
"Ngapain minta rumah segala, Sil?" tanya Gugun yang tampak tak setuju. Padahal Rama ingin menjawab ucapan Sisil dan bermaksud mengiyakan. "Nggak usah." Menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, aku kepengennya nanti rumah itu untuk Kakak," ucap Sisil.
"Kakak 'kan sudah punya tempat tinggal di sini, Sil. Nggak usahlah."
"Kalau Sisil mau nggak masalah, Kak." Rama menyahut. "Aku akan belikan rumah sekarang, tinggal Kakak pilih saja di mana maunya." Isi rekening Rama tak perlu diragukan lagi, jelas dia sanggup.
"Nggak usah, Pak." Gugun menolak. "Aku sudah nyaman tinggal di sini, aku juga nggak suka tempat yang begitu luas tapi hanya diisi sendiri."
"Kan tinggalnya sama aku juga, Kak," ucap Sisil.
"Nggaklah, Sil. Kamu harus tinggal bersama suamimu," sahut Gugun.
"Nggak apa-apa kalau Sisil maunya—"
"Udah, Ram," sela Mbah Yahya cepat. Mendengar perdebatan kecil itu membuat kepalanya pening. "Kalau nggak mau, nggak usah dipaksa. Biarkan saja." Dia meraih secangkir kopi, lalu perlahan menyeruputnya sebab sudah tak terlalu panas. "Aahh!" desaahnya.
"Jadi maharnya apa, nih? Rumah atau seperangkat alat sholat?" Yenny memastikan, biar nantinya tak ada salah paham.
"Seperangkat alat sholat, Bu," jawab Gugun.
Mendengar jawaban itu, Sisil langsung cemberut. Dia juga mendengkus kesal. Dan Rama melihat semua itu. 'Ah Kakak ini, padahal biarkan saja Om Tua ngasih mahar rumah. Kan enak kalau Kakak sudah punya rumah sendiri, biar nanti bisa dipandang kalau Kakak berencana ingin melamar seorang gadis,' batin Sisil.
'Tenang, Sil, nanti aku akan membelikannya,' batin Rama.
"Sekarang, boleh nggak aku izin membawa Sisil, Gun, untuk fitting baju pengantin bersama Rama," pinta Yenny.
"Tentu boleh, Bu." Gugun mengangguk cepat.
"Tapi, Kak, aku ...." Ucapan Sisil menggantung diujung bibir kala Gugun menatapnya penuh arti. Dia ingin menolak, tapi sepertinya tidak mungkin. Pernikahannya hanya tinggal menghitung hari. Pada akhirnya dia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Kalau Sisil ikut, terus dia duduk di mana nanti, Mom?" tanya Mbah Yahya bingung. Dia tentu ingat, pas mereka berangkat berempat dengan Tuti yang mengemudi.
"Sisil sama Mommy di belakang," jawab Yenny. "Daddy pulangnya sendiri saja naik taksi, nanti sekalian ke tempat percetakan undangan."
"Jadi Daddy perginya sendiri?"
"Iyalah. Tapi asisten Daddy 'kan banyak di rumah praktek, ajak saja mereka untuk bantu-bantu."
"Eemm ... ya sudah deh." Mbah Yahya mengangguk pasrah. Yenny dan Rama langsung berdiri.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pulang sekalian mengajak Sisil pergi ya, Gun. Nanti pulangnya Rama yang antar," ucap Yenny pamit.
Gugun dan Sisil pun ikut berdiri begitu pun dengan Mbah Yahya.
"Iya, Bu," jawab Gugun.
"Tunggu sebentar ya, Mom. Aku mau mengambil tas dan pakai sepatu," pamit Sisil dan langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.
Dia langsung menyisir rambut, lalu menambal bedak ke wajahnya sambil bercermin. Dia juga menyemprotkan minyak wangi serta mengolesi body lotion ke tangan dan kakinya.
Dompet dan ponsel dia masukkan ke dalam tas selempangnya. Selanjutnya dia memakai sepatu flatshoesnya yang di mana sebelahnya sudah berhasil ditemukan oleh Rama.
Setelah itu barulah dia keluar, lalu tersenyum menatap semua orang.
"Udah selesai kamu, Nak?" tanya Yenny seraya mengusap rambut kepala Sisil. Dia juga menghirup aroma wangi gadis itu yang kian bertambah. Wajah Rama langsung merona saja.
"Udah, Mom." Sisil mengangguk, lalu mencium tangan Gugun dan memeluknya.
"Kamu hati-hati dan jaga sopan santun," tegur Gugun pelan.
"Iya, Kak." Sisil mengangguk kemudian melepaskan pelukan. Namun, tiba-tiba saja Rama meraih tangan Gugun dan mencium punggung tangannya.
