
"Kita bicara didalam saja, Pak, biar enak," ujar Gugun. Mbah Yahya langsung mengangguk.
*
*
Ceklek~
Gugun melebarkan pintu apartemennya saat mereka telah sampai. Keduanya lantas masuk bersama-sama dan dia menutup pintunya kembali.
"Bapak mau kopi nggak?" tawar Gugun. Tanpa dipersilahkan Mbah Yahya sudah duduk di sofa single.
"Iya. Kopi hitam tanpa gula," sahut Mbah Yahya.
Gugun pun mengangguk, kemudian melangkah menuju dapur. Melihat itu, Mbah Yahya pun langsung menggosok batu akiknya. Kemudian memejamkan mata sambil berkomat-kamit.
Sekitar 5 menit, terdengar suara derap langkah. Gugun lah yang datang dengan membawa dua cangkir kopi. Untuknya dan Mbah Yahya. Setelahnya, dia pun menyajikan di atas meja. Dan Mbah Yahya perlahan membuka mata.
"Bapak ngantuk apa gimana?" tanya Gugun bingung sembari menatap Mbah Yahya.
"Nggak kok. Aku kepengen kacang, Gun, buat cemilannya. Ada nggak?"
"Aku beli di warung dulu ya, Pak."
"Kalau beli di warung mah nggak usah deh!" seru Mbah Yahya. Ucapannya menghentikan Gugun yang hendak melangkah.
"Kenapa memangnya? Kacang di warung juga enak, Pak."
"Bukan masalah enak nggaknya. Tapi takutnya lama. Aku ingin cepat ngobrol denganmu. Ayok duduk." Mbah Yahya menepuk sofa panjang di sampingnya.
"Oh, ya sudah." Gugun mengangguk kemudian melangkah menuju sofa, lalu duduk di sana.
__ADS_1
"Beritahu dulu kenapa kamu ke kantor polisi? Urusanmu dengan Rama 'kan sudah beres, Gun."
"Sudah kok, Pak. Tapi aku ke kantor polisi punya urusan lain," jawab Gugun.
"Urusan lain apa?!" tanya Mbah Yahya kepo.
Gugun menghela napasnya, lalu meraih secangkir kopi di atas meja dan menyeruputnya sedikit. Penat sekali dia hari ini. Sudah sibuk dengan urusan di kantor, ditambah berurusan dengan Tuti.
"Ini tentang asisten pribadinya Rama, Pak. Aku terpaksa melaporkannya ke polisi karena dia sudah sangat kurang ajar kepadaku," ucapnya dengan mimik kesal. Masih ada dendam di dalam hati, mengingat apa yang telah Tuti lakukan padanya.
"Kurang ajar gimana? Bukannya kata Tuti ... kamu yang ingin melecehkannya?" Mbah Yahya terheran-heran.
"Dih, Pak, aku meskipun sudah lama jomblo ... tapi nggak homo!" tegas Gugun. Perkataan Mbah Yahya seolah menyinggung dirinya. 'Apa-apaan si Tuti bencong? Sudah mengadu terus memfitnahku lagi. Dasar gila!'
"Apa urusannya dengan homo, Gun?"
"Ya itu, kenapa Bapak tiba-tiba memfitnahku? Meskipun Tuti berdada besar ... tapi aku masih bisa membedakan, mana laki-laki dan perempuan. Lagian ... dadanya juga pasti pakai silikon," hardik Gugun.
"Bukan ragu lagi, tapi aku yakin seratus persen kalau dia itu pria. Tapi dia terobsesi menjadi perempuan mangkanya suntik silikon!" jelas Gugun dengan yakin.
Zaman sekarang memang marak sekali, perempuan yang berubah menjadi laki-laki. Sedangkan laki-laki berubah menjadi perempuan. Maka dari itu, Gugun sampai berpikir Tuti adalah kaum LGBT.
"Tapi Tuti itu perempuan tulen, Gun." Meskipun Mbah Yahya sering mencibir Tuti sebagai wanita jadi-jadian, tapi sesungguhnya dia memang percaya—kalau gadis itu benar-benar perempuan asli. Rama juga tak mungkin berbohong, saat dirinya selalu membela Tuti yang dia anggap sebagai adik perempuannya.
Gugun terkekeh. Dari ekspresi wajahnya terlihat jelas jika dia tak percaya dengan apa yang Mbah Yahya katakan.
"Aku jujur, Gun. Kalau kamu nggak percaya ... tanya saja sama Rama. Tuti bekerja dengannya cukup lama dan nggak mungkin Rama mempekerjakan bencong."
