Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
194. Diamputasi


__ADS_3

"Kak Hersa! Bagaimana dengan kondisi Kakak?" tanya Sisil yang berlari tergesa-gesa bersama Mbah Yahya, menghampiri Hersa yang berdiri di depan ruangan UGD.


Padahal tadi, Mbah Yahya sendiri sudah menegurnya untuk tidak lari-lari karena khawatir pada kehamilannya. Tapi Sisil yang merasa panik jadi menghiraukannya. Dan untungnya dia tidak kenapa-kenapa sekarang, hanya capek saja.


"Tadi Suster bilang, sebentar lagi Dokternya akan keluar, Sil. Kita tunggu saja," jawab Hersa menatap Sisil.


"Awal mula kamu tau si Gugun demam dari mana? Apakah Gugunnya yang sengaja meminta antar padamu?" tanya Mbah Yahya kepada Hersa, seraya duduk dan mengajak Sisil duduk di sampingnya. Di depan mereka memang ada sebuah kursi panjang yang diperuntukkan untuk kerabat yang menunggu pasien.


"Awalnya aku mau berangkat kerja, Pak. Terus pas lewat ke arah apartemen Gugun ... pintunya kulihat terbuka lebar. Sedangkan suasana di dalamnya sepi banget. Karena aku khawatir dan berpikir jika apartemen Gugun kemalingan... aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Eh nggak taunya, ada Gugun yang berbaring di lantai sambil menggigil kedinginan. Wajahnya pucat dan matanya merem. Lehernya juga terlihat mengelupas, merah-merah dan berair. Terus karena aku panik ... jadi aku langsung meminta tolong satpam apartemen untuk membantu membawa Gugun ke rumah sakit," jelas Hersa panjang lebar. Apa yang dia ceritakan sesuai dengan apa yang terjadi.


"Ya Allah Kakak ... kok sakit begitu dia sampai nggak ngabarin aku? Harusnya Kakak kasih tau aku dong." Sisil tiba-tiba menangis, mendengar cerita dari Hersa tadi. Tak tega juga rasanya, saat dirinya ikut membayangkan dengan apa yang terjadi pada Gugun.


Selama ini yang dia tau, Gugun juga orang yang jarang sekali sakit apalagi sampai demam dan masuk rumah sakit seperti ini. Maka jelas jika dirinya saat ini begitu mengkhawatirkannya.


"Mangkanya, Sil, sesekali kamu juga harus tanyakan kondisi Kakakmu. Jangan fokus bercinta mulu," sindir Mbah Yahya.


"Diihh Daddy ngomongnya, ini 'kan bulan puasa. Lagian aku juga nggak sering bercinta sama Aa kok," elak Sisil yang aslinya malu. Apalagi saat ini ada Hersa yang merupakan orang lain di sana.


"Tapi apa yang Daddy omongin itu ...."


Ceklek~


Tak berselang lama, pintu UGD itu pun dibuka. Keluarlah seorang dokter perempuan yang memakai jas putih.


Mbah Yahya dan Sisil pun langsung berdiri bersama-sama.


"Mereka berdua kerabatnya Gugun, Dok," ucap Hersa memberitahu, sebelum Sisil hendak bertanya.


"Baik, Pak." Dokter itu mengangguk.


"Bagaimana dengan kondisi Kakakku, Dok? Kenapa dengannya?" tanya Sisil penasaran.

__ADS_1


"Pak Gugun terkena tipes dan infeksi pada lehernya, Nona. Lehernya sudah saya obati, tapi karena kondisinya sangat lemah ... beliau harus dirawat dulu untuk sementara waktu di rumah sakit," papar Dokter itu.


'Ya Allah ... baru kemarin suamiku keluar rumah sakit setelah hampir setengah bulan dia dirawat. Tapi sekarang justru Kakakku yang harus dirawat. Semoga mereka berdua selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang, ya Allah. Aku sangat menyayangi mereka dan nggak mau kehilangannya,' batin Sisil dengan sendu.


"Kalau boleh tau ... kira-kira infeksi dileher Gugun itu penyebabnya apa ya, Dok? Apa ada orang yang menggorok lehernya?" tanya Mbah Yahya penasaran.


"Dih, Dad! Nggak mungkin, sih!" seru Sisil yang terkejut. "Lagian serem juga, Dad. Berarti ada orang jahat dong di apartemen Kakak."


"Kan Daddy cuma nanya, Sil."


