
"Dih, Daddy kok bisa lihat bokongnya Sisil?" tanya Yenny dengan wajah yang seketika merah. Matanya langsung melotot. "Jangan bilang Daddy pernah ngintip saat dia mandi?!"
"Nggaklah," bantah Mbah Yahya sambil menggelengkan kepala. "Daddy tahu itu karena Rama yang memberitahu."
"Bener, Ram?" Yenny menatap Rama penuh selidik. Anaknya itu langsung mengangguk cepat. "Syukur deh." Mengelus dadanya dengan helaan napas lega.
"Mommy sampai berpikir yang tidak-tidak. Sekarang Mommy mau telepon butik langganan Mommy, besok kita harus pakai batik couple biar serasi." Yenny meraih ponselnya di atas meja.
"Yang pakai batik kalian berdua saja, aku nggak usah," tolak Rama.
"Kenapa?" tanya Yenny heran. "Kan biar serasi, kita 'kan satu keluarga. Mommy juga rencananya mau ajak Mbak dan Kakak iparmu, sama si kembar juga. Jadi kita sama-sama pakai batik."
"Aku mau pakai jas atau jaket saja," jawab Rama. Menurutnya, jika pakai batik nanti dia akan terlihat tua. Rama tidak mau kalau nantinya karena itu, akan membuat Sisil berubah pikiran. "Dan kita datang ke sananya nggak usah serombongan. Cukup aku, Mommy dan Daddy saja."
"Tapi Mbak sama keponakanmu pasti kepengen lihatlah, calonmu, Ram." Mungkin kalau adiknya Rama ada di Indonesia, Yenny ajak juga. Sayangnya dia sedang sekolah diluar negeri.
"Lihatnya nanti saja, kalau pas aku sama Sisil menikah, Mom," jawab Rama.
"Eemm ... ya sudah deh," jawab Yenny mengalah.
***
Keesokan harinya di apartemen Gugun.
Pria berkumis tipis itu tengah berdiri sambil menuangkan dua bungkus nasi uduk di atas kedua piring pada meja makan. Untuknya dan Sisil. Dia membelinya di dekat apartemen.
__ADS_1
Setelah itu, barulah Gugun menuju meja dapur untuk membuatkan kopi hitam dan susu putih.
"Ah Kakak." Sisil tiba-tiba saja datang dan langsung menyerobot dua gelas di tangan Gugun. Yang sudah berisi kopi instan dan susu. "Kan aku sudah bilang beberapa kali, kalau buat kopi, biar aku saja."
Memang biasanya Sisil yang mau sendiri, atau terkadang Gugun yang menyuruhnya. Tetapi semenjak Sisil mengalami stress akibat nasib yang menimpanya, Gugun jadi tak berani untuk menyuruhnya apa-apa.
Melihat dia bisa kembali makan dan minum seperti biasa saja itu sudah cukup menurutnya.
"Maaf, Kakak kira kamu lupa untuk membuatkan Kakak kopi setiap pagi," jawab Gugun seraya mendekat ke arah meja makan. Lalu menarik salah satu kursi dan duduk. Dia juga memperhatikan adiknya dari atas sampai bawah.
Gadis itu memakai celana jeans panjang berwarna abu-abu dan baju Sabrina berwarna merah maroon. Kalau sudah memakai celana jeans, pasti gadis itu akan keluar.
"Mau ke mana kamu, Sil?" tanya Gugun.
"Kamu hari ini jangan kuliah dulu. Kakak juga masuk kantornya nanti siangan," pinta Gugun. Adiknya itu melangkah mendekat, lalu menaruh dua gelas di atas meja dan menarik kursi untuk duduk.
"Memang kenapa?"
"Pagi ini Pak Rama dan orang tuanya akan datang. Kakak juga sudah belikan kamu dress brokat di sofa, nanti kamu ganti baju dan pakai itu." Gugun mulai melahap satu suapan, begitu pun dengan Sisil.
"Aku sama Om Rama menikah hari ini?" tanya Sisil. Tiba-tiba saja jantungnya itu berdegup kencang.
"Pak Rama dan orang tuanya datang mau melamarmu, sebelum kalian menikah."
"Lha, ngapain pakai melamar segala?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Sil."
"Tapi lebay banget, Kak. Kan aku juga mau menikah sama dia, ngapain pakai melamar segala? Kan tujuannya sama."
"Pak Rama yang meminta. Mommy Pak Rama juga bilang ... dia mau ketemu kamu dulu, sebelum kalian menikah," jelas Gugun.
'Ah lebay banget si Tua Bangka Rama,' batin Sisil kesal.
"Habis sarapan kamu ganti baju, ya? Terus dandan yang cantik," pinta Gugun.
"Aku sudah dandan kali, Kak. Dan kalau pun nggak dandan, aku 'kan memang sudah cantik dari lahir," ucapnya dengan pede seraya membereskan rambut.
Gugun memperhatikan wajah adiknya. Memang benar dia sudah dandan, tapi menurut Gugun terlalu natural dan biasa. Hanya lipstik berwarna pink serta polesan bedak dan itu pun begitu tipis.
Sisil memang kalau pergi kuliah atau main selalu bermake-up seperti itu, kecuali kalau menghadiri pesta. Dan sebenarnya—dia paling tidak suka dengan riasan tebal. Menurutnya itu membuat berat di wajahnya.
"Kakak maunya kamu pakai full make up, pakai bulu mata dan bola-bola berwarna pink di pipi," pinta Gugun. Yang dia inginkan, penampilan Sisil saat bertemu keluarga Arya kemarin sama dengan saat bertemu keluarga Rama. Karena yang dia lihat, setiap kali bertemu Sisil—Rama selalu tampil sempurna. Jadi adiknya juga harusnya memang tampil sempurna, apalagi di depan orang tua Rama.
"Lebay sih, Kak. Memangnya aku mau pergi ke pesta? Kan cuma mau ketemu si Tua Bangka doang."
"Berhenti panggil dia Tua Bangka, namanya Rama," tegur Gugun. "Kan nanti bukan hanya Pak Rama saja yang datang, tapi orang tuanya juga. Kamu musti tampil cantik dan sopan di depan mereka, Pak Rama dan orang tuanya itu orang kaya, Sil."
"Nanti mereka akan merendahkan aku lagi, Kak? Bertanya Kakak punya mobil berapa, kerja apa, aku dikasih warisan nggak. Sama seperti orang tua Kak Arya." Sisil pun langsung teringat ucapan keluarganya Arya, dan seketika dia merasa sakit hati.
...Kalau merendahkan sih kayaknya, ga, ya🤔 cuma mungkin perkataannya absurd aja kali, apalagi Daddy mertuamu 😆 semoga ga disembur kamu ya, Sil, hati-hati ngomongnya nanti. Jangan sampai menyakiti anaknya 🤭...
__ADS_1