
Fin ketar-ketir mencari keberadaan anaknya, dia masuk ke dalam toilet namun nihil Devin tidak ditemukan di dalam sana, Fin kemudian berlari menuju restoran di sana pun tak ditemukan sosok Devin, Fin bertanya kepada orang-orang yang ada di dalam restoran, mereka yang melihat Devin mengatakan kalau Devin keluar dari dalam restoran.
Fin mencoba untuk tenang dia menelepon salah satu bodyguard yang selalu mengikuti Fin kemanapun pergi, bodyguard tersebut masuk ke dalam Mall untuk mencari Devin serta meminta rekaman CCTV dari pengelolah Mall sementara Fin terus mencari di sekitar restoran.
Fin sudah frustasi bagaimana kalau Karina tahu bahwa anaknya hilang? Fin yakin Karina bukan hanya membatalkan pernikahan mereka saja tapi juga akan membunuh Fin, orang-orang yang tahu siapa Fin menatap kagum pria yang terlihat sedang panik itu.
"Devin maaf, Daddy bahkan tidak becus menjaga kamu" lirih Fin dengan kedua tangannya dia simpan di pinggang dan kepala menengadah ke atas.
Fin kembali mencari Devin di area lain Mall tersebut, namun saat kakinya akan melangkah pergi, sesuatu yang mengejutkan terdengar.
"Kepada saudara Fin Grahatama ditunggu oleh anaknya di sumber informasi, terima kasih" ucap seorang petugas informasi melalui pengeras suara.
Fin menengok ke kiri dan ke kanan saat mendengar pengumuman tersebut, pengumuman itu seperti oasis di gurun pasir bagi Fin, bahkan Fin tertawa bahagia saat mendengarnya.
Beberapa orang tertegun melihat tawa bahagia seorang Fin yang tidak pernah dia tunjukkan pada orang lain, Fin lupa kalau anaknya keturunan Grahatama yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Orang-orang di dalam Mall mulai heboh dengan pemberitahuan tersebut ternyata seorang Fin Grahatama telah memiliki seorang anak bahkan mereka yang melihat kepanikan Fin tahu seberapa besar kasih sayang seorang Fin kepada Anaknya.
Dua bodyguard bergegas pergi menuju sumber informasi, termasuk Fin yang berjalan dengan langkah lebarnya agar cepat sampai di tempat anaknya terlihat Devin sedang duduk di kursi panjang yang tersedia di sana.
"Daddy" pekik Devin saat melihat Ayahnya, dia berlari ke arah Fin sambil tersenyum bahagia.
Seketika hati Fin menghangat, dia merasa bahagia luar biasa, bahkan hanya dengan hal sederhana saat memenangkan sebuah tender besar pun Fin tidak pernah sebahagia saat anaknya memanggilnya dengan sebutan Daddy. Daddy, ya dia sepertinya mulai menyukai panggilan tersebut.
"Yes baby, Daddy di sini maaf" lirih Fin sambil membungkukkan tubuhnya kemudian membawa tubuh mungil Devin masuk ke dalam pelukannya, Fin membawa Devin keluar dari Mall dengan penjagaan dua bodyguard di sisi kanan dan kirinya.
##########
Saat sampai di apartemen mewahnya, Devin sudah tertidur pulas, Fin bawa tubuh mungil tersebut ke dalam gendongannya untuk dipindahkan ke dalam kamar Fin, dengan hati-hati Fin mengganti pakaian anaknya serta membersihkan kedua tangan dan kaki Devin, ini kali pertama Fin mengurus seorang anak kecil meski terkesan kaku namun Fin berhasil melakukannya.
Fin beranjak dari tempat tidur untuk pergi menuju ruang kerja pribadinya, banyak berkas yang harus dia cek setelah tadi hanya bekerja sampai siang hari. Fin memakai earphone nya untuk menghubungi Renal.
Saat panggilan tersambung Fin di suguhi omelan Renal.
"Apalagi?" tanya Renal kesal.
__ADS_1
"Ckk... sudah bosan kerja?" tanya Fin langsung.
"Bercandanya nggak ada akhlak!" seru Renal.
"Tagihan aku masih banyak bro! kamu paksa aku berhenti juga, aku nggak bakalan mau" lanjutnya lagi.
Fin merotasi bola matanya sambil mata tersebut sibuk membaca berkas-berkas kliennya, tangan Fin sendiri sibuk menandatangani berkas yang sudah final sementara telinganya fokus mendengarkan Renal, begitulah jeniusnya seorang Fin yang dalam satu waktu bisa mengerjakan semuanya secara bersamaan.
"Pindahkan Bibi Karin besok pagi ke rumah sakit Medistra, panggil juga ahli jantung terbaik di dunia untuk mengobati Bibinya," perintah Fin pada Renal.
