Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
142. Impoten sejak lahir


__ADS_3

"Kenapa? Aa takut menunjukkan burung Aa yang sudah tegak begini? Karena Aa sendiri mengatakan kalau Aa impoten, iya, kan?"


"Bukan." Rama menggeleng. Dia pun langsung menarik Sisil dan membawanya masuk ke dalam mobil. Duduk pada kursi depan. "Aku memang sudah nggak impoten lagi sekarang, Dek, aku sudah sembuh," lanjutnya memberitahu. Wajah Rama sudah memerah sekarang, sebab tanpa disadari sentuhan oleh istrinya tadi membuatnya tera*ngsang.


"Bukan sembuh, tapi memang Aa dari dulu nggak impoten!" Nampaknya, Sisil masih belum percaya. Dia juga masih terlihat marah.


"Seriusan aku, Dek. Dan aku sembuh karena kamu. Dokternya sendiri yang mengatakannya." Rama segera menyalakan mesin mobilnya, kemudian menarik gasnya dan mulai mengemudi.


"Kita mau ke mana, A? Kan aku udah bilang ... kalau aku nggak mau pulang bareng Aa! Aku mau pulang sama Kakakku!" teriak Sisil marah.


"Kita nggak pulang, kita akan ke rumah sakit," jawab Rama tanpa menoleh. Dia fokus mengemudi.


"Mau ngapain? Tadi 'kan kita baru saja ke rumah sakit, A!"


"Kita mau menemui Dokter Spesialis Andrologi. Dia Dokterku dulu, saat menangani aku yang sakit."


*


*


Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya sampai. Dan kedatangan mereka bertepatan dengan suara kumandang adzan Maghrib.


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar ...."


"Alhamdulillah, sudah buka puasa, Dek." Rama mengusap wajahnya, lalu meraih dua botol air mineral yang masih bersegel pada kursi belakang. Dia membuka kedua penutup, lalu memberikan satunya kepada Sisil dan satunya untuknya. "Ayok minum dulu, kita batalkan puasanya."


"Orang puasaku sudah batal dari tadi." Sisil memutar bola matanya dengan malas. Tapi dia langsung menenggak air minum itu saat melihat Rama sudah minum duluan.


"Kapan memang kamu batal puasanya?" tanya Rama. Dia mengulas sisa air pada bibirnya. Lalu mengecup kening Sisil.


"Dih, masa Aa lupa? Kan tadi aku muntah-muntah. Ya sudah batal lah berarti." Sisil mendengkus, segera dia pun turun dari mobil dan segera Rama menyusulnya.


"Oh iya, aku lupa, Dek." Rama meraih tangan kanan sang istri, saat gadis itu baru saja melangkah hendak masuk ke dalam rumah sakit. "Kita mau makan dulu apa gimana, Dek? Di depan ada restoran," tawarnya sambil menunjuk ke arah depan. Di seberang jalan memang ada sebuah restoran yang cukup besar.

__ADS_1


"Nanti saja. Aku belum lapar," tolak Sisil sambil menggelengkan kepala. Aslinya sebenarnya lapar, hanya saja mood untuk makan tidak ada, karena masih emosi. "Ayok masuk ke dalam. Katanya Aa mau membuktikan sesuatu," ajaknya, lalu melangkah lebih dulu.


Rama hanya menghela napas, dan menurutinya.


*


Ceklek~


Sebuah pintu ruangan Dokter Spesialis Andrologi dibuka oleh Rama, tapi sebelumnya tadi dia sudah mengetuknya terlebih dahulu.


"Selamat malam, Dok. Apa aku mengangguk Dokter?"


Rama menatap seorang dokter pria yang tengah duduk pada kursi kerjanya. Selain duduk, pria berjas putih itu juga tengah menyantap kolak pisang. Seperti, dia tengah berbuka puasa.


Melihat itu, Sisil langsung menelan saliva dan mengelus perutnya. Tampaknya dia menginginkannya.


'Kayaknya enak, ya,' batin Sisil.


"Malam juga, nggak kok, Pak." Dokter itu tersenyum menatap Rama. "Silahkan Bapak masuk," tambahnya sambil menunjuk dua kursi kosong di depannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak? Dan apa penyakit Bapak kambuh lagi?" tanya Dokter itu. Untuk sebentar, dia menatap ke arah Sisil dan tersenyum. Tapi gadis itu sejak tadi menatap mangkuk kolak yang berada didekat tangan Dokter.


