
"Lho, kenapa ditutup, Dek?" tanya Rama heran saat pandangannya berubah jadi gelap. Padahal sejak tadi dia tengah menatap seorang pria gendut yang sedang menggaruk-garuk pantaat di depannya.
"Aku pengen Om melihat ke arahku bisa nggak?" tanya Sisil.
"Melihat ke arahmu? Memangnya ada apa, Dek?" Kepala Rama sudah menoleh, akan tetapi Sisil belum melepaskan tangannya dari mata Rama. "Lepasin dong, gimana cara aku lihat kalau gelap begini, Dek."
Sisil perlahan menarik tangannya dan pandangan mata mereka langsung bertemu. Wajah gadis itu langsung merah merona. "Om nggak boleh noleh ke mana-mana, cukup lihatnya ke arah aku saja, ya, pokoknya sampai kita pulang dari sini."
"Memangnya kenapa?"
"Pokoknya aku mau Om hanya lihat aku saja, nggak boleh ke mana-mana!" tegas Sisil. Bibirnya sudah mulai mengerucut dan itu seketika membuat jantung Rama berdebar kencang.
Bukan karena terpesona, tapi karena dia takut. Baru tadi Sisil selesai marah, masa iya sekarang marah lagi? Tidak lucu sekali menurutnya.
"Aku nggak bisa dikasih tau alasannya?" Rama masih tampak bingung. Lagi-lagi sikap Sisil terasa aneh.
"Memangnya Om nggak suka, ya, kalau lihatin ke aku terus? Om bosen sama aku? Kan aku cantik Om," kesal Sisil.
"Iya kamu cantik. Bahkan sangat cantik. Tapi nanti aku jalannya gimana kalau kepalaku nggak bergerak, Dek? Nanti tersandung."
"Kan ada aku. Biar aku yang bantu jalan, asal Om terus memandangiku, ya?"
Rama mengangguk, dia pun maju beberapa langkah sebab Sisil menarik lengannya. 'Mulai lagi nih si Sisil. Kenapa lagi dia? Semoga saja aku nggak buat kesalahan deh, aku nggak mau kita terus menerus berantem.'
Setelah membayar tiket seharga 10.000 won perorang atau setara dengan Rp. 121.000 lebih, mereka pun langsung masuk ke dalam gerbang.
Di sepanjang jalan menuju bangunan yang mirip menara itu, banyak sekali beberapa gembok cinta yang mengait pada pagar besi pembatasnya. Para pengunjung boleh menaruh di manapun gembok cinta yang mereka bawa sesuka hatinya, asalkan kuncinya tidak dibuang sembarangan. Sebab sudah ada tempat yang dikhususkan.
"Gemboknya dipasang di sini, Om?" tanya Sisil sembari menatap beberapa pengunjung yang sibuk mengaitkan gembok yang mereka bawa. Kemudian banyak pula yang berfoto.
"Sepertinya iya, Dek, ayok kita pasang," ajak Rama. Dia yang masih menatap Sisil perlahan mengajaknya berjalan lebih dekat ke arah pagar besi tersebut. "Kita pasangnya bareng-bareng, Dek." Meraih tangan Sisil yang sudah memegang gembok, kemudian bersama-sama mereka pun mengaitkan pada besi tersebut. Di samping gembok-gembok yang lain.
"Semoga saja pernikahan kita abadi ya, Dek, karena aku baca di artikel ... katanya dulu ada pasangan yang naruh gembok di sini, terus pernikahan dan cinta mereka abadi," ucap Rama.
"Amin," jawab Sisil sambil mengusap wajahnya. "Tapi pernikahan kita sih tergantung Om itu mah, mau abadi nggaknya."
"Maksudnya bagaimana?" tanya Rama dengan kening yang mengernyit.
"Ya kalau Omnya selingkuh mana mungkin bisa abadi. Kan di sini Om yang genit sama cewek lain." Bibir Sisil langsung mengeriting.
