
"Daddy ini ada tamu bukannya disambut, tapi malah bicara kayak gitu." Yenny mendengkus kesal melihat sikap suaminya. Selain itu dia juga kesal melihat kulit kacang yang berserakan di atas meja. "Makan kacang juga, kenapa kulitnya nggak dikumpulin jadi satu, sih? Kenapa berserakan kayak gitu? Nambah kerjaan Bibi saja!" omelnya.
"Biarin aja, Mom. Kan Bibi Daddy bayar," jawab Mbah Yahya dengan santai.
"Duduk dulu," ucap Yenny pada Gugun seraya menunjuk sofa. Pria berkumis itu mengangguk lalu mendaratkan bokongnya pada sofa single. "Mau minum apa? Biar nanti aku buatkan," tawarnya kemudian.
"Nggak perlu, Mom." Belum sempat Gugun menjawab, tapi Mbah Yahya sudah menyambar duluan. "Gugun nggak haus, pasti dia sudah minum sebelum dari sini. Mommy masuk saja ke kamar atau nonton tv."
"Oh, ya sudah kalau begitu." Dengan percayanya Yenny berlalu pergi. Meninggalkan mereka. Padahal aslinya tadi Gugun ingin meminta es teh manis saja, untuk meredakan rasa haus di tenggorokannya.
"Aku datang ke sini ingin menyampaikan bahwa Sisil mau menikah dengan Pak Rama, Pak," ucap Gugun tanpa basa-basi.
Sontak, Mbah Yahya langsung membulatkan matanya dengan lebar. Sangking terkejutnya dia sampai tersendak kacang yang baru saja dimasukkan ke dalam mulut.
"Uhuk! Uhuk!" Mbah Yahya menyentuh lehernya yang terasa seret, lalu menepuk lengan Gugun. Seolah mengisyaratkan supaya pria itu dapat membantunya memberikan air minum.
"Bapak mau minum?" tanya Gugun. Mbah Yahya langsung mengangguk. Gegas Gugun berlari menuju dapur, ada seorang wanita yang memakai daster tengah mencuci piring pada wastafel. Dia pembantu di rumah itu. "Maaf, Bu. Itu Pak Yahya sepertinya keselek kacang," ucap Gugun memberitahu.
Wanita berdaster itu langsung menoleh, matanya terbelalak. Cepat-cepat dia mengambil gelas lalu menuangkan air pada teko. Kemudian berlari pergi.
Gugun langsung menyusulnya. "Pak Yahya di ruang tamu, Bu."
Bibi pembantu segera memberikan air minum pada gelas itu, kemudian Mbah Yahya langsung menenggaknya hingga tandas.
Perlahan dia menarik napasnya, lalu menghembuskannya. "Hampir saja aku mati," ucapnya sambil mengelus dada. Dia merasa lega sekarang.
"Lagian Bapak ngapain pakai keselek kacang segala? Lebay amat," komentar Gugun seraya duduk kembali ke sofa tadi. Sedangkan Bibi kembali ke dapur.
"Aku kaget tahu! Mangkanya keselek!" seru Mbah Yahya sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal. "Ucapanmu tadi serius nggak? Atau aku salah denger?"
"Tentang Sisil yang mau menikah dengan Pak Rama?"
"Iya." Mbah Yahya mengangguk.
"Serius, Sisil mau, Pak."
__ADS_1
"Ini berarti kamu sudah kalah dong, ya? Dan Rama nggak jadi dipenjara." Wajah Mbah Yahya tampak berseri. Dia sungguh bahagia. Tentu kabar ini adalah kabar yang sangat baik.
"Aku nggak kalah. Hanya mengalah."
"Sama saja. Tunggu sebentar, ya, aku akan segera kembali." Mbah Yahya langsung berdiri, lalu berlalu pergi meninggalkan Gugun. Pria itu hanya diam dan memperhatikannya yang kini melangkah naik ke lantai dua, kemudian masuk ke dalam kamar.
'Mau ngapain dia? Kok pergi?' batin Gugun bingung.
Tak berselang lama, Mbah Yahya kembali dengan membawa dua buku. Satunya buku tulis dan satunya entah buku apa, tetapi cover bukunya berwarna hitam. Ada pulpen juga ditangannya.
"Nama panjang Sisil siapa, Gun?" tanya Mbah Yahya seraya duduk kembali. Kemudian membuka buku tulis yang kosong.
"Prisilla Adiguna."
"Lahirnya hari apa?"
"Hari Senin. Kenapa memangnya, Pak?"
"Aku ingin menerawangnya. Tapi kalau senin sangat cocok sekali dengan hari Selasa, Kamis, Jum'at dan Sabtu. Kebetulan Rama hari Kamis. Jadi kalau Sisil adalah bunga, Rama adalah angin. Sepoy-sepoy tuh si bunga karena angin. Jadi kelihatan hidup," jelas Mbah Yahya.
"Ah kamu nggak akan ngerti. Ini perhitungan seorang dukun." Mbah Yahya langsung menuliskan nama Sisil dan hari Senin pada buku tulis. "Tanggal, bulan sama tahunnya berapa?"
