
"Ya sudah kalau begitu, aku mau permisi pulang," ucap Mbah Yahya setelah beberapa menit kemudian. Dia lantas meraih secangkir kopi, lalu menyeruputnya.
"Maaf ya, Pak, kalau aku ada emosi. Soalnya aku kesal banget sama Tuti," ujar Gugun sembari menghela napas. Dia pun berdiri ketika Mbah Yahya berdiri.
"Iya, aku mengerti." Mbah Yahya mengangguk.
"Hati-hati di jalan, Pak." Gugun mengantarkan pria tua itu sampai keluar dari pintu apartemennya.
*
*
"Setelah ini kita ke mana, Pak?" tanya Evan saat Mbah Yahya sudah masuk ke dalam mobil.
"Ke rumah praktek," sahut Mbah Yahya.
Evan mengangguk lalu mengemudikan mobilnya.
"Van, menurutmu ... Tuti sama Gugun cocok nggak?" tanya Mbah Yahya. Hanya sekedar bertanya tentang pendapat saja.
"Gugun Kakaknya Nona Sisil, Pak?" Evan menatap Mbah Yahya dari kaca depan.
"Iya."
"Cocok-cocok aja sih, tapi memangnya Pak Gugunnya mau sama Tuti? Ya ... dia cantik sih, cuma penampilannya cowok banget, Pak."
"Kalau penampilan 'kan bisa dirubah, Van."
"Iya, sih."
***
Seoul, Korea Selatan.
Sisil mengerjapkan matanya yang terasa berat, lalu menyentuh perutnya yang terasa begitu sakit dan lapar.
Wajar saja, dari kemarin malam dia belum mengisi perutnya dan saat melihat ke arah jam weker, Sisil terkejut sebab di sana tertera jam sudah menunjukkan pukul 19.00.
"Ya ampun, ini sudah malam. Aku belum makan dan minum sama sekali dari kemarin dan tidurku kelamaan kayaknya." Sisil menoleh ke arah Rama. Sama halnya seperti dirinya, Rama juga masih tertidur dan dalam keadaan bugil.
Padahal tadi, mereka bercinta hanya setengah jam dengan melakukan dua gaya, tapi tidurnya yang terlalu lama. Mungkin efek cuaca yang dingin, saljunya pun turun cukup lebat.
__ADS_1
Sisil menarik selimut, lalu menyelimuti Rama juga. Risih sekali dia melihat adek kecil itu, sebab sekarang tengah berdiri tegak dan berkedut-kedut. 'Udah berdiri saja dia, dasar mesum! Sama kaya Om Ramanya!' gerutunya dalam hati.
Sisil menoleh ke arah meja, banyak beberapa makanan di sana. Itu adalah makanan kemarin malam. Perlahan dia pun turun dari tempat tidur sambil melilitkan selimut, lalu mematikan AC dan melangkah menuju meja.
"Ini susu kapan? Apa masih enak?!" Sisil meraih segelas susu putih. Sebelum ditenggak dia menciumnya dulu, dan ternyata aromanya basi. "Ah sayang banget, padahal kepengen minum susu aku."
Kemudian Sisil beralih mengambil buah strawberry di dalam mika plastik. Isinya ada 6, terlihat besar-besar dan masih segar.
"Kata Citra ... buah strawberry di Korea itu manis. Ini manis nggak, ya? Dan apa Om Rama belinya yang asli di sini?" Sisil membuka mika plastik itu, kemudian mengambil satu buah dan perlahan dia gigit tanpa dicuci terlebih dahulu. "Masya Allah, manis banget. Semoga aja ini bersih dan udah dicuci dari sananya."
Bola matanya tampak berbinar. Sisil sungguh bahagia sekali, sebab bisa merasakan buah strawberry yang dia idam-idamkan sejak dulu. Dulu dia hanya bisa makan buah strawberry yang kecil-kecil dan begitu asam rasanya. Tapi sekarang, dia dapat merasakan yang besar dan manis.
"Ini enak banget, nanti pulangnya harus beli buat oleh-oleh. Citra dan Kakak harus dikasih." Sisil melahapnya lagi, dia terlihat bersemangat memakan buah itu sampai tak terasa menghabiskannya dalam waktu yang cepat.
"Ah ternyata abis, padahal aku masih kepengen," keluh Sisil seraya mengusap perutnya. Rasa laparnya sedikit berkurang meski tak sepenuhnya.
Perlahan kakinya menuju kamar mandi. Dia memutuskan untuk mandi dengan air hangat. Sebab tubuhnya benar-benar lengket.