__ADS_1
"Mana mungkin aku genit, nggaklah." Rama terkekeh, lalu menggeleng cepat.
"Excuse me, I'm a photographer. Do you want to hire a service to capture the moment?" tanya seorang pria bule yang baru saja mendekat ke arah mereka. Dia membawa sebuah kamera dan mengatakan seorang fotografer.
Dia datang untuk menawarkan diri mungkin saja Sisil dan Rama ingin menyewa jasanya.
Rama refleks menatap ke arahnya, sebab pria itu juga sempat menepuk pundaknya. "Kamu mau sekalian foto-foto nggak, Dek? Dia seorang fotografer soalnya," ucap Rama kemudian berpindah menatap Sisil.
"Terus?"
"Ya kalau mau kita bisa sewa dia, pasti nanti foto-foto kita jadinya akan lebih bagus. Buat kenang-kenangan juga, kan?"
"Boleh deh." Sisil mengangguk. Hal-hal yang menurutnya seru tidak mungkin ditolak. "Tapi nanti fotonya langsung jadi apa gimana? Aku maunya fotonya dikirim ke hape saja, Om. Nanti bisa kutunjuk ke Citra dan Kakak."
"Sebentar." Rama menatap kembali ke arah fotografer itu kemudian berbicara dalam bahasa Inggris. "Can the photos be sent to my cell phone, Sir?"
Selain bahasa Korea yang Sisil tak mengerti, Inggris pun sama saja. Jadi mendengar Rama yang cukup fasih dalam berbagai bahasa, dia merasa kagum sendiri.
"Of course, Sir," jawab bule itu sambil menganggukkan kepala.
"Bisa katanya, Dek," ucap Rama memberitahu.
Setelah itu mereka pun mulai berfoto, mencari-cari tempat yang cocok dan berpose sesuai arahan dari sang fotografer.
Lagi-lagi, seorang fotografer meminta pose mereka berciuman. Namun Sisil menolaknya, dengan dalih malu.
Setelah itu mereka pindah tempat. Rama juga mengajak sang istri untuk naik ke atas tower, pasti akan banyak pemandangan indah di sana dan cocok untuk berfoto.
Sisil menurut saja, dan fotografer itu ikut naik ke atas sana melalui lift.
Saat sudah sampai di atas, rupanya di sana juga ada beberapa gembok cinta yang menempel pada pagar besi yang dilapisi kaca. Kaca tersebut adalah pembatasnya dan lantai yang mereka injak ternyata lantai kaca juga, sehingga bisa melihat dari bawah sana.
"Masya Allah.. indah banget pemandangannya, Dek," ucap Rama menatap takjub. Ada gunung namsan di sana. Juga beberapa pohon bunga sakura.
Salju yang masih turun itu membuat daya tarik tersendiri, sehingga selain terasa makin dingin, pemandangan pun makin indah.
"Let's take another picture, Sir," ujar pria bule yang mengajak Rama untuk kembali berfoto.
"Ayok kita ...." Ucapan Rama terhenti diujung bibirnya kala tiba-tiba Sisil memeluknya dengan erat. Dapat dia rasakan juga tubuh itu bergetar hebat. "Lho, Dek, kenapa kamu?" tanyanya heran seraya ikut memeluk, lalu mengusap punggung Sisil.
__ADS_1
"Aku takut, Om, aku mau turun dari sini," pinta Sisil. Wajahnya pun langsung bersembunyi dibalik jaket yang Rama dan mendadak kepalanya terasa pusing.
"Takut? Takut kenapa? Memangnya di sini ada setan?" tanya Rama heran.
"Aku kayaknya takut sama ketinggian deh, Om. Kepalaku ikut pusing dan perutku ...." Sisil menyentuh perutnya yang tiba-tiba bergejolak dan sakit. "Wwuueekkk!" Cepat-cepat dia membungkam bibirnya sendiri, sebab takut muntah ditubuh Rama.
