Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
181. Dengan saling menatap satu sama lain


__ADS_3

"Bapak nggak boleh menyeretku begini! Aku ini Kakak iparnya Rama!!" teriak Gugun yang berusaha memberontak.


"Maaf, Pak, tapi walau bagaimanapun Nona Tuti itu adalah asistennya Pak Rama. Jadi kami akan menuruti permintaannya."


Meskipun bersusah payah, akhirnya kedua satpam itu berhasil menyeret Gugun untuk keluar dari kantor hingga masuk ke dalam mobil.


Aksi Gugun yang terus berteriak dan memberontak berhasil menjadi pusat perhatian. Bahkan ada pula yang mengabadikan momen itu pada ponselnya.


"Saya harap Bapak segera pulang dari sini. Jangan buat kegaduhan. Ingat juga karena saat ini pemilik kantor sedang berada di rumah sakit, tolong hargai Pak Rama!" tegas salah satu satpam sebelum akhirnya dia menutup pintu mobil Gugun.


Mau tidak mau, Gugun pun akhirnya pergi dari sana. Tapi dia tak sesungguhnya pergi, hanya menjaga jarak di tempat lain menunggu kepulangan Tuti.


"Sepertinya Nona Tuti sudah tau, kalau aku kemarin-kemarin punya pacar selain dia. Tapi dari mana? Aku bukannya sudah sangat rapat menutupinya, ya?" gumam Gugun, lalu termangu beberapa saat. Memikirkan apa yang Tuti katakan tadi dan obrolannya terakhir saat kemarin sore.


"Kemarin sore ... Nona Tuti mengajakku untuk buka bersama di restoran. Apa jangan-jangan pas aku dan Evan menjebak Nona Gisel ... dia ada di restoran yang sama?!" tebaknya, lalu Gugun langsung menancapkan gas mobilnya. Berlalu menuju restoran yang dia kunjungi kemarin.


Dia ingin memastikan sendiri, tebakannya benar atau tidak. Tentu Gugun juga sangat tidak mau memutuskan hubungannya dengan Tuti, karena dia begitu mencintainya.


"Mbak!" Gugun melambaikan tangan pada seorang pelayan wanita, saat dirinya baru saja sampai restoran.


Wanita berseragam itu pun segera datang menghampirinya sambil tersenyum. "Ya, Pak? Apa Bapak ingin pesan meja untuk buka puasa bersama?"

__ADS_1


"Enggak." Gugun menggeleng. "Tapi apakah aku boleh lihat rekaman CCTV yang berada di depan pintu, saat kemarin sore, Mbak?"


Sebelum masuk, Gugun sempat melihat kamera CCTV yang berada di depan pintu masuk restoran. Dan sekarang hanya itu yang dia butuhkan, demi bisa melihat sendiri apakah benar Tuti berada di restoran yang sama atau tidak.


"Maaf, tapi buat apa ya, Pak? Rekaman CCTV di restoran ini bersifat pribadi. Dan tidak bisa sembarangan orang dapat melihatnya, apalagi orang asing."


"Aku dan pac ... akh, maksudku istri. Aku dan istriku sedang berantem, karena salah paham. Aku harus melihat rekaman CCTV itu untuk memastikan istriku datang ke restoran ini atau nggak, Mbak. Mbak harus menolongku, karena ini menyangkut rumah tanggaku," pintanya dengan raut memohon.


Gugun sengaja berbohong dengan menyebutkan Tuti adalah istrinya, karena sebagian orang biasanya akan iba ketika mendengar cerita tentang rumah tangga seseorang, ketimbang yang masih berstatus sebagai pacar.


"Bapak bicara langsung sama Pak Managernya saja deh, ya? Karena selain bos, dia yang berkuasa soalnya di sini," saran pelayan itu, yang tampaknya ingin membantu Gugun.


"Di mana aku bisa bertemu dengan Manager Restorannya, Mbak?" Gugun langsung menatap sekitar.


"Iya, terima kasih, Mbak." Gugun mengangguk, kemudian langsung membuntuti wanita yang berjalan lebih dulu di depannya.


Ternyata tidak sulit, Manager di restoran itu juga cukup baik. Hanya dengan bercerita tentang keinginannya melihat rekaman sembari memasang wajah sedih, Gugun sudah berhasil melihat rekaman CCTV diluar saat kemarin sore.


Dugaan Gugun ternyata memang benar, Tuti memang sempat ada di sana, bahkan kedatangannya sebelum dirinya datang.


"Ah S*IALAN!!" berangnya emosi pada diri sendiri yang menurutnya sangatlah bodoh. "Harusnya aku lebih dulu melihatnya, sebelum masuk dan berpura-pura marah pada Nona Gisel! Kalau sudah begini 'kan makin runyam!" tambahnya sambil menjambak rambut dengan frustasi.

__ADS_1


"Tapi apa yang aku lakukan sebenarnya untuk kebaikan hubungan kita juga, Nona. Sayangnya kenapa malah akhirnya begini?!"


"Bagaimana caraku sekarang, supaya aku bisa bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya, kalau Nona Tuti bukan aku duakan. Tapi dia justru menjadi nomor dua dalam hubunganku dengan Nona Gisel?"


"Aaakkkhhhh ... tapi apa pun itu, tetap aku yang salah di sini! Aku terlalu gegabah dalam mengambil keputusan!" teriaknya penuh penyesalan.


"Harusnya diawal aku jangan menerima cintanya Nona Gisel, kan aku memang sudah mencintai Nona Tuti lebih dulu." Gugun pun mengusap-usap wajahnya, lalu kembali berpikir untuk mencari jalan keluar.


***


Hari-hari pun berganti. Tak terasa, tepat dihari ini Rama sudah seminggu setelah berhasil menjalankan operasi pada matanya.


Dan sekarang, perbannya akan dibuka oleh dokternya dengan dibantu seorang suster.


Sisil, Yenny dan Mbah Yahya ada di sana. Bahkan ketiganya itu selalu menemani Rama dan mensuportnya selama berada di rumah sakit. Karena dengan begitu, Rama menjadi selalu optimis jika dirinya akan bisa kembali melihat.


"Silahkan buka matanya secara perlahan Pak Rama," titah Dokter saat kain kasa diwajah Rama sudah berhasil terlepas semua.


Rama pun perlahan membuka matanya, dan Sisil yang berada di depan Rama langsung berdo'a dalam hati sembari tersenyum penuh arti.


'Ya Allah ... tolong kembalikanlah penglihatan Aa seperti sedia kala. Aku juga sangat merindukannya, aku sudah lama berpuasa. Aku ingin kami kembali bercinta dengan saling menatap satu sama lain.'

__ADS_1


...Ayok aminkan, Guys ☺️...


__ADS_2