Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
71. Kita melakukannya sama-sama mau


__ADS_3

"Lho, siapa yang memaksa kamu? Kan kita melakukannya sama-sama mau," jawab Rama dengan santai.


"Om kali yang mau, aku mah nggak." Sisil mencebikkan bibirnya.


"Waduh, kayaknya kamu lupa ingatan lagi nih," kekeh Rama. Melihat wajah sang istri merengut, dia justru merasa gemas sendiri. "Awalnya memang aku yang mau, terus 'kan udah nggak jadi. Eh ternyata kamu diam-diam main sendiri pakai tangan. Ya daripada main sendiri ... mending sama aku dong. Bener nggak, sih? Lagian kamu sendiri yang bilang lho, katanya enak."


Jantung Sisil sontak berdegup kencang, susah payah dia menelan saliva. Tentunya semua yang dikatakan Rama dia ingat, semalam dia melakukannya dengan keadaan sadar. Hanya saja—Sisil sekarang merasa malu saat mendapati tubuh keduanya sama-sama polos.


'Iya juga, sih, memang enak. Bahkan sangat enak. Tapi kok, ya, aku kenapa nggak nolak awalnya? Kan aku sudah bilang belum siap. Aneh banget deh, kayaknya semalam aku kesurupan,' batin Sisil bingung, perlahan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terasa panas dan makin merah. Dia juga sangat malu sekali.


"Bener 'kan enak?" Rama terkikik sendiri melihat tingkah Sisil. "Kamu suka malu-malu, ya? Apa mau kita coba lagi? Biar kamu ingat, barangkali ... kamu lupa kejadian semalam?" Perlahan Rama naik lagi ke atas kasur, lalu merangkak naik ke atas tubuh Sisil.


"Ih Om apaan, sih!" Sisil mendorong dada Rama. "Sana mandi! Bau iler tau nggak!"


"Mana ada aku bau iler. Aku mah nggak pernah ngiler kalau tidur, malah kamu yang ngiler," kekeh Rama. Dia pun turun lagi dari kasur.


"Enak saja! Aku juga nggak ngiler!" bantah Sisil seraya mengusap bibirnya. Akan tetapi pada sudut bibir sebelah kanan, dia merasakan seperti ada sesuatu yang berkerak di sana. Saat kembali dia usap dan menempelkan ke arah hidung ternyata benar apa yang dikatakan Rama, Sisil lah yang ngiler dan itu adalah bekas ilernya. 'Ish! Bener lagi dia. Nyebelin banget!'


"Udah nggak apa-apa kamu suka ngiler juga, aku tetap cinta kok," kekeh Rama. Sebenarnya dia hanya bercanda. "Mau mandi bareng apa nggak, nih? Pasti kamu capek banget, kan? Nanti aku bantu sabunin tubuhmu biar bersih."


"Nggak mau. Om saja sana mandi sendiri, aku bisa kok mandi sendiri," ketus Sisil.


"Ya sudah, aku mandi duluan, ya?" Setelah pamit, Rama pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Sisil menghela napasnya dengan lega kala mendengar suara pintu yang tertutup. Perlahan dia mengelus dada. "Syukurlah dia sudah masuk ke kamar mandi, rasanya jantungku ingin copot karena terus berdebar."


Ting! Tong!


Ting! Tong!

__ADS_1


Mendengar suara bel, dan itu membuat Sisil langsung berdecak kesal. Malas sekali sebenarnya untuk membuka, bahkan untuk beranjak dari tempat tidur.


"Siapa sih yang pagi-pagi datang?!" gerutu Sisil. Perlahan dia menarik tubuhnya untuk duduk, tetapi seketika sel*ngkangannya terasa begitu kram. Begitu pun dengan miliknya yang terasa perih. "Aaww!" Meringis ngilu, lalu menyentuh inti tubuhnya sendiri dan kembali dia meringis. "Ah, sakit banget milikku. Pasti ini gara-gara burung Om Rama yang kegedean. Dasar mesum!"


Ting! Tong!


"Ish sabar sedikit kenapa, sih?!" omel Sisil. Susah payang dia berusaha untuk turun dari kasur menahan sakit, kemudian melangkah dan mengambil handuk baru di dalam lemari.


