
"Namanya aku akan kirim lewat chat. Tapi pastikan ... besok malam kalian bawa dia ke hotel dalam keadaan nggak sadar," jawab Gisel.
"Besok malam?!" Cemet mengulang kalimat itu dengan wajah bingung.
"Tapi, Nona, bukannya kami datang ke sini karena diminta untuk mengangkut barang, ya? Kok jadi seperti menculik orang?" tanya Cimit. Sama hal seperti temannya, dia juga terlihat bingung.
"Iya, kalian jadi kok mengangkut barangnya. Tapi yang aku minta tadi adalah kerjaan tambahan, memangnya kalian nggak mau, ya?"
"Nggak." Cemet langsung menggeleng cepat.
Sebenarnya, pekerjaan utama mereka adalah orang suruhan. Entah dalam hal menjadi bodyguard, menculik sampai dengan membunuh. Semuanya mereka mau, asalkan sesuai harga yang diinginkan.
Namun, Cemet memiliki alasan tersendiri untuk menolaknya sekarang. Dan itu karena dia sudah tak mau jadi orang suruhan dalam hal kejahatan.
Sebab terakhir kali, pekerjaan mereka dua kali gagal berturut-turut. Yang pertama adalah diminta untuk membakar seseorang, tapi karena keduanya mengalami sakit mata—jadilah mereka salah bakar.
Dan yang kedua, adalah untuk menculik Sisil dihari pernikahan atas permintaan Arya. Semua itu gagal lagi lantaran Evan menyebarkan paku, alhasil mereka tidak mendapatkan full bayaran dan berujung ke bengkel untuk mengganti ban mobil.
"Eh, tapi bayarannya dulu berapa?" tanya Cimit. Tampaknya, lagi-lagi dia merasa tergiur dengan uang. Meskipun selalu mendapatkan kesialan ketika beraksi.
"Dih, Mit, kok kamu malah nanya bayaran? Kan kita udah sepakat mau berhenti jadi orang jahat," tegur Cemet. Baru kemarin, mereka berdua berunding kemudian sepakat untuk tidak mengambil orderan semacam itu. Tapi sepertinya, temannya itu sudah mulai goyah.
"Iya, sih, tapi kita 'kan butuh duit buat lebaran, Met. Masa iya, nggak pakai baju lebaran? Ditambah aku juga mau pulang kampung. Kamu sih enak, nggak punya kampung," balas Cimit sambil mendengkus.
"Kalian mau nggak, sih, sebenarnya? Nanti aku kasih deh, masing-masing dari kalian 5 juta, bagaimana? Jadi 10 juta, total berdua," ujar Gisel yang tampak sudah tak sabar.
"5 juta mah kemurahan, Nona," sahut Cimit. "Kami biasanya mematok harga 10 juta untuk perorang."
"Mahal amat."
"Ya memang begitu, kan banyak resikonya."
__ADS_1
"Tapi temanmu setuju nggak? Nanti aku udah bayar kalian malah nggak jadi lagi. Kan rugi." Gisel menatap Cemet yang tengah diam seperti memikirkan sesuatu.
"Sebentar ... saya bicara dulu dengan teman saya," pamit Cimit. Dia langsung menarik tangan temannya hingga membuat pria itu berdiri. Kemudian mengajaknya melangkah menjauh ke area pojok cafe, supaya lebih leluasa dalam bicara dan tidak didengar oleh siapa pun. "Udah, Met, jangan banyak mikir kamu. Orang rezeki kok ditolak."
"Rezeki haram itu, Mit. Lagian ini juga bulan puasa. Bisa-bisa dosa kita dua kali lipat, lho," tegur Cemet yang masih kekeh tidak mau.
"Nanti habis lebaran kita tobat," jawab Cimit dengan enteng. "Lagian, nih, ya ... kita 'kan cuma disuruh bawa pria ke hotel. Nggak disuruh dibunuh atau mencelakainya. Jadi amanlah, Met."
"Tapi kalau Nona itu yang mau berbuat jahat bagaimana?" Cemet memerhatikan Gisel dari kejauhan. Gadis itu terlihat tengah mengobrol dengan seorang pelayan perempuan.
"Ya urusan dia. Kita 'kan cuma disuruh bawa prianya doang." Cimit pun langsung menarik kembali tangan temannya, untuk menghampiri Gisel lagi. "Udah, setuju saja. Semua ini demi baju lebaran. Malu tau, lebaran nggak pakai baju lebaran plus pegang duit. Udah mah jomblo."
"Bagaimana?" tanya Gisel saat melihat mereka berdua telah berdiri di hadapannya.
"Setuju, Nona." Cimit lah yang lagi-lagi menjawab. "Tapi sebelum kami beraksi, Nona harus kirimkan kami setengah dari bayarannya. Berarti masing-masing 5 juta."
