Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
75. Ketiduran


__ADS_3

Yenny terbelalak, begitu pun dengan Puspa. Mereka merasa terkejut dengan apa yang Tuti katakan.


"Lho, Tut, kenapa harus disantet? Sadis amat?" tanya Yenny. "Kenapa kamu nggak kepengen lapor ke polisi? Nanti aku akan membantumu."


"Kalau misalkan dilaporkan ke polisi, belum tentu Pak Gugun berhasil dipenjara, Bu," jawabnya ragu. "Dan kalau pun dipanjara ... pasti akan ada bebasnya. Aku juga nggak yakin kalau nantinya dia jera, pasti dia akan balas dendam padaku."


"Ya sudah, sekarang kamu ikut pulang ke rumah. Nanti kita bicarakan di rumah, kalau Pak Yahya sudah pulang."


"Iya, Bu. Terima kasih," ucap Tuti. Dia lantas berpindah pada posisi depan, di kursi kemudi. "Jadi ini Ibu sekalian pulang juga? Atau gimana?"


"Iya, kita pulang." Yenny mengangguk, lalu menatap ke arah Puspa. "Jeng, kita karaokeannya besok saja deh. Sekarang kita pulang dan kamu aku anterin."


"Ya sudah, nggak apa-apa," sahut Puspa, lalu masuk ke dalam mobil dan Yenny bergeser tempat duduk. Tak lama kemudian, mobil itu pun melaju pergi.


***


"Kamu ada mabok pesawat nggak, Dek?" tanya Rama yang baru saja memakaikan Sisil sabuk pengaman.


Mereka sudah berada di dalam pesawat dan duduk di ruangan khusus VIP. Sisil duduk di dekat jendela sebab dia ingin melihat pemandangan, kalau mereka sudah terbang.


"Aku nggak tau, Om. Ini pertama kalinya aku ke luar negeri dan naik pesawat. Rasanya deg-degan tapi aku seneng." Sisil tersenyum manis dengan pipi yang bersemu merah. Dia menyentuh dadanya yang berdebar sembari menatap jendela. Perlahan Rama pun ikut menyentuhnya, ingin merasakan jantung Sisil.


"Seriusan? Kamu baru pertama kali naik pesawat?! Wah ... berarti aku orang yang pertama mengajakmu dong, Dek." Rama ikut tersenyum. Dia tentu merasa bahagia sekali, bisa honeymoon bersama Sisil.


Sisil mau dinikahi saja Rama sudah sangat bersyukur, belum terpikirkan sama sekali untuk keduanya bisa berbulan madu sampai ke luar negeri.


"Iya, Om." Sisil mengangguk semangat. "Kakak belum pernah mengajakku pergi naik pesawat. Kalau jalan-jalan paling yang deket-deket saja."


"Mohon perhatian semuanya ...." Terdengar suara pramugari. Dia mengumumkan kalau pesawat akan lepas landas dan meminta para penumpang untuk duduk dengan tertib.


Sisil langsung menatap ke arah jendela, ingin melihat pemandangan. Namun, saat melihat, bukannya takjub, dia justru merasa ketakutan dan mual.


Segera, dia pun memeluk tubuh Rama dengan erat sambil memejamkan mata. Seolah meminta perlindungan.


"Lho, kamu kenapa, Dek?" tanya Rama bingung. Dia mengelus puncak rambut Sisil namun miliknya di dalam sana tiba-tiba saja mengeras. 'Baru juga nempel, udah berdiri aja kamu.' Rama perlahan meraba miliknya yang masih terbungkus celana. 'Sabar dulu, setelah sampai aku akan memasukkanmu ke dalam sangkar.'


"Om punya permen dan minyak angin nggak? Perutnya mual Om. Aku juga takut," ucap Sisil.

__ADS_1


"Oh, itu ada." Rama merogoh saku dalam jasnya.


Sebelum berangkat, dia telah mempersiapkan semuanya. Bahkan sampai mengantongi plastik kresek, mengantisipasi jika Sisil ingin muntah.


"Ini permen penghilang mabuk, hisaplah." Rama menempelkan permen yang sudah dibuka kemasannya dibibir Sisil. Gadis itu langsung membuka mulut dan menyesapnya.


"Asem, Om. Rasanya kayak jahe," ucap Sisil sembari menghirup aroma tubuh Rama. Seketika rasa mualnya itu mereda. Namun entah karena permen atau karena menghirup aroma wangi ditubuh Rama.


"Yang manis 'kan cuma bibirku. Coba sini, biar manis." Rama menarik dagu Sisil. Lalu tanpa basa-basi dia langsung melummatnya. Menurutnya, ini adalah kesempatan emas yang tidak bisa disia-siakan. Apalagi Sisil duluan yang memeluknya.


