Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
172. Apakah aku habis dilecehkan?


__ADS_3

Ada kelegaan di dalam lubuk hati Gugun, karena sekarang sudah bisa terlepas dari Gisel. Kaca spion yang sejak tadi dia lihat pun tak ada tanda-tanda menunjukkan kalau ada Gisel yang berencana mengejarnya.


"Syukurlah ... alhamdulilah ya, Allah ...," gumam Gugun sambil menghela napas. "Semoga Nona Gisel memang benar-benar sudah menerima kalau kami berdua putus. Jadi aku akan lebih leluasa, jika sedang bersama Nona Tuti."


***


Ceklek~


Evan membuka pintu kamar apartemennya, kemudian melangkah masuk bersama Gisel yang dia gendong.


Dengan perlahan, dia pun merebahkan tubuh perempuan itu di atas kasur, kemudian tersenyum manis sembari membuka jas pada tubuhnya.


"Kalau sedang dalam keadaan nggak sadar begini ... Nona terlihat jauh lebih cantik." Evan memandangi wajah Gisel, sembari merasakan detak jantungnya yang berjalan sangat cepat. "Dan kenapa juga, sih, Nona itu terlihat seperti membenciku? Padahal aku ada salah apa sama Nona? Kurasa aku nggak punya salah apa-apa deh."


Evan membuka kedua sepatu juga dengan kaos kakinya, kemudian merangkak naik ke atas kasur hingga menindih tubuh Gisel.


"Oh ya, ciuman saat di restoran itu terasa begitu singkat. Padahal cukup enak ...." Evan kembali tersenyum, lalu meraba bibir ranum Gisel. "Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi? Kalau Nona diam ... tandanya Nona memang mau."


Jelas Gisel diam, karena memang dia dalam keadaan tidak sadar. Tapi entah apa yang Evan pikirkan sekarang, sehingga membuatnya langsung menyambar bibir Gisel. Melummatnya dengan rakus dan penuh nafsuu.


***


Hari pun berganti.


Lantaran penglihatan Rama masih belum kembali, pihak rumah sakit dan dokternya pun akhirnya memutuskan untuk mengoperasinya lagi. Berfokus pada matanya.


Sekarang, tepat jam 7 pagi. Sisil, Gugun dan Yenny sudah berada di depan ruang operasi. Menunggu Rama yang sejak sejam lalu dimasukkan ke dalam sana.

__ADS_1


Do'a mereka sejak tadi tak pernah berhenti untuk terus dipanjatkan, supaya Rama kembali pulih seperti sedia kala.


Sisil juga sangat merindukan suaminya, supaya bisa kembali menatapnya penuh cinta.


Ceklek~


Beberapa menit kemudian, Dokternya Rama keluar dari sana. Dan membuat ketiga orang yang sejak tadi menunggu kini berdiri berbarengan.


"Bagaimana operasinya, Dok? Lancar, kan?" tanya Sisil cepat, sebelum yang lain bertanya.


"Puji Tuhan semuanya lancar, Nona." Dokter itu menghela napas, lalu membuka maskernya sambil tersenyum.


"Alhamdulillah ya, Allah ...," jawab mereka semua sambil mengusap wajah.


"Apa ini berarti Rama anakku sudah bisa melihat, Dok?" tanya Yenny penasaran.


"Berapa hari perbannya bisa dibuka, Dok?" tanya Gugun.


"Sekitar seminggu."


"Lama sekali, Dok. Kenapa nggak bisa sekarang saja?" Yenny terlihat tak sabar.


"Memang sudah begitu ketentuan, Bu." Dokter itu menjawab dengan nada santai. "Tiga puluh menit lagi, Pak Rama akan dipindahkan ke kamar rawatnya. Dan saya minta pihak keluarga untuk terus memberikannya support."


"Baik, Dok." Yenny mengangguk. "Terima kasih."


"Sama-sama." Dokter itu pun lantas melangkah masuk lagi ke dalam ruang operasi.

__ADS_1


Dari kejauhan, ada Arya yang sejak tadi memerhatikan. Dia datang membawa parsel buah dan buket bunga mawar merah.


Seperti ide Gisel kemarin, hari ini Arya akan melakukannya. Tapi tentu menunggu Rama sadar sehabis dioperasi dulu.


'Kalau saja nggak ingat jika Mbak Gisel sangat mencintai Om Rama ... aku bisa saja menyuruh orang untuk meracuninya. Mending dia mati sekalian, biar Sisil jadi janda,' batin Arya dengan rahang yang tampak mengeras.


***


Gisel pun mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan, lalu menatap langit-langit kamar dan sekitar pada ruangan yang menurutnya begitu asing.


"Kamar siapa ini? Dan aku di mana?" Monolognya.


Pandangan mata Gisel pun terhenti di atas nakas, pada gaun yang tampak dia kenali. Dan saat dia menatap tubuhnya sendiri, sontak dia pun membulatkan mata.


Bukan karena tubuhnya bugil, melainkan karena dia memakai sebuah kemeja putih panjang yang entah milik siapa. Namun dari luar, terlihat jelas jika dirinya masih memakai daalaman lengkap.


Tubuh Gisel seketika menegang disertai getaran hebat, jantungnya pun ikut berdegup kencang tak beraturan.


"Apa-apaan ini?! Kemeja siapa ini dan apakah aku habis dilecehkan?!"


Keringat ditubuh Gisel seketika bercucuran, begitu pun pada area dahi. Dan sontak dia membulatkan mata, saat di mana pintu kamar itu dibuka secara perlahan. Serta datanglah seorang pria sembari membawa secangkir kopi hitam yang terlihat masih beruap.


"Evan?!" pekiknya terkejut, lalu segera menarik selimut dan beringsut terduduk dengan wajah ketakutan.


"Nona sudah bangun? Ayok sarapan bareng," ajak Evan tanpa beban, seraya tersenyum dengan tatapan hangat.


...Hari Senin ... jangan lupa kasih vote dan hadiahnya. kalau banyak yang ngasih Author akan up banyak, tapi kalau dikit ya upnya dikit juga🙈...

__ADS_1


__ADS_2