"Aku akan membuktikan sendiri nanti, pas dia dipanggil polisi dan diperiksa, Pak," ujar Gugun. "Lalu, apa tujuan Bapak datang ke sini? Apa yang ingin diobrolkan? Apa tentang Rama?"
"Aku ke sini justru ingin membahas tentang Tuti padamu. Dan aku ingin kamu jujur, Gun. Apa benar ... kamu berniat melecehkannya?" Mbah Yahya menatap lekat wajah dan bola mata pria di depannya. Dia ingin menelisik, jawaban Gugun jujur atau tidak.
__ADS_1
"Tadi bukannya aku sudah katakan, kalau aku ini pria normal, maka dari itu aku sama sekali nggak berniat melecehkannya, Pak!" jelas Gugun apa adanya.
"Tapi pas awal ketemu, kenapa kamu justru membuka kancing kemejamu, Gun? Mau apa?" tanyanya lagi.
"Itu karena aku ingin mengintip puncak dadaku, Pak."
"Kenapa diintip? Dan kenapa harus mengintipnya saat ada Tuti yang menumpang ngumpet?" tanya Mbah Yahya. Dia harus menimbang-nimbang pendapat mereka berdua. Mungkin, dia bisa memberikan jalan keluar. Supaya Gugun tak disantet dan Tuti tak masuk penjara.
"Itu karena aku nggak sengaja lihat dadanya yang gede. Wajar juga menurutku ... aku heran sama bentuk dadanya yang besar sedangkan dia seorang laki-laki. Terus, refleks aku mengintip dadaku, sambil memikirkan bagaimana bisa ... laki-laki disuntik silikon?!" Ini bukan pertanyaan, akan tetep Gugun bertanya-tanya.
"Terus pertemuan keduanya, kenapa kamu memberikan jas sama Tuti?"
"Lho, aku ketemu Tuti hanya dua kali, Pak," sahut Gugun. 'Dan kedua kalinya itu pas kemarin, pas dia bilang ingin menemuiku tapi kita sempat berantem."
"Yang kamu mau nonjok dia terus akhirnya merobek kemeja?" tebak Mbah Yahya, Gugun mengangguk.
"Aku mau nonjok dia karena mau balas dendam saja, karena pas pertama bertemu dengannya, dia sempat menonjokku, Pak. Dan soal kemeja robek ... itu karena aku refleks memegangnya. Aku takut dia kabur sebelum aku memberikannya pelajaran," jelas Gugun apa adanya.
Mbah Yahya terdiam sejenak. Mendengar penjelasan dari Gugun dan Tuti, bisa disimpulkan jika mereka hanya salah paham. Akan tetapi, sekarang dia merasa bingung, bagaimana caranya untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini?
"Gun, sepertinya kamu dan Tuti hanya salah paham. Sebaiknya kalian bertemu saja di rumahku. Kita obrolkan dan ambil jalan perdamaian," saran Mbah Yahya. Mungkin dengan begitu, semuanya bisa diluruskan.
"Aku nggak mau." Gugun menggeleng cepat. Dia akan teguh pada pendirian apalagi sudah melaporkan Tuti ke polisi. "Aku tahu kok, Bapak ngomong seperti itu karena Tuti itu asisten pribadi Rama, kan? Jadi Bapak membelanya." Gugun mendengkus. "Asal Bapak tau saja ... dia itu sudah menonjokku dua kali dan menamparku sekali!" tegas Gugun lalu menyentuh wajahnya. Memarnya memang masih ada meskipun terlihat agak samar.
"Biar nanti aku obati, Gun. Atau aku belikan salep yang ampuh untuk menyembuhkannya."
"Bukan masalah mengobati, Pak. Tapi ini adalah tentang harga diri." Gugun menepuk dadanya dan terlihat dia mulai emosi. "Meskipun aku bukan orang kaya, tapi seseorang nggak bisa semena-mena kepadaku. Enak saja aku ditonjok tapi diam saja, kalau sekali sih aku masih menerima. Tapi ini dua kali dan sekali tamparan. Ini sudah masuk dari kekerasan!" tegasnya.
Mbah Yahya memijat dahinya. Mendadak dia pening. 'Kurasa dua-duanya memang gila sih ini. Padahal semuanya hanya salah paham. Tapi yang satu kekeh pengen nyantet dan yang satu pengen lapor polisi. Lama-lama aku kerjain dua-duanya!' gerutu Mbah Yahya dengan hati dongkol.
...Kalian pada setuju enggak sih, kalau Om Gugun dijodohin sama Tuti? 🤣Atau kepengen sama perempuan lain aja, Gisel misalnya?🙈...
__ADS_1
...Tolong jawab dikomentar, ya! Apa pun saran kalian aku terima soalnya aku sendiri masih bingung 😆...