
"Tolong!" teriak Tuti kencang. Namun, sayangnya tubuh Rama sudah mulai oleng dan pria itu pun perlahan memejamkan mata.
Tampaknya, sebuah sapu tangan yang membungkam mulutnya itu bisa jadi ditetesi obat bius.
Bugh!!
Merasa bingung bercampur panik, akhirnya tak ada jalan lain selain menonjok wajah pria yang hendak membawa Rama.
"Aakkhh!" Pria itu memekik kesakitan, tapi kedua kalinya, Tuti pun menonjok kembali wajahnya.
Bugh!!
"Aakkhh!" Pria itu akhirnya melepaskan tangan Rama, lantaran dirinya jatuh pingsan karena menahan sakit pada area hidungnya.
Bruk!!
Tubuh Rama pun sudah jatuh ke aspal, dengan kepala yang ikut terhantam. Tuti sempat ingin menangkap tubuh Rama tadi, tapi sayangnya tidak keburu.
"Astaghfirullahallazim Pak Rama!" Kedua mata Tuti melebar sempurna, ketika sebuah darah segar mengalir pada kepala belakang Rama.
"Gawat ini!" Pria yang menyetir mobil terlihat panik sendiri, melihat Rama pendarahan. Karena takut disalahkan dan juga ditangkap, dia pun memutuskan untuk menarik gasnya. Melajukan mobilnya dengan kencang guna meloloskan diri.
"Ya ampun ... ada apa ini?!" Seorang pria pejalan kaki berlari menghampiri Tuti yang terlihat kesusahan menggotong tubuh Rama. Dia pun langsung ikut membantunya, kemudian berteriak meminta bantuan. "Tolong! Tolong!"
*
*
*
Di rumah Mbah Yahya.
"Allahu Akbar Allahu Akbar!"
Suara adzan Maghrib berkumandang di telinga, menandakan waktu berbuka telah tiba. Namun, Sisil yang masih duduk di sofa ruang keluarga tampak gelisah. Menunggu Rama yang tak kunjung datang.
__ADS_1
"Ke mana Aa? Kok lama banget. Apa macet, ya?" gumam Sisil seraya membuka ponselnya, kemudian mencoba untuk menelepon Rama kembali.
"Nak Sisil! Kita harus segera ke rumah sakit, Nak!" Yenny tiba-tiba datang dengan berlari, raut wajahnya tampak cemas dan dia juga sudah menenteng tas jinjingnya.
"Ke rumah sakit?" Sisil langsung berdiri, lalu menatap sang mertua. "Siapa yang sakit, Mom?"
"Rama, Rama kecelakaan, Sil."
"Apa?!" Sisil memekik dengan mata yang membulat sempurna. "Kok bisa Aa ...." Ucapannya seketika terhenti, saat Yenny tiba-tiba menarik tangannya. Dan membawanya keluar dari rumah.
"Tanyanya nanti saja, Nak, kalau sudah sampai rumah sakit," jawab Yenny dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Di depan halaman rumahnya, sudah ada Evan yang datang menjemput mereka. Sebelumnya, Tuti memang menghubungi Yenny terlebih dahulu, memberitahu jika Rama kecelakaan. Dan barulah setelah itu, menghubungi Evan. Karena menurutnya, pria itu perlu tahu juga.
'Ya Allah ... kenapa Aa bisa kecelakaan? Padahal tadi sore kita berdua habis teleponan. Tolong lindungi Aa ya, Allah,' batin Sisil berdo'a. Dia juga menyentuh dadanya yang terasa berdebar di dalam sana. Dan rasanya makin gelisah tak tenang, karena khawatir dengan keadaannya.
"Kita perlu beritahu Pak Yahya nggak, Bu?" tanya Evan yang sudah mengemudikan mobilnya, sembari menatap Yenny dan Sisil yang berada di kursi belakang.
"Kan dia lagi semedi, Van. Bagaimana bisa kita memberitahunya?" keluh Yenny dengan raut sedih.
"Nanti habis saya mengantar Ibu dan Nona Sisil, saya langsung balik lagi ke Banten, Bu."
"Kamu capek nanti, Van, bolak-balik."
"Saya nggak capek, Bu." Evan menggelengkan kepalanya. "Lagian ... saya bolak-baliknya juga naik mobil. Bukan jalan kaki."
"Ya sudah. Tapi beritahukan dia pas selesai semedi saja, Van, takutnya dia 'kan udah lama semedi ... nanti yang ada ilmunya jadi hilang karena kamu memanggilnya." Bukan apa-apa, Yenny hanya tak ingin perjalanan suaminya itu jauh-jauh ke Banten menjadi sia-sia. Apalagi kalau sampai mengulang kembali semedinya, bisa-bisa dia akan makin lama ditinggal.
