Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
184. Ah rese!


__ADS_3

Sepulang kuliah, bahkan baru saja membawa motornya keluar dari gerbang. Namun, tiba-tiba saja ada seseorang yang menghalanginya.


Pria itu berdiri di depan Arya dengan mengenakan kacamata hitam dan stelan jas berwarna abu-abu.


"Kau siapa? Jangan menghalangi jalanku!" teriak Arya mengusir.


"Namaku Evan. Aku peringatkan padamu ya, bocah ... jangan pernah kau berani menganggu rumah tangga Nona Sisil dan Pak Rama! Karena kalau sampai itu terjadi ... nyawamu akan habis ditangan bosku!" tegasnya mengancam.


Dia memang Evan asisten Mbah Yahya. Baru hari ini akhirnya dia bisa bertemu dan tahu jika laki-laki di depannya itu adalah Arya. Dan sekarang dia melakukan hal yang manjadi tugasnya, sesuai dengan perintah dari sang bos.


"Siapa bosmmu?" tantang Arya dengan tatapan remeh.


"Pak Yahya."


'Ooohhh ... jadi dia suruhannya Daddynya si Om Tua. Padahal aku kemarin-kemarin sudah diusir dan diancam juga, tapi bisa-bisanya dia menyuruh anak buahnya untuk mengancamku lagi. Dia pikir aku takut apa, sama dia? Nggak sama sekali!' seru Arya dalam hati sambil tersenyum miring.


"Kenapa ekspresimu begitu? Apa kau sama sekali nggak takut dengan Pak Yahya?" tanya Evan sambil bersedekap. "Dia itu dukun sakti, semburannya saja mampu membuatmu masuk rumah sakit. Tanya saja pada Kakekmu kalau nggak percaya!"


"Maaf, Pak. Aku di sini sama sekali nggak ada niat ingin menganggu rumah tangga mereka. Harusnya sekarang Bapak bilang sama bos Bapak, untuk menasehati menantunya."


"Untuk apa?" Alis mata Evan tampak bertaut.


"Ya untuk supaya dia berhenti mengejar-ngejarku. Karena dia sendiri yang selalu bilang masih mencintaiku dan merindukanku."


"Hahahaha!" Evan justru tertawa terbahak, itu semua karena dirinya yang tidak percaya. "Mana mungkin Nona Sisil masih mencintaimu. Kau pasti bermimpi, kan?"


"Terserah kalau Bapak nggak percaya! Aku nggak peduli!" berang Arya kesal, lalu menarik tangan Evan untuk menyingkir di depan motornya.


"Oke baiklah, silahkan pergi," titah Evan mempersilahkan. Dia juga tersenyum angkuh. "Jangan lupa untuk menyetir yang benar, jangan kebanyakan melamun mikirin istri orang. Karena selain bisa membuatmu kecelakaan, itu juga dosa. Perempuan banyak diluar sana, Arya, apalagi yang masih bersegel. Jadi untuk apa mengharapkan seseorang yang masih menjadi milik orang lain? Itu hanya buang-buang waktumu!"


"Cih!" Arya berdecih sebal, lalu menarik gas motornya dan pergi meninggalkan Evan. "Seperti orang benar saja! Pasti dia jomblo, dan belum pernah merasakan sakitnya ditinggal nikah. Aku sumpahin kamu, Van, biar merasakan apa yang aku rasakan! Atau setidaknya ditolak cinta! Biar tau sakitnya!" geramnya emosi.


***


Langkah kaki Tuti seketika terhenti saat keluar dari salah toko emas milik Rama, lantaran ponselnya yang berada di dalam tas berbunyi.


Sebuah panggilan masuk tertera dilayar, dari Mbah Yahya.


"Halo, assalamualaikum, Pak," ucap Tuti saat baru saja mengangkat sambungan telepon.

__ADS_1


"Walaikum salam. Eh harusnya aku dulu yang mengucapkan salam, Tut."


"Nggak apa-apa kok, Pak, sama saja. Ada apa, ya?"


"Kamu udah dengarkan, kalau Rama sudah pulang hari ini?"


"Iya, Pak. Alhamdulillah ... akhirnya Pak Rama sudah sehat ya, Pak."


"Iya. Oh ya nanti malam kamu sibuk nggak, Tut?"


"Enggak, tapi ada apa ya, Pak? Apa Pak Rama mau pergi?"


"Aku mau mengadakan buka puasa bersama nanti malam. Kamu jangan lupa datang, sebelum Magrib, ya!"


"Buka bersama?!" Kening Tuti mengerenyit. "Tumben ... dan memangnya Bapak puasa? Bukannya setau saya Bapak nggak pernah puasa, ya, bahkan setiap tahunnya."


"Aku memang nggak puasa. Tapi ini anggap saja sebagai acara merayakan kepulangan Rama. Jadi kita makan bersama, ya!"


"Di mana, Pak?"


"Di rumah. Istriku mau sewa tempat dan koki untuk memasak."


"Jangankan Gugun, Evan saja diundang. Bahkan keluarga dari Mbaknya Rama pun nanti datang, Tut. Mangkanya kamu harus dandan yang cantik."


