Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
63. Sisil ke mana?


__ADS_3

"Bicara saja intinya, Mbak," sahut Sisil dengan santai.


"Ternyata ... Mas Rama itu impoten, Nona. Nona tau impoten, kan?" Gisel menatap Sisil dengan serius. Sedangkan Sisil langsung melayangkan pandangan kepada Citra dengan kening yang mengernyit. Citra juga mendengar jelas apa yang Gisel katakan meskipun suaranya begitu lirih.


"Tau, Mbak. Tapi aku nggak percaya kalau Om Rama impoten," balas Sisil.


"Kenapa nggak percaya? Padahal cerita tentang Mas Rama itu impoten banyak diketahui orang lho, Nona. Bahkan pas aku baru datang saja ada yang ngomongin dia. Katanya begini ... kok ceweknya bisa mau, menikah dengan Pak Rama. Apa nggak takut, ya, kalau nggak bisa punya keturunan," jelas Gisel. Tentang orang yang ngomongin Rama memang benar adanya, tadi dia tak sengaja mendengar.


"Ya gimana mau percaya, katanya kalau impoten itu maaf ... nggak bisa berdiri itunya. Tapi nyatanya dia berdiri kok, Mbak." Sisil jelas tidak percaya. Meskipun memang dirinya diperkosa dalam keadaan tidak sadar, tapi saat dirinya tengah dipangku tadi—tentu dia ingat, betapa kerasnya milik suaminya itu.


"Berdiri?!" Bola mata Gisel tampak membulat. Keningnya mengernyit heran. "Nona memangnya sudah pernah melihat langsung? Sampai bilang berdiri segala?"


"Melihat langsung sih nggak. Tapi sempat merasakan saja."


"Merasakan?!" Gisel menganga dengan dada yang sontak terasa panas. Jawaban Sisil terdengar ambigu namun mampu membuat sakit dihatinya. "Apa Nona dan Mas Rama sudah pernah berhubungan badan? Kapan itu? Apa tadi, setelah selesai ijab kabul?" Gisel menyentuh kedua lengan Sisil, bola matanya memanas dan seketika air matanya jatuh.


"Kalau masalah itu sepertinya Mbak nggak perlu tau, soalnya itu 'kan privasi, Mbak," ucap Sisil dengan santai dan menepis tangan Gisel pada lengannya.


"Tapi itu nggak mungkin!" tegas Gisel sambil geleng-geleng kepala. Terlihat jika dirinya tidak percaya.


Walau Sisil tak memberitahu secara jelas apa yang dimaksud dari merasakan, tapi jawaban gadis itu seolah meyakinkan sekali.


"Yang aku tau, Mas Rama itu impoten, Nona!" imbuh Gisel marah. "Harusnya Nona itu bercerai saja dengan Mas Rama!"


"Lho, kok jadi Mbak yang ngatur hidupku, sih? Itu 'kan ...." Ucapan Sisil menggantung kala melihat Gisel berlari cepat menuju pelaminan dan menghampiri Rama.


Sontak—kedua matanya itu membulat sebab dengan terang-terangan Gisel memeluk tubuh Rama tanpa permisi. Terlihat jelas jika Rama yang masih mengobrol dengan Steven langsung terkejut dibuatnya.


"Mas Rama! Kenapa Mas tega banget sama Dedek?! Kenapa, Mas!" teriak Gisel menangis.

__ADS_1


"Kamu siapa?!" Rama mendorong dada Gisel, akan tetapi gadis itu kembali memeluknya, hingga apa yang dia lakukan membuat pusat perhatian semua orang.


Sisil yang melihatnya seketika merasakan panas di dalam dada. Dia juga tak menyangka, jika sudah dua perempuan yang membuatnya emosi. "Ganjen banget, peluk-peluk segala!"


Sisil langsung berdiri dan meraih gaunnya lalu menariknya ke atas. Dia yang hendak melangkah menghampiri Rama tiba-tiba tak jadi, sebab melihat ada Mbah Yahya yang baru saja berlari kemudian menarik lengan Gisel begitu kasar. Hingga membuat tubuhnya sudah tak lagi menempel pada Rama.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!" teriak Mbah Yahya murka. "Siapa kau dan kenapa berani sekali menyentuh suami orang!"


Gisel menoleh saat merasakan lengan kanannya begitu panas seperti terbakar. Sontak dia terbelalak kala pandangan matanya bertemu dengan Mbah Yahya dan pria itu pun langsung menarik maskernya, hingga wajahnya terlihat secara keseluruhan.


"Gisel!!" pekik Mbah Yahya dengan keterkejutannya. Bola matanya itu melebar sempurna. "Apa-apaan kau ini, aku 'kan sudah pernah katakan kalau kau jangan menganggu Rama lagi! Tapi kenapa kau justru memeluknya!"