"Untuk apa?"
"Mau disamakan dengan tanggal lahir Rama, cocok nggaknya."
"Memangnya musti pakai begituan segala?"
"Iyalah. Udah cepat kasih tahu. Biar nanti aku bisa langsung tentukan tanggal mereka menikah."
"12 Januari 2004. Tapi aku maunya ... Sisil dan Pak Rama menikah sederhana saja, Pak. Nggak usah pakai pesta segala," pinta Gugun.
"Kenapa memangnya? Aku maunya pernikahan mereka justru mewah. Biar semua orang tahu jika anakku bukan pria impoten." Mbah Yahya kembali menuliskan tanggal lahir Sisil pada buku.
"Aku takutnya Sisil malu nantinya."
__ADS_1
"Malu?!" Kening Mbah Yahya tampak mengernyit. "Ngapain malu? Oh ... apa dia malu menikah dengan Rama?" tebaknya dan entah mengapa seketika Mbah Yahya jadi kesal.
"Takutnya begitu, Pak."
"Katanya kamu bilang Sisil setuju untuk menikah dengan Rama? Kenapa pakai acara malu segala?"
"Itu hanya pemikiranku saja."
"Pokoknya aku maunya mereka menikah dengan mewah, semua orang diundang dan wajib datang. Tapi kamu atau Sisil nggak perlu memikirkan masalah biaya, semuanya biar aku yang menanggung." Mbah Yahya menepuk dadanya. "Asalkan jangan pernah membuat aku ada Rama kecewa, apalagi sampai membatalkan pernikahan. Kalau sampai itu terjadi ... hidupmu dan Sisil akan kubuat menderita!" ancamnya sambil melotot. Terlihat jelas Gugun tidak takut, sebab dia juga berniat serius. Keputusannya bukan sekedar main-main.
"Aku akan berusaha membujuk Sisil supaya acara itu terselenggara sesuai keinginan Bapak." Gugun berdiri seraya menatap arlojinya yang menunjukkan pukul 18.00. Dia juga merogoh kantong celana untuk mengambil dompet, lalu memberikan kartu namanya ke tangan Mbah Yahya. "Nanti kalau tanggalnya sudah ketemu, Bapak bisa menghubungiku. Kalau begitu aku permisi mau pulang deh, Pak. Sebentar lagi mau Magrib soalnya." Selain ingin sholat, Gugun juga merasa sangat haus.
"Tunggu dulu, Gun!" Mbah Yahya mencekal lengan kanan pria tersebut yang baru saja melangkah. "Tapi kenapa tiba-tiba kamu dan Sisil berubah pikiran? Setuju untuk menikah dengan Rama?" tanyanya penasaran.
"Katanya Bapak seorang dukun. Harusnya nggak perlu aku jelaskan, Bapak juga tahu sendiri." Gugun menepis tangan Mbah Yahya. "Ya sudah, Pak. Assalamualaikum." Gugun melangkah berlalu pergi dari hadapan Mbah Yahya.
Bukannya menjawab salam, pria berjenggot putih itu justru memejamkan matanya. Berkomat-kamit sambil memikirkan apa yang tadi Gugun sampaikan.
'Oh, ternyata karena restu orang tua dan status sosial,' batinnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Mbah Yahya pun seketika menyunggingkan senyum dibibir. 'Memang pada dasarnya Sisil itu jodohnya Rama. Mau menolak segimana pun, mereka pasti bersatu. Dan pasti Rama akan senang mendengar berita ini. Akhirnya ... anakku bisa berumah tangga. Bisa goyang ngebor sampai encok. Aku sudah nggak sabar menunggu cucu dari Rama.'
***
Sementara itu di pojok sebuah cafe, ada Rama tengah duduk melamun dengan ditemani secangkir kopi hitam di atas meja.
Dia memikirkan rencana selanjutnya untuk meluluhkan hati Sisil, hanya saja hatinya terasa sakit sekarang sebab mengingat sikap acuh gadis itu kepadanya.
'Bagaimana sekarang? Potong rambut ternyata nggak merubah penampilanku di matanya. Sisil masih judes,' batin Rama sedih.
Gisel yang juga ada di sana tak sengaja melihatnya. Niat gadis itu sebenarnya ingin ketemuan dengan temannya, janjian makan malam.
Namun melihat ada Rama, tentu itu sebuah kesempatan emas baginya untuk bisa mendekatinya lagi.
Dari kejauhan, aura ketampanan pria itu terpancar jelas dimatanya. Sungguh, membuat jantung Gisel berdebar-debar.
'Wah ... ini yang dinamakan jodoh nggak lari kemana. Tambah ganteng aja Mas Ramaku. Samperin ah.' Sebelum melangkah mendekati pria itu, Gisel lebih dulu mengamati situasi sambil membereskan rambutnya. Dia mencari-cari keberadaan Daddynya Rama, sebab takut jika disembur lagi.
__ADS_1
...Yang satu cewek sok jual mahal, yang satu cewek genit 🤣...