"Oh kamu takut, ya sudah ayok kita turun." Rama cepat-cepat membawa Sisil menuju lift, sang fotografer pun ikut. Kemudian mereka turun ke lantai.
"Om, aku pengen muntah banget rasanya. Udah nggak kuat." Sisil masih membungkam bibirnya, wajah pun seketika memerah sebab menahan isi perut yang belum berhasil dia keluarkan. Rasanya begitu menyiksa.
"Muntah saja disini, Dek, jangan ditahan." Rama melepas jaket kulitnya, kemudian mengarahkan ke bibir Sisil. "Muntahkan di sini."
"Uueekk! Uuueekk!" Akhirnya, Sisil berhasil memuntahkan isi di perutnya.
Rama tidak masalah jika jaketnya lah yang menjadi korban, itu lebih baik daripada Sisil mengotori tempat wisata itu dan mendapatkan denda. Sebab sudah ada tulisan tentang dilarang mengotori dan membuang sampah sembarang.
Dendanya pun bukan hanya berupa uang, tapi diminta untuk membersikan halaman pada area pintu masuk.
"Maaf ya, Om, jaket Om jadi kotor karena ulahku. Padahal sekarang sangat dingin," ucap Sisil dengan perasaan bersalah. Apalagi melihat Rama hanya memakai singlet berwarna hitam, hingga menampilkan otot-otot lengannya yang begitu kekar.
"Nggak apa-apa, Dek. Jaket 'kan bisa beli lagi, daripada kamu nggak ketahan tadi." Rama tersenyum dengan santai.
Setelah sampai ke lantai dasar, dia pun mengajak Sisil mencari toilet terdekat. Mereka berpisah dengan seorang fotografer tadi, sebab dia tak mungkin juga ikut mereka ke toilet.
"Kamu masuk gih, aku tunggu di sini, ya?" ucap Rama saat sudah sampai dan menunjuk toilet umum wanita di depannya. Disebelah tempat itu ada tong sampah besar, Rama berjalan beberapa langkah kemudian membuang jaket seharga 10 jutanya itu ke dalam sana.
"Kok dibuang, Om? Kan masih bisa dicuci?" tanya Sisil. Wajahnya tampak sedih melihat benda itu dibuang. Padahal sejujurnya dia juga merasa jijik pada bekas muntahannya sendiri.
"Biarkan saja, Dek, lagian aku punya jaket itu sudah lama. Perlu diganti," jawab Rama. "Udah sana kamu masuk, kumur-kumur sekalian basuh wajah biar kelihatan fresh."
"Aku mau ditemenin, Om, masuknya," pinta Sisil sembari menoleh ke kanan dan kiri. Mengamati situasi yang menurutnya cukup sepi itu. Melihat otot-otot dilengan sang suami, membuatnya sejak tadi jadi resah dan gelisah. "Kepalaku juga masih sakit, Om, takutnya aku terpleset gimana?" tanyanya seraya menyentuh kepalanya yang masih terasa kunang-kunang. Namun sekarang, suaranya terdengar seperti merengek dengan nada manja.
"Tapi itu 'kan toilet wanita, Dek, mana boleh aku masuk?" tanya Rama dengan ragu. Dia menatap pintu.
"Mumpung sepi, Om, mangkanya ayok!" Sisil langsung mendekat ke arah Rama. Seperti orang yang tak sabar, dia gegas menarik lengan sang suami dan cepat-cepat masuk bersama ke dalam sana sebelum ada orang yang melihat.
...Katanya minta ditemenin, tapi kok maksa sih, Sil 😑...
Oh ya, ternyata banyak yang komplen tentang part-nya Om Gugun, nih, aku jadi bingung 😕 padahal udah kukasih tau dari bab awal kalau akan ada kisah dia juga, karena kan diantara kalian yang minta.
__ADS_1
Jadi gimana nih, Guys? Apa kisah Om Gugun dihilangin aja?
Yuk komen dan kasih pendapat kalian, pusing aku soalnya 🙈