
Parfum beraroma Woody yang memberi kesan maskulin dan lembut. Dia adalah Fin Grahatama CEO yang mengusirnya dari ruang rapat tanpa belas kasihan.
Bibir Fin terus mencium bibir mungil Karina dengan rakus, merasa tidak ada respon dari Karina, Fin menggigit bibir bagian bawah Karina secara otomatis mulut Karina terbuka dan Fin mulai membelitkan lidahnya dan mengabsen setiap titik yang ada di sana.
Karina memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan suaminya.
"Mmm..." lenguh Karina saat tangan Fin mulai masuk ke dalam kemeja kerja miliknya, Karina dengan refleks mendorong tubuh kekar Fin setelah dirasa hampir kehabisan oksigen.
"Jangan" tolak Karina.
"Bagaimana kalau ada yang masuk?" desisnya pelan.
Fin mendudukkan sebagian bokongnya pada wastafel, dia raih tubuh Karina untuk berdiri di hadapannya dengan kedua tangan pun terkunci di pinggang Karina kemudian Fin arahkan tangannya untuk mengusap lembut bibir candu Karina yang membengkak karena ulahnya, bibir itu masih sama manisnya seperti tiga tahun yang lalu pikir Fin.
"Ke... kenapa Bapak di sini?" tanya Karina gugup dengan menggunakan bahasa formalnya karena masih di kantor pikirnya.
"Maaf" ucap Fin tulus sambil merapikan rambut Karina yang berantakan karena ulahnya, Karina mengangguk pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Maaf juga sudah telat masuk" lirih Karina pelan.
"Raiden sudah menjelaskan segalanya" tutur Fin menyebutkan Raiden, adik iparnya.
"Dari awal menjabat sebagai CEO di perusahaan ini, seorang Fin Grahatama sudah terkenal dengan sifat yang tidak bisa mentolerir sekecil apapun kesalahan yang karyawannya lakukan sebagai bentuk mendisiplinkan mereka" ungkap Fin panjang lebar.
"Jadi kalau tadi Daddy tidak menegur Mommy, karyawan lain akan mulai meragukan integritas Daddy," lanjutnya menggunakan panggilan informalnya.
Karina menganggukan kembali kepalanya dia mengangkat kepalanya untuk menatap wajah tampan suaminya.
"Itu..." tunjuk Karina pada wajah Fin, Fin meminta Karina diam dengan kode jari tangan yang dia simpan di depan mulutnya saat dilihatnya ada panggilan masuk, Fin mengangkat panggilan dari Renal yang memintanya untuk segera kembali ke Aula tempat rapat berlangsung.
"Itu..." tunjuk Karina kembali, namun belum selesai berbicara mulut Fin kembali membungkam bibir Karina dengan ciuman sebelum akhirnya bergegas pergi dari toilet dan kembali menuju Aula.
Fin kembali memasang wajah dinginnya saat tiba di tempat rapat berlangsung, kacamata kerjanya pun kembali bertengker di hidung mancung Fin.
Ada beberapa karyawan yang saling berbisik satu sama lain tiba-tiba Renal yang duduk di sebelah Fin mencondongkan tubuhnya sambil memberikan sebuah sapu tangan. Kemudian dia berbisik tepat di telinga Fin.
"Aku tahu kamu pengantin baru" ucap Renal terjeda. Fin menatap sapu tangan pemberian Renal kemudian mengerutkan dahinya bingung.
Renal kembali berbisik.
"Tapi jangan bulan madu di kantor juga Fin, lipstik istri mu masih nempel di situ" sindir Renal sambil menunjuk bibir Fin.
"Kurang ajar!" hardik Fin pada Renal sambil menghapus bibirnya dengan sapu tangan pemberian Renal, benar saja saat dilihat ada noda berwarna pink yang menempel pada sapu tangan tersebut, kulit Fin seputih susu jadi warna lipstik Karina akan terlihat kontras di bibir milik Fin dan itu semua berhasil membuat heboh satu ruangan.
"Khem..." dehem Fin untuk menghilangkan kecanggungan nya sekaligus berhasil membuat diam para peserta rapat.
"Apa kalian sudah mendapatkan konsep untuk ulang tahun perusahaan bulan depan?" tanya Fin dingin dengan wajah tanpa ekspresinya.
__ADS_1
Tiap divisi mulai mengutarakan konsep-konsep mereka setelah kurang lebih satu jam rapat berjalan, mereka sudah menemukan konsep yang sesuai dengan perayaan hari jadi perusahaan yang ke lima puluh dua tahun bulan depan, rapat pun selesai.
Para peserta rapat mulai membubarkan diri mereka dan kembali ke ruangan masing-masing.
"Hey" panggil Robert pada Karina yang berpapasan saat akan pergi menuju ruangannya.
