Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Senyum sinis!


__ADS_3

Fin membawa Devin ke dalam gendongan nya. Karina sendiri saat ini tengah mengecek kembali kebutuhan sang anak selama di kebun binatang.


Mobil yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan pun, sudah terparkir rapi di halaman rumah mewah Fin.


Renal masuk ke tempat kemudi mobil. Sementara Eca, masih mengecek tempat duduk untuk memastikan keamanan bos kecil nya itu.


Setelah semuanya di pastikan aman, Eca memberitahu Fin kalau car seat nya sudah bisa di gunakan.


Fin menurunkan Devin dan menempatkan nya pada car seat yang sudah terpasang di belakang kemudi. Fin memastikan kembali keamanan dari sabuk pengaman yang terpasang pada anak nya.


"Baby, untuk sementara, ke Zoo nya sama uncle Renal, ya!" Fin memberi pengertian pada anak nya.


"Daddy harus ke Rumah Sakit untuk menjemput Nenek," jelasnya.


"Nanti, Daddy sama Mommy nyusul Kakak ke sana, oke?" lanjutnya.


Devin mengangguk sambil tersenyum mendengar sang Nenek akan pulang, Fin mengusap kepala anak nya dengan sayang.


Untuk anak berumur dua tahun, Devin merupakan tipe anak yang pengertian. Dia jarang sekali mengeluh perihal kesibukan Mommy dan Daddy nya.


Devin juga tipe anak yang tidak seaktif anak-anak lain pada umum nya. Dia lebih senang menyendiri sambil membaca buku atau menggambar. Devin anak yang pemilih dalam segala hal termasuk dengan siapa dia ingin berinteraksi. Jika Devin tidak suka dengan orang lain, dia akan memasang wajah jutek dan mendiamkan orang yang tidak di sukai nya itu. Namun, jika dia sudah menyukai seseorang dia akan terus menempel pada orang itu.


Karina datang dari arah dalam rumah bersama Bu Linda di sampingnya. Selain Renal dan Eca, Bu Linda pun akan ikut menjaga Devin.


"Baby, are you happy?" tanya Karina sambil mencium pipi anaknya. Kemudian Karina mengoleskan sunblock pada tangan Devin.


"I'm happy!" jawabnya sambil mencium kembali pipi sang Mommy.


"Oke, Baby! Ingat pesan, Mommy?"


"Ya. Nulut cama Oma Linda, uncle dan aunty!" sahut Devin menjawab pertanyaan Mommy nya.


"Good job!" Karina mengacungkan jempol nya.


Fin berdiri tidak jauh dari mobil yang anak nya naiki. Kedua tangan nya dia lipat di atas dada. Dia tersenyum melihat interaksi antara Ibu dan Anak itu.


"Renal, berangkat sekarang!" perintah Fin pada sahabat nya itu.


Eca naik dan duduk di sebelah Devin. Bu Linda sendiri masih di luar mobil dan belum naik ke dalam mobil.


"Aunty maaf, pindah canah!" perintah Devin pada Eca sambil menunjuk kursi sebelah Renal.


"Aden, Aunty di belakang jagain Aden, oke!" jawabnya.


"Depin cama Oma Linda." jawabnya tidak ingin di bantah.


Dengan lesu Eca pindah ke depan kemudi dan duduk di sebelah Renal. Renal berusaha menyembunyikan senyum nya dengan mengarahkan kepalanya keluar jendela mobil.


''Good, Boy! Ternyata kamu tidak sekaku Bapak mu!' Batin Renal bersorak.


"Ayo Boy, kita bertemu dengan sodara kamu di sana!" pekik Renal


Devin yang tidak mengerti hanya tersenyum bahagia mendengar mereka akan berangkat. Namun berbeda dengan Fin. Dia menatap tajam Renal dengan mata zamrud nya itu.


"Dadah... Daddy... kita berangkat!" pekik Renal menundukkan kepala nya sedikit dengan tangan melambai yang di ikuti oleh Devin, berpamitan pada Fin.


"Sebentar!" panggil Fin saat mobil itu akan melesat pergi.


"Kenapa lagi?" jawab Renal kesal.