"Oke." Gisel mengangguk tanda setuju. Kemudian dia mengulurkan tangannya dan mereka pun berjabat tangan tanda kalau sudah deal. "Sekarang kalian angkut barang-barangku dulu di apartemen. Ayok, ikut denganku." Gisel berdiri, kemudian melangkah lebih dulu untuk mengajak mereka.
Keduanya pun langsung berlari menyusul. Kebetulan mereka memang belum memesan apa-apa di cafe itu.
Mbah Yahya tengah berdiri di sebuah pemakaman umum, tepat di depan calon kuburan Steven.
Kuburan itu sudah digalih cukup dalam dan beberapa persiapan pun lengkap, hanya menunggu jenazahnya saja.
Namun sampai sekarang, nyatanya belum ada tanda-tanda mobil ambulan atau rombongan keluarga dari Angga datang. Padahal sudah satu jam lebih Mbah Yahya menunggu.
Rama dan Sisil tidak ada di sana, mereka hanya mengantarkan Mbah Yahya lebih dulu. Kemudian pergi menuju rumah Angga, berniat ingin ikut mengiringi jenazah Steven yang akan dibawa ke sana.
"Dono, mana ini si Stevennya? Kok belum datang? Apa nggak jadi mati dia?" tanya Mbah Yahya kepada pria gendut berseragam hitam di sampingnya. Pria yang dia panggil Dono itu adalah salah satu satpam di rumahnya Angga.
Saat baru datang, mereka sempat berkenalan dulu, mangkanya Mbah Yahya langsung akrab.
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi, Pak, tunggu saja," jawab Dono.
Selain mereka berdua, ada pula 4 orang penggali kubur. Mereka tengah duduk lesehan bersama beberapa cangkulnya, di bawah atap terpal yang mereka buat sendiri.
"Tapi lama. Mana panas banget lagi, kulitku bisa tambah hitam kalau begini." Mbah Yahya mendongakkan wajahnya sambil menyipitkan mata, menatap matahari di atas sana yang seolah berada tepat di atas kepalanya.
"Bapak masuk ke dalam mobil saya saja, kebetulan saya ke sini naik mobil." Dono mengulurkan tangannya memberikan sebuah kunci mobil, juga menunjuk sebuah mobil putih yang terparkir di depan gerbang makam. Sebenarnya itu bukan mobilnya, tapi mobil Angga.
Mbah Yahya langsung mengambil benda tersebut, lalu mengangguk. "Oke. Tapi belikan aku es cendol dulu deh, Don. Cari disekitar sini kali ada. Aku haus banget, tenggorokannya kering." Menyentuh lehernya sendiri kemudian mengelusnya.
"Lho, memangnya Bapak nggak puasa? Dan mana mungkin juga ada tukang es cendol, Pak."
"Puasa apa?"
"Ramadhan lah, Pak," balas Dono. "Bapak memangnya bukan orang Islam, ya?" Dia lantas memerhatikan Mbah Yahya dari ujung kaki hingga kepala.
"Enak saja. Aku Islam!" omel Mbah Yahya yang tampak marah.
"Kok nggak puasa?"
"Aku lagi halangan," jawabnya asal.
"Halangan? Memangnya Bapak perempuan?"
"Udah sih, banyak amat komentarmu. Seseorang yang halangan itu bukan cuma perempuan, tapi laki-laki juga bisa," jawabnya berkilah. Padahal sebenarnya Mbah Yahya memang tidak pernah puasa ramadhan semenjak menjadi dukung. Karena memang tidak diperbolehkan, sebab itu akan melunturkan ilmunya. "Cepat belikan aku es cendol, aku kepengen banget, Don. Kamu mau memangnya ... aku ikut dikubur juga kaya si Steven nanti?"
"Tapi saya nggak mau membelikannya, Pak, malu," tolak Dono sambil menggelengkan kepalanya.
"Malu kenapa?" Mbah Yahya langsung merogoh dompet kulitnya, kemudian memberikan selembar uang berwarna merah. "Ini uangnya, dan sisanya buatmu."
"Kan saya sudah bilang ... saya malu, Pak." Dono tak mengambil uang yang terulur di depannya. Dia menolak tentu ada alasannya. "Saya juga puasa. Masa iya, saya membelikan orang yang nggak puasa."
__ADS_1
"Maka dari itu, kamu harus banyak beramal. Kan orang menolong juga dapat pahala, Don. Kamu mau, kan, puasamu diterima dan dilipat gandakan pahalanya? Jadi cepat belikan," pinta Mbah Yahya. Dia sedikit memaksa dengan memberikan uangnya ke tangan Dono.
...Jangan pada nabung, bab, ya 🥲...