"Alhamdulillah udah nggak, Dok," jawab Rama, lalu mengelus bahu Sisil. "Ini Sisil, istriku, Dok. Boleh nggak ... aku minta Dokter ceritakan padanya tentang penyakitku. Karena Sisil sendiri nggak percaya kalau aku dulunya impoten."


Mungkin kalau dari mulut dokter, Sisil bisa langsung percaya. Itulah alasan mengapa Rama membawanya kemari.


"Oh. Ini Nona Sisil yang waktu itu Bapak ceritakan? Penyebab si Boy hidup?"


"Siapa si Boy?" tanya Sisil dengan bingung. Baru sekarang dia menatap wajah dokter pria di depannya.


"Maksud saya, burungnya Pak Rama, Nona."


Sisil menoleh, dan menatap sengit kepada Rama. "Sejak kapan burung Aa dinamain Boy? Kok aku nggak tau? Aku 'kan istri Aa!" omelnya marah.

__ADS_1


"Aku nggak pernah ngasih nama burungku, Dek. Itu mah Dokternya aja yang asal." Rama menatap dokter di depan dengan bingung.


"Maaf, Nona," ucap Dokter. "Nona nggak perlu marah, saya memang hanya asal memberikan nama."


"Langsung ceritakan saja, Dok, tentang penyakitku. Dan alasan burungku berdiri lagi," pinta Rama yang terlihat tak sabar. Sebab dia tak mau jika Sisil terus menerus marah padanya.


"Baik." Dokter itu mengangguk. Kemudian membuka laptopnya dan mengetik-ngetik keyboardnya.


"Orang disuruh cerita, kok Dokter malah main laptop? Nggak jelas banget," kesal Sisil. Emosinya saat ini benar-benar tidak stabil. Gampang sekali dia marah.


"Saya bukan main laptop, tapi mencari daftar riwayat kesehatan Pak Rama, Nona. Biar sekalian ditunjukkan kepada Nona," jawab Dokter itu dengan suara pelan.


"Dek ... jangan marah-marah mulu dong. Sabar dulu sebentar," bujuk Rama dengan lembut. Kembali, dia mencium pipi Sisil.


Sisil hanya menghela napas.


"Ini, Nona bisa melihatnya sendiri." Dokter itu menggeserkan laptopnya ke arah Sisil, dan gadis itu langsung membaca riwayat kesehatan Rama yang tertera di sana. "Saya menjadi Dokternya Pak Rama sudah hampir 5 tahun kalau nggak salah. Dan beliau ini mengalami penyakit impotensi sejak lahir, Nona," tambahnya memberitahu.


'Lho, iya. Aa impoten, bahkan memang sejak lahir,' batin Sisil. Dia membaca riwayat kesehatan Rama dengan teliti. Dan dokter itu juga menunjukkan beberapa hasil pemeriksaan saat Rama rutin check up.


"Kamu sekarang percaya padaku, kan, Dek?" tanya Rama.


"Hasil ini asli 'kan, Dok? Bukan rekayasa?" tanya Sisil memastikan.


"Mana mungkin saya merekayasanya, Nona. Nggak ada untungnya juga." Dokter itu menggeleng dan tersenyum tipis.


"Tapi, Dok, aku yang sebagai istrinya ... kayaknya masih nggak percaya, kalau Aa Rama impoten." Sisil menatap sebentar kepada Rama, kemudian beralih pada dokter di depannya. "Menurutku, dia seperti pria normal pada umumnya, dan cukup perkasa di ranjang."


Rama sontak terbelalak, dia merasa kaget dengan kalimat terakhir yang diucapkan istrinya. Dan rasanya malu sekali. "Dek, ngomongnya difilter dikit. Nggak perlu ke ranjang-ranjang segala," tegur Rama seraya berbisik di telinga kanan istrinya.


"Tapi 'kan memang benar, A," sahut Sisil mendengkus. Bibirnya ikut mengerucut. "Eh, tapi Aa kuat lamanya kalau minum obat kuda kayaknya. Kalau nggak minum obat kuda mah biasa aja sih, buktinya pas sahur aku minta tambah Aa bilang udah lemes. Kan payah."


"Dih, Dek! Udahan bahas itunya, malu," tegur Rama sambil melirik Dokter. Dilihat pria itu memang sedang terkekeh sekarang.

__ADS_1


"Mau saya lanjutkan ceritanya apa kalian ingin buka puasa dulu?" tawar Dokter itu sambil menarik turunkan alis matanya menatap Rama. "Di dekat sini ada penginapan soalnya."


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2