"Cari juga pengasuh terbaik untuk Devin yang bisa menguasai segala bidang" lanjut Fin kembali sebelum Renal menjawab perintah sebelumnya.
"Siap Tuan" jawab Renal hormat.
"Apa dokumen untuk besok ke kantor catatan sipil sudah siap?" tanya Fin kembali.
"Sudah Baginda raja. Anda tinggal mempersiapkan stamina anda untuk memberikan Devin ad..." ucapan Renal terpotong karena Fin langsung mematikan panggilannya.
Renal terbahak setelah puas menggoda sahabatnya sementara Fin berdecak seperti biasanya saat mendengar jawaban absurd sahabatnya tersebut.
Fin melanjutkan pekerjaannya di dalam kamar dengan menggunakan MacBook miliknya, dia takut Devin bangun dan menangis karena mendapati dirinya sendirian di sebuah tempat asing, akhirnya Fin yang selalu dingin bisa peka saat dia sudah menjadi seorang Ayah.
"Abang tidak ingin menjelaskan ini?" isi dari pesan tersebut.
Ternyata berita Fin telah memiliki seorang putra telah tersebar keseluruhan penjuru negeri.
"Seperti yang kamu lihat Kiara, Abang akan kenalkan dia sama kamu besok" jelasnya pada Kiara.
"Aku tunggu penjelasan dari Abang besok, Abang juga harus bersiap karena sebentar lagi Opa pasti akan tahu" jelas Kiara pada Fin.
Fin menarik nafasnya dalam untuk menjadikan Karina sebagai istrinya Fin akan menemui banyak rintangan ke depannya terutama dari sang Opa yang selalu mengatur perihal perempuan yang akan menjadi istrinya, namun Fin tidak akan menyerah dia harus segera meresmikan status mereka.
############
Pagi ini Fin sudah rapi dengan setelan jas abu-abunya, penampilannya terlihat luar biasa tampan dengan rambut rapi ala Pomade, tidak kalah dengan Fin sang anak pun sudah dengan penampilan terbaiknya Devin memakai tuxedo yang senada dengan sang Ayah, mereka berdua terlihat sangat cocok saat jalan bersama melewati lorong rumah sakit dan seperti biasa mereka selalu jadi pusat perhatian.
__ADS_1
Rencananya hari ini Fin dan Karina akan pergi ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka, tangan sebelah kanan Fin menuntun Devin sementara tangan sebelah kirinya menjinjing paper bag dengan brand ternama yang berisi gaun simple untuk Karina pakai.
Fin mengantar Devin untuk bertemu dengan Karina sebelum Fin memperkenalkan Karina dan Devin pada Kiara sang adik.
"Mommy" pekik Devin bahagia saat melihat Ibunya.
Karina yang tengah duduk di atas kursi roda dengan posisi membelakangi pintu masuk langsung membalikkan badannya untuk menyambut tubuh mungil anaknya.
Devin berhenti tepat dihadapan Karina.
"Mommy al you oke?" tanya Devin cemas.
Karina tersenyum sambil mengangguk.
"Don't worry baby, Mommy is good! Mommy sangat merindukan kamu," ucap Karina sambil merentangkan kedua tangannya.
Devin melesakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan Karina. Sisi manja Devin yang tidak dia perlihatkan pada orang lain justru keluar saat Devin sedang bersama Karina.
"Wow! anak Mommy mau ke mana?" tanya Karina melihat Devin sudah rapi dengan tuxedo nya.
Fin berjalan mendekat ke arah Karina dan Devin kemudian Fin mendorong kursi roda Karina ke arah sofa, saat Karina ingin turun dari atas kursi roda tubuhnya melayang akibat diangkat oleh Fin, Karina memekik kaget sementara Devin tertawa riang melihat ibunya digendong sang Ayah.
"Pak saya bisa sendiri" ucap Karina pelan.
Fin mendudukkan Karina di atas sofa.
"Jangan panggil saya Bapak," tegas Fin pada Karina.
"Tapi..." jawab Karina terpotong.
"Shuuttt..." jawab Fin sambil menyimpan jarinya di bibir lembut Karina.
"Saya ada urusan sebentar nanti akan ada suster yang membantu kamu berganti pakaian" jelas Fin kemudian dia berbalik untuk pergi ke ruangan lain masih di rumah sakit tersebut.
Saat langkahnya akan mencapai pintu tiba-tiba Fin berhenti dia berbalik kemudian menatap Karina.
__ADS_1
"Kita akan menikah hari ini jadi dandan yang cantik" tegas Fin pada Karina kemudian Fin keluar dari ruangan Karina begitu saja meninggalkan Karina yang masih mencerna setiap kata yang dia ucapkan.
"Apa katanya? menikah? hari ini?" pekik Karina yang hanya didengar oleh Devin sang anak.