"Saya nggak jadi datang deh, Pak."


"Lho, kenapa?"


"Enggak apa-apa. Kayaknya saya ada urusan lain." Tuti mencari alasan.


"Ah tadi kamu bilang nggak ada acara, kenapa sekarang justru bilang ada acara? Bohong, ya, kamu, Tut!" hardik Mbah Yahya tak percaya.


Tuti mulai memutar otak. "Saya tadi lupa, Pak. Padahal sebenarnya saya memang sudah ada janji sama rekannya Pak Rama. Dia kebetulan ingin membicarakan tentang pesanan emas untuk ulang tahun pernikahannya."


"Diundur saja kalau begitu."


"Enggak bisa, Pak, masalahnya—"


"Menurutmu, bertemu dengan rekan bisnisnya Rama jauh lebih penting daripada acaranya Rama gitu, Tut?" sela Mbah Yahya, suaranya terdengar begitu nyaring.

__ADS_1


"Bukan begitu, Pak, tapi—"


"Nggak ada tapi-tapian!" tegasnya tanpa penolakan. "Pokoknya kamu harus datang, kalau memang kamu masih menghargai Rama sebagai bosmu. Padahal niatku juga baik dengan mengundangmu, Tut! Karena dengan begitu aku sudah menganggapmu sebagai keluarga!"


"Baik, Pak. Saya akan datang." Tuti seperti kehabisan kata-kata. Akhirnya dia pun menyetujui meskipun sebenarnya sangat terpaksa. 'Ah sial sih ini, padahal aku nggak mau bertemu dengan pria tukang selingkuh itu,' batinnya kesal.


"Nahh begitu dong ...." Mbah Yahya terdengar menghela napas dengan lega. "Kan enak, aku dengarnya. Ya sudah kalau begitu, aku tutup teleponnya."


***


Setelah mandi sore, Sisil langsung memakai baju dinas baru miliknya yang sempat dia beli kemarin-kemarin lewat toko online.


Warnanya pink terang, bahan satin dan super tipis dan juga minim. Sengaja dia memakainya sekarang, sebab rencananya dia akan berada di dalam kamar sampai Magrib. Dan setelah adzan tiba, dia langsung mengajak Rama bercinta.


"Aa pasti pas bangun tidur akan kaget, melihat aku sudah seksi begini. Dan pasti langsung kebelet buat buka celana," gumam Sisil yang terkekeh saat membayangkan. Dia juga memerhatikan wajah tenang sang suami yang masih tertidur pulas.


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukan pintu sontak membuatnya terperanjat, buru-buru Sisil pun menyambar handuk kimono dan gegas dia pakai. Sebab tak mungkin juga dia memakai baju seperti itu didepan orang lain, selain itu yang dia inginkan hanya Rama seorang lah yang melihatnya.


"Nak! Buka pintunya, ini Mommy!" teriak seseorang dari luar dan kembali mengetuk pintu.


"Iya, Mom!" seru Sisil lalu membuka pintu kamar.


"Kebetulan kamu habis mandi, ayok pakai gaun ini, Nak." Yenny menyerang apa yang dibawa ke tangan Sisil. Yakni sebuah gaun putih panjang selutut dan stelan jas berwarna putih. "Dan jasnya minta Rama untuk memakainya. Terus habis itu kalian keluar kamar dan ke halaman rumah, ya!"


"Mau ngapain ke halaman rumah? Dan untuk apa pakai ini segala, Mom?" tanya Sisil bingung.


"Daddy dan Mommy mengundang beberapa orang untuk buka bersama di halaman rumah, merayakan Rama yang baru saja keluar dari rumah sakit. Jadi ayok siap-siap, Nak. Mbaknya Rama dan suaminya bahkan sudah datang, mereka ada diluar bersama Daddy dan Evan."


"Kami berdua nggak ikut buka bersama deh, Mom. Kalian saja, ya?"


"Lho ... kok nggak ikut?" Yenny langsung merengut. Padahal sedari siang dia sudah sibuk menyiapkannya, tidak etis rasanya jika Rama dan Sisil tidak ikut.


"Iya. Nggak apa-apa, kan, Mom? Soalnya aku kepengen buka bersamanya sama Aa aja dikamar. Berdua, Mom."


"Tapi masalahnya itu 'kan acara dibuat untuk Rama, Nak. Masa kalian nggak ikut? Nggak seru lah. Pokoknya Mommy tunggu dibawah setengah jam lagi, ya! Sebelum Magrib kalian musti harus sudah siap dan sampai dihalaman rumah!" seru Yenny yang terdengar memaksa.


"Tapi, Mom, aku dan Aa mau ..." Ucapan Sisil seketika terhenti, saat sang mertua sudah berlalu dari hadapannya. Dia pun hanya bisa berdecak kesal sambil menghentakkan kakinya. 'Ah rese! Pakai segala ngadain buka bersama, padahal aku sama Aa 'kan udah ada rencana buka baju bersama setelah Magrib! Alamat ditunda deh!' geramnya dalam hati.

__ADS_1


...Sabar, Sil🤣🤭...


__ADS_2