Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
50. Dasar cewek matre!


__ADS_3

"Sil, kenalkan dia Om Ganjar, teman Daddyku," ucap Rama.


Ganjar ini adalah orang yang sering berobat kepada Mbah Yahya dulunya. Entah untuk mengatasi masalah dalam urusan usaha, atau bahkan dia juga pernah meminta Mbah Yahya untuk mengirimkan sebuah santet kepada saingannya.


Karena kekuatan Mbah Yahya diakuinya sangat sakti mandraguna, jadilah Ganjar terus berobat padanya hingga sekarang. Sampai mereka pun menjadi akrab layaknya seorang teman.


"Sil," panggil Rama sekali lagi sebab gadis itu masih diam membeku. Perlahan dia menyentuh puncak rambut Sisil, dan sontak membuatnya terperanjat.


Mau tidak mau Sisil akhirnya menarik buku menu itu sehingga wajahnya dapat terlihat jelas oleh Ganjar.


Pria tua itu langsung terbelalak. Wajahnya tampak jelas jika dia benar-benar terkejut.


"Sisil?!" ujar Ganjar.


Sisil berdiri lalu tersenyum dengan tangan terulur. Akan tetapi Ganjar tak membalasnya, dia malah menoleh ke arah Rama.


"Calon istrimu Sisil, Ram?" tanyanya memastikan.


"Iya, Om. Om Ganjar kenal Sisil juga?" Rama berbalik tanya. Dia pun perlahan merangkul bahu Sisil dengan lembut dan kali ini gadis itu diam saja.


"Sisil ini mantan pacarnya Arya," jawab Ganjar. Dia tentunya mengira kalau cucu kesayangannya itu pasti sudah putus dengan Sisil.


"Om kenal Arya?"


"Arya itu cucu laki-laki Om satu-satunya, Ram. Tapi kok kamu mau, sih, menikah dengan Sisil? Pasti dia mau memanfaatkan kamu, Ram." Ganjar tentu juga tahu kalau Rama itu impoten. Jelas mengapa dia dengan berani berkata demikian.


"Aku nggak pernah memanfaatkan Om Rama, Opa!" tegas Sisil. Bola matanya sudah berair dan dadanya sontak berdenyut sakit. Apa yang dilontarkan Ganjar seperti sebuah fitnah. Sisil hendak melangkah, akan tetapi ditahan oleh Rama.


"Kami berdua saling mencintai. Maaf sebelumnya, kami ingin makan dulu, Om." Rama seolah mengusir tapi dengan cara halus. Pelayan restoran itu juga baru saja datang dan menyajikan menunya di atas meja.


"Tapi Sisil kemarin juga bilang kalau dia saling mencintai sama Arya," sahut Ganjar lalu menatap sengit Sisil. "Ah nggak bener sih ini cewek. Awalnya kebelet banget mau nikah sama Arya, sekarang dengan gampangnya dia berpaling ke pria lain. Mana carinya pinter banget lagi yang kaya raya, dasar cewek matre!" ketusnya.

__ADS_1


"Aku—"


"Sisil bukan cewek matre!" sergah Rama dengan penuh penekanan. Padahal tadi Sisil hendak mengelak ucapan dari Ganjar. Tak menyangka juga, bisa-bisanya pria tua itu berani mencibir Sisil di depannya. "Sudah kubilang tadi kalau aku dan dia saling mencintai. Dan tentang Arya, lupakan saja hal itu. Karena semuanya sudah menjadi masa lalu!"


Rahang diwajah Rama tampak mengeras dan bola matanya memerah. Dia pun mengambil dompet kulitnya di dalam kantong celana untuk mengambil beberapa lembar uang. Kemudian menaruhnya di atas meja. Setelah itu dia menarik lengan Sisil, lalu membawanya keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobil.


Rama yakin, Sisil pasti sudah tak lagi berselera makan di tempat itu.


Ganjar yang melihatnya hanya berbecak sebal sambil geleng-geleng kepala. Tak ada niat sama sekali untuk mengejar mereka. "Dasar cewek zaman sekarang. Mau kaya bukannya kerja yang bener, tapi malah mau ngeret harta orang. Aku akan beritahu Mbah Yahya, supaya Rama nggak jadi menikah dengan Sisil. Kasihan dia nanti, pasti dimanfaatin."


*


*


"Kita cari restoran Padang yang lain. Kamu nggak perlu menangis." Rama mengusap pipi kanan Sisil yang tampak merah dan berurai air mata. Bukannya berhenti, Sisil malah makin terisak. Padahal belum lama dia menangis, tapi sekarang sudah menangis lagi.