"Apa tidak sebaiknya naik heli saja?" celetuk Fin yang mendapatkan delikan dari sahabat nya.


"Daddy!" pekik Karina.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya bingung.


Apa yang salah dengan ucapan nya? Pikir Fin dalam hati.


"Mereka hanya ke kebun binatang! Tidak sedang darurat ataupun terdesak. Biarlah Devin menikmati waktunya, belajar bersabar dari hal-hal kecil yang di alaminya selama perjalanan" ucap Karina menjelaskan.


"Oke, tapi ingat..." Fin memperingatkan Renal namun sebelum selesai Renal memotong nya.


"Hati-hati! Ingat, kamu sedang membawa penerus Grahatama Group yang nyawa nya lebih berharga dari pada nyawa kamu sendiri!" ucap Renal mengingat setiap kalimat yang akan Fin ucapkan.


Fin mengangguk pelan kemudian membiarkan Renal berangkat membawa sang anak ke kebun binatang.


Fin dan Karina masih mematung di depan rumah menatap mobil yang semakin menjauh dari halaman rumah nya. Fin merangkul pundak istri nya dan membawa Karina ke dalam pelukan nya.


"Berangkat sekarang?" tanya Fin pada istri nya. Mereka saat ini tengah masuk ke dalam rumah dengan posisi Karina berjalan di depan tubuh Fin.


Kedua tangan Fin dia lilitkan di depan lengan Karina dan mengunci nya. Dagu nya dia simpan di atas kepala Karina. Mereka berjalan dengan saling menempel satu sama lain.


"Sebentar Mommy bawa tas dulu," Karina membawa tas kecil nya kemudian kembali bergabung dengan suami nya.


"Daddy sudah siap?" tanya Karina saat melihat suami nya hanya memakai sweater dengan celana pendek setinggi paha. Sepatu sport putih dan sebuah topi lambang tanda ceklis.


"Sudah, yuk!" ajak nya.


"Oh, oke!" jawab Karina.


Karina berjalan beriringan masuk ke dalam mobil Pajero yang akan di kendarai suami nya. Fin sengaja memakai mobil yang kapasitas nya besar karena akan membawa pulang Bibi dari istri nya. Mobil tersebut melaju menuju Rumah Sakit Medistra.


Setelah berkendara kurang lebih tiga puluh lima menit, mereka sampai di rumah sakit mewah tersebut.


Karina berjalan dengan cepat memberi jarak dengan suami nya.


"Mommy!" panggil Fin yang berhasil menghentikan langkah istri nya.


Karina bergegas mundur, mensejajarkan langkah nya dengan sang suami.


"Daddy! Jangan keras-keras!" desis Karina dengan sedikit berbisik.


"Kenapa memangnya, hem?" Fin sedikit tidak terima karena Karina mengoreksi nya.


"Apa Daddy tidak lihat kalau kita jadi pusat perhatian?" tanya Karina pada suami nya.


"Siapa yang berani membicarakan kita, hem?" tanya Fin kembali.


"Kalaupun mereka membicarakan hal buruk tentang kita, Daddy bisa membuat mereka diam Mom tenang saja!" sombong Fin dengan santai nya sambil mengusap lembut kepala istri nya.


Apa yang di lakukan Fin pada Karina tidak luput dari pengawasan orang-orang yang kebetulan lewat.


Karina bergidik mendengar apa yang suami nya katakan.


'Ya, kamu bisa menguasai dunia dengan uang, Dad!' batin Karina.


Fin arahkan tangan nya pada pinggang sang istri. Tangan nya melilit posesif pada pinggang Karina. Mereka melanjutkan perjalanan nya menuju tempat donor darah terlebih dahulu.


Saat ini Karina tengah mendapat tindakan dari suster. Jarum berukuran besar tengah menancap pada vena nya dan menyedot darah yang akan di simpan nya di bank darah rumah sakit tersebut.


Fin mendampingi Karina dengan setia. Dia menggenggam tangan Karina seolah memberi kekuatan pada istri nya itu.


Karina harus rutin menyetor darah nya untuk penjagaan bilamana dia membutuhkan darah tersebut di kemudian hari.


