Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
179. Menemui Tuti


__ADS_3

Sekarang pun, bayangan atas pengkhianatan Gugun masih tergambar dengan jelas pada benaknya. Dan membuat hatinya kembali sakit.


Padahal, Tuti sangat percaya padanya. Saat pria itu menolak ajakannya untuk buka bersama dengan alasan ingin menunggu Rama di rumah sakit.


Namun, tanpa diduga alasan itu adalah sebuah kebohongan belaka karena yang sebenarnya Tuti melihat Gugun bertemu dengan perempuan lain. Dan kebetulan, disaat itu perempuan yang tak lain adalah Gisel sedang dituduh selingkuh dengan Evan.


Ya ... Tuti ada disana, saat Gugun dan Evan sedang menjebak Gisel. Jelas dia jadi salah paham dan menganggap Gugun menduakannya, padahal secara jelas Tuti lah yang menjadi selingkuhan Gugun ketika dirinya masih berpacaran dengan Gisel.


Awalnya, Tuti ingin langsung meminta penjelasan pada Gugun hari itu juga. Akan tetapi, melihat saat itu sangat heboh kondisinya, dan posisi dia masih dalam keadaan puasa—Tuti pun akhirnya memilih menahan diri. Karena dia juga tak mau, puasanya sejak pagi buta hilang pahala hanya karena pria yang sekarang dianggap br*ngsek macam Gugun.


Untuk sekarang, dia ingin memilih menghindar.


Bukan tak mau meminta penjelasan, hanya saja dia ingin Gugun sendirilah yang mengaku kalau dia telah menduakannya.


***


Berpindah kepada Evan.


Pria itu kini tengah sibuk berkeliling pada beberapa makam di Jakarta, mencari-cari apakah ada orang yang meninggal dan masih perawan atau tidak.


Drrttt ... Drrtt ... Drrttt.


Saat dirinya mampir ke rumah makan, berniat ingin makan siang. Dia justru mendapatkan sebuah panggilan masuk dari Mbah Yahya. Segera, dia pun mengangkatnya.


"Halo, Van, bagaimana?"


"Apanya, Pak?" Evan berbalik tanya.


"Udah nemuin jantung perawan belum?"


"Belum, Pak."


"Kok lama sih, Van?" Mbah Yahya terdengar mendengkus.


"Iya, Pak. Sabar ya, Pak."


"Tentang Gisel gimana? Apa ada perkembangan?"


"Nona Gisel menolak cinta saya, Pak."


"Lho, kok nolak cinta?" Mbah Yahya jelas heran. Sebab pertanyaan itu bukan mengenai perasaan Evan, melainkan tentang Gisel yang diawasi untuk tidak menganggu rumah tangga Rama.


"Saya cinta sama Nona Gisel, Pak. Tapi cinta saya bertepuk sebelah tangan," ucap Evan sambil merengut, lalu mengelus dadanya yang berdenyut ngilu.


"Dihhh ... ngapain kamu suka Gisel, Van? Kayak nggak ada perempuan lain saja!" omel Mbah Yahya.


"Kenapa memangnya? Nona Gisel jomblo, saya juga jomblo. Bukankah kami sangat cocok?"

__ADS_1


"Tapi bukannya kamu sendiri yang bilang, ya, kalau Gisel itu pacarnya Gugun?"


"Udah putus mereka sekarang, Pak."


"Syukurlah kalau begitu ...." Mbah Yahya terdengar menghela napas. "Tapi meskipun Gisel sekarang sudah jomblo, kamu nggak perlu sama dia, Van."


"Kenapa?"


"Kok nanya kenapa? Kan kamu tau, kalau Gisel itu bukan perempuan yang baik. Dia tukang gosip, Van. Memangnya kamu mau, ya ... hidup bersama wanita yang tukang gosip? Yang ada kamu tekanan batin. Kamu juga pasti akan menjadi bahan gibahan dia." Mbah Yahya terlihat tak setuju. Meskipun Evan hanya asistennya, tapi dia juga menyayanginya dan tentunya ingin melihat asistennya itu bahagia bersama orang yang tepat. Dan menurutnya bukan Gisel orangnya.


"Biarin sajalah, Pak. Mau Nona Gisel tukang gibah kek, tukang pamer kek, saya nggak peduli! Intinya saya suka sama dia! Saya cinta!" tegas Evan lalu menjambak rambutnya dengan frustasi. "Bapak harusnya bantu saya dong, saya lagi patah hati lho sekarang. Kalau bunuh diri gimana coba?"


"Bantu gimana? Malah tadinya aku mau minta kamu awasi Arya, Van."


"Siapa Arya?"


"Mantannya Sisil. Aku khawatir kalau sampai dia ingin merebut Sisil dari Rama, karena dia sepertinya masih mencintai Sisil, Van."


Evan menghela napas dengan berat. Dia sekarang sedang dirundung pilu, tapi bisa-bisanya bosnya itu justru memberikan tambahan pekerjaan yang berarti menambah beban. Nasib! Nasib!


"Seperti apa orangnya? Kirim saja fotonya, Pak."