*
*
Semua pakaiannya dan pakaian Rama berada di satu lemari. Sepertinya semalam, Rama sudah membereskannya. Memasukkan apa yang ada di dalam koper ke dalam sana.
"Ini dress pasti Mommy yang beli." Sisil dengan girangnya memutar-mutar tubuhnya di depan cermin meja rias. "Cantik banget dan kok bisa, ya, tebel gitu bahannya? Pas banget dipakai dingin-dingin begini."
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Tiba-tiba, terdengar suara bel berdenting. Sisil cepat-cepat menyisir rambut pendeknya, kemudian melangkah keluar kamar.
"Siapa kira-kira tamu yang datang? Eh tapi ... aku 'kan nggak bisa bahasa Korea. Cuma bisa ngomong sarangheo sama annyeonghaseyo doang. Nanti bingung dong ngomongnya." Sisil menghentikan langkahnya saat sudah turun dari anak tangga, sebab dia merasa bimbang.
Ting! Tong!
Ting! Tong!
"Siapa yang memencet bel, Dek?" tanya Rama yang baru saja melangkah menghampiri.
Sisil langsung menoleh dan memperhatikan tubuh pria itu. Dia sudah memakai pakaian, stelan kaos panjang berwarna abu-abu. Tapi terlihat belum mandi dan memang sebenarnya baru bangun tadi.
__ADS_1
"Nggak tau, Om. Aku pengen buka tapi takut nggak bisa jawabnya. Aku nggak bisa ngomong bahasa Korea," jawab Sisil.
"Oh. Ya sudah .. biar aku yang buka. Mungkin saja itu kurir hape, soalnya aku sempat pesan hape untukmu dan minta dikirim hari ini."
Sisil hanya mengangguk, kemudian menatap Rama yang membukakan kunci lalu pintu itu.
Ceklek~
"Ram, kok lama banget dibukanya. Apa lagi tanggung?" tanya seorang wanita sambil terkekeh. Dia memakai jaket bulu berwarna pink, rambutnya terurai panjang berwarna pirang dan wajahnya cantik dengan polesan make up tipis.
'Ram?' Sisil memperhatikan wanita yang seumuran dengan Rama itu. Selain heran karena dia berbicara dengan bahasa Indonesia, Sisil juga heran karena penyebutan nama suaminya. 'Kok dia kayak kenal Om Rama? Tapi siapa?'
"Iya, maaf, Fuj. Tadi aku masih tidur. Ada apa, ya?" tanya Rama. Ternyata wanita di depannya itu adalah Fuji.
'Fuj?' Sisil langsung menyentuh dadanya sebab mendadak terasa panas dan bergemuruh. 'Om Rama juga kenal dia?'
"Ini, aku buat nasi goreng agak banyak, Ram. Sengaja buat kamu dan Sisil. Barangkali kalian belum makan," jawab Fuji lalu mengulurkan tangannya yang sejak tadi menenteng rantang plastik dua susun ke tangan Rama.
"Merepotkan banget, tapi terima kasih lho, Fuj." Rama tersenyum lalu menerimanya dengan senang hati.
"Sama-sama," sahut Fuji dan tersenyum. Wajahnya itu langsung merona.
"Dia siapa, Om?" tanya Sisil. Dia melangkah mendekat ke arah mereka dengan wajah yang masam. Kemudian memperhatikan Fuji dari ujung kaki hingga kepala.
"Dari kemarin malam aku ingin berkenalan denganmu, Sil. Namaku Fuji, teman dekat Rama," ucap Fuji seraya mengulurkan tangannya ke arah Sisil. Dia tersenyum manis dan terlihat begitu senang.
Namun, bukannya langsung membalas, Sisil justru membelalakkan matanya. Dadanya pun makin terasa panas dan hatinya ikut sakit.
"Oh. Mau apa ke sini?" Sisil berbicara dengan ketus. Kedua tangannya bersedekap.
"Aku mau nganterin makanan, Sil." Wajah Fuji langsung berubah kecewa, sebab melihat sikap Sisil yang menurutnya kurang sopan dan judes.
"Ayok kenalan dengan benar, Dek, dia teman SMA-ku," ucap Rama. Dilihat baru saja Fuji menarik tangannya, karena sejak tadi tak ada respon.
"Aku nggak mau!" tegas Sisil menggeleng. Dengan bola mata yang berkaca-kaca, dia pun berlari menaiki anak tangga, lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar.
Brak!!
Rama dan Fuji yang di lantai dasar sampai terperanjat mendengarnya.
...Setelah memadu kasih, sekarang tinggal berantemnya 😆...
__ADS_1