Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
162. Perempuan berbahaya


__ADS_3

Melihat Yenny tengah mengobrol dengan Gugun, Sisil pun langsung naik ke atas ranjang suaminya. Kemudian memeluk tubuhnya dengan erat sambil menciumi dadanya.


"Aa ...," gumam Sisil, lalu dengan perlahan meraba pipi kanan suaminya. "Kapan Aa bangun? Apa Aa nggak kangen sama aku?"


"Semalam kita nggak bercinta lho, A, harusnya 'kan setiap hari." Bibir Sisil mengerucut, tapi dia langsung mengecup pipi suaminya.


Kedua matanya itu lantas menatap pada langit-langit kamar, sembari mulai berpikir untuk mencari ide. 'Bagaimana, ya, caranya supaya Aa cepat sadar? Aku kangen banget kayaknya. Mau lihat dia bicara, tersenyum dan bercanda. Kira-kira Aa masih marah nggak, ya, sama aku, karena masalah Kak Arya? Ah ... semoga saja sih enggak. Aku kangen sama Aa Rama yang dulu, yang selalu hangat padaku,' batinnya.


Sisil diam sejenak, tapi tiba-tiba saja—sebuah ide konyol terlintas dalam benaknya. Apalagi dia melihat sendiri Mommy mertuanya sudah keluar dari kamar.


"Kuajak bercinta saja kali, ya, langsung. Barangkali saat sudah bercinta ... Aa langsung siuman. Nggak mungkin juga nggak berasa, bercinta 'kan enak," gumamnya.


Lantas, dia menarik tubuhnya hingga duduk, kemudian tangannya dengan cekatan langsung membuka beberapa kancing baju pasien yang suaminya kenakan.


Meskipun awalnya terlihat susah, tapi lama-lama Sisil pun berhasil melepaskan kain itu dari tubuh suaminya. Benda itu bahkan sekarang sudah terhempas di lantai sekarang.


"Uuhhh ... seksi, A. Aku suka perut Aa." Susah payah Sisil menelan saliva, sembari mengelus perut kotak-kotak suaminya.


Kemudian, giliran celana. Sisil menyibak selimut terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia berhasil menarik benda itu dengan mudahnya.


"Sekarang yang terakhir, di dalam sini adalah benda yang paling aku sukai, A, hehehe ...." Sisil terkekeh saat menyentuh celana dallam suaminya yang berwarna putih. Belum dibuka sebenarnya, tapi dia sudah panas dingin melihat bentuknya yang begitu mengembung.


Benda itu sudah mulai dia tarik, namun sayang—seseorang tiba-tiba saja datang dan menghentikan aksinya.


"Sil ... apa yang kamu lakukan?!"


Itu suara milik Gugun. Dan benar saja, saat Sisil menoleh dia langsung terkejut dengan kedua mata yang membulat.


"Kakak! Kok Kakak tiba-tiba masuk?" Sisil segera menarik selimut, lalu menutupi tubuh Rama hingga leher.


"Iya. Tapi kamu mau ngapain, Sil? Apa kamu mau memperk*osa Rama?" tuduh Gugun. Dia menarik tangan adiknya hingga membuat perempuan itu turun dari ranjang.


"Dih Kakak apaan, sih? Aa Rama 'kan suamiku, masa aku perk*sa dia?!" Sisil mendengkus kesal. Terlebih yang paling dia sebal adalah kehadiran Gugun, yang benar-benar menganggunya. Padahal tinggal sedikit lagi dia akan berhasil menelanjangi suaminya.


"Kalau bukan memperk*sa terus apa? Rama 'kan dalam keadaan nggak sadar, pasti kamu ingin melakukan tindakan tak senonoh padanya, kan?" cecar Gugun mengomeli, lalu mengusap kasar wajah adiknya. Berniat menyadarkannya. "Kamu ini sadar nggak, sih, kalau Rama itu masih dalam keadaan nggak sadar? Dan kamu juga kenapa bisa mesum begini sih, Sil?"

__ADS_1


"Kakak salah paham. Aku nggak mesum dan aku nggak mau berbuat apa-apa sama Aa kok," kilah Sisil dengan gelengan kepala. Sengaja dia berbohong karena malu. Tak mungkin juga rasanya dia jujur, dengan niat konyolnya. Bisa-bisa Gugun melarangnya dan lebih memarahinya seperti sekarang.


"Terus alasanmu melepaskan seluruh pakaian Rama apa? Sampai tinggal sempaak doang dan itu pun mau kamu tarik? Kakak lihat lho, Sil, kamu nggak perlu ...." Ucapan Gugun seketika terhenti saat mendengar suara derap langkah yang begitu cepat masuk ke dalam kamar itu.


"Rama! Anakku!" seru Mbah Yahya yang datang bersama Evan. Pria tua itu langsung menghampiri anaknya, lalu memeluk tubuhnya sembari menangis. "Kamu kok bisa kecelakaan sih, Ram? Dan kenapa bisa sampai dioperasi segala? Kamu 'kan kuat. Kamu anak Daddy ... hiks, hiks."


Melihat sang mertua menangis tersedu-sedu, Sisil pun melangkah pelan untuk mendekatinya. Kemudian mengusap punggung Mbah Yahya.


"Daddy yang sabar. Aa akan baik-baik saja, Dad."


