
Rama bertanya-tanya sendiri kemudian melangkah mengikuti langkah kaki sang istri.
"Bapak ayok duduk dan Nona Sisil dipangku," ucap wanita WO saat Rama telah sampai pelaminan. Sisil langsung menoleh dengan bola mata yang membulat.
"Nggak mau!" tegasnya menolak dengan gelengan kepala.
"Kenapa nggak mau, Dek? Kan kita sudah halal." Rama duduk di kursi pengantin, lalu menarik lengan Sisil dan seketika membuat bokong gadis itu jatuh di atas pahanya.
"Aku nggak mau foto ah!" Sisil menggeleng lagi. Rasanya dia masih kesal kepada Rama dan tak mau dekat-dekat apalagi berfoto dengan posisi yang cukup int*m seperti itu.
Namun, saat bokongnya itu hendak dia tarik, kedua tangan Rama justru menekan pinggangnya.
"Jangan begitu, Sayang. Kita harus mengabadikan momen ini. Kapan lagi coba?" rayu Rama lalu merengkuh pinggang Sisil hingga tubuh mereka saling menempel.
"Tapi aku lagi nggak mood, nanti saja. Lagian aku juga lagi kesal sama Om! Om nyebelin!" cerocoh Sisil yang tampak marah.
Dia menarik kasar lengan Rama guna melepaskan diri, lalu berpindah duduk di sampingnya tapi agak bergeser supaya tak terlalu dekat. Bibirnya manyun dan wajahnya begitu masam.
Sikap dan perilaku gadis itu makin membuat Rama bingung akan apa yang telah dia lakukan padanya. Sehingga membuat Sisil marah.
"Kesal sama aku?" Rama menunjuk wajahnya sendiri dengan kening yang mengernyit. "Kesal kenapa? Apa salahku, Dek?" Perlahan dia bergeser lalu meraih tangan Sisil, akan tetapi lagi-lagi gadis itu menepisnya dengan kasar. "Dek, salahku apa?"
"Pikir saja sendiri!" ketusnya sambil bersedekap.
"Pikir gimana? Perasaan aku nggak ngapain-ngapin deh."
Sisil berdecih sebal. 'Nggak ngapain-ngapin katanya? Apa kejadian tadi sudah dia lupakan?! Baru tadi Mbak Rima bilang Om Rama pria yang setia, tapi nyatanya dia pria hidung belang.'
"Kita jadi foto nggak, nih?" tanya seorang fotografer. Dia termasuk salah satu tim WO juga dan dia bertanya pada temannya, wanita WO tadi.
"Sebentar, aku tanya Bu Yenny dulu," ucap wanita itu, lantas melangkah cepat menghampiri Yenny yang tengah sibuk mengobrol dengan teman-teman arisannya sambil duduk. "Bu Yenny maaf menganggu," ujarnya yang mana membuat wanita itu menoleh.
__ADS_1
"Ya?" sahut Yenny.
"Nona Sisil nggak mau difoto bareng Pak Rama, Bu."
"Lho kenapa? Bukannya tadi pas pakai kebaya mereka sudah foto, kan?"
"Iya. Tapi pas baru ganti pakai gaun ... Nona Sisil justru nggak mau. Dia juga sepertinya sedang marah sama Pak Rama."
Yenny menatap ke arah pelaminan. Dilihat Rama tengah memberikan sebuah jus mangga ke arah sang menantu, akan tetapi gadis itu menggeleng dengan wajah merengut.
Merasa penasaran, akhirnya Yenny berdiri. "Tinggal dulu sebentar ya, Jeng," ucapnya pamit pada ketiga teman-temannya. Wanita sebayanya itu mengangguk.
Yenny pun melangkahkan kakinya naik ke arah pelaminan, lalu menghampiri mereka berdua. "Kalian ada masalah apa?" tanyanya pelan, namun dapat didengar keduanya dan membuat mereka menoleh.
"Nggak ada apa-apa kok, Mom," jawab Sisil seraya menggelengkan kepala.
"Nggak ada apa-apa kok tadi kata wanita WO kamu nggak mau foto sama Rama? Kenapa, Nak?"
"Ya sudah foto dong sekarang, kalau sudah selesai kalian 'kan enak biar leluasa menyambut tamu. Nanti pasti banyak yang ingin berfoto sama kalian."
"Tapi aku haus, Mom, mau minum dulu yang seger-seger." Sisil menyentuh lehernya yang terasa kering.
"Ini 'kan jus, Dek, ayok minum," ucap Rama yang sejak tadi memegang jus mangga di tangannya. Dia mengarahkan ke arah Sisil tapi gadis itu menolak.
"Aku nggak mau jus mangga, maunya jeruk."
"Oh. Sebentar ... aku ambilkan dulu." Rama menenggak jus di tangannya hingga sisa setengah.
