Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
153. Dia orangnya?


__ADS_3

"Pak, setelah saya mengantar Bapak ke tempat semedi ... saya pamit balik lagi ke Jakarta, ya?" ucap Evan kepada Mbah Yahya yang duduk di samping.


Saat ini mereka berdua menunggangi sebuah mobil baru milik Evan, bonus dari Mbah Yahya yang mempunyai cucu baru.


Sedangkan mobil lama Evan—rencana mau dijual. Tetapi tunggu pembeli yang cocok dengan harganya.


"Lho kenapa? Kamu tunggu saja sampai semediku selesai, Van."


"Takutnya Bapak lama. Saya mau mencari tau keberadaan Nona Gisel soalnya, Pak." Evan menoleh sebentar ke arah Mbah Yahya, kemudian menatap kembali ke arah depan sambil menyetir.


"Memangnya si Gisel hilang?"


"Enggak hilang. Cuma dia pindah apartemen kemarin, Pak."


"Kamu tau, di mana dia pindah, Van?"


"Enggak." Evan menggeleng. "Maka dari itu, saya ingin mencarinya. Kan kata Bapak saya musti selalu mengawasinya."


"Iyalah, daripada kamu nggak ada kerjaan."


"Terus gimana? Boleh, kan, saya langsung pulang?"


"Boleh. Tapi hapemu diaktifkan terus, ya, soalnya takut aku butuh sesuatu, Van."


"Siap, Pak." Evan menganggukkan kepalanya.


***


Sementara itu di rumah Mbah Yahya, Rama menuruni anak tangga sambil memakai arlojinya pada pergelangan tangan.

__ADS_1


Dia terlihat begitu tampan, wangi dan segar sekali, dengan memakai stelan jas berwarna sage.


"Kamu mau ke kantor, Ram?" tanya Yenny yang duduk di sofa ruang keluarga, tengah menonton drama India. Tak sengaja dia melihat anaknya lewat dan tampak buru-buru.


Rama mengehentikan langkahnya, lalu menoleh dan menganggukkan kepala. "Iya, Mom."


"Sisilnya ke mana? Nggak sekalian ke kampus dia?" Yenny mendongakkan wajahnya ke lantai atas. Rama pun mendekat lalu membungkukkan badan dan mencium punggung tangannya.


"Dia masih tidur, Mom."


"Oh. Sejak kapan tidurnya, Ram? Mommy perhatian Sisil juga seperti kurang tidur, matanya merah."


"Dari habis sholat Subuh, Mom," jawab Rama. "Ya sudah ya, Mom, aku—"


"Tadi pas sahur dia menangis kenapa, Ram?" sela Yenny bertanya.


"Aku juga nggak tau."


"Udah. Tapi Sisilnya nggak jawab."


"Kamu sama Sisil nggak ada masalah 'kan, Ram?"


"Enggak." Rama menggeleng.


"Syukurlah kalau nggak ada." Yenny tersenyum, lalu berdiri seraya mengusap bahu kanan anaknya. "Mungkin faktor lagi hamil saja kali, ya, jadi suka mellow gitu."


"Memangnya wanita hamil suka nangis, ya, Mom?"


"Iya. Dia 'kan lebih sensitif, Ram. Bisa juga memang karena bawaan bayi," jelas Yenny. Pandangan matanya pun seketika teralihkan pada leher putih Rama, sebab di sana ada 2 bercak merah keunguan yang menyerupai seperti gigitan. Meskipun ukurannya kecil, tapi terlihat jelas. "Lho, Ram, lehermu kenapa merah begini?" tanyanya sambil menyentuh kulit leher anaknya.

__ADS_1


"Merah? Masa sih?" Rama ikut menyentuh lehernya sendiri.


"Iya, kenapa? Seperti digigit serangga, Ram." Yenny merogoh tas emasnya di atas meja untuk mengambil kaca, kemudian memberikan kepada Rama supaya anaknya itu melihatnya sendiri.


"Lho, iya, ternyata merah." Rama menatap lehernya dari pantulan cermin, sambil meraba. 'Ternyata Sisil melakukannya nggak main-main, ya, tadi pagi.' Rama seketika ingat, kalau memang Sisil sempat menyesap lehernya dibarengi sebuah gigitan kecil sebelum mereka akhirnya bercinta. Tapi dia sendiri tak tahu, jika itu akan meninggalkan jejak. 'Eh tapi ... sejak kapan dia bisa melakukan cupa*ng, atau jangan-jangan memang dia bisa? Dari dulu? Dan sering melakukannya kepada Arya?'


Padahal baru menebak, tapi dada Rama sudah terasa sesak dan bergemuruh. Jujur saja, dia begitu sakit, jika mendengar atau menyebutkan nama lelaki itu.


"Mommy ambilkan salep, ya, Ram, tunggu seben—"


"Nggak perlu pakai salep, Mom," sela Rama sambil menggelengkan kepalanya.


"Lho, kenapa? Nanti kalau infeksi bagaimana? Sekarang 'kan musim rabies, Ram. Masa ganteng-ganteng kena rabies? Kan nggak lucu."


"Tapi ini bukan digigit serangga, Mom. Dan nanti juga akan hilang sendiri." Rama tersenyum, kemudian mencium punggung tangan Yenny lagi. "Aku pamit, aku juga sekalian titip Sisil, ya, assalamualaikum."


"Walaikum salam. Hati-hati, Ram."


"Iya." Rama melangkah menjauh sampai keluar dari rumah mewah orang tuanya, kemudian masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan halaman depan.


Dari kejauhan, terlihat ada sebuah mobil hitam yang di dalamnya ada dua orang pria.


Mereka berdua adalah Cemet dan Cimit, orang suruhan Gisel yang diminta hari ini untuk melaksanakan tugasnya.


"Dia orangnya, kan, Met?" tanya Cimit yang berada dikursi kemudi. Dia sempat melihat wajah Rama saat pria itu keluar rumah, sambil membandingkan dengan wajah pria pada selembar foto yang saat ini dia pegang.


"Iya. Dia orangnya." Cemet mengangguk.


Dan tak lama, mobil Rama pun keluar dari gerbang, kemudian melaju pergi. Segera, Cimit pun menyalakan mesin mobilnya dan mengendarai untuk menyusul pria itu.

__ADS_1


...Awas Om, di belakang ada yang mengikutimu 🙈...


__ADS_2