikahan bulan madu lebih dari sekali?"
Rama menggeleng cepat. "Enggak sih, enggak haram. Cuma heran aja aku, Dek."
"Terus Aa mau nggak, ngajakin aku bulan madu?"
"Mau. Tapi ke mana? Apa Korea lagi?"
"Yang deket-deket aja, A. Di Bandung. Nanti kita sekalian metik buah strawberry juga, A. Di kebunnya. Kepengen aku kayaknya ... makan strawberry langsung metik dari pohonnya. Pasti seru juga, kan?" Sisil mengusap perut dan secara tidak sadar dia sudah menelan saliva sambil membayangkannya. Segera Rama pun mengusap wajahnya.
"Jangan sambil dikhayalin ... kan kamu lagi puasa. Nanti makruh," tegurnya menasehati.
"Eh iya, habis aku kepengen sih, A."
"Kalau begitu kita bulan madu keduanya pas habis lebaran saja ya, Dek."
"Ya terus kapan? Masa sekarang, nggak ada, Dek ... pasangan suami istri bulan madu dibulan puasa. Kan kita nggak bisa bercinta siang-siang."
"Malam saja kita bercintanya, A."
"Metik buahnya kapan? Nggak mungkin malem juga. Iya, kan?"
"Kalau metik buah ya siangnya."
"Berarti kamu nggak puasa dong nanti?"
"Tetap puasa."
Rama membuang napasnya dengan berat. Agak sedikit mumet juga bicara dengan Sisil dan sedikit ilmu kesabaran. "Kan katanya tadi kamu mau makan strawberry yang baru metik dari pohonnya? Gimana sih ... kamu, Dek."
"Iya juga, ya, A." Ada benarnya juga yang dikatakan Rama. Tapi Sisil justru dilema. "Tapi aku kepengennya sekarang, gimana dong? Dan 'kan permintaanku ini adalah THR. THR juga biasanya dikasih saat sebelum lebaran, A, bukan sesudah lembaran." Sial mengerucut bibirnya, lalu kembali memeluk Rama dengan manja.
"Aku ngerti, Dek." Rama mengelus punggung Sisil. "Tapi memang bagusnya habis lebaran saja. Dan biasanya orang-orang lain pun kalau habis lebaran itu jalan-jalan. Iya, kan?"
"Iya sih."
__ADS_1
"Udah berarti habis lebaran saja. Nanti aku juga akan sewa kamar hotel yang paling bagus untuk bulan madu kita."
"Tapi hanya berdua ya, A, yang lain nggak boleh ikut. Siapa pun itu."
"Iyalah, Dek, namanya 'kan bulan madu," kekeh Rama. Dia mengerti, pasti Sisil tak mau ada yang menganggu momennya. "Udah, ya, aku pamit ke kantor dulu, Dek."
"Aku ikut ya, A? Aku juga sekalian mau ketemu Kakak. Kita ke apartemennya dulu."
"Memang Kak Gugun nggak kerja hari ini?"
"Waktu di rumah sakit Kakak sempat ngasih tau sih, A, kapan dia libur kerja menjelang lebaran. Dan biasanya memang tanggal segini dia udah libur."
"Ya udah kalau begitu. Kamu sana cuci muka terus siap-siap. Kita langsung ke apartemen Kak Gugun dulu."
"Oke. Tungguin ya, A!" Sisil langsung berjinjit, lalu mengecup pipi kanan Rama. Setelah itu dia pun berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi.
Rama perlahan meraba pipinya bekas kecupan Sisil tadi, dan tiba-tiba saja miliknya jadi menegang. Berikut dengan debaran di dalam dada.
"Baru juga dicium ... udah langsung tegang aja kamu." Rama berbicara sendiri pada miliknya sambil mengelusnya dari celana. "Sabar dong! Dan ingat juga lagi puasa. Imanmu harus kuat, walau pun godaannya akan besar nanti!" tambahnya menyemangati diri sendiri.
*
*
*
"Kalian mau ke mana?" tanya Yenny yang baru saja berdiri satu duduknya.
Di ruang keluarga, dia melihat Rama dan Sisil datang menghampiri dengan memakai pakaian rapih. Sisil juga memakai celana berbahan katun berwarna putih dan kemeja pendek kotak-kotak hitam putih.
"Aku dan Sisil pamit pergi ya, Mom. Aku mau ke kantor ... sedangkan Sisil mau aku antar ke apartemen Kak Gugun. Dia bilang mau ketemu," pamit Rama, lalu mencium tangan Yenny. Sisil pun langsung melakukan hal yang sama.
"Kamu jangan kerja dulu lah, Ram, baru juga sembuh. Mommy juga nggak akan izinkan kamu pergi ke mana-mana. Mommy khawatir!"
"Khawatir kenapa? Aku ke kantor nggak mau kerja kok, Mi. Cuma mau ngecek THR buat besok."
"Kan bisa Tuti saja yang mengeceknya." Yenny langsung meraih tangan Rama, dan memegangnya dengan erat. "Mommy juga nggak mau nantinya kamu ada yang culik lagi, Ram. Mending kamu di rumah saja."
"Mommy ada benarnya sih, A." Sisil tiba-tiba menimpali yang seakan memang setuju dengan ucapan mertuanya. "Pelakunya juga belum tertangkap, otomatis Aa masih dalam bahaya. Mending sekarang kita balik lagi ke kamar, terus tidur bareng, gimana?" usulnya yang ikut tak jadi pergi.
...Iyyaaa ... mending kelonan aja, Sil, sekalian nunggu Magrib 🤣🤣...
__ADS_1