Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
37. Akhirnya dia luluh juga


__ADS_3

"Maaf, Om," ucap Citra yang mana membuat Gugun menoleh. "Kok bisa Om Rama memperkosa Sisil yang sedang mabuk, Om? Menurutku Om Rama itu pria baik-baik."


Citra memang tak mengenal jelas bagaimana sikap dan perilaku Rama. Akan tetapi mendengar Angga mengatakan jika dia pria baik-baik, Citra percaya akan hal itu. Sebab selama ini, mertuanya tak pernah berbohong kepadanya.


"Dari pengakuan Pak Rama, dia bilang Sisil yang menggodanya. Karena Sisil juga minum obat perangsang. Dan setahu saya ... Pak Rama juga impoten. Awalnya saya juga nggak percaya, kalau dia yang memperkosa Sisil," jelas Gugun. "Tapi memang itulah kenyataannya."


"Impoten itu apa?" Citra dan Sisil bertanya secara bersamaan.


Sisil sendiri tak tahu menahu jika Rama dulunya telah menikah dengan Tari saudara sepupunya. Jadi dia juga tidak tahu kalau Rama adalah pria impoten.


"Itunya nggak bisa berdiri."


"Apanya?" Sisil dan Citra masih bingung dengan jawaban Gugun. Maka dari itu mereka kembali bertanya.


"Kemal*an Pak Rama," jelas Gugun.


"Nggak bisa berdiri kok bisa memperk*sa? Aneh," ucap Citra tak percaya.


"Memangnya ngaruh, Cit? Kan tinggal dimasukkin?" tanya Sisil dengan polosnya. Dia melepaskan pelukan Gugun lalu menyeka pipinya sembari menatap Citra.


"Ngaruh lah, Sil. Apalagi kamu masih perawan awalnya. Tanya Om Gugun kalau nggak percaya."


Sisil menatap ke arah Gugun.


"Iya, Nona Citra benar, Sil. Kata Daddy Om Rama sendiri ... awal mulanya dia bisa melakukan hal itu karena kamu duluan yang menggodanya, kamu buka baju di depannya."

__ADS_1


"Dih, nggaklah," bantah Sisil dengan gelengan kepala. Wajahnya seketika merah, dia terlihat marah. "Mana mungkin aku menggodanya, Kak. Kan aku nggak kenal dia, Kakak pikir aku cewek murahan?!"


"Bukan karena kamu murahan. Tapi pengaruh mabuk dan obat perangsang itu bisa saja terjadi, soalnya Lusi sendiri sudah mengakui jika dia memberikan itu kepadamu."


"Terus Lusi di penjara nggak? Dan apa Kakak tanya alasan dia melakukan hal itu semua? Pasti Om Rama dan Lusi itu sekongkol, kan?!" tebak Sisil kesal. Dia memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Kayaknya Lusi dan Pak Rama nggak saling mengenal, Sil. Tapi nggak tahu juga, mangkanya polisi meminta kamu dan Pak Rama di pertemuan di kantor polisi, supaya semuanya jelas. Kamu bersedia nggak? Kalau iya, Kakak akan konfirmasi ke pihak kantor polisinya dulu."


"Kalau sudah dipertemukan terus gimana? Apa Om Rama akan di penjara?"


"Kayaknya nggak."


"Kok nggak?"


"Bukti yang diberikan Daddynya Pak Rama cukup kuat, berupa hasil kesehatan yang menunjukkan dia impoten sejak lahir," jelas Gugun. "Selain itu, kamu 'kan mau menikah dengannya. Masa dia di penjara? Yang ada dia nggak bisa nafkahi kamu, Sil."


"Kalau sebulan kemudian kamu hamil bagaimana?"


"Nggak mungkinlah aku hamil. Kan aku baru diperkosa sekali. Nggak mungkin langsung jadi, apalagi Om Rama adalah pria nggak normal," ucap Sisil dengan yakin.


"Tapi kita nggak tahu, kedepannya seperti apa."


"Periksa ke dokter saja sekarang kalau begitu."


"Kamu diperkosa belum ada sebulan, mana kelihatan hasilnya," jawab Gugun.

__ADS_1


"Benar kata Om Gugun, Sil." Citra menimpali. Sepertinya di sini dia memihak kepada Rama, sebab sudah mendengar cerita tentang keluarga Arya. "Aku saja pas hamil, pas sudah sebulan lebih setelah bercinta baru ketahuan, kalau aku hamil. Mungkin saja sebulan kemudian di dalam perutmu ada bayi kembar." Citra mengelus perut Sisil, akan tetapi temannya itu langsung menepisnya dengan kasar.


"Sembarangan kamu!" omelnya sambil melototi Citra.


"Udahlah, Sil. Mending kamu turuti ucapan Kakak saja, karena hanya itulah satu-satunya jalan keluar," pinta Gugun dengan sedih. Dia mengelus lembut rambut kepala adiknya. Masih berusaha untuk merayu.


"Iya, Sil." Citra langsung menyentuh punggung tangan temannya. Menggenggamnya dengan hangat. "Kamu lebih baik menikah sama Om Rama. Meskipun sudah Om-Om, tapi dia ganteng kok. Mirip-mirip Oppa Korea juga."


"Ngarang kamu, Cit," sarkas Sisil. "Mana ada Om Rama mirip Oppa Korea. Orang dia jelek."


"Ganteng. Matamu kayaknya mines deh," balas Citra.


"Udah ya, Sil. Jadi deal, kan?" tanya Gugun seraya berdiri. "Kakak akan telepon pihak polisi, untuk mengatur waktu kalian dipertemukan."


"Kalau ujungnya Om Rama nggak jadi dipenjarakan ... buat apa juga aku dan dia memberikan keterangan? Buang-buang waktu saja!" Sisil mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap.


"Tapi 'kan biar semuanya jelas."


"Aku nggak percaya sama Om Rama. Pasti dia nanti akan mengarang cerita. Nggak usah deh, Kak," tolak Sisil. Selain itu dia memang malas untuk bertemu dengan pria itu.


"Terus kamu maunya gimana sekarang?" tanya Gugun yang mulai lelah.


"Katanya aku harus menikah dengannya."


"Jadi kamu mau?"

__ADS_1


"Kata Kakak nggak ada pilihan. Gimana, sih?" Sisil mendengkus. Akhirnya dia luluh juga, meskipun terlihat jelas kalau itu semua adalah sebuah keterpaksaan. Perlahan dia berdiri lalu menarik lengan Citra. "Ayok ke kamarku, Cit. Kita nonton drakor sambil tiduran. Daripada ngomongin si Rama Tua Bangka mulu, bisa gila aku lama-lama."


...Tergila-gila ya, maksudnya 😆...


__ADS_2