
"..." Fin bergeming. Dia masih bungkam dengan alis yang berkerut.
Karina menunggu dengan cemas jawaban apa yang akan suaminya berikan pada rubah licik itu. Dada Karina berdetak cepat. Dia takut terluka dengan jawaban yang akan suami nya utarakan.
'Please Daddy!' mohon Karina dalam hati.
"Abang!" panggil Queen kembali dengan nada manja nya.
Fin mengangkat tangannya ke udara, meminta Queen untuk diam. Queen mengerucutkan bibir nya kesal. Sementara Karina mengerutkan dahi nya bingung dengan apa yang suami nya lakukan.
Fin mengeluarkan iPhone milik nya dari saku sweater yang di pakainya.
"Vera, tolong hubungi pihak RS Medistra dan minta mereka untuk mengirimkan perawat ke kamar VVIP 3, sekarang!" perintahnya pada Vera, sekretaris nya yang multifungsi itu.
Karina bersorak dalam hati atas keputusan suaminya. Dia menatap Queen dengan tatapan mengejek. Bibir sebelah kanan nya tersungging ke atas dengan jempol yang dia balik ke bawah.
Nafas Queen memburu melihat apa yang Karina lakukan padanya.
"Abang!" rengek nya kembali.
Karina memutar bola mata nya ke atas, jijik mendengar rengekan manja dari artis yang aneh nya banyak penggemar nya itu.
'Oh God! Kalau nggak ingat Ibunya, udah aku bejek-bejek wajah nya.' gerutu Karina dalam hatinya.
'Hei, ternyata pikiran kamu bisa liar juga, Karina!" lanjut Karina, heran dengan dirinya yang sekarang. Sisi lain dari diri Karina keluar tanpa dia sadari. Mungkin efek dari jiwa lama nya yang selalu mendapat penindasan dari orang-orang terdekat nya. Yang jelas naluri nya berkata kalau dia harus melindungi hak milik nya.
"Kenapa lagi, Queen?" tanya Fin.
"Kenapa nggak Abang saja yang nemenin aku sama Mama?" tanya Queen masih dengan wajah memelas nya.
"Nggak bisa, Queen. Abang sudah ada janji dengan anak, Abang!" jelas Fin.
'Anak Abang? Benar-benar! Perempuan kurang ajar ini, pasti sudah meracuni pikiran Abang! Dia sampai bela-belain anak tirinya yang baru beberapa bulan dia kenal!' hardik Queen dalam hati.
"Yuk, Dad! Ini sudah siang!" Karina memperingatkan suami nya untuk bergegas.
"Queen, kami duluan." pamit Karina pada Queen.
Sebelum benar benar pergi dari hadapan Queen, Karina mengatakan sesuatu kembali.
"Saya rasa, kamu harus mengurangi jadwal dari pekerjaan kamu dan lebih fokus untuk mengurus Ibu kamu. Kasihan, dia kesepian!" ucap Karina sebelum pergi dari hadapan Queen.
Karina meraih lengan suaminya dan pergi dengan langkah anggun nya meninggalkan Queen yang saat ini tengah menghentak-hentakan kakinya pada lantai. Tangannya terkepal memukul udara dengan mulut yang terus mengumpat.
"Kurang ajar! Kurang ajar! Dia pikir dia siapa, heh?" umpatnya kesal.
"Oke, kita lihat saja, sejauh mana kamu mempertahankan kesombongan kamu itu!" lanjut Queen yang mulai memikirkan rencana baru untuk membalas Karina.
Setelah puas meluapkan kekesalan nya, Queen kemudian masuk ke dalam kamar tempat sang Ibu terbaring lemah.
Sementara itu Fin dan Karina baru sampai di kamar tempat Bibinya menunggu.
"Ayo Bi, kita pulang. Bibi sudah siap?" tanya Karina pada Bibinya.
__ADS_1
"Sebentar, Bibi bawa dulu barang-barang, Bibi."
"Sini, biar aku yang bawa." Fin mengambil alih koper yang di pegang Bi Vina.
"Apa ada yang lain, Bi?" tanya Fin pada Bibinya itu.
"Tidak Nak, hanya itu. Maaf Bibi sudah merepotkan kalian," lirih Bi Vina.
"Tidak sama sekali." jawab Fin cepat.
"Ayo, kita pulang sekarang!" Ajak Fin. Bi Vina duduk di atas kursi roda, kemudian di dorong oleh Karina. Fin sendiri sebagai penunjuk arah yang bertugas membuka pintu atau lift yang akan mereka lewati.
