
Karina dan Devin saat ini tengah duduk di dalam mobil. Fin sendiri tengah menghubungi Renal untuk membicarakan sesuatu.
"Mommy, tas Kakak mana?" tanyanya dengan pelafalan yang sudah jauh lebih baik. Devin sudah terbiasa dengan panggilan Kakak yang Kiara sematkan padanya.
"Buat apa, Baby?" tanya Karina sambil menoleh ke belakang.
"Sudah Mommy simpan di bagasi." lanjut Karina.
"Buku, Kakak..." rengek nya.
"Nanti, ya!"
"Tapi, Mommy..." rengek nya kembali dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Anak-anak kalau bangun tidur, sebagian besar memang lebih sensitif. Termasuk Devin karena penolakan kecil dari Ibunya, mond Devin bahkan langsung jelek.
"Ya Tuhan... apa gak bosan setiap saat baca buku? Mommy saja yang hanya lihatin kamu membaca, gemes pengen Mommy umpetin semua buku-buku kamu!" cerocos Karina membuat Devin semakin berkaca-kaca.
"Mommy mau kamu bersosialisasi dengan orang lain. Bermain, berlari, seperti anak-anak yang lain," harap Karina.
"Nanti Mommy masukan kamu ke play group. Punya banyak teman itu asik, Baby!" lanjut Karina masih dengan omelan khas ibu-ibunya.
Karina khawatir dengan kebiasaan anaknya yang lebih suka menyendiri. Untuk berinteraksi dengan orang lain pun, dia memerlukan waktu. Tidak semua orang akan cocok dengan kepribadian Devin.
Fin menyimpan tangannya di atas jendela mobil yang terbuka. Dia tersenyum menyaksikan perselisihan antara anak dan istrinya itu.
Fin baru selesai menghubungi Renal. Saat akan masuk ke dalam mobil ternyata di dalam, anak dan istrinya tengah beradu argumentasi.
Pada akhirnya Fin mengurungkan niatnya untuk masuk dan lebih memilih untuk menikmati pemandangan yang menurutnya indah itu dari balik kaca mobilnya yang terbuka.
Sebelum-sebelumnya, bahkan Fin tidak pernah membayangkan akan ada masa seperti saat ini dalam kehidupannya. Fin berniat melajang seumur hidup andai saja tidak pernah bertemu kembali dengan Karina.
Namun, takdir Tuhan membawa Karina kembali pada Fin, walau dengan kondisi yang berbeda, Fin tetap bersyukur apalagi dengan bonus yang Tuhan titipkan, berupa Devin sebagai anak kandungnya.
"Daddy kenapa?" tanya Karina pada suaminya yang tengah berdiri sambil berpangku tangan.
"Kalian kenapa?" tanya Fin balik, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Fin mencondongkan tubuhnya sambil memberikan sebuah buku kepada anaknya.
"Thank you, Daddy," ucap Devin dengan mata berbinar dan senyum tersimpul dari kedua sudut bibirnya.
Karina sendiri menatap Fin dengan tatapan tajam.
"Daddd... " ucapnya kesal karena sang suami lebih membela sang anak.
Fin arahkan tangannya untuk mengacak rambut Karina, gemas, Fin juga mengecup bibir istrinya yang tengah berkerut.
"Daddd..." pekiknya kembali sambil melihat ke arah Devin duduk.
"Mommy, Devin dan buku tidak bisa di pisahkan. Turuti saja kemauan nya selama itu positif." jawab Fin enteng.
Fin memasang sabuk pengaman dan mulai menjalankan mobil untuk pulang ke rumahnya.
"Bukan gitu, Dad! Tapi..." ucapnya terjeda.
"Ya sudahlah! Percuma juga menjelaskannya pada Daddy, karena kalian satu tipe." ucap Karina sambil memanyunkan bibirnya, kesal.
Fin menggelengkan kepalanya, gemas. Mobil yang Fin kendarai melaju meninggalkan parkiran rumah sakit. Di kursi belakang, Devin masih anteng dengan buku bacaannya.
"Baby, apa kamu tidak ingin melihat keindahan langit saat petang seperti saat ini?" tanya Karina pada anaknya.
Devin menggeleng dan tidak menghiraukan pertanyaan Mommy nya.
