Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
102. Gara-gara si ketoprak


__ADS_3

"Gimana kalau opor tahu, Dek," tawar Rama seraya berjongkok dan mengelus rambut Sisil yang basah. Dia juga menelan salivanya dengan susah payah lantaran melihat buah dada yang berada dalam air. Menggemaskan sekali, ingin rasanya dia reemas-reemas.


"Kok opor tahu? Nggak nyambung banget." Sisil langsung merengut kesal.


"Kan ada tahunya. Kamu katanya bilang kepengen tahunya yang anget-anget."


"Ya tapi beda dong, Om. Jauh banget malah."


"Terus bagaimana dong, Dek? Aku udah cari di internet tapi nggak ketemu." Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa bingung sendiri.


"Kalau cari disekitar sini gimana?"


"Maksudnya kamu suruh aku nyari keliling? Jam segini?" Rama menatap tak percaya dan menunjuk arlojinya yang menunjukkan pukul 12 malam.


Padahal sudah jelas dari internet, jika beberapa restoran di sana menuliskan tak ada menu ketoprak. Tapi sepertinya Sisil belum puas dan masih belum sepenuhnya percaya.


"Kalau Om nggak mau nyari ya sudah, aku bisa kok nyari sendiri." Bibir Sisil mengerucut, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Terlihat jelas jika dia sudah marah sekarang.


"Mau, Dek, tapi masalahnya ada apa nggaknya? Selain itu ini 'kan tengah malam."


Bukan masalah mau tidaknya, tapi ada tidaknya makanan itu. Tenaga Rama yang terbuang tidak masalah jika itu demi Sisil. Tapi kalau makanan itu tetap tidak ada dan membuatnya sedih, Rama jadi merasa bersalah nantinya.


"Ya dicoba lah, orang nggak akan tau kalau belum dicoba," sahut Sisil dengan ketus.


"Ya sudah. Kita berendam bareng dulu berarti, baru nyari ketoprak, ya?" Rama berdiri dan mulai melucuti satu persatu pakaiannya di tubuhnya. Namun, Sisil malah langsung berdiri dan meraih handuk kemudian melilitkan ke tubuhnya.


"Om nggak usah berendam, nanti lama. Mandi biasa saja, aku juga udahan kok berendamnya," saran Sisil. Kemudian melangkah keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Rama menghela napasnya dengan gusar. Padahal dia sudah berkhayal tentang indahnya berendam bersama sambil makan malam. Tapi semua itu seolah lenyap lantaran ketoprak. 'Gara-gara si ketoprak nih! Sisil jadi berubah pikiran, kan, padahal lumayan bisa gesek-gesekan.' Rama membatin dengan penuh kecewa dan kesal di dada.


Setelah berhasil polos sempurna, dia pun menuju shower, lalu berdiri dan menyalakan air hangatnya untuk mandi.


"Oh ya, apa aku tanya Fuji saja kali, ya, di mana ada orang yang jualan ketoprak, pasti dia tau," gumam Rama sambil menyabuni seluruh tubuhnya. Begitu pun dengan miliknya yang terlihat menjulang tinggi, karena masih ada beban di dalam sana yang belum dituntaskan.


"Ah tapi jangan deh." Kepalanya langsung menggeleng, karena teringat bagaimana sebalnya Sisil kepada wanita itu. "Sisil 'kan nggak suka sama Fuji. Nanti ketopraknya mah nggak ada, eh yang ada kita perang dunia."


*


*


*


Sekarang, Rama dan Sisil berada di dalam mobil taksi online yang sempat Rama pesan. Kendaraan roda empat itu menuju salah satu restoran Indonesia yang berada masih di kota Seoul.


'Ya Allah, semoga ketopraknya ada. Aku ingin cepat tidur dan beristirahat. Kasihan Sisil juga, dia pasti sama capeknya kayak aku,' batin Rama seraya menatap Sisil di sampingnya.


Wajah gadis itu terlihat lelah meskipun dilapisi make up. Tapi disisi lain, Rama melihat ada sedikit keceriaan. Apalagi dengan senyuman yang tercetak jelas dan membuatnya makin cantik.


"Kamu kok kayak seneng gitu, Dek? Kenapa?" Rama membelai mesra pipi Sisil dan seketika kulitnya berubah menjadi merah.


"Kan mau beli ketoprak, Om, jadi seneng akunya."


"Oh, tapi hanya karena itu, Dek? Apa ada yang lain?"


"Nggak, emang hanya karena itu."

__ADS_1


"Eemm ... mudah-mudahan ada ya, Dek."


"Amin." Sisil mengusap wajahnya lalu tersenyum manis.


Beberapa menit kemudian, mereka pun akhirnya sampai di salah satu restoran yang ada gambar bendera Korea dan Indonesia berdampingan.


"Ayok turun, Dek," ajak Rama seraya membukakan pintu untuk Sisil, sebab dia sudah lebih dulu turun.


"Iya." Sisil mengangguk. Dia turun dan langsung merangkul punggung Rama. Keduanya pun langsung masuk bersama lewat pintu kaca.


"Hwan-yeonghabnida, seonsaengnim... agassi. mueos-eul jumunhasigessseubnikka?" (Selamat datang, Pak ... Nona. Silahkan mau pesan apa?") tanya seorang pelayan wanita berwajah Korea yang menyambut kedatangan mereka. Dia juga memberikan sebuah buku menu kepada Rama yang kebetulan dipegang sejak tadi.


"Yeogie ketopeulag-i issseubnikka, bu-in?" ("Apa di sini ada ketoprak, Mbak?") tanya Rama sambil membuka-buka buku menu yang isinya ternyata; nasi goreng, mie goreng dan kwetiau. Juga berbagai macam jus dari mulai; mangga, jeruk, apel dan alpukat.


"Appaga eobs-eoseo mianhae." ("Mohon maaf tidak ada Bapak.") jawab sang pelayan sambil membungkuk sopan.


"Gomabseubnida, ajumeoni. hajiman joesonghabnida... jega jumunhaji anh-assseubnida." ("Terima kasih, Mbak. Tapi maaf ... saya nggak jadi pesan.") Rama memberikan buku menu tersebut, kemudian pamit untuk keluar dari sana bersama Sisil.


"Nggak ada, Om?" tanya Sisil yang sejak tadi tak mengerti dengan apa yang Raam bicarakan dengan sang pelayan restoran.


"Nggak ada, Dek. Hanya ada mie goreng, nasi goreng sama kwetiau. Mau kamu?" tawar Rama seraya membukakan pintu mobil untuknya.


"Nggak mau." Sisil menggeleng, kemudian masuk ke dalam mobil.


Gegas Rama pun ikut masuk dan mobil itu pun kembali melaju ke restoran lain.


'Semoga selanjutnya ada,' batin Rama penuh harap.

__ADS_1


...rencananya sih mau sampai pagi aku bikin Om sama Sisil keliling nyari ketoprak 🤣 gimana dong 🙈...


__ADS_2