Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
176. Kamu ada masalah?


__ADS_3

"Iya ... aku janji, Dek." Rama tersenyum dengan anggukan kecil. "Udah ayok cerita, aku penasaran."


"Tadi diluar ada Kak Arya, A."


"Kak Arya?!" Rama tampak terkejut dan terdiam sesaat. "Maksudnya, Arya mantan pacarmu?"


"Iya."


"Ngapain dia ada di sini? Apa mau menemuimu.?" Rama dapat merasakan jika dadanya mulai panas.


"Dia datang karena ingin memfitnahku."


"Memfitnah?! Maksudnya gimana, Dek?"


"Tadi dia 'kan dateng, terus ketemu Mommy dan Daddy. Masa dia bilang ... dia datang karena disuruh aku, yang memintanya untuk menjenguk Aa. Padahal 'kan enggak, A. Ngapain juga aku minta dia ke sini, buat apa? Nggak penting banget." Sisil memutar bola matanya dengan malas. Mengingat Arya membuat dirinya kesal.


"Itu kamunya selama ini masih ada kontekan sama Arya? Atau sebelumnya kamu pernah ngasih tau Arya, kalau aku kecelakaan?"di


"Enggak, A!" Sisil menggeleng cepat. "Semenjak aku putus dengan Kak Arya, aku nggak pernah kontek-kontekan lagi sama dia. Apalagi nomor hapeku 'kan sempat ganti."


"Beneeerr?? Jujur nggak kamunya?"


"Iiihhh Aa ... masa aku bohong, aku jujur. Kalau nggak percaya ... Aa cek aja hapeku." Sisil mendengkus dengan bibir yang mengerucut. Dia juga langsung mengambil ponselnya di dalam tas yang berada di atas nakas, lalu memberikan kepada Rama. "Nih! Aa cek sendiri."


"Bagaimana bisa aku mengeceknya, Dek. Aku 'kan buta. Ditambah diperban begini." Rama menyentuh kain kasa diwajahnya, sepertinya Sisil melupakan hal itu.


"Oh iya, maaf, A." Sisil pun mengambil kembali ponselnya dari tangan Rama. "Tapi setelah Aa buka perban ... aku yakin Aa sudah bisa melihat. Aa juga harus yakin itu."


"Iya ... amin, Dek." Rama mengangguk. "Oh ya, terus sekarang Aryanya ke mana? Apa masih ada diluar?"


"Kata Daddy sih udah diusir."


"Kenapa diusir?"


"Ya mau ngapain juga dia ke sini. Bukan hanya aku, Daddy juga nggak mau melihat Kak Arya bertemu dengan Aa."


"Memang kenapa?"


"Kok kenapa, sih?" Sisil lama-lama jadi kesal sendiri. Sebab Rama seperti mulai mancing-mancing. "Ya jangan sampai Aa dan Kak Arya ketemu lah, itu nggak baik. Aku juga nggak mau kalau sampai karena masalah ini ... kita jadi berantem. Aa 'kan ngeselin kalau lagi marah."


"Mana pernah aku marah, Dek." Rama terkekeh.


"Yang waktu itu, masa Aa lupa? Itu 'kan Aa marah, sampai cuekin aku."


"Aku nggak marah, cuma kesel aja."


"Sama saja sih!" Sisil mencebik. Rama hanya tertawa. Tampaknya dia senang menggoda Sisil.


'Ternyata ngerti juga sekarang kamu, Dek, kalau aku sangat tidak suka dengan Arya. Apa berarti tandanya kamu sudah mencintaiku?' batin Rama.


"Oh, ya, apa Suster belum datang buat nganterin makanan? Aku laper kayaknya, Dek, kepengen makan." Rama perlahan menarik tubuhnya, Sisil yang melihatnya seperti kesusahan langsung dia bantu dan akhirnya Rama bisa duduk selonjoran di ranjang sambil menyandarkan punggung.


"Aku yang beliin deh, ya, A. Aa kepengen apa?"

