Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
24. Secepatnya menikahi Sisil


__ADS_3

"Lho, kok Kakak ngomong kayak gitu?"


"Memang kenapa? Ada yang salah?" Gugun tampak bingung dengan pertanyaan balik dari Arya.


"Aku sudah bilang sama Sisil, aku nggak akan meninggalkannya kalau bukan karena dia yang selingkuh. Jadi aku akan tetap bersamanya."


"Serius?"


"Iya." Arya mengangguk dengan sungguh-sungguh. Dada Gugun terasa plong sekali. Dia sempat takut, jika Arya tak menerima adiknya. Jelas disini terlihat kalau lelaki di depannya itu benar-benar tulus mencintai adiknya.


"Alhamdulillah. Terima kasih kalau kamu mau menerima Sisil, Ar. Kakak senang sekali," ujar Gugun dengan bola mata berkaca-kaca. Dia sampai terharu. Perlahan kedua tangannya meraih tangan Arya, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Sama-sama, Kak."


"Tapi, Kakak juga mau, kamu secepatnya menikahi Sisil, Ar, jangan tunggu lulus. Nanti kelamaan," saran Gugun.


"Memang kenapa, Kak? Aku dan Sisil 'kan masih sama-sama kuliah. Sisil juga kepengen kerja di kantoran katanya."


"Kakak tahu itu. Tapi ada baikmu kamu langsung menikahi Sisil saja. Kakak takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Yang Gugun takutkan hanya Sisil hamil anak Rama. Itu saja. Sebab kalau sampai hamil, mau tidak mau Sisil harus menikah dengan pria itu.


"Takutnya kenapa?"


"Takut kejadian yang menimpa Sisil terulang, Arya." Gugun memberikan alasan lain. Sengaja, supaya Arya tak memikirkan hal yang tidak-tidak. "Lagian, kalau sudah menikahkan enak. Kamu dan Sisil bisa berduaan tanpa harus Kakak omelin. Pergi keluar jalan-jalan juga terserah. Mau pagi kek, siang kek, sore kek, sampai malam juga nggak akan ada yang melarang. Yang haram jadi halal, Arya," tambah Gugun meyakinkan. Dilihat Arya kini tengah terbengong. Tampaknya dia memikirkan apa yang pria itu katakan.


Hingga beberapa menit akhirnya dia berkata, "Tapi buat sekarang, yang aku punya hanya sebuah cincin tunangan, Kak. Kalau untuk menikah, tabunganku belum cukup kayaknya. Aku juga nggak mau kalau harus meminta sama orang tua. Nggak pantas rasanya."


Arya terlahir dari keluarga berada. Mungkin bisa dikatakan kaya. Kakeknya memiliki peternakan ayam. Ayahnya bekerja sebagai CEO pada perusahaan industri otomotif miliknya sendiri. Sedangkan Ibunya seorang dokter kandungan.


Dia anak kedua dan memiliki kakak perempuan yang berprofesi sebagai guru.


Meskipun Arya mempunyai keluarga kaya, tetapi hampir semua teman-temannya tak tahu Dia sendiri memang tak pernah mengumbarnya pada siapa pun.

__ADS_1


Selain kuliah karena mendapatkan beasiswa sebagai murid yang berprestasi, Arya juga lelaki yang cukup mandiri. Dia memiliki sebuah toko parfum yang cukup besar pada salah satu mall. Modal utamanya adalah uang dari jajan awalnya, Arya tabung hingga menjadi banyak dan sampai menjadi modal.


Cita-citanya juga ingin memiliki usaha sendiri, tanpa campur tangan orang tua tentunya. Karena hasil jerih payah sendiri itu jauh lebih memuaskan ketimbang dari orang tua.


"Menikahnya nggak perlu mewah, Ar. Sederhana saja, yang penting sah. Ya kalau kamu dan Sisil mau mengadakan pesta, nanti Kakak bantu kalian. Atau kalau kamu nggak mau menerima bantuan ... kalian bisa menabung untuk sementara waktu," jelas Gugun penuh harap.


"Kalau Sisilnya nggak permasalahkan soal itu sih nggak apa-apa, Kak," jawab Arya. "Tapi aku musti izin dulu ke orang tuaku, kalau aku mau menikahi Sisil."


"Iya. Kamu izin dulu." Gugun mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Setelah izin dan mendapatkan jawaban, kamu langsung hubungi Kakak, ya, Ar. Kakak sudah nggak sabar ingin melihat kamu dan Sisil menikah."


"Iya, Kak." Arya mengangguk. "Tapi, Kak, tentang pria yang melecehkan Sisil. Apa sudah ketemu orangnya?"


"Sudah." Gugun mengangguk. "Rencananya habis dari sini Kakak akan melaporkannya ke polisi."