Sontak Sisil terkejut. Matanya langsung terbuka lebar. Akan tetapi dia diam dan pasrah.


Bukan karena menginginkan. Sejujurnya dia malu sebab banyak penumpang lain yang pasti melihatnya. Hanya saja sekarang rasa takutnya melebihi segalanya, dan mendapatkan sebuah ciuman membuat hatinya tenang.


'Mencari kesempatan dalam kesempitan banget Om Rama. Kalau bukan di pesawat ... sudah aku dorong dadanya!' gerutu Sisil dalam hati. 'Ah tapi kok ... lama-lama enak juga rasanya, ya?'


*


*


"Kamu mau menginap di hotel, Dek?" tanya Rama seraya menoleh. Sisil berada di sampingnya tengah menyandar dibahu. Akan tetapi gadis itu terlihat memejamkan mata sampai terdengar suara dengkuran halus. "Baru juga nyampe Korea, tapi kamu sudah ketiduran. Ini kita belum dapat menginapan lho, bagaimana urusannya coba?" kekeh Rama sambil geleng-geleng kepala.


"Eh, kamu Rama bukan?" tanya seorang wanita yang baru saja menghampiri dengan mendorong koper.


Rama langsung menoleh, menatap wanita yang berbicara dengan bahasa Indonesia itu. "Lho, kamu Fuji, kan?" tebaknya. Wajah wanita itu terlihat familiar menurutnya.


"Iya. Wah ... sudah lama kita baru ketemu lagi. Kangen aku sama kamu, Ram." Wanita bernama Fuji yang terlihat sebaya Rama itu langsung duduk di sampingnya. "Kamu ternyata terlihat awet muda, ya? Wajahmu sama seperti pas kita masih sekolah."


"Ah bohong saja kamu. Mana ada aku awet muda. Yang ada awet tua," kekeh Rama.


Mereka adalah teman dekat saat SMA dan setelah lulus, baru bertemu kembali sekarang.


"Kamu ngapain ke Korea? Liburan?" tebak Fuji.


"Iya, honeymoon. Ini istriku, namanya Sisil." Rama mengelus pipi istrinya yang masih terlelap dari tidurnya.


Fuji memperhatikan wajah Sisil sebentar, lalu tersenyum. "Wih, hebat ah. Cantik dan masih muda sekali, Ram. Tapi itu dia tidur apa gimana?"

__ADS_1


"Iya, dia ketiduran. Mana aku belum dapat tempat penginapan, kasihan banget dia kayaknya kecapekan." Rama meraih tubuh Sisil, lalu membawanya ke dalam dekapan. Supaya gadis itu tidur dengan nyaman.


"Aku kebetulan punya villa di dekat sini. Mau sewa nggak kamu? Tempatnya cukup luas dan bagus kok. Cocoklah buat acara bulan madu kalian," tawar Fuji.


"Boleh deh. Beritahu saja alamatnya."


"Kamu ikut aku saja sekalian. Soalnya rumahku deket sama villa itu," ajak Fuji seraya berdiri. Kemudian meraih koper Rama. "Ini kopermu, kan? Aku sekalian bawakan, kamu gendong istrimu saja."


"Nggak apa-apa memangnya? Nanti merepotkan," ucap Rama tak enak. "Tapi pesan taksi online dulu nggak, nih?"


"Nggak usah," tolak Fuji dengan gelengan kepala. "Sopirku sudah ada diluar bandara, lagi nunggu. Ayok kita langsung keluar saja."


"Oh gitu. Bagus deh." Rama langsung menggendong Sisil, kemudian mengekori Fuji yang melangkah di depannya.


Saat keluar dari bandara, bertepatan sekali dengan turunnya salju. Rama langsung tersenyum, sebab keinginan Sisil sudah tercapai. Hanya saja sayangnya dia ketiduran.


*


*


Mobil berwarna merah itu pun melaju, Rama duduk di belakang bersama Sisil sedangkan Fuji di depan. Di samping sopirnya.


"Kamu sudah lama menikah dengan Sisil, Ram?" tanya Fuji basa basi seraya menatap Rama dari kaca depan. Sudah lama mereka baru bertemu, pastinya rindu saat-saat mengobrol.


"Baru kemarin, Fuj."


"Oh. Berarti ini bulan madu pertama kalian, ya?"


"Iya." Rama mengangguk. Lalu mengecup pipi kanan Sisil dengan mesra. "Oh ya, kamu sendiri ngomong-ngomong ... tinggal di Korea sudah lama? Sampai sudah punya rumah dan villa segala."


"Sudah ada setahun kayaknya," jawab Fuji.


"Tinggal sama siapa? Suami? Oh, pasti suamimu orang Korea, ya?" tebak Rama.


"Aku janda, Ram. Dan aku tinggal hanya sama anak perempuanku."


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2