__ADS_1


"Nggak usah, Dek! Nggak perlu kamu belikan!" tolak Rama dengan gelengan kepala. Dia juga segera memegang tangan Sisil, khawatir jika perempuan itu langsung pergi.


"Kenapa? Memang Aa nggak bosen, ya, makan makanan rumah sakit?"


"Bosen sih, tapi jangan kamu yang belikan. Kamu temenin aku aja di sini."


"Terus kalau bukan aku yang belikan siapa dong, A? Sedangkan Kakak pergi ke kantor. Dan nggak mungkin juga aku suruh Mommy atau Daddy, nggak enak dan nggak sopan kesannya."


"Coba kamu keluar, didepan ada Evan atau Tuti nggak? Kalau ada kamu minta tolong sama salah satu dari mereka saja untuk membelikannya."


"Ya udah, tapi Aa kepengen makan apa?"


"Aku kepengen makan bubur kacang ijo, Dek. Sama jus tomat tanpa gula."


"Emang kenyang makan bubur kacang? Kenapa nggak nasi aja, A?"


"Aku lagi kepengen kayaknya, Dek."


"Oh ya udah. Tapi apa ada yang lain?"


Rama menggeleng. "Nggak, Dek. Itu aja "


"Oke ... Tunggu sebentar ya, A. Aku keluar dulu buat ngecek ada nggaknya, Pak Evan atau Mbak Tuti." Sisil berdiri, lalu menepuk pelan pundak kanan Rama. Setelah itu dia melangkah keluar dari kamar.


Ceklek~


Diluar sana masih ada kedua mertuanya yang tengah duduk pada kursi panjang, dan mereka pun langsung sama-sama menoleh. Saat melihat Sisil keluar sambil menatap sekeliling.


Sisil mendekat ke arahnya, lalu berkata, "Itu, Dad. Aa bilang kepengen makan bubur kacang ijo sama jus tomat tanpa gula. Tadinya aku mau meminta tolong sama Pak Evan atau Mbak Tuti ... tapi kayaknya mereka nggak ke sini, ya?"


"Biar Daddy yang—"


"Assalamualaikum, selamat siang," sapa Tuti yang baru saja datang, hingga menghentikan ucapan Mbah Yahya.


"Walaikum salam." Sisil, Mbah Yahya dan Yenny menjawab bersama, lalu menatap perempuan berhijab di dekat mereka.


Perempuan itu memakai stelan jas berwarna pink dengan kerudung pasmina berwarna hitam. Terlihat cantik, tapi kedua matanya terlihat sembab entah karena apa.


"Bagaimana kabar Pak Rama, Nona? Dan gimana operasinya? Lancar?" tanya Tuti sembari memberikan apa yang dia bawa ke tangan Sisil. Selain parsel buah, dia juga membawa sekotak donat di dalam paper bag.


"Kabar Aa baik, Mbak. Operasinya juga berjalan lancar," jawab Sisil sambil tersenyum. "Terima kasih juga atas buah tangannya."


"Sama-sama." Tuti tersenyum.


"Matamu kenapa, Tut? Apa kamu habis nangis?" tanya Yenny sambil berdiri, begitu pun dengan Mbah Yahya.


"Kamu ada masalah?" tanya Mbah Yahya.


"Enggak kok, Bu, Pak," elak Tuti menggeleng. "Saya nggak ada masalah apalagi habis nangis."


"Yang beneeerr?" Mbah Yahya memastikan, sebab dia tak percaya.


"Bener kok." Tuti mengangguk cepat.

__ADS_1


"Kalau kamu ada masalah ... cerita saja langsung, ya, jangan ada yang ditutup-tutupi!" Mbah Yahya menegaskan.


"Iya."


"Jangan iya-iya doang, Tut," timpal Yenny.


Sisil mengerutkan keningnya, merasa heran sebab kedua mertuanya itu terlihat begitu peduli kepada Tuti. Dia tahu, Tuti memang asistennya Rama. Tapi meski begitu, sebagai menantu dia merasa cemburu. 'Wajar nggak, sih, mereka terlihat begitu peduli sama Mbak Tuti? Tapi Mbak Tuti 'kan cuma asistennya Aa,' batinnya berpikir.