Satu tetes darah tersebut sangat berarti bagi seorang pemilik darah langka Golden bold seperti Karina.


"Mom, saat lahiran Devin..." jedanya. Karina menatap Fin yang seperti nya ragu untuk bertanya.

__ADS_1


"Daddy mau tanya apa?" tanya Karina.


"Saat Devin lahir apa prosesnya lancar?" tanya Fin hati-hati.


"Huuuhh..." Karina menghembuskan nafas nya berat. Dia diam sesaat sebelum menceritakan nya. Dia perlu menyiapkan hati nya untuk menggali ingatan masa lalu nya.


"Dari awal kehamilan kami melewati segala nya dengan susah payah. Mual, muntah yang hebat sampai usia kehamilan tujuh bulan dan kondisi dari Devin sendiri yang lemah di dalam kandungan," jedanya.


Karina menatap langit-langit ruangan menerawang kejadian tiga tahun yang lalu, dia menguatkan hati nya saat menceritakan semuanya pada Fin.


"Saat hari kelahiran nya, Mommy harus melakukan Caesar karena tensi Mommy yang tiba-tiba naik. Kondisi Devin saat itu terancam sehingga harus di lahirkan hari itu juga," lanjut Karina menceritakan masa lalu nya.


Genggaman tangan Fin pada Karina mengerat saat mendengar cerita menyakitkan yang istri nya lalui selama berjuang mempertahankan anak nya.


Fin membawa tangan Karina untuk dia kecup.


"Terima kasih sudah bertahan," ucap Fin ambigu.


Karina mengernyitkan dahi nya bingung. Kenapa Fin harus berterima kasih untuk perjuangan Karina melahirkan yang bahkan bukan darah daging Fin? Tanya Karina dalam hatinya namun dia menyimpan kebingungan nya sendiri.


##########


Karina dan Fin sudah keluar dari ruang donor. Dia berjalan untuk selanjut nya pergi menuju ruangan sang Bibi yang rencana nya akan pulang hari ini.


Fin merangkul pinggang Karina posesif. Dia selalu sigap menjaga Karina dari awal donor sampai selesai.


Mereka berjalan melewati lorong untuk sampai di ruangan Bik Vina. Suara seseorang mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Abang!" panggil seseorang dari belakang.


Fin tidak menghiraukan panggilan tersebut. Dia terus berjalan dengan tangan nya yang dia simpan di atas pundak Karina.


"Abang!" panggil seorang perempuan itu sekali lagi.


"Dad, sepertinya dia memanggil, Daddy!" Karina memperingatkan suami nya.


Fin dan Karina menghentikan langkah nya. Mereka menengok ke belakang dimana perempuan itu memanggil.


"Queen!" panggil Fin.


Queen menghampiri Karina dan Fin. Karina tersenyum ke arah Queen, namun di abaikan oleh Queen. Karina meluruskan kembali ekspresi wajah nya.


Karina rangkul pinggang suami nya dengan kepala yang dia sandarkan pada dada suami nya. Fin menengok Karina sekilas sambil mengusap bahu nya lembut.


"Mommy nggak apa-apa?" tanya Fin.


"Hanya pusing sedikit," cicit Karina.


Queen mengalihkan pandangan nya pada sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan dr. Raisa, SpOG."


'Apa mereka dari Dokter kandungan?" batin Queen penuh tanya.


"Abang sedang apa disini?" tanya Queen basa-basi. Dia masih mengabaikan Karina.


"Dari bank darah! Kamu sedang apa di rumah sakit?" tanya Fin.


"Stok darah Kiara sudah di pindah ke Indonesia?" tanya Queen kembali. Dia sedikit lega karena jawaban nya bukan dari Dokter kandungan.


"Bukan. Karina baru selesai donor dan menyimpan nya di bank darah. Tipe darah mereka sama." jelas Fin pada Queen.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Fin kembali.


Queen menyunggingkan senyum sinis nya pada Karina. Dia tersenyum miring meremehkan.

__ADS_1


'Oh, ternyata itu tujuan pernikahan mereka!' sorak Queen dalam hati.


__ADS_2