"Orangnya sudah ketemu, tapi kok baru dilaporkan? Kenapa nggak dari awal?" tanya Arya bingung.


"Dari awal Kakak memang mau memasukkannya ke dalam penjara. Tapi dia mengatakan kalau dia ingin bertanggung jawab. Ingin menikahi Sisil. Tapi di sini ... Sisilnya yang nggak mau. Yang Sisil mau, kamu lah yang menikahinya, Ar," jelas Gugun panjang lebar.


"Wajah sih ganteng. Tapi kalau umur cukup dewasa. Dia juga seorang duda."


"Aku jadi penasaran, mau lihat orangnya. Aku akan menghajarnya nanti!" geram Arya dengan kedua tangan yang mengepal kuat di atas meja. Gugun langsung tersenyum dan mengelus dada.


'Alhamdulillah ... sekarang tinggal mendapatkan restu dari orang tua Arya. Semoga saja mereka mau menerima Sisil apa adanya,' batin Gugun penuh harap.


***


Di rumah Mbah Yahya.


"Assalamualaikum," ucap Rama yang baru saja masuk ke dalam rumah bersama sang Daddy.


Diruang tamu ada seorang wanita cantik paruh baya yang usianya sekitar 60 lebih. Rambutnya pendek sebahu berwarna merah terang. Dia tengah duduk di sofa panjang sambil menonton televisi. Namanya Yenny, dia adalah istri Mbah Yahya yang berarti Mommynya Rama.

__ADS_1


"Walaikum salam. Ingat pulang juga kalian, ya!?!" pekiknya sambil berkacak pinggang. "Habis dari mana sampai dari kemarin nggak pulang?" Yenny langsung berdiri ketika kedua pria itu sudah mendekat ke arahnya.


Wajar juga Yenny marah. Sebab dia tak diberitahu mereka pergi dan tak diberitahu juga akan masalah yang tengah Rama hadapi.


"Kita habis bertemu calon menantu, Mom." Yang menjawab Mbah Yahya. Dia langsung menangkup kedua pipi istrinya dan mencium bibir merah terangnya dengan bertubi-tubi.


Rama yang melihatnya hanya menghela napas, lantas melanjutkan langkahnya untuk naik ke lantai atas. Ingin mandi lalu beristirahat.


"Daddy apaan sih, cium-cium Mommy segala!" omel Yenny marah seraya mendorong dada sang suami. Kemudian dia memperlihatkan apa yang dipakai di tubuh pria di depannya itu. "Daddy pakai baju siapa itu? Dan tadi apa maksudnya habis bertemu calon menantu?"


"Buatkan dulu Daddy kopi. Nanti Daddy ceritakan segalanya." Mbah Yahya langsung melepaskan jas dan tiga kancing kancing pada kemejanya. Setelah itu dia duduk sambil bertumpang kaki di atas meja.


"Tapi Daddy nggak selingkuh, kan?"


"Mana mungkin Daddy selingkuh. Cepat bikin kopi, Daddy haus." Mbah Yahya menyentuh lehernya yang terasa kering. Yenny pun mengangguk dan melangkah menuju dapur.


*


*


Seusai mandi dan memakai baju ganti yakni stelan kaos pendek berwarna merah maroon, Rama langsung berdiri di depan cermin besar sambil menyisir rambutnya.


Dia pun memperhatikan wajahnya, lalu meraba pipi dan hidung mancungnya. Terlihat tampan, hanya saja begitu sendu.


"Memangnya seganteng apa si Arya itu? Dan sebaik apa si Arya? Sampai Sisil tega ingin menikah dengannya ketimbang denganku?" gumamnya. Perlahan Rama merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu menatap langit-langit kamar.


Lagi-lagi, bayangan wajah gadis itu berada di dalam otak. Senyumannya begitu manis dan membuat jantung berdebar.


Rama menoleh ke arah nakas, lalu memperlihatkan foto Sisil hasil mencuri dan sekarang diletakkan di atas sana. Sunggingan senyum tercetak jelas diwajah tampan Rama.


"Masa sih kamu sama sekali nggak ingat aku pada malam itu, Sil?" gumamnya. Perlahan Rama memejamkan mata. "Benar apa yang Daddy katakan, harusnya aku videokan adegan panas kita. Biar kamu nggak salah paham dan percaya padaku." Mendadak, Rama merasakan miliknya mengeras di dalam celana dan segera dia merabanya. Memang kerap kali dia bangun bahkan hanya dari mengingat wajah Sisil saja. "Kasihan kamu, sekalinya bangun tapi Sisil nggak mau."

__ADS_1


...Perkosa lagi aja si Sisilnya, Om 🤭 biar dia ingat betapa enaknya 🤣...


__ADS_2