Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
21. Ini sangat menyakitkan


__ADS_3

"Nggak! Nggak seperti itu, Sil!" bantah Rama sambil menggelengkan kepala. Kakinya makin mendekat, tetapi Sisil justru tampak histeris.


"Jangan mendekat!" tekan Sisil dengan tubuh yang beringsut ke samping. Seluruh tubuhnya gemetar dan wajahnya seperti ketakutan melihat Rama "Kakak! Usir Om-Om mesum ini! Aku nggak mau ketemu dengannya!" teriaknya lalu menutupi wajahnya dengan selimut.


Gugun langsung mencekal lengan Rama hingga membuat langkah kaki pria itu terhenti. Lantas Rama pun menoleh. "Pak Rama keluar dulu," pinta Gugun.


"Tapi, Kak, aku—"


"Kondisi Sisil sedang tidak baik-baik saja, Pak. Aku minta Bapak jangan egois. Keluar sekarang atau aku yang menyeret Bapak?!" ancam Gugun dengan mata yang tampak melotot.


Dengan berat hati Rama pun menuruti Gugun untuk keluar kamar, tetapi sebelum itu dia memberikan buket bunga di tangannya.


'Kenapa jadi begini?' batin Rama sedih. tubuhnya terasa letih sekali dan perlahan dia pun duduk di kursi panjang yang berada di dekat pintu. 'Aku nggak ada niat untuk memperk*samu, Sil. Semua ini terjadi karena khilaf. Aku benar-benar nggak kuat melihat tubuh indahmu. Kamu juga satu-satunya perempuan yang bisa membangkitkan gairahku.'


"Sudah, Sil. Pak Rama sudah keluar." Setelah menaruh buket bunga di atas nakas, Gugun pun membungkuk untuk memeluk tubuh adiknya. Tubuhnya terasa bergetar dan samar-samar Gugun mendengar suara isakan tangis dari balik selimut.


"Aku nggak mau menikah sama Om Rama, Kak. Aku nggak mau," lirih Sisil sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu nggak mau menikah terus bagaimana nasibmu, Sil? Pak Rama bilang ingin tanggung jawab, jadi Kakak nggak akan memenjarakannya."


"Kakak penjarakan saja Om Rama. Dia pria br*ngsek! Aku hanya mau menikah dengan Kak Arya. Hanya sama dia." Sisil mengeluarkan kedua tangannya, lalu meraih punggung Gugun.


"Masa sama Arya, kan yang memperkosamu itu Pak Rama, Sil."


"Aku tahu. Tapi aku nggak mau menikah dengan Om Rama, Kak. Dia terlalu tua untukku. Dia sama Kakak saja lebih muda Kakak, bagaimana denganku? Jauh banget. Aku nggak mau." Sisil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Gugun menghela napasnya dengan berat. Keinginan adiknya tentu yang utama. "Berarti Kakak musti bicara dulu sama Arya, ya. Mau nggaknya dia menikahimu."


"Aku sudah bicara sama Kak Arya tadi, Kak."


"Bicara apa?"


"Tentang aku yang sudah nggak suci lagi."


"Terus kata Arya apa? Dia mau menikahimu?" Gugun merelai pelukannya, lalu duduk di kursi kecil dan menyibak selimut. Wajah Sisil yang basah itu langsung Gugun elap dengan ibu jarinya.


"Aku belum mendapatkan jawaban itu, Kak. Tapi Kak Arya sudah keburu pergi."

__ADS_1


"Lho kenapa pergi? Dia menolakmu?"


"Bukan." Sisil menggeleng. "Tapi karena dia emosi sama Lusi. Dia mengira, Lusi adalah penyebab aku bisa diperkosa."


"Memang benar sih, awal mulanya dari dia."


"Kakak kata siapa?" Bola mata Sisil tampak melebar sempurna. Dia sepertinya terkejut.


"Kakak ada rekaman CCTV-nya di laptop, kamu mau lihat?" tawar Gugun.


"Mau." Sisil mengangguk.


Gugun melangkah menuju kopernya di atas meja untuk mengambil laptop. Kemudian memutarkan video itu dan Sisil langsung menontonnya.


"Kakak mau ganti baju dulu ya, Sil," pamit Gugun seraya mengambil pakaian ganti di dalam koper, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


'Sepertinya penyebab awalnya memang Lusi. Tapi apa motifnya? Dan kok bisa-bisanya Om Rama yang memp*rkosaku? Apa dia sekongkol sama Lusi?' batin Sisil yang menyaksikan tayangan video itu.


Dari balik pintu kaca, terlihat wajah Rama yang begitu sendu ada di sana. Ingin sekali dia masuk lagi ke dalam, tetapi tak berani sebab sudah diusir.


Mendadak, terdengar suara ponselnya berdering. Rama mengambilnya di dalam kantong celana dan ternyata itu adalah sebuah panggilan masuk dari Mbah Yahya.