"Iya, Bu." Evan menganggukkan kepalanya.
*
Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit yang Tuti kirimkan alamatnya.
Sisil tampak begitu terheran-heran, ketika melihat seorang perempuan berhijab yang tengah berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD dengan raut cemas. Dia tak mengenalnya, tapi wajahnya sedikit familiar menurutnya.
__ADS_1
"Tuti ... bagaimana keadaan Rama? Dan kenapa dia bisa kecelakaan?" tanya Yenny yang sudah menangis. Dia juga langsung memegang tangan Tuti dan menghentikan gerakan tubuh perempuan itu.
"Duduk dulu, Bu, Nona Sisil," pinta Tuti sambil menunjuk kursi panjang. Dia sedikit menghela napas, karena keluarga Rama susah datang. "Biar saya jelaskan semuanya," tambahnya kemudian.
Yenny mengangguk, dia yang masih merangkul Sisil akhirnya duduk disalah satu kursi itu masing-masing. Kemudian diikuti oleh Tuti.
Sedangkan Evan sendiri sudah tak ada di rumah sakit. Pria itu langsung pergi lagi ke Banten.
"Tadi sore sebelum pulang, saya dan Pak Rama ada rencana—"
"Tunggu dulu," potong Sisil cepat, sebab dia masih penasaran dengan Tuti dan hubungannya dengan Rama. "Mbak ini siapanya Aa Rama? Kok bisa bareng sama Aa?"
"Lho, saya ini asistennya, Nona. Masa Nona lupa dengan saya?" Tuti menunjuk wajahnya sendiri dengan heran. Lagi-lagi, penampilannya memang membuat siapa saja menjadi pangling.
"Dia Tuti tomboi, Nak. Masa kamu lupa? Dia memang asistennya Rama." Yenny menimpali, mencoba menjelaskan.
"Tapi bukannya asistennya Aa itu pria, ya, Mom?" tanya Sisil bingung sembari menatap mertuanya.
"Dia perempuan tulen, Nak, cuma Tuti itu tomboi," jelasnya lagi
"Oh gitu. Maaf kalau begitu, aku baru tau soalnya, Mom." Sisil menganggukkan kepalanya, kemudian memerhatikan kembali wajah Tuti dengan seksama. Dilihat lebih dekat dengan berhijab seperti itu—memang aura kecantikannya menjadi lebih jelas terlihat. 'Semoga saja Mbak Tuti ini nggak suka sama Aa Rama. Kalau suka 'kan bahaya, makin banyak sainganku,' batinnya dengan takut.
"Ayok ceritakan hal tadi, Tut, bagaimana?" tanya Yenny penasaran.
"Iya, Bu." Tuti menganggukkan kepalanya. "Jadi sebelum pulang, saya dan Pak Rama ada rencana pergi ke toko. Karena ingin mengecek barang baru dari hasil produksi. Tapi saat dijalan ... tiba-tiba mobil Pak Rama bannya kempes. Terus ketika kami berdua mengeceknya dengan keluar dari mobil ... tiba-tiba ada sebuah mobil hitam, Bu, berhenti didekat Pak Rama. Lalu menarik tangan Pak Rama, seperti ingin menculiknya," jelasnya panjang lebar.
"Menculik?!" Sisil dan Yenny menyeru bersama dengan mata membulat. "Kok bisa, Rama ada yang mau nyulik? Rama 'kan bukan anak kecil, Tut," tambah Yenny bertanya. Dan terlihat heran juga, karena aneh saja—seumur Rama masih ada yang berniat menculik.
"Saya juga nggak ngerti, Bu." Tuti menggeleng samar, kemudian menceritakannya. "Soalnya ada pria yang berada dibelakang mobil yang menarik tangan Pak Rama, lalu membekap mulutnya. Dan karena panik, saya langsung menonjok wajah pria itu untuk menyelamatkan Pak Rama, supaya nggak jadi diculik. Tapi sayangnya ... Pak Rama justru sudah pingsan duluan dan jatuh menghantam aspal, sampai akhirnya kepala belakangnya mengalami pendarahan yang cukup banyak."
"Ya Allah ...." Sisil menutup mulutnya, mendengar penuturan yang Tuti sampaikan. Sungguh, ini sangat mengiris hatinya. Karena mengetahui jika ada orang yang ingin berbuat jahat kepada suaminya. "Kita harus lapor polisi, Mom. Pelakunya harus ditangkap! Aku nggak rela suamiku terluka seperti itu, Mom!" pintanya dengan air mata yang sudah menetes.
"Kamu ingat plat mobilnya nggak, Tut? Atau ciri-ciri orangnya?" tanya Yenny memastikan.
^^^Bersambung.....^^^
__ADS_1