Nafsu Semalam Pria Impoten

Nafsu Semalam Pria Impoten
35. Alasan saja


__ADS_3

Rama mengelus-elus punggung Sisil dengan lembut. Perlahan dia mengendus aroma rambut dan tubuhnya dan tanpa sadar, miliknya dibalik celana langsung mengeras sempurna.


'Burungku bangun lagi?' batin Rama.


Citra berdiri dari duduknya. Bola matanya langsung membulat kala melihat temannya itu berpelukan dengan Rama. Agak heran juga rasanya, mengingat dengan sepenggal cerita yang diungkapkan Sisil barusan.


'Kok mereka pelukan? Katanya Om Rama yang memperkosa Sisil?' batin Citra bingung.


"Kak! Keluarga Kak Arya menolakku. Papanya mengatakan aku harus sadar diri. Lalu, bagaimana sekarang, Kak? Hiks ... hiks," lirih Sisil sambil menangis.


Rama mengernyitkan keningnya mendengar Sisil memanggilnya dengan sebutan Kakak. 'Lho, apa jangan-jangan dia menganggapku Kak Gugun?' batin Rama bingung. 'Kata Tirta aku mirip aktor Korea, kok malah jadi mirip Kak Gugun, sih? Tapi aku 'kan nggak berkumis."


"Aku nggak bisa menikah dengan Kak Arya, Kak. Padahal aku sangat mencintainya," tambah Sisil sambil mengeratkan pelukan. Sejadi-jadinya dia menangis, menumpahkan seluruh kesedihannya.


"Kan masih ada aku, Sil. Biar aku saja yang menikah denganmu."

__ADS_1


Jawaban dari Rama sontak membuat Sisil membulatkan matanya dengan lebar. Cepat-cepat dia melepaskan pelukan itu, lalu menatap wajah di depannya.


Seketika wajahnya itu menjadi pucat lantaran kaget. Dia juga tak menyangka jika dirinya bisa mengira Rama adalah Gugun.


Tetapi di sisi lain, Sisil melihat adanya perubahan dari wajah pria dewasa itu menjadi jauh lebih tampan. Semua itu dikarenakan potongan rambutnya.


'Dia Om Rama, kan? Tapi kok seperti ada yang beda dengan wajahnya? Tapi apa?' batin Sisil.


"Bagaimana, Sil?" tanya Rama memastikan. Gadis itu langsung terperangah, sebab sejak tadi dia melamun memperhatikan wajah Rama.


"Lho, kok jadi aku yang mesum?" Rama menunjuk wajahnya sendiri, dia tampak heran. "Kan kamu yang awalnya meluk aku duluan."


"Aku nggak meluk Om!" tampiknya seraya mengusap kedua pipinya yang basah.


"Ah kamu ini, selalu saja lupa. Pas kamu buka baju di depanku saja lupa dan sekarang, baru tadi meluk udah menampiknya. Kamu mabuk lagi?" Rama melangkah mendekat, tangan kanannya yang memegang buket bunga hendak meraih pipi kanan Sisil. Tetapi gadis itu menghindar.

__ADS_1


"Enak saja kalau bicara! Om kira aku cewek murahan apa, buka-buka baju. Itu Om kali yang buka bajuku. Mangkanya aku diperkosa!" tuduhnya.


"Tapi itu kenyataannya, Sil. Andai saja ada videonya, pasti kamu sendiri kaget," ucap Rama sambil menghela napas. "Ah ini, aku mau mengantarkan jas untuk Kak Gugun," Perlahan dia mengulurkan apa yang dia pegang ke arah Sisil.


Yang gadis itu ambil hanya dua paper bag saja, kalau bunga tidak dia ambil. Bahkan melihatnya pun hanya sekilas.


"Jas untuk Kakak?" Kening Sisil mengernyit. "Ngapain ngasih jas segala? Oh ... Om mau nyogok Kakakku pasti, supaya dia mau menuruti permintaan Om, ya?" tebaknya dengan masam.


Rama menggeleng cepat. "Mana ada aku begitu. Aku ngasih jas karena kemarin Daddyku pinjam jas Kak Gugun, jadi aku menggantinya dengan yang baru," jelasnya.


"Alah, alasan saja Om ini." Sisil mencebikkan bibirnya. Terlihat jelas jika dia sama sekali tak percaya dengan ucapan pria di depannya.


"Aku berani bersumpah, Sil. Dan ini ... aku juga beli bunga untukmu. Tolong diterima, aku mohon ...," pinta Rama sambil tersenyum manis. Dia melangkah makin mendekat untuk memberikan bunga violet di tangannya. Berharap jika Sisil mau menerimanya.


...Ga usah jual mahal napa, Sil 😏...

__ADS_1


__ADS_2