Gugun tampak terkejut, akan tetapi dia langsung tersenyum.
"Iya." Gugun mengangguk.
Keempat orang itu berlalu keluar dari kamar apartemen. Gugun mengantarnya hanya sampai pintu. Dan tiba-tiba saja ponselnya berbunyi notifikasi chat masuk.
Ting~
Gugun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, kemudian langsung membuka chat masuk yang ternyata itu dari Arya.
[Kak, maaf, ya, aku pergi dari apartemen Kakak tanpa pamit. Soalnya Papaku masuk rumah sakit, kena serangan jantung. Jadi buru-buru akunya.]
'Oh, pantesan Arya tadi nggak ada. Tapi syukur juga sih, dia nggak sempat bertemu Pak Rama dan orang tuanya. Jadi lamaran Sisil bisa berjalan dengan lancar.' Gugun mengulas senyum. 'Eh, tapi ... secepatnya mereka berdua harus putus. Ah tapi masih ada hari esok, besok Arya akan kuundang untuk datang ke sini dan Sisil harus meminta putus,' batinnya. Kemudian Gugun pun membalas. [Nggak apa-apa, semoga cepat sembuh ya, Ar. Papamu.]
Setelah itu Gugun masuk lagi ke dalam kamarnya, lalu bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
***
"Sil, kenalkan dia asistenku. Namanya Astuti, tapi biasa dipanggil Tuti," ucap Rama mengenalkan gadis yang baru saja turun dari mobilnya.
__ADS_1
Sengaja Ram mengenalkan Tuti, supaya nantinya tak ada salah paham. Walau bagaimana pun Tuti seorang perempuan meski tomboi. Rama hanya takut jika nantinya Sisil cemburu ya meskipun itu juga belum tentu cemburu.
"Saya Tuti, Nona." Tangan Tuti menjulur ke arah Sisil dan gadis itu langsung meraihnya.
"Sisil," sahutnya sambil tersenyum. Dia juga memperhatikan Tuti dari bawah sampai atas yang mengenakan jas berwarna hitam. 'Laki-laki kok namanya Astuti? Nggak macco amat. Suaranya juga lembut banget kayak cewek, mana kerempeng lagi. Bukan tipeku banget,' batinnya kemudian masuk ke dalam mobil yang baru saja pintunya dibukakan oleh Rama.
"Kamu duduk di belakang saja sama Sisil, Ram. Biar Mommy di depan." Yenny menahan tangan Rama saat dirinya hendak masuk menuju kursi depan.
Tadi dia sempat melihat Rama yang terus memperhatikan Sisil, apalagi Yenny mendengar cerita Rama yang baru beberapa kali bertemu dengan gadis itu. Pasti mereka harus banyak sekali pendekatan.
"Katanya Mama yang mau duduk sama Sisil?" Rama memang sebetulnya ingin, duduk di samping calon istrinya. Hanya saja dia gengsi untuk mengatakannya.
"Nggak apa-apa, kamu saja yang duduk sama dia," jawab Yenny, lalu masuk ke dalam.
Rama tersenyum dan langsung duduk ke dalam mobil. Dilihat Sisil tengah menatap ke arah jendela mobil, entah memperhatikan apa.
Tak lama kemudian, mobil itu pun melaju pergi dengan kecepatan sedang.
'Apa, ya, kira-kira ... yang dipikirkan Sisil sekarang? Apa dia juga sama sepertiku, nggak sabar ingin cepat menikah?' batin Rama penasaran.
'Tadi kok Kak Arya nggak ada? Ke mana dia? Apa jangan-jangan pulang karena melihat Om Tua dan orang tuanya datang?' batin Sisil penasaran.
Lantas dia pun menoleh ke arah samping, dan sontak bola matanya melebar sempurna kala melihat Rama tengah menyugar rambutnya ke belakang. Aura ketampanan Rama terlihat jelas apalagi ada keringat pada area dahi yang baru saja mengalir. Sekilas Sisil merasa terpesona, sebab rasanya dia seperti melihat Oppa Korea yang ada di drakor semalam, yang dia tonton.
'Aku nggak salah lihat, kan? Apa mungkin mataku mulai rabun, ya?' batin Sisil tak percaya. Dia pun mengerjapkan matanya berulang kali, lalu geleng-geleng kepala.
...Wah, ada yang terpesona nih 😆 oh ya, ini sekaligus ada bonus visualnya biar lancar ngehalunya. tapi kalau nggak suka boleh diskip aja😉~...
...(Ramaditya Ardiansyah)...
...(Prisilla Adiguna)
__ADS_1
...