
Sisil menoleh ke kanan dan kiri, saat dirinya sampai di depan toilet pria. Mencoba mengamati situasi.
Tak lama, pintu toilet itu pun dibuka. Keluarlah Rama dengan menyembulkan kepalanya, lalu meraih tangan Sisil.
"Cepet masuk, Dek, sebelum ada orang yang lihat," ajak Rama seraya menarik tangan sang istri.
Sisil tentu pasrah, bahkan dia sangat senang saat Rama membawanya masuk ke salah satu WC di sana. Cepat-cepat dia pun mengunci pintu.
"Tapi di sini klosetnya nggak ada yang duduk, Dek." Rama menunjuk pada kloset jongkok, memang di Korea jarang sekali menemukan kloset duduk. Tapi bentuknya sangat berbeda dengan kloset jongkok di Indonesia.
"Terus masalahnya apa, Om?" tanya Sisil heran. Dia berbicara lirih.
"Kamunya nanti nggak bisa duduk, takutnya pegel." Rama sudah mulai melucuti satu persatu pakaiannya, lalu mengaitkan pada gantungan yang menempel di tembok keramik.
"Nggak masalah, Om. Bagaimana pun posisinya aku mau."
"Udah kecanduan kamu ya, Dek, bercinta denganku." Rama perlahan mendekat dengan wajah yang mulai memerah. Kemudian mendorong pelan tubuh Sisil hingga punggungnya menempel tembok keramik.
"Kecanduan, memangnya na*rkoba? Om ini ada-ada saja. Ayok cepat kita mulai!" Sisil pun berjinjit, lalu menangkup kedua pipi Rama. Dan dialah yang memulai lebih dulu mencium bibir sang suami, hingga akhirnya terjadi lumattan serta pertukaran saliva.
Cup~
Rama segera meremaas dada Sisil yang terlihat seperti sengaja membusung di depannya, lalu melepaskan dua kancing dress di dari atas.
'Aku suka kalau kamu begini, Dek, ya semoga saja kamu terus begini. Mungkin dengan sering kita bercinta ... bukan hanya kamu bisa cepat hamil, tapi kamu juga bisa mencintaiku,' batin Rama penuh harap.
Tak menunggu waktu yang lama, keduanya pun bisa saling menyatu. Mendesaah bersama di ruangan itu.
Kali ini mereka beruntung, sebab tak ada yang memergoki. Malah tanpa mereka sadari, ternyata ada dua pasangan lain yang juga melakukan hal yang sama di salah satu WC di samping mereka.
***
Keesokan harinya.
Hari ini, mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Meskipun awalnya lagi-lagi Sisil menolak karena mengatakan masih betah, tapi akhirnya dia luluh juga untuk diajak pulang.
__ADS_1
Selain itu, esok juga akan memasuki bulan Ramadhan. Dan Rama mau mereka berpuasa di tanah air.
"Dek, belanjanya secukupnya saja," tegur Rama kepada Sisil.
Saat ini mereka berada di salah satu mall, ingin belanja oleh-oleh sebelum berangkat ke bandara.
"Kenapa? Takut uang Om habis, ya?" Sisil menghentikan langkahnya dengan wajah cemberut, lalu menatap Rama yang membawa beberapa paper bag di tangannya.
"Bukan takut uangku habis. Tapi nanti 'kan sebelum naik pesawat koper kita ditimbang dulu, Dek. Kalau beratnya nggak sesuai peraturan di pesawat ... ya pasti suruh dikurangi. Kan sayang nanti kalau udah beli banyak tapi nggak bisa dibawa. Mubazir juga namanya,“ jelas Rama memberitahu. Akan tetapi penjelasannya itu sama sekali tidak diterima oleh Sisil, gadis itu justru mendengkus.
"Ah alasan, bilang aja kalau Om memang nggak ikhlas beli oleh-oleh. Padahal aku beli juga buat Kakak, Citra, Daddy dan Mommynya Om juga. Tapi ya sudah deh, segini saja, sekarang kita langsung pulang." Dengan ketusnya Sisil langsung berbalik badan, kemudian menghentakkan kakinya dengan cepat ke arah pintu keluar mall.
Rama hanya bisa menghela napasnya dengan berat, lalu berlari menyusul Sisil. 'Kamu ini, Dek, dikasih tau kok malah marah. Kadang aneh aku sama kamu,' batinnya.
*
*
Mereka berangkat dari jam 10 pagi, dan sampai Indonesia sekitar jam 6 malam. Pas sekali bertepatan dengan waktu Magrib.