"Halo, Dad," ucap Rama saat menempelkan benda pipihnya ke telinga kanan.


"Kamu dan Gugun ada di mana? Kok Daddy ditinggal?"


"Ditinggal?" Alis mata Rama bertaut. Dia masih belum sadar.


"Iya. Daddy ditinggalin di apartemen di Gugun. Mana dikunci dari dalam lagi. Bagaimana ini, Ram?!" geram marah. "Daddy kelaparan tahu!"


"Daddy terkunci dari dalam?!" Rama sontak terbelalak. Refleks dia pun berdiri dari duduknya. "Ya sudah, aku akan beritahu Kak Gugun dan aku segera ke sana, Dad."


"Iya."


Ceklek~


Terdengar suara pintu terbuka. Gugun lah yang keluar dari sana. Rama langsung mematikan sambungan telepon dan menaruh benda itu kembali ke dalam kantong celana.

__ADS_1


"Kok Bapak belum pulang? Kan aku sudah katakan kalau Sisil nggak mau ketemu Bapak," ucap Gugun kesal. Dia sudah berganti pakaian dan bahkan wangi. Wajahnya pun cerah serta rambutnya basah. Sepertinya tadi dia sempat mandi lagi.


"Ini, Kak. Tapi Daddyku tertinggal di apartemen dan dia terkunci dari dalam."


"Serius?!" Bola mata Gugun membulat sempurna. "Kok bisa, sih?"


"Iya. Mungkin tadi pas kita pergi kita melupakannya. Tolong bukakan pintu apartemennya, Kak. Kasihan Daddyku terkurung. Dia juga belum mandi dan makan dari kemarin."


"Sekarang kita balik ke apartemen. Aku juga sekalian ingin bertemu Arya." Gugun melangkah lebih dulu. Dan segera Rama menyusulnya.


"Arya?!" Nama itu terdengar familiar. "Arya itu siapa? Dan memangnya Sisil nggak apa-apa kita tinggal?"


"Aku sudah menghubungi suster. Meminta untuk menjaganya."


Sampainya di parkiran, mereka pun masuk ke dalam mobil bersama-sama. Gugun langsung mengemudikan mobilnya yang sudah dia nyalakan.


"Kak, Kakak harus membujuk Sisil supaya mau menikah denganku. Aku bersumpah demi apa pun kalau aku nggak pernah ada niat sedikit pun untuk memp*rkosanya," jelas Rama yang masih berusaha meminta restu sekaligus tolong. Hanya Gugun satu-satunya yang mampu membantunya saat ini. "Semua terjadi karena alkohol. Sisil mabuk dan dia nggak sadar untuk membuka pakaiannya sendiri hingga bugil. Disaat itu juga burungku berdiri untuk pertama kali, lalu aku nggak sadar karena terbuai sampai tega memperk*sanya, Kak."


"Masalahnya Sisilnya nggak mau sama Bapak. Bapak 'kan dengar sendiri tadi. Dia juga bilang kepadaku kalau dia nggak mau menikah sama Bapak."


"Tapi kenapa?" tanya Rama sedih. "Kan aku mau tanggung jawab, Kak."


"Iya, aku tahu. Tapi Sisilnya kekeh nggak mau, dia malah ingin Bapak dipenjara, atas apa yang telah Bapak lakukan."


"Dih, sadis banget, Kak." Dada Rama terasa sesak. "Tapi, memangnya Kakak atau Sisil nggak berpikir ke depannya? Bagaimana kalau Sisil sampai hamil? Kasihan tahu, Kak, kalau wanita hamil tanpa suami."


"Maka dari itu aku ingin bertanya kepada Arya dulu. Dia mau apa nggaknya menikah dengan Sisil. Hanya dia harapanku sekarang," jelas Gugun sambil mengusap kasar wajahnya.


"Arya itu siapa?"


"Pacarnya Sisil."


"Lho, kok malah dia yang menikahi Sisil?" Bola mata Rama tampak berkaca-kaca. Tak lama kemudian linangan air itu mengalir membasahi pipinya. Sesak sekali dadanya saat ini, penuh dengan gemuruh. "Aku yang menodainya. Dia yang membuat burungku berdiri. Kita mendesaah bersama di malam itu, tapi kenapa justru pria lain yang bertanggung jawab?!" Tangisnya makin pecah dan tersedu-sedu. Perlahan Rama menyentuh dadanya. "Ini begitu menyakitkan, Kak. Kenapa Kakak dan Sisil tega padaku? Padahal aku juga ingin menikmati surga dunia lagi."


...Kasihan Om Rama 🥲...


...Ini buku baru lho, Guys, butuh banget dukungan dan support. Ayok dong vote sama hadiahnya kasih. Jangan pelit lah 😩...

__ADS_1


__ADS_2