Sambil menaruh di atas meja di dekatnya, dia pun berdiri kemudian melangkah menghampiri salah satu pelayan yang seperti membawa jus jeruk. Setelah mendapatkannya dia langsung kembali dan memberikan kepada Sisil.
"Nih, minum, Dek," ucap Rama.
__ADS_1
"Aku mau jus yang Kakakku pegang saja," tolak Sisil. Dia menatap Gugun yang berdiri sambil memegang jus mangga yang masih penuh. Mata pria itu menatap sekitar, seperti mencari-cari seseorang. "Kakak! Aku mau minum!" teriak Sisil.
Sebenarnya, yang Sisil lakukan adalah tak mau menerima jus atau meminum jus dari Rama. Alasannya hanya satu, yaitu masih kesal.
Gugun langsung menoleh ke arah Sisil, lalu menunjuk gelas yang dia pegang. Adiknya itu mengangguk dan cepat-cepat dia melangkah mendekat untuk memberikan minuman itu ke tangannya.
'Katanya tadi nggak mau jus mangga, tapi kok malah kepengen jus yang dipegang Kak Gugun? Padahal kayaknya itu juga jus mangga,' batin Rama yang terdiam sambil memerhatikan istrinya yang tengah menenggak minuman. Dia ingin bertanya, tapi rasanya tak enak sebab takutnya Sisil makin marah. Meskipun dia sendiri tak tahu apa kesalahannya. 'Apa Sisil lagi datang bulan kali, ya? Mangkanya sensitif. Eh, semoga jangan deh. Nggak jadi malam pertama dong, nanti malam, kalau dia sampai datang bulan.'
Setelah berhasil menghabiskan satu gelas penuh jus, akhirnya Sisil mau untuk melakukan sesi foto. Jus dingin yang cukup menyegarkan itu bisa meredakan rasa kesal di dadanya meskipun tak sepenuhnya hilang.
Beberapa gaya pun mereka lakukan atas permintaan sang fotografer. Sampai disesi gaya yang sangat mendebarkan menurut Rama. Yakni berpose dengan bibir yang saling menempel alias berciuman.
Rama sudah duduk di kursi, lalu Sisil diminta untuk duduk di atas pangkuannya dengan posisi miring. Tangan kanan Sisil di pipi kanan Rama, sedangkan tangan kirinya menyentuh dada.
Sedangkan Rama, kedua lengannya itu mengalung pada pinggang Sisil dan setelahnya Sisil mulai mendekat dengan perasaan yang campur aduk. Jantungnya mendadak berdebar kencang dan rasanya ingin lompat.
"Lebih dekat, Nona, sampai menempel," ucap sang fotografer. Dia merasa gemas melihat Sisil yang tak kunjung menempelkan bibirnya ke bibir Rama.
'Mesum banget fotonya, pakai cium-cium segala. Seperti mengambil kesempatan dibalik kesempitan,' batin Sisil menggerutu. Akan tetapi, seketika dia merasakan hal aneh pada bokongnya. Sebab seperti menduduki sebuah batang yang begitu keras dan panjang. 'Apa itu yang keras di bawah? Apa Om Rama ngantongin kayu? Atau jangan-jangan ....' Wajah Sisil langsung merona kala pikirannya sudah travelling. 'Ih, dasar mesum. Katanya Impoten, kok baru dipangku saja sudah berdiri? Bohong sih ini namanya.'
'Kapan kita ciumannya, Sil? Kenapa lama sekali?' batin Rama. Dia sejak tadi menunggu bibir sang istri yang akan mendarat, tapi lama sekali. Gadis itu justru seperti melamun sambil memandangi keringat pada keningnya yang baru saja mengalir. 'Aku udah nggak sabar, nih, pengen merasakan bibirmu yang manis.'
"CK!" Fotografer itu terlihat berdecak kesal, merasa lelah menunggu. Kamera sudah on, milik Rama pun sudah ikut on. Tapi Sisil masih saja membeku.
Mbah Yahya dari kejauhan sejak tadi memperhatikan. Dia yang ikut merasa gemas langsung berkomat-kamit sambil menggosok batu akiknya. Menurutnya, dia harus turun tangan supaya masalah itu cepat selesai.
Tak lama, secara tiba-tiba Sisil merasakan punggungnya seperti ada yang mendorong. Sehingga membuatnya menempelkan bibirnya ke bibir Rama dengan begitu kasar. Menempel begitu lekat dan membuat keduanya terkejut dengan bola mata yang membulat.
Cup~
...Lebay kamu, Sil, cium bibir aja sampai dibantu mertua 😆 padahal pas sebelum diperkaos Om Rama situ yang nyosor duluan 🤣...
__ADS_1
...Btw mana vote dan giftnya nih! Jangan lupa kasih. Padahal udah rajin up lho aku, kok pada pelit ya 🥲...