Setelah memakainya, Sisil pun melangkah ke arah pintu. Kemudian membukanya dengan menempelkan card system.


Ceklek~


"Duh pengantin baru, selamat siang, Nak," ucap Yenny dengan sumringah. Ternyata dia yang datang.


"Kok siang? Ini 'kan masih pagi, Mom."


"Ini apa, Mom?" Sisil mengambil benda di dalam plastik itu. Isinya seperti salep pada kotak kecil.


"Itu salep buat mengobati luka seperti lecet, Nak. Mommy yakin banget kamu pasti membutuhkannya untuk sangkarmu," ujarnya.


"Sangkar?!" Kening Sisil mengernyit. Tak paham maksud dari Yenny. "Aku nggak punya sangkar, Mom dan aku nggak pelihara burung."


"Burungnya 'kan punya Rama, jadi sangkarnya kamu. Kamu pasti mengerti maksud Mommy, kan?"


"Oh itu." Wajah Sisil langsung merona. 'Peka banget Mommy Yenny. Kok dia bisa tau milikku lecet dan butuh salep?'


"Jangan lupa dipakai, ya! Biar nggak sakit pas kalian ingin melakukan ronde selanjutnya." Yenny mengusap dagu Sisil dengan lembut sambil tersenyum. "Tapi jangan lupa untuk makan, perut juga 'kan perlu diisi."


Sebenarnya, niat Yenny datang selain ingin memberikan salep—adalah untuk bertanya kepada Rama. Tentang ketahanannya semalam.

__ADS_1


Namun, melihat banyak bekas kecupan dileher sang menantu dan memerhatikan raut wajahnya yang seperti orang kelelahan—Yenny sudah bisa menebak rasanya. Pasti obat kuda itu jos gandos.


"Terima kasih ya, Mom. Oh ya, Mommy punya nomornya Kakakku nggak? Aku mau telepon dia dong."


"Mommy nggak bawa hape, Sayang. Kamu sendiri memang hapenya ke mana?" tanya Yenny.


"Aku dari kemarin pagi nggak boleh pegang hape sama Kakak, Mom. Jadi hapenya ditinggal di apartemen."


"Oh, pinjem hapenya Rama saja kalau begitu," saran Yenny. "Ya sudah, ya, Mommy sekalian mau pamit pulang sama Daddy. Kamu bersenang-senanglah di sini sama Rama. Pakaian dan kebutuhanmu semuanya ada di lemari. Nanti kalau kamu mau ngambil hape, Mommy akan suruh orang deh untuk mengantarkannya."


"Nggak usah, Mom," tolak Sisil sambil menggelengkan kepalanya. Tak enak rasanya jika merepotkan. "Nanti aku pinjem hape Om Rama saja deh, buat telepon Kakak. Mommy hati-hati dijalan. Salam buat Daddy."


"Tadi kamu panggil Rama siapa?!"


"Om. Kenapa memangnya, Mom?" Alis mata Sisil bertaut, dia menatap bingung Yenny.


"Jangan Om dong, Nak. Ya memang sih, dia sudah Om-Om dan jarak kalian cukup jauh. Tapi 'kan mau bagaimana pun sekarang ... Rama itu suamimu, Nak."


"Terus aku musti panggil dia siapa? Bapak?"


"Ya jangan," kekeh Yenny. "Bang kek, Mas, Aa, Kakak, Akang atau siapa. Itu jauh lebih pantes daripada Om."


'Ish, padahal yang lebih pantes emang Om. Bisa-bisa gatal lidahku kalau memanggil Om Rama dengan sebutan itu,' batin Sisil sambil tersenyum miring.


"Ya sudah, Mommy pulang dulu." Yenny perlahan melebarkan lengannya, lalu memeluk tubuh Sisil dengan erat dan mengusap punggungnya. "Mommy udah nggak sabar banget nunggu kabar kehamilanmu. Semoga selalu bahagia ya, Nak."


"Amin. Terima kasih, Mom."


...Nggak usah julid sama anaknya, Sil, Mommynya baik banget begitu 🤣 Mamamu di Saudi belum tentu bisa sebaik Mommy Yenny lho 😏...

__ADS_1


__ADS_2