Sebelum pergi dari Bandara Soekarno-Hatta, mereka pun memutuskan untuk melaksanakan sholat Magrib terlebih dahulu, di salah satu musholla yang ada di sana.
Saat ini dia dan Sisil sudah berada di dalam mobil taksi. Namun tujuan untuk pulang masih bingung, sebab Rama sendiri terserah Sisil. Mau tinggal di mana pun dia bersedia asal bisa bersama.
Untuk membeli rumah secara cepat tentu dia juga bisa, tapi itu semua harus dapat persetujuan Sisil juga, karena memang takutnya dia tidak mau.
Belum sempat Sisil menjawab pertanyaan, tapi tiba-tiba saja ponsel Rama berdering kencang.
Pria itu cepat-cepat merogoh saku dalam jasnya, lalu mengambil ponsel. Setelah dilihat ternyata itu dari Yenny.
Segera, dia mengangkatnya. "Halo, Mom, assalamualaikum," ucap Rama.
"Walaikum salam, Ram. Apa Mommy menganggu kamu dan Sisil?"
"Nggak kok. Ada apa ya, Mom?"
"Kamu dan Sisil apa kabar di sana? Kok kamu nggak pernah menghubungi Mommy, sih, Ram? Mommy 'kan kangen sama kalian. Tapi mau telepon juga nggak enak, takut menganggu," keluh Yenny yang terdengar sedih.
__ADS_1
"Kabarku sama Sisil baik, Mom," sahut Rama. "Aku minta maaf kalau selama di Korea nggak pernah menghubungi Mommy. Aku sibuk menghabiskan waktu berdua sama Sisil, tapi sekarang aku sudah pulang kok, sama dia."
"Pulang ke mana?"
"Indonesia."
"Alhamdulillah ...." Terdengar suara helaan napas lega dari seberang sana. "Terus kalian ada di mana sekarang? Apa di apartemen Gugun?" tebak Yenny
"Mobil taksi, Mom," jawab Rama.
"Oh, berarti mau ke sini, ya? Ram ... Mommy maunya kamu sama Sisil tinggal di rumah, kamu mau, kan?"
"Aku sih tergantung Sisil, Mom. Terserah dia mau tinggal di mana." Rama menoleh ke arah Sisil yang saat ini tengah menatap jendela mobil taksi.
"Istri 'kan harus ikut suami, Ram. Jadi kamu dong yang harus nentuin mau tinggal di mana."
"Iya, tapi aku juga nggak mau maksa kalau Sisilnya nggak mau, Mom."
"Iya, sih. Ya sudah ... mana Sisilnya? Mommy mau ngomong sama dia, Ram."
Rama langsung menepuk pelan lengan kanan Sisil, dan sontak membuat gadis itu terperanjat lalu menoleh. Perlahan tangannya pun terulur memberikan ponsel. "Mommy mau ngomong sama kamu, Dek, bicaralah," titahnya.
Sebenarnya Sisil malas dan masih marah dengan kejadian saat di mall. Tapi tidak mungkin juga dia mengabaikan mertuanya, tidak sopan rasanya.
Segera, Sisil mengambil benda pipih itu. Kemudian menempelkan pada telinga kanan. "Assalamualaikum, Mom," ucapnya.
"Walaikum salam," jawab Yenny. "Nak, kamu sama Rama tinggal di rumah sama Mommy dan Daddy, ya, mulai sekarang? Mau, kan?" pinta Yenny. Suaranya terdengar lemah lembut sekali.
"Eemm ...." Sisil bergumam dan terdiam sebentar, dia memikirkan jawabannya.
"Mau ya, Nak. Mommy itu kepengen kita lebih dekat, dan kemarin malam Mommy juga sempat ketemu Kakakmu. Dia bilang ... dia mengizinkan kamu tinggal di rumah Mommy dan Daddy."
"Gimana ya, Mom, aku bingung." Sisil mengusap tengkuknya.
"Bingungnya kenapa?" tanya Yenny penasaran.
"Aku selama ini tinggal dengan Kakak, Mom, rasanya kasihan kalau meninggalkan dia tinggal seorang diri," jelas Sisil.
__ADS_1
Selain memang benar penyebabnya itu, tapi alasan utamanya adalah karena Sisil takut jika nantinya Yenny berubah menjadi jahat. Seperti Mama mertua yang ada di sinetron, yang kerap kali menyiksa menantu dan menjadikannya seorang pembantu.
...Nggak boleh su'uzan, Sil 🙈...