"Aku mencintai Mas Rama, Pak! Tapi kenapa Bapak dan Mas Rama begitu tega padaku?! Kenapa bukan aku yang menjadi pengantinnya? Padahal aku ...." Ucapan Gisel terhenti sebab dirinya mendapatkan sebuah semburan maut dari Mbah Yahya.


Pria itu tadi tak sengaja melihat seorang pelayan yang membawa satu mangkuk sayur asem di atas nampan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mbah Yahya meraih mangkuk tersebut dan menenggak kuahnya lalu berkumur-kumur sambil berkomat-kamit di dalam hati.


Setelahnya dia semburkan ke wajah Gisel dan sekarang, gadis itu sudah jatuh tak sadarkan.


"Dad! Daddy apakan Gisel?!" tanya Rama. Dia membungkukkan badannya hendak meraih tubuh gadis itu. Akan tetapi, Mbah Yahya menahannya.


'Apa-apaan Om Rama?! Apakah dia mau menolongnya?!' batin Sisil kesal. 'Ngapain? Apa wanita itu sangat penting baginya?'


"Evan!" teriak Mbah Yahya memanggil sang asisten.


Evan yang baru saja memberikan plastik putih berisi obat kuat kepada Yenny langsung menoleh, kemudian berlari menghampirinya.


Suasana yang tadinya ramai akibat orkes dangdut seketika menjadi sunyi sepi. Sebab atensi semua orang berpusat kepada Gisel.


"Iya, Pak?" sahut Evan dan dia langsung terkejut melihat seorang gadis terkapar di sana tanpa ada yang menolong.

__ADS_1


"Dia pingsan, bawa ke rumah sakit!" perintah Mbah Yahya kencang. Sengaja dia menggunakan nada tinggi supaya semua orang mampu mendengarnya. Akan tetapi, saat Evan hendak meraih tubuh Gisel, dia justru berbisik kepadanya. "Antarkan dia ke apartemennya dan kalau sudah sadar ... ancam dia, Van, aku akan kirim alamatnya lewat ghaib."


"Oke," jawab Evan lirih. Dia langsung meraih tubuh kecil Gisel, lalu membawanya pergi dari sana.


Olla yang melihat temannya dibawa pergi, langsung cepat-cepat menghabiskan es buahnya. Kemudian berlari untuk menyusul.


"Maaf semuanya, tadi ada kesalahan teknis. Tapi pestanya bisa dilanjutkan sampai pagi," ucap Mbah Yahya berbicara sambil menatap semua orang.


Sang biduan yang sempat menghentikan goyangan juga nyanyiannya, langsung memulainya lagi. Sebuah tembang jarang goyang dia lantunkan. Beberapa orang yang menyawer ikut berjoget lagi.


"Kamu diapakan tadi sama Gisel?" tanya Mbah Yahya seraya mengusap bahu kanan Rama.


"Cuma dipeluk sebentar kok, Dad," jawab Rama. Lalu dia pun menoleh ke arah kiri, dimana Sisil dan Citra berada. Akan tetapi, hanya ada Citra saja dan gadis itu kini tengah berdiri.


Rama berlari menghampiri, lalu bertanya, "Sisil ke mana, Cit?"


Citra menoleh ke arah samping. Dia sendiri baru sadar jika Sisil tak ada di sampingnya. "Lho, aku juga baru tau Sisil nggak ada. Ke mana dia, Om?" Dia justru berbalik tanya.


"Mbak!" teriak Rama memanggil wanita WO yang baru saja lewat, tangannya membawa sepiring nasi dan lauk.


"Iya, Pak?" Wanita itu menghentikan langkahnya.


"Mbak tau Sisil ke mana, nggak?"


"Nggak tau, Pak." Wanita itu menggeleng lalu melangkah pergi.


Rama menatap sekeliling para tamu undangan, juga mencari-cari keberadaan Gugun sebab mungkin pria itu bersama Sisil.


Namun nyatanya, Gugun memang ada. Tapi dia tengah mengobrol dengan temannya dan tidak ada Sisil di sampingnya.

__ADS_1


'Sisil ke mana? Apa tadi dia sempat melihat Gisel yang datang memelukku? Ah semoga saja nggak. Nanti dia berpikir macam-macam lagi. Ah tapi ... kayaknya nggak mungkin juga sih, Sisil berpikir macam-macam,' batin Rama dengan yakin. Kakinya melangkah menuju ruang make up pengantin wanita. Mungkin saja dia ada di sana.


...Sisil cembukur ronde kedua lho, Om 😆 fix ga jadi MP kayaknya nih 🤣...


__ADS_2