
Namun, sudah beberapa menit berlalu. Nyatanya penerawangan Mbah Yahya belum sampai juga, semuanya hanya terlihat gelap gulita.
Mbah Yahya pun perlahan menarik napasnya, lalu membuangnya sambil berkumat-kamit. Dia membaca mantra untuk kedua kalinya.
Akan tetapi, sayang sekali. Lagi-lagi penerawangan itu tidak berhasil. Yang dia lihat hanya kegelapan.
'Lho, kok nggak sampai-sampai? Kenapa, ya?' batinnya heran. Kemudian membuka mata.
"Apa ada yang kurang?!" Mbah Yahya lantas memerhatikan beberapa alat prakteknya di depan tikar. Rasa-rasanya semuanya itu tak ada yang kurang, lengkap semua. "Ada semua kok, aku coba lagi deh."
Mbah Yahya mengelus foto Gisel, lalu memejamkan matanya kembali dan berkumat-kamit membaca mantra.
Hampir dua puluh menitan, kembali penerawangannya itu tidak berhasil. Dan membuatnya kesal.
"Kok nggak berhasil lagi, sih? Ada apa dengan ilmuku sebenarnya?" Mbah Yahya langsung menatap kedua telapak tangannya yang terbuka, lalu membolak-balikkannya.
Seketika itu pun, dia terbelalak. Saat melihat tak ada batu akik merahnya yang tersemat dijari manis. Pasti, alasan utama penerawangan itu tak berhasil adalah batu akiknya.
Karena benda itu adalah penyempurnaan ilmu, yang wajib sekali dipakai setiap kali melakukan praktek.
Mbah Yahya langsung berdiri, kemudian melangkah menuju gantungan baju yang berada di dekat meja kayu. Dia lantas mengambil ponsel di dalam kantong celana bahannya, lalu menelepon Yenny.
"Halo, Mom, Mommy ada di mana?" tanyanya saat panggilan itu diangkat. Terdengar suara bising musik dari sana.
"Maaf, Dad, kalau berisik, Mommy lagi ada di mall, lagi karaokean sama Puspa," jawab Yenny agak keras.
"Mommy tolong pulang ke rumah dulu deh," pinta Mbah Yahya.
"Pulang ke rumah mau apa? Daddy kepengen bercinta? Kan masih pagi, Dad. Jangan nakal, ah!" sahutnya dengan suara manja.
"Bukan. Tapi tolong carikan cincin Daddy, soalnya hilang, Mom. Minta tolong sama Bibi dan satpam juga, ya," titah Mbah Yahya.
Dia sendiri tidak ingat, cincin itu hilang dimana. Karena benda itu juga tidak pernah dilepas, kecuali jika dihari Jum'at sebab harus dibersihkan.
"Cincin yang mana, Dad?"
"Yang biasa Daddy pakai."
"Kok bisa hilang? Coba Daddy terawang saja," saran Yenny.
"Nggak bisa, Mom. Cincin itu 'kan kuncinya ilmu. Jadi Daddy nggak bisa menerawangnya," jelas Mbah Yahya.
__ADS_1
"Oh ya sudah, Mommy pulang sekarang, Dad. Nanti Daddy sekalian saja minta tolong orang-orang di sana, untuk cari cincin. Barangkali jatuhnya di sana," saran Yenny.
"Iya. Terima kasih ya, Mom, maaf Daddy ganggu waktu Mommy yang lagi bersenang-senang."
"Nggak apa-apa Daddy sayang," sahut Yenny, kemudian menutup sambungan telepon.
Mbah Yahya segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar, lalu menatap seorang pria berjubah putih di depannya. Dia salah satu anak buahnya juga.
"Apa pasien pertama sudah boleh masuk, Mbah?" tanyanya.
"Nanti. Sekarang kamu panggilkan seluruh anak buahku dulu ke sini. Sampai yang menjaga gerbang juga. Tapi sebelum itu kunci dulu gerbangnya," perintah Mbah Yahya.
"Baik, Pak." Pria itu mengangguk. Lantas membungkuk sopan dan melangkah pergi dari sana.
***
Evan menghentikan langkahnya saat baru saja sampai rumah sakit.
Sebab dia melihat Gugun tengah berdiri di depan resepsionis, dengan membawa buket bunga mawar merah di tangannya, yang berukuran sedang.
"Siang Pak Gugun," sapa Evan seraya menghampiri. Melihat pria berkumis lele itu menoleh, dia pun langsung tersenyum.