"Aku mau langsung pulang saja, Om. Antarkan aku pulang," pinta Sisil sambil menyeka air mata. Selera untuk makan nasi Padangnya sudah hilang lantaran sakit di hatinya. 'Tega banget Opa Ganjar, menuduh aku yang nggak-nggak.'


Rama ingin sekali memeluk tubuhnya lagi, akan tetapi dia tak enak. Takutnya mengira mencuri-curi kesempatan. Padahal aslinya memang iya.


***


"Nggak usah, Om," tolak Sisil sambil menggelengkan kepalanya. "Ada makanan kok di dalam. Terima kasih." Sisil membuka pintu dan masuk. Setelah itu dia langsung menutup pintu. Padahal Rama hendak masuk juga ingin menemaninya.


"Ah iya, di apartemen pasti hanya ada Sisil sendirian. Kak Gugun sudah kerja. Belum muhrim, nggak boleh berdua-duaan." Rama berpikir positif walau sesungguhnya dia ingin. Dia lantas berbalik, lalu melangkah sambil menghela napas panjang. "Hhaa ... udah nggak sabar banget aku buat cepat menikah dengan Sisil. Aku ingin merasakan lagi betapa nikmatnya bercinta dengannya."


Melihat pintu lift terbuka, Rama langsung masuk sambil menyentuh inti tubuhnya dibalik celana.


*


*

__ADS_1


"Baru lihat aku, ada roti sebesar ini. Mana bentuknya serem lagi." Sisil menghentikan langkahnya sambil bergidik saat melihat roti buaya berada di atas kasurnya. Jangankan untuk memakannya, melihatnya saja dia merasa takut.


Akhirnya dia keluar lagi, padahal niatnya masuk kamar adalah ingin meletakkan sepatu dan tasnya. Pada akhirnya dia langsung menuju dapur untuk masak mie instan.


Sebelum mienya matang, Sisil mengaktifkan dulu ponselnya yang sudah lama dia matikan.


Dia diamkan sebentar sebab begitu banyak chat masuk dan panggilan yang tak terjawab via wa. Yang terbanyak dari Citra dan Arya.


Setelah ponselnya tenang, dia pun mengirimkan sebuah pesan kepada Arya. Akan tetapi sebelum itu, dia membuang napasnya dengan berat terlebih dahulu.


[Kak, maaf sebelumnya. Tapi aku ingin kita putus. Mulai sekarang jangan pernah menggangguku lagi dan aku pun nggak akan mengganggu Kakak. Kita masing-masing saja, ya. Dan lusa aku akan menikah dengan Om Rama.] Terkirim, hanya saja ceklis satu.


***


Sore menjelang magrib sepulang kerja.


Gugun duduk santai di depan stir mobil. Sebab saat ini jalanan begitu macet.


Namun, tiba-tiba saja ada seseorang masuk ke dalam mobilnya tanpa izin dan membuatnya terkejut. Dan orang itu adalah Tuti, wajahnya tampak berkeringat dan napasnya terdengar memburu.


"Mas siapa dan ngapain ada di mobilku?!" tanya Gugun marah.


"Aku numpang bersembunyi dimobil Bapak, ya, sebentar saja." Tanpa menatap Gugun, Tuti langsung membuka jasnya lalu menutupi wajahnya sambil menekukkan tubuhnya di kursi. Tubuhnya bergetar dan dia merasa ketakutan.


Gugun tampak melongo, sebab tadi sekilas dia melihat dada orang yang dia yakini adalah pria itu tampak besar dan montok. Bra berwarna merahnya pun tercetak jelas pada kemeja putih yang basah karena keringatnya.


'Zaman edan. Bisa-bisanya seorang pria suntik silikon.' Gugun mengusap kasar wajahnya, lalu geleng-geleng kepala dan menarik gasnya sedikit sebab mobil di depan sudah bergeser. 'Tapi apa bagusnya suntik silikon kayak begitu? Kan susunya nggak bakal sama kayak susu cewek. Iya, kan?' Gugun menatap ke arah kemeja yang dia kenakan, lalu melepaskan kancing bagian tengahnya untuk mengintip puncak dadanya.


Namun yang dilakukannya justru membuat Tuti yang melihatnya salah paham. Dia mengira Gugun tengah mencoba melecehkannya.


"Dasar pria mesum!" teriaknya lalu tanpa berpikir panjang dia langsung menonjok pipi kiri Gugun dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Bugh!


...Wah, kurang asem si Kentut 🤣 udah numpang ngumpet eh kena bogem 😠...


__ADS_2