Mbah Yahya pun menarik selimut anaknya. Niatnya ingin dia benarkan karena terlihat berantakan. Tapi justru, dia langsung tersadar jika pria itu tak memakai baju. "Kok si Rama nggak pakai baju, Sil? Kasihan amat?"


"Aku buka, Dad. Soalnya Aa sempat berkeringat," jawab Sisil asal. Mencari alasan.


"Oohh ...." Mbah Yahya sepertinya percaya. Dia pun lantas menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke arah Gugun. "Kata Evan, kamu sempat melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Terus apa kata pihak polisi, Gun? Apa pelakunya sudah tertangkap?"


"Pihak polisi sampai sekarang belum menghubungiku, Pak," jawab Gugun apa adanya.


"Tapi pas kamu ke sana ... kamu bawa barang bukti nggak, Gun? Dan apa barang buktinya?" tanya Mbah Yahya penasaran, lalu menarik tangan Gugun dan mengajaknya keluar bersama dari ruangan itu.


"Bawa, Pak. Sebuah rekaman CCTV dijalan saat kecelakaan itu terjadi," jawab Gugun seraya duduk di kursi panjang, berikut dengan Mbah Yahya yang sudah berada di sampingnya.


"Jelas nggak rekaman CCTV-nya? Dan apa kamu menyimpan di hapemu, Gun? Aku mau lihat dong." Tangan kanan Mbah Yahya menadah kepada Gugun. Tapi pria itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak menyimpannya, Pak. Itu udah kuserahkan ke polisi. Tapi aku dan Nona Tuti sudah sempat melihat rekamannya."


"Bagaimana isinya? Dan bagaimana ciri-ciri orangnya?"


"Orangnya pakai masker dan topi, jadi nggak kelihatan jelas. Dan yang parahnya juga ... ternyata mobil yang dia pakai itu nggak ada plat nomornya, Pak," jelas Gugun, dan seketika membuat raut Mbah Yahya menjadi kecewa. Dia juga terlihat menghembuskan napasnya dengan berat.


"Susah dong, kalau begitu, Gun. Cari tau siapa pelakunya." Pria tua itu merengut lesu sembari menggaruk rambutnya yang mendadak terasa gatal.


"Iya, Pak. Tapi aku yakin sih ... pelakunya itu dua orang. Karena yang satu nyetir mobil, yang satu orang lagi yang mencoba menarik tubuh Rama. Beruntung banget saat itu ada bidadari surgaku, yang menyelamatkan Rama. Kalau nggak ... mungkin Rama bisa beneran diculik, Pak," jelas Gugun yang berbicara dengan bangga. Wajahnya pun terlihat merona.


"Bidadari surga?" Kening Mbah Yahya seketika mengerenyit.

__ADS_1


"Bukannya setau saya ... yang menyelamatkan Pak Rama itu Tuti, ya, Pak Gugun?" tanya Evan yang sejak tadi berdiri di samping Mbah Yahya. Juga sambil mendengarkan apa yang mereka obrolkan.


"Oh ... kamu juga kenal sama Nona Tuti ya, Van?" Gugun menatap ke arah Evan. "Tapi yang aku maksud bidadari surga itu memang Tuti. Nona Tuti."


"Tapi kenapa—"


"Daddy!" panggil Yenny yang tiba-tiba datang, sehingga ucapan Evan terhenti begitu saja. "Daddy kapan sampai? Mommy kangen!!" tambahnya dengan raut manja.


"Baru tadi, Mom." Mbah Yahya langsung berdiri, kemudian memeluk tubuh istrinya dan menciumi kening.


"Udah lihat kondisi Rama belum, Dad?" Perlahan Yenny merelai pelukan, lalu suaminya itu merangkul bahu.


"Udah tadi, Mom."


"Ya sudah, sekarang kita ke ruangan Dokter, Dad. Sejak semalam Dokternya Rama nungguin Daddy," ajak Yenny.


"Ayok, Mom." Mbah Yahya mengangguk, kemudian melangkah bersama berlalu dari sana.


Setelah dua orang itu menjauh, Evan pun langsung duduk di samping Gugun. Rasanya ada hal yang mengganjal dalam hati, tentang ucapan Gugun tadi yang mengatakan Tuti adalah bidadari surga. Karena setahunya, pria itu memiliki hubungan dengan Gisel.


"Pak Gugun ... boleh saya tanya sesuatu?"


"Tanya apa?" Gugun langsung menoleh dan menatap Evan.


"Sebenarnya, apa hubungan Bapak dengan Nona Gisel? Apa kalian pacaran?" tanyanya penasaran.


Mendengar nama Gisel, raut Gugun yang semula ceria karena memikirkan Tuti kini sirna seketika. Dan berubah menjadi lesu. "Enggak," jawabnya berbohong.


"Masa sih enggak? Tapi kok ... kalian kelihatan mesra?" Evan memicingkan matanya, menatap tak percaya.


"Memang kamu pernah ... lihat aku lagi sama Nona Gisel, Van? Kapan?"


"Sering, Pak. Tapi saya sarankan ... Bapak itu lebih baik menjauh dari Nona Gisel. Jaga jarak sama dia, karena dia itu perempuan berbahaya."


"Berbahaya?" Kening Gugun seketika mengerenyit. "Berbahaya gimana maksudnya? Dan sejak kapan kamu kenal Nona Gisel, Van?"

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2