"Ya sudah. Tadi kata Sisil ... Rama bilang kepengen makan bubur kacang ijo sama jus tomat tanpa gula. Kamu coba belikan dulu, Tut," perintah Mbah Yahya sembari menyodorkan uang lembar seratus ribuan ke tangan Tuti.


"Belinya masing-masing dua porsi ya, Mbak," ucap Sisil. "Satu porsinya buat aku, soalnya aku mau makan bareng sama Aa."


"Iya, Nona." Tuti mengangguk, lalu tersenyum menatapnya, Mbah Yahya dan Yenny. "Saya pamit sebentar ... assalamualaikum."


"Walaikum salam."


Setelah melihat Tuti berlalu pergi, ketiganya pun langsung masuk ke dalam kamar inap Rama dan menutup pintu.


"Ada Evan sama Tutinya, Dek?" tanya Rama.


"Adanya Mbak Tuti, A," jawab Sisil yang duduk di sofa sembari menaruh apa yang dia bawa ke atas meja. Dia memilih duduk di sana sebab ada Mbah Yahya yang sudah duduk pada kursi kecil bekas bokongnya tadi. "Dan tadi Daddy udah minta tolong Mbak Tuti buat beli makanan."


"Ohh ... Oke." Rama mengangguk dan tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu, Ram? Apa yang kamu rasakan?" tanya Mbah Yahya penuh perhatian, tangan kanannya sudah mengusap kepala botak anaknya.


"Aku baik, Dad. Yang aku rasakan cuma laper aja kok." Rama perlahan mengelus perutnya sendiri.


Drrttt ... Drrttt ... Drrrttt.


Tiba-tiba, ponsel Sisil yang masih berada pada genggaman berdering. Sebuah panggilan masuk dari Gugun.


"Sebentar ya, A ... Mom, Daddy ... Kak Gugun telepon, aku mau angkat dulu." Sisil pamit setelahnya berdiri. Kemudian menuju kamar mandi untuk mengangkat telepon.


Dia sengaja memilih pergi. Tapi bukan karena percakapannya tak ingin didengar oleh mereka yang ada di dalam sana, melainkan cuma takut menganggu obrolan di antara mertua dan suaminya.


"Halo, Sil. Assalamualaikum. Bagaimana dengan Rama? Apa dia sudah siuman?"


"Walaikum salam. Aa udah siuman, Kak. Ini dia baru mau makan."


"Alhamdulillah ...." Gugun terdengar menghela napas. "Oh ya, nanti kalau semisalnya ada Nona Tuti datang buat jenguk Rama ... kamu kasih tau Kakak ya, Sil?"


"Memang kenapa, Kak? Dan baru aja Mbak Tuti tadi datang jenguk."


"Sekarang masih ada di sana orangnya?" Gugun terdengar antusias sekali. "Coba ... kasihin hapenya ke Nona Tuti, Sil. Kakak mau bicara sama dia."


"Orangnya lagi keluar, Kak. Beliin pesanannya Aa. Tapi memangnya kenapa, sih? Dan sebenarnya apa hubungan Kakak dengan Mbak Tuti?" tanya Sisil curiga, ditambah penasaran.


"Nanti Kakak kasih tau. Tapi sekarang Kakak mau ke rumah sakit, dan kalau misalkan Kakak belum sampai sedangkan Nona Tuti ingin pulang ... kamu coba cegah dia, ya, Sil. Tunggu Kakak sampai pokoknya!" tegasnya.


"Tapi, Kak, memang ...." Ucapan Sisil menggantung diudara, saat dimana panggilannya itu diputuskan secara sepihak oleh Gugun. Bahkan pria itu sampai tak mengucapkan salam terlebih dahulu. "Ada apa sih sebenarnya? Kakak juga kok aneh banget," gumamnya heran.


...jangan lupa kasih vote dan hadiahnya, biar Author semangat~...

__ADS_1


__ADS_2