"Iya, Pak." Evan mengangguk. "Ngomong-ngomong ... Bapak ke sini mau jenguk siapa? Siapa yang sakit?"
"Aku mau mengantar temanku pulang, Van. Dia bilang ... dia habis pingsan," jawab Gugun.
"Oh begitu." Evan manggut-manggut.
"Kamu sendiri, kenapa ke rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Aku mau cek darah, Pak," jawabnya asal. Tapi tidak mungkin juga pria itu jujur.
"Memangnya kamu sakit apa? Sampai cek darah segala?"
"Nggak sakit, cuma mau mengecek saja."
"Oh begitu. Ya sudah ... aku duluan ya, Van?" pamit Gugun. Evan pun mengangguk.
Perlahan Gugun melangkah lebih dulu, kemudian disusul oleh Evan tapi dengan jarak yang cukup jauh.
Namun anehnya, pria itu justru mengarah pada ruang pemeriksaan. Sedangkan Evan sendiri ingin ke sana, sebab Gisel memang ada di sana.
__ADS_1
'Lho, kok Pak Gugun ke sini juga? Atau jangan-jangan teman yang dia maksud adalah Gisel, ya?' batin Evan penuh tanya.
"Siang, Sus." Gugun menyapa seorang suster yang berdiri di depan pintu. Wanita berseragam itu memegang selembar kertas untuk menyebutkan nama-nama urutan orang-orang yang mau berobat. Kebetulan memang, dikursi tunggu di depan mereka banyak sekali orang yang mengantre.
"Siang juga, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Suster itu dengan ramah seraya menatap Gugun.
"Aku tadi ditelepon temanku yang bernama Gisel. Katanya dia pingsan dan ada di ruangan ini, Sus," kata Gugun seraya menunjuk ruangan yang dia maksud.
Mendengar jawaban itu, Evan langsung berdecak kesal. Ternyata benar dugaannya, Gugun datang dengan maksud bertemu Gisel.
Tadi pagi seusai Gugun melakukan meeting, Gisel langsung menghubunginya. Meminta tolong untuk datang supaya bisa mengantarkannya pulang. Tentunya juga dengan suara khasnya yang dibuat-buat semanja mungkin, supaya pria itu luluh.
Namun disisi lain, Evan yang sengaja balik lagi ke rumah sakit bukan hanya sekedar ingin mengecek kondisi Gisel saja. Tapi juga ingin mengantarkannya pulang. Sayangnya, dia sekarang kalah cepat oleh Gugun.
'Ngapain sih, Nona, kamu telepon Pak Gugun? Padahal aku juga bisa ... mengantarkanmu pulang,' batin Evan dengan keki.
"Nona yang berambut pendek, ya, Pak?" tebak Suster.
"Iya, Sus." Gugun mengangguk. "Orangnya cantik," tambahnya.
"Mari, Bapak ikut saya masuk ke dalam," ajak Suster lalu melebarkan pintu.
Gugun pun melangkah masuk ke dalam, tapi bertepatan sekali dengan perempuan yang baru selesai berobat dan ingin keluar. Sehingga mereka pun berpapasan dengan kedua lengannya yang saling menyenggol.
Bruk!
Buket bunga di tangan Gugun seketika terjatuh di lantai.
"Ah, maafkan aku, Pak, aku nggak sengaja." Perempuan yang memakai hijab pashmina berwarna biru awan itu langsung membungkuk, lalu segera meraih buket bunga milik Gugun.
Tapi Gugun di sini juga ikut membungkuk, hingga akhirnya keduanya saling mengenggam bunga itu satu sama lain, dengan kedua tangan yang juga saling bersentuhan. Lantas sama-sama berdiri.
"Aku yang salah, No ... lho, Nona Tuti!" Gugun seketika meralat ucapannya kala kedua matanya itu beradu pandangan dengan perempuan di depannya.
Benar sekali, perempuan itu ternyata adalah Tuti. Dia tampak sangat cantik, dengan mengenakan gamis berwarna mocca dan kerudung biru. Makin terlihat anggun juga.
"Nona cantik sekali, seperti bidadari." Gugun berucap demikian karena terkesima dengan pesonanya. Seketika dia juga seakan lupa, dengan tujuan awalnya yang ingin bertemu Gisel.
"Terima kasih, Pak," sahut Tuti dengan malu-malu. Wajahnya memerah dan dia pun langsung menurunkan pandangan.
...Cieee Tuti.... Awas hidungnya terbang, nih, gara-gara disebut bidadari 🤣🤣...
__ADS_1