"Dari hasil pemeriksaan, sepertinya Pak Gugun ini terkena air panas, Pak. Dan kulitnya melepuh. Karena enggak langsung diobati tadinya ... jadi dia mengalami infeksi," jelas Dokter.


"Oh gitu. Terus sekarang nggak apa-apa? Lehernya nggak musti diamputasi, kan?"


"Ya ampun, Dad! Kalau ngomong yang bener dong!" protes Sisil yang tiba-tiba marah. "Enggak ada juga leher diamputasi. Yang ada nanti Kakak mati dong, Dad."


"Santai dong, Sil. Daddy 'kan cuma bercanda." Mbah Yahya tertawa, melihat wajah kaget menantunya.


"Kalau leher sekarang sudah baik-baik saja, Pak, tapi dia harus rajin mengolesi salep supaya lukanya cepat sembuh."


"Oke, Dok, terima kasih banyak," ucap Sisil sambil tersenyum.


"Sama-sama, Nona. Sebentar lagi Pak Gugun akan segera dipindahkan ke ruang perawatan. Silahkan tunggu dan kalau begitu saya pamit."


"Iya, Dok." Sisil dan Mbah Yahya menjawab bersama, lalu menatap dokter itu masuk ke dalam ruang UGD.


Drrrtt ... Drrrtt ... Drrrttt.


Tiba-tiba, ponsel Sisil yang berada di dalam tas berdering. Saat dilihat ternyata itu adalah sebuah panggilan masuk dari Rama.


Gegas, dia pun mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo assalamualaikum, Dek. Kamu di mana?" tanya Rama.


"Walaikum salam. Aku ada di rumah sakit, A."


"Lho ... kamu kenapa, Dek? Ada apa dengan anak kita?!" Suara Rama terdengar nyaring. Tampaknya dia cemas dan berpikir jika alasan Sisil berada di rumah sakit adalah karena kondisi kehamilannya.


"Aku nggak apa-apa kok, A. Anak kita juga. Yang masuk rumah sakit itu Kak Gugun, dia terkena tipes dan infeksi pada lehernya," jelas Sisil supaya Rama tak salah paham.


"Ya Allah, kasihan banget Kak Gugun ... sampai terkena tipes dan infeksi. Dibawa ke rumah sakit mana, Dek? Nanti aku akan menyusul ke sana."


"Aa nggak perlu ke sini, kan Aa nggak boleh keluar rumah," larang Sisil.


"Tapi aku ingin melihat kondisi Kak Gugun, Dek. Dan masa iya aku membiarkan kamu sendiri menemani Kak Gugun? Kamu 'kan lagi hamil, ditambah lagi puasa juga. Aku khawatir kayaknya."


"Aku di rumah sakit sama Daddy, A. Selain Daddy ...." Ucapan Sisil seketika terpotong saat ponselnya sudah direbut oleh Mbah Yahya, lalu pria itu berbicara.


"Halo, Ram. Ini Daddy. Benar apa yang Sisil katakan, kamu jangan keluar rumah dulu karena masih berbahaya. Sisil biar Daddy yang jaga di sini. Dan mending sekarang kamu telepon Tuti."


"Mau ngapain telepon Tuti, Dad?"


"Si Tuti 'kan pacarnya Gugun, Ram. Jadi dia perlu tau lah. Gugun juga pasti senang kalau pacarnya datang menjenguk."


"Oohhh ... ya udah, nanti aku telepon Tuti. Daddy sama Sisil kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, ya? Dan tolong jaga bener-bener Sisil, Dad. Jangan sampai dia nakal. Daddy juga nggak boleh genitin Sisil. Dia itu menantu perempuan Daddy satu-satunya dan dia sedang hamil cucu Daddy," ungkap Rama menasehati, takutnya Mbah Yahya khilaf.


"Iya, Daddy juga tau. Lagian Daddy juga nggak doyan sama Sisil, ya udah ya, Ram."


"Assalamualaikum, Dad," ucap Rama cepat.


"Walaikum salam." Mbah Yahya mematikan panggilan, kemudian memberikan benda pipih itu ke tangan pemiliknya. "Nih, Sil."


Sisil mengambilnya, tapi dengan wajah yang terlihat cemberut. Dia merasa sebal pada mertuanya yang tiba-tiba merebut ponselnya tadi, padahal dia sendiri belum selesai bicara sama Rama. 'Ah Daddy mah emang rese! Padahal aku 'kan belum selesai bicara sama Aa,' batinnya kesal.

__ADS_1


...sabar ya, Sil, emang dari dulu dia mah rese🤣🤣...


__ADS_2