"Eh Pak Robert" sahut Karina sambil membalikkan badannya dan sedikit menunduk hormat.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Robert kembali.
"Baik, Pak" jawab Karina sopan.
"Mari Pak" pamit Karina pada Robert, Karina berbalik untuk melanjutkan kembali langkahnya menuju ke ruangannya.
Saat Karina akan melangkah tiba-tiba Robert mencekal lengan Karina.
"Tunggu" pinta Robert, Karina membalikkan kembali badannya menghadap Robert, dia melepaskan lengannya dari cekalan tangan Robert dengan sopan.
"Maaf" ucap Robert pelan.
Karina hanya tersenyum canggung sambil mengangguk dengan sungkan.
"Ada apa Pak?" tanya Karina pada Robert.
"Apa kamu punya waktu saat jam makan siang nanti?" tanya Robert pada Karina.
"Ya menurut saya ini hal yang sangat penting untuk saya bahas" jelas Robert.
"Baik Pak, kalau begitu nanti saya hubungi Bapak kembali" ucap Karina.
"Oke, sekarang kamu bisa kembali" ucap Robert.
Karina lalu pergi dari hadapan Robert untuk kembali menuju ruangannya, yang Karina tidak tahu dari awal percakapannya dengan Robert, ada Fin yang mendengar segalanya.
"Wah resiko punya istri cantik ya gini" sindir Renal pada Fin.
"Ckk" decak Fin sambil melangkah pergi menuju lift eksekutif yang akan membawanya ke lantai ruangannya.
"Parah, sepertinya dia akan menembak istri orang siang ini" bisik Renal sambil tersenyum lebar karena sudah berhasil memanas-manasi sahabatnya, kemudian Renal masuk ke dalam lift yang sudah terbuka meninggalkan Fin yang masih mematung di tempatnya dengan kedua tangan di dalam saku celananya terkepal erat.
"Bro masuk!" ujar Renal pada Fin yang tengah mematung di tempatnya, Fin mengerjap kemudian melangkah masuk ke dalam lift yang akan mengantarnya langsung menuju lantai tertinggi di gedung tersebut tempat di mana ruangannya berada.
#########
Karina saat ini tengah fokus mengecek kembali file yang seniornya kirimkan untuk ditandatangani departemen keuangan, Karina memeriksa angka-angka yang berjejer di sana satu persatu agar tidak ada kekeliruan dalam jumlah nol nya.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Nisa sahabat satu-satunya yang Karina miliki di tempat kerja barunya.
__ADS_1
"Baik jangan khawatir" ucap Karina sambil tersenyum hangat pada sahabatnya.
Nisa duduk di sebelah Karina.
"Kaki kamu masih sakit?" tanyanya kembali.
"Sudah jauh lebih baik nih, sudah bisa memakai ini lagi" ucapnya sambil menunjukkan stiletto kuning miliknya.
"Syukurlah kalau sudah sehat kembali" ucap Nisa.
"Semakin lama kamu tidak masuk kerja semakin kamu ketinggalan berita-berita terkini tentang si kulkas" lanjutnya lagi.
"Kulkas?" bingung Karina.
"Ya Pak Fin, sudah lama dia mendapat julukan itu" terang Nisa.
"Tuhannn... ada-ada saja julukannya" batin Karina sambil menggeleng pelan disertai senyuman.
"Memang ada berita terkini apa tentang Pak Fin?" tanya Karina pada Nisa.
"Tadi setelah mengusir kamu dari ruangan rapat, dia juga pergi dari ruangan itu" terang Nisa.
Gegh!
Karina cemas dia bersiap-siap mendengarkan lanjutan dari cerita Nisa dengan was-was, takut-takut dia ketahuan.
Nisa mencondongkan wajahnya ke arah Karina sambil berbisik.
"Saat kembali ke ruangan rapat banyak lipstik yang menempel di bibir Pak Fin" bisik Nisa tepat di telinga Karina
"Uhuk... Uhuk..." Karina tersedak air yang sedang dia minum, Nisa menepuk lembut punggung Karina.
"Kalau minum hati-hati" tutur Nisa pada Karina. Karina mengangguk dengan wajahnya yang masih memerah karena tersedak.
Kring... kring... telepon di atas meja Karina berbunyi.
"Maaf bisa tolong angkat telepon dulu, hidung saya kemasukan air saya akan membersihkannya dulu" jelas Karina.
Nisa mengangguk kemudian mengangkat telepon dan berbicara dengan si penelepon.
"Siapa?" tanya Karina sesaat setelah Nisa menyimpan kembali telepon yang sudah tertutup itu.
"Kamu disuruh ke ruangan si bos sekarang" ucap Nisa pada Karina.
Orang-orang yang satu ruangan dengan Karina menatap ke arah Karina kemudian berkata.
"Welcome to the hell!" ucap mereka dengan kompak.
__ADS_1