"Aku nggak punya fotonya. Tapi pasti kamu akan cepat tau dia, karena dia adalah cucu satu-satunya Ganjar. Mantan pasienku dulu, Van."


"Tapi saya 'kan nggak tau rumah Pak Ganjar, Pak."


"Oke. Jadi saya hanya mengawasinya saja, kan?"


"Sekalian juga temui dia buat ngasih ancaman, supaya jangan berani mendekati Sisil apalagi berencana ingin merebutnya."


"Oke, Pak."


"Ya sudah, aku tutup dulu tele—"


"Tentang Nona Giselnya gimana, Pak?" sela Evan cepat.


"Gimana apanya?"


"Kan saya minta Bapak untuk bantu saya. Saya mau Nona Gisel bisa mencintai saya juga, Pak."


"Kan aku udah bilang, kamu jangan sama Gisel. Aku nggak setuju, Van. Kamu nggak cocok sama dia!" tegas Mbah Yahya, lalu mematikan telepon. Evan pun langsung berdecak sambil mengebrak meja.


'Ah Pak Yahya ini menyebalkan! Kayak nggak pernah muda saja. Namanya orang cinta gimana? Kan susah. Mana bisa kita tau akan suka sama siapa!' batinnya kesal.


***


Tepat jam 3 sore, Gugun sudah sampai di kantornya Rama dengan kondisi sudah mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Sengaja dia datang lebih awal dijam pulang kantor, sebab tak mau jika gadis pujaannya itu sudah pulang lebih dulu.


'Pokoknya sore ini aku harus bertemu si Cantik! Aku harus tanya alasan kenapa dia susah dihubungi,' batin Gugun penuh tekad.


Kaca mobil Gugun perlahan diturunkan, lalu menatap ke arah satpam yang berdiri di depan gerbang.


"Sore, Pak, apa Nona Tuti ada di kantor?" tanya Gugun.


"Sore juga. Ada, Pak." Pria berseragam hitam itu mengangguk menatap Gugun.


"Tolong buka gerbangnya, aku ingin masuk dan menemuinya, Pak."


"Baik, Pak." Pria itu langsung membukakan gerbang untuk Gugun masuk. Dia tampaknya sudah mengenali Gugun, sebab sudah bertemu dua kali dengan saat pagi tadi.


*


"Selamat sore ... ada yang bisa saya bantu, Pak?" Penjaga resepsionis menyapa Gugun yang baru saja berdiri di depan, tapi dia sudah punya firasat jika kedatangan pria itu adalah untuk menemui Tuti.


"Nona masih kenal saya, kan?" tanya Gugun. "Saya pacarnya Nona Tuti yang datang tadi pagi itu. Dan sekarang bolehkah saya bertemu dengannya di ruangannya?" Tidak tanggung-tanggung, Gugun ingin langsung menemui Tuti di ruangannya.


"Maaf, Pak, tapi Nona Tuti nggak ada di kantor," jawabnya berbohong, tentu itu atas kemauan Tuti sendiri.


"Jangan bohong," ucap Gugun tak percaya.


"Saya jujur, Pak."


"Tapi kata satpam depan ... dia bilang Nona Tuti ada di kantor."


"Dia mungkin nggak tau, Pak. Kalau sebenarnya ... Eh, Pak! Bapak mau ke mana?!" Wanita penjaga resepsionis itu tampak terkejut, melihat Gugun sudah berlari menuju lift. Gegas dia pun ikut berlari mengejarnya. "Pak Gugun! Tunggu du ...." Dia kalah cepat, saat dimana pria itu masuk lift dan pintunya telah tertutup rapat.


"Aduh ... bagaimana ini?! Nona Tuti melarang Pak Gugun untuk tau dia ada di kantor. Aku takut dia marah, dia 'kan galak orangnya." Wanita itu mengadu pada temannya, yang juga satu profesi dengannya.


"Kamu bilangin satpam saja biar suruh diusir pacarnya itu! Nanti yang ada kita bisa ikut dimarahi Pak Rama, kalau tau Nona Tuti marah gara-gara hal ini," saran temannya.


"Iya." Wanita itu langsung berlari keluar dari gerbang menemui satpam.


Ting~


Tepat di lantai 6 paling atas, Gugun sudah tiba disana. Dia sebenarnya tidak tahu di mana ruangan Tuti, ini hanya modal nekat saja supaya bisa menemuinya.


"Biasanya ... ruangan asisten itu pasti di dekat ruangan atasannya. Dan aku yakin ... ruangannya pasti disekitar sini," gumam Gugun sembari melangkahkan kaki dan menatap sekeliling.


"Maaf ... apa kamu tau di mana ruangan Nona Tuti?" Gugun bertanya pada seorang cleaning servise pria yang ada di sana, dia kebetulan tengah menyapu.


"Ruangannya di sana, Pak. Paling ujung sebelah kanan nomor dua di samping ruangan atasan," tunjuknya ke arah yang dia maksud.


...Semoga kali ini bisa ketemu sama Tuti ya, Om ☺️...

__ADS_1


__ADS_2