Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
68. Obat kuda


__ADS_3

Rama memejamkan mata, lalu membatin dalam hati mengucapkan do'a untuk niat berhubungan badan. Dia juga berharap, semoga diberikan kelancaran.


"Om mau ngapain? Aku ...." Ucapan Sisil terhenti kala dirinya mendapat kecupan dibibir manisnya.


Cup~


Dan kecupan itu berlanjut menjadi sebuah pagutan. Perlahan kedua tangan Rama meraih kedua dada yang membusung di depannya, lantas dia remmas secara perlahan.


Sisil membulatkan matanya saat merasakan sentuhan itu, apalagi ditambah sebuah cubitan kecil pada puncak dadanya. Itu seketika membuat tubuhnya meremang tak karuan.


'Kenapa dia kembali menciumku? Kan aku sudah bilang nggak mau bercinta.' Batinnya masih menolak, akan tetapi tubuhnya yang sudah memiliki birahi tinggi membuatnya seketika membeku. Seolah pasrah menerima sentuhan yang dia dapatkan dari Rama.


Rama yang cukup handal dalam berciuman tentu membuat Sisil sedikit melunak. Awalnya dia diam saja, tapi lama-lama membalasnya dengan tipis-tipis.


'Dek, Dek, awal-awal saja kamu nggak mau, ya? Tapi ternyata kamu mau,' batin Rama. Respon yang dia dapatkan tentu membuatnya senang, jadi makin semangat dia memberikan pemanasan. Supaya Sisil benar-benar luluh dan mau untuk diajak bercinta.


"Eeuugh!" Sisil melenguh dalam ciumannya dan terdengar begitu seksi. Dia melakukan hal itu refleks sebab remasan Rama semakin kasar namun terasa lebih enak.

__ADS_1


Bibir Rama mulai turun, lidahnya menjulur dan menjilati pipi lalu telinga. Kemudian turun lagi ke leher, perut hingga akhirnya dia sampai pada salah satu puncak dada.


"Aahh!" Satu dessahan itu lolos dengan sempurna. Kedua matanya membulat ketika melihat Rama seperti bayi yang kelaparan, terus menyesap tiada henti dan berpindah-pindah dari satu dada ke dada yang lain. "Om ... eemm ...." Sisil mengigit bibir bawahnya, menahan untuk tidak mengeluarkan suara sebab dia merasa malu.


Matanya mendadak terasa sayup. Dia mulai merem melek. 'Apa yang Om Rama lakukan?! Kenapa dia seperti bayi?! Dasar bayi tua! Kan nggak ada airnya! Mesum sekali dia, bahkan sangat ....'


Bola mata Sisil sontak membulat sempurna sebab sentuhan lidah dan bibir pria itu kini mulai turun. Rama benar-benar menjilati setiap lekukan tubuhnya hingga sampai dimana kedua paha itu dia buka lebar-lebar, kemudian menenggelamkan wajahnya ke sana.


"Oohhh!" Sisil terkejut. Namun selang berikutnya dia hanya bisa mendessah, sampai sesuatu di dalam sana terasa ingin meledak. Sudah tak tahan lagi. "Om! Aku mau pipis, Om! Lepaskan!" Sisil menjambak rambut Rama supaya menghentikan aksinya.


Namun bukannya berhenti, Rama justru makin semangat. Dia menyesap sarang itu semakin kuat hingga banjir. Sisil berhasil meraih pelepasan yang pertama dan untuk pertama kalinya juga, dia merasakan itu.


"Enak, Dek. Sarangmu manis sekali, apalagi kejunya," kekeh Rama saat sudah puas menghisap seluruh pelepasan itu. Dia lantas menarik tubuhnya, lalu berancang-ancang sembari mengurut senjata pamungkasnya yang sudah mengeras itu. "Aku masuk ya, Dek? Sekarang giliran kamu yang dapat keju dariku," ucapnya meminta izin, lalu perlahan mulai menempelkan kepada sarang yang sudah merah merekah di depannya.


Sisil hanya diam dan memandangi wajah Rama. Dahi putih yang berkeringat juga dengan perut kotak-kotaknya seakan membuat Sisil terkesima.


Tanpa sadar dia mulai meraba-raba dan disaat itu pula Rama pelan-pelan mulai melakukan penyatuan.

__ADS_1


"Aahh!" desah Sisil. Itu baru setengah, kemudian pria itu mulai mendorongnya hingga terbenam sempurna. "Sa-sakit!" Sisil meringis. Terasa sedikit perih dan sangat penuh mengisi sarangnya. Akan tetapi Rama justru merasa bahagia sekali, sebab sudah berhasil masuk tanpa penolakan.


"Hanya sebentar, Dek, sakitnya. Tahan ... nanti juga enak," ujar Rama dengan lembut. Pelan-pelan dia pun mulai menggoyangkan pinggulnya. Kemudian memaju mundurkannya. 'Padahal sudah dua kali kita bercinta, tapi masa kamu bilang sakit? Apa ini tandanya burungku makin besar?! Atau mungkin karena efek obat kuda dari Mommy?'


"Ah! Ah! Ah!" desah Sisil dengan tubuh yang terguncang, kedua tangannya itu langsung Rama pindahkan ke arah bahunya. Lalu Sisil mengalungkannya dan menarik tubuh Rama hingga bibir keduanya saling menempel.


Cup~


"Enak, Dek?" tanya Rama. Dia agak terkejut dengan apa yang Sisil lakukan. Jelas gadis itu yang duluan mendorongnya.


Bukannya menjawab, Sisil justru melummat bibir Rama dengan kasar lalu memejamkan mata.


Sepertinya dia sudah benar-benar menikmati, dan tiba saatnya untuk Rama memuaskan malam pengantin mereka. Dia juga ingin mengetahui segimana perkasa dan tahan lamanya obat kuda itu.


Apakah bisa sampai 1 atau 2 jam? Atau bahkan 10 dan bahkan sampai pagi? Entahlah, yang terpenting keduanya bisa sama-sama puas.


...Jujur, ya, ini bab panas nggak, sih? Aku bikinnya sampai ngantuk" soalnya 😆...

__ADS_1


...Yuk komen dan likenya dibanyakin! Biar semangat! Author paling ga suka sama orang yang pelit ngasih jejak! 😏...


__ADS_2