"Sudahlah Mom, Devin baru dua tahun. Dia belum mengerti apa yang menjadi keresahan, Mommy." ucap Fin menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Justru karena itu, Dad. Dia baru dua tahun dan sifatnya tidak seperti anak-anak lain pada umumnya," kesal Karina mendengar pernyataan suaminya.
"Dia istimewa, Mommy." jawab Fin membela anaknya.
"Mau makan malam di mana?" tanya Fin mengalihkan perhatian Karina dari anaknya.
"Ada satu tempat makan yang ingin sekali Mommy datangi. Nanti Mommy kasih tau jalannya." ucap Karina yang di setujui oleh suaminya.
"Mom, apa Devin mewarisi darah langka, Mommy?" tanya Fin hati-hati.
Karina menatap suaminya penuh tanya.
"Apa Daddy ingin memanfaatkan darah Devin?" tanya Karina dalam hatinya.
Karina menggeleng mencoba menjauhkan pikiran konyol tentang suaminya.
"Sebelum di lakukan Caesar, Mommy berpesan pada Dokter untuk memeriksa golongan darah Devin sesaat setelah dia lahir. Dan setelah diperiksa untungnya dia tidak mewarisi darah langka Mommy" terang Karina pada suaminya.
Fin menarik nafas lega, setelah mengetahui kabar baik tersebut. Ya, Fin menganggap hal tersebut sebagai kabar baik, karena mengetahui dua orang yang berarti dalam hidupnya sebagai pengidap golden blood saja membuat hari-hari Fin diliputi kekhawatiran.
Dia mengarahkan kekuatan uangnya untuk mencari orang-orang yang setipe dengan adik dan istrinya, untuk dia ambil darahnya dan menyimpannya di bank darah khusus.
Dan itu semua Fin lakukan tanpa sepengetahuan keduanya, demi melindungi masa depan adik dan istrinya.
"Dad, di depan belok kanan ya!" perintah Karina pada suaminya.
"Hem? Bukannya kalau belok kanan masuk jalan sempit, ya?" tanya Fin bingung.
"Mommy yakin?" tanya Fin kembali pada istrinya.
"Ya ampun, Dad. Nurut saja tanpa protes." kesal Karina dengan kebawelan suaminya hari ini.
"Oke," final Fin menuruti keinginan istrinya, karena takut mood Karina kembali turun gara-gara pertanyaan Fin.
Di kiri dan kanan jalan sendiri, berjejer rumah-rumah sederhana dengan para pemiliknya yang saling bercengkrama satu sama lain, berbaur bersama tetangga rumahnya.
"Kenapa Mommy tau tempat seperti ini?" heran Fin.
"Tau lah. Karena beberapa tahun lalu, saat Mommy di usir dari rumah Ayah, Mommy sempat mengontrak di sekitar sini." jawab Karina membuat Fin membulatkan matanya tidak percaya.
Hati Fin tiba-tiba merasa sakit saat mengingat istri tercintanya harus hidup serba kekurangan di tempat seperti ini.
'Bagaimana bisa Mommy hidup serba kekurangan di saat kondisi Mommy sendiri tengah hamil?' batin Fin menjerit.
Fin raih tangan Karina, kemudian dia bawa ke depan bibirnya. Fin labuhkan beberapa kecupan di atas punggung tangan istrinya.
"Maafkan Daddy, ya." ucap Fin tulus.
"Hem?" tanya Karina bingung.
"Kenapa Daddy minta maaf?" tanyanya kembali.
"Memang salah kalau Daddy minta maaf atas penderitaan Mommy di masa lalu?" tanya Fin dengan fokus yang tetap pada jalanan. Fin amat sangat berhati-hati dalam membawa mobil.
Kondisi jalanan yang dekat dengan pemukiman warga, membuat Fin berhati-hati dalam menjalankan mobilnya.
"Itu kan tidak ada hubungannya dengan, Daddy. Kenapa harus meminta maaf? Aneh deh!" jawab Karina sambil mencubit hidung Fin, gemas.
"Mom... Daddy gak bisa nafas." pekik Fin dengan suara sengau nya. Hilang sudah karisma seorang Fin Grahatama di hadapan istrinya.
