
"Halo, Tut, assalamualaikum," ucap Rama saat menelepon Tuti.
"Walaikum salam. Iya, Pak? Apa Bapak melupakan sesuatu?" tanya Tuti. Dia berpikir Rama meneleponnya lagi ada kaitannya dengan THR, sebab sebelum sekarang—dia sudah meneleponnya.
"Enggak, Tut. Cuma aku mau ngasih tau kalau Kak Gugun masuk rumah sakit."
"Terus, kenapa memangnya, Pak?" Respon Tuti terdengar begitu cuek. Rama jadi bingung sendiri.
"Lho ... kok kamu tanya kenapa? Memang kamu nggak khawatir, ya, kan Kak Gugun itu pacarmu, Tut."
"Apa Pak Gugun belum cerita sama Bapak atau Nona Sisil?"
"Cerita tentang apa?" Rama berbalik tanya, yang memang dia tak tahu apa-apa.
"Nanti coba Bapak tanya saja tentang hubungan saya dengannya, Pak. Dan saya harap ... Bapak nggak perlu memberitahukan apa-apa lagi kepada saya tentang Pak Gugun. Kalau begitu saya ingin langsung ke gudang, ya, Pak. Maaf ... saya tutup teleponnya sekarang."
Tut!
Panggilan itu langsung diputuskan oleh Tuti, Rama pun hanya bisa menggaruk kepala botaknya. "Kenapa dengan Tuti? Kok cuek banget dia sama Kak Gugun, apa jangan-jangan mereka berdua udah putus, ya?" gumamnya menebak.
***
Beberapa menit kemudian, perlahan kedua mata Gugun terbuka dan mengerjap beberapa kali.
"Alhamdulillah ... akhirnya Kakak udah bangun," ucap Sisil yang duduk dikursi kecil, di samping ranjang.
__ADS_1
Saat ini Gugun sudah berada di kamar rawatnya. Lehernya sudah diolesi salep, tangannya pun sudah terpasang jarum infusan.
"Kamu kok ada di sini, Sil? Dan kenapa Kakak ada di rumah sakit?" tanya Gugun bingung sambil menatap sekeliling. Di dalam kamar itu dia hanya berdua dengan Sisil.
"Kakak sempat tergeletak di lantai dengan kondisi menggigil. Kak Hersa yang melihatnya langsung membawa Kakak ke rumah sakit, terus aku datang bareng Daddynya Aa Rama. Karena aku sempat menelepon Kakak dan yang mengangkat Kak Hersa," jelas Sisil memberitahu.
"Ooohh ... terus Daddynya Rama sekarang ke mana? Udah pulang?"
"Dia ada diluar, Kak," jawabnya, lalu perlahan memegang tangan Gugun. "Oh ya ... Kakak kata Dokter ternyata kena tipes. Leher Kakak juga infeksi. Dan kenapa semua itu terjadi, Kak? Apa Kakak ada masalah?" tanyanya penasaran.
"Kenapa apanya, Sil? Namanya penyakit 'kan dari Allah," balas Gugun sesantai mungkin. Tapi sorotan matanya terlihat begitu sendu.
"Aku ngerti kalau masalah itu. Tapi yang aku tau ... Kakak itu orangnya jarang sakit, ditambah kata Dokter penyebab leher Kakak infeksi itu karena terkena air panas. Kok bisa sih, Kak? Apa jangan-jangan ada seseorang yang mau menjahati Kakak?" Sisil jadi teringat ucapan Mbah Yahya yang tentang gorok mengg*orok. Bisa jadi memang ada orang jahat selama ini, yang ingin mencelakai Kakaknya.
"Enggak kok, enggak ada orang jahat, Sil." Gugun menggeleng cepat.
"Bukan nyiram sendiri, tapi Kakak nggak sengaja kesiram."
"Maksudnya?" Kening Sisil tampak mengerenyit.
"Kakak 'kan kemarin malam minum kopi ... eh nggak taunya kopi itu masih panas, Sil. Dan karena Kakak ceroboh ... akhirnya kopi itu tumpah mengenai leher Kakak," papar Gugun berbohong. Tak mungkin juga dia menceritakan, kalau itu karena Tuti. Gugun ingin menutupinya dari siapa pun.
"Perasaan ... Kakak minum kopi nggak cuma sekali deh, tapi sering. Tapi kok bisa sekarang kesiram kopi? Aneh." Sisil terlihat tak percaya, sebab dia juga tentu tahu bagaimana keseharian Gugun selama ini.
"Namanya musibah, Sil. Manusia nggak ada yang tau itu kapan terjadi."
__ADS_1
"Iya sih. Tapi Kakak nggak berbohong sama aku, kan?" Sisil memicingkan matanya, dan menyorot penuh tajam.
Gugun justru terkekeh. "Enggaklah. Memangnya kamu pikir Kakak ini kamu, yang suka berbohong?"
'Maafin Kakak, Sil. Bukan maksud Kakak ingin berbohong padamu. Tapi Kakak nggak mau nantinya kamu membenci Nona Tuti. Karena jujur saja ... Kakak masih berharap dia kembali sama Kakak,' batin Gugun lalu mengusap wajahnya.
"Oh ya, aku juga penasaran dari kemarin ... dengan hubungan Kakak sama Mbak Tuti."
"Kenapa memangnya?"
"Mbak Tuti kok kelihatan cuek, ya, sama Kakak. Apa kalian sedang berantem?"
"Berantem sih enggak, cuma ada salah paham dikit. Tapi hubungan Kakak sama dia baik-baik saja kok."
"Kok bisa salah paham?"
"Ya namanya hubungan ... wajar kalau ada salah paham. Kamu saja sama Rama sering salah paham, kan?"
"Iya, sih. Tapi sekarang salah pahamnya sudah selesai belum? Apa mau aku bantuin?"
"Bantuin gimana? Nggak usah." Gugun menggeleng cepat. "Lagian udah selesai kok masalahnya."
'Hubungannya juga udah selesai sebenarnya, Sil,' batin Gugun.
"Beneeerrr?" Sisil memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Bener." Gugun mengangguk. "Oh ya, kamu ke sini cuma berdua sama Pak Yahya? Rama kerja apa gimana?" tanyanya yang mengalihkan obrolan.
...Hari senin nihhh ... Jangan lupa vote dan hadiahnya, biar Author semangat update ☺️...