Karina tergelak. Devin bahkan sampai menoleh ke depan mendengar gelak tawa Mommy nya. Dia simpan buku yang baru sebagian dia baca itu, kemudian duduk manis dengan wajah berpaling menatap jendela di sampingnya.
"Dad, di depan belok kanan." perintah Karina.
__ADS_1
"Baby, sudah puas bacanya?" tanya Karina saat sudut matanya menangkap sang anak sudah tidak memegang bukunya lagi.
"Ya," jawab Devin singkat.
"Gak pusing apa, baca buku dengan kondisi mobil yang bergerak? Mommy saja pusing naik mobil sambil mainin handphone." lanjut Karina bertanya.
"..." Devin bergeming tidak menjawab.
"Ckk...." decak Karina kesal.
Fin tersenyum mendengar decakan dari istrinya. Dia arahkan tangannya untuk mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Mom, ini sudah belok kanan, restorannya di sebelah mana?" tanya Fin.
"Siapa yang bilang kita akan makan di restoran?" tanya Karina.
"Lah, terus dimana? Bukannya kita akan makan malam?" tanya Fin bingung.
"Iya. Tapi bukan di restoran, Dad." jawab Karina.
"Tuh, kita makan di sana." tunjuk Karina pada sebuah tempat makan angkringan pinggir jalan, bertuliskan pecel lele, bebek goreng dan ayam goreng.
Fin melebarkan matanya. Dalam sejarah keluarga Grahatama, mereka tidak pernah makan di tempat seperti itu.
Mereka selalu makan di restoran bintang lima, yang kualitas makanannya sudah terjamin. Untuk di rumah utama saja, mereka mempekerjakan koki yang sudah teruji kemampuannya untuk menghidangkan sarapan sampai makan malam pada keluarga Grahatama.
"Mommy jangan bercanda. Masa iya kita akan makan di sana?"
"Memang kenapa kalau makan di sana?" kesal Karina karena ajakannya untuk makan di tempat itu, Fin anggap sebagai candaan belaka.
"Daddy, berhenti di bahu jalan!" perintahnya kembali.
"Mommy serius ingin makan di sana?" tanya Fin masih tidak percaya.
"God. Mommy serius Daddy. Ayo turun." ajak Karina pada suaminya.
Fin menahan tangan Karina saat akan turun.
"Mom, tempatnya saja..."
"Mommy mau makan si sini! Kalau Daddy tidak suka, ya sudah diam di dalam mobil!" Karina keluar dari dalam mobil meninggalkan Fin yang tengah terheran-heran dengan permintaan istrinya.
Orang-orang yang ada di sana, menatap mobil mewah yang terparkir di samping angkringan tersebut dengan aneh.
Orang kaya mana yang mau makan di tempat lesehan seperti ini. Tanya orang-orang yang tengah menunggu pesanan mereka.
Karina masuk ke dalam dan memesan bebek goreng untuk dirinya sendiri. Dia duduk di tempat kosong yang masih tersisa satu tempat tersebut. Tas mewahnya dia simpan di atas meja pendek di depannya.
Orang-orang yang tengah menatap Karina dengan penuh kekaguman, teralihkan saat Fin masuk sambil menggandeng Devin di sampingnya. Mereka berdua tampak mirip. Apalagi dengan bola mata mereka yang sama persis.
Fin menanggalkan jas kerjanya dan menyimpannya di dalam mobil. Dia memakai kemeja abu muda, dengan dua kancing teratas yang di buka dan tangan yang di lipat sampai sikut.
Mata wanita, menatapnya dengan lapar. Ketampanan seorang Fin yang hanya bisa di nikmati dalam majalah ataupun koran, kini terpampang nyata di hadapan mereka.
Orang-orang mulai berbisik membicarakan Fin, Devin dan Karina. Tidak sedikit dari mereka yang mengambil foto saat ketiganya tengah bersama.
'God. Jangan sampai foto-foto yang mereka ambil, tersebar begitu saja di media sosial' harap Karina.
Karina mencondongkan tubuhnya.
"Maaf Mommy lupa, kalau Daddy bukan orang sembarang." bisik Karina saat melihat ada beberapa bodyguard yang berjaga di luar angkringan.
Bahkan tanpa diminta, orang-orang yang tadi mengambil gambar langsung menyimpan telepon genggam mereka karena ketakutan.
__ADS_1