"Bibi pulang ke rumah Kita, di antar sama Pak Deni. Tidak apa-apa, kan?" tanya Fin saat di dalam lift.
"Kita berdua harus ke kebun binatang dulu. Kita sudah janji pada Devin untuk pergi bersama weekend ini." jelas Karina.
Bi Vina tersenyum hangat pada kedua nya. Dia mengusap tangan Karina yang tengah memegangi pundaknya.
"Pergilah. Kalian membutuhkan waktu bersama. Devin pasti senang bisa pergi bersama kedua orang tuanya." ucap Bi Vina dengan senyum yang tidak luntur dari bibir nya.
Bi Vina bersyukur, keponakan nya bisa bersama dengan seseorang yang tepat yang tidak hanya mencintai Karina tapi juga dapat menyayangi Devin. Terlebih orang tersebut adalah Ayah biologis dari cucunya.
'Sita, lihatlah! Setelah penderitaan yang Karina alami lebih dari tiga tahun ini, sekarang Tuhan telah menurunkan hadiah indah, buah dari kesabaran nya selama ini' Kedua tangan Bi Vina saling meremas, dengan kepala yang sedikit di tundukkannya dan mata yang terpejam merapalkan doa untuk Sita, Ibu dari Karina yang sudah berada di surga.
Mereka sudah sampai di depan lobby. Seorang petugas valet menyerahkan kunci mobil pada Fin. Pak Deni pun sudah siap dengan parkir di belakang mobil Pajero yang Fin bawa tadi pagi.
"Ini, Den!" Pak Deni menyerahkan kunci mobil sport yang di bawanya. Pak Deni juga mengambil koper yang tengah majikan nya pegang dan memasukkan nya ke dalam mobil yang akan membawa mereka pulang. Fin bertukar mobil dengan yang di bawa Pak Deni.
"Maaf, Bu, saya bantu untuk naik, ya!" izin Pak Deni yang akan menggendong Bi Vina.
Pak Deni mengangguk mengerti. Bi Vina mulai bangkit dari kursi roda nya dan mulai masuk ke dalam mobil dengan di papah oleh Karina.
"Sayang, Bibi pulang ke rumah Bibi saja, ya!" izin Bi Vina pada Karina.
Karina mengerutkan kening nya.
"Bibi baru sembuh dan di rumah hanya sendiri. Tidak! aku tidak bisa mengizinkan Bibi untuk pulang ke rumah, Bibi!" tolak Karina.
"Ada Bik Rita yang menemani, Bibi. Lagi pula..."
"Tidak, Bibi...!" sergah Karina tidak ingin di bantah.
"Bibi pulang ke rumah kita dulu untuk saat ini, aku sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan, Bibi." bujuk Fin lembut.
Bi Vina mengangguk menyetujui saran dari Fin.
"Oke, Bibi pulang ke rumah kalian hari ini. Tapi besok pagi, Bibi mau pulang ke rumah, Bibi!" final Bi Vina yang mendapat hembusan nafas kesal dari Karina.
"Ya sudah! Besok pagi Bibi bisa pulang." lirih Karina.
"Kenapa sih Bibi tidak tinggal dengan aku saja? Bibi punya pacar yang tidak bisa di tinggal?" tanya Karina absrud.
"Hush..." ucap Bi Vina cepat.
__ADS_1
"Mana ada waktu, untuk memikirkan pacar!" sergah nya.
"Ha... ha... ha..." Karina terbahak. Sementara Fin hanya menggeleng menyaksikan sisi lain dari istrinya yang usil.
Bi Vina sudah berangkat menuju rumah Fin. Setelah menyaksikan kepergian mobil yang di kendarai Pak Deni tersebut, Karina dan Fin naik ke dalam mobil yang akan membawa mereka untuk bertemu dengan anak nya.
Perjalanan dari rumah sakit menuju kebun binatang cukup jauh. Mereka setidaknya menghabiskan dua jam perjalanan untuk sampai di sana.
Mobil yang Fin kendarai tengah berhenti di lampu merah. Tangan sebelah kanan memegang setir sementara tangan sebelah kirinya menggenggam tangan Karina dengan pandangan yang tetap fokus pada jalanan.
Karina membawa tangan itu ke depan mulutnya kemudian mengecupnya.
Cup... Cup...
"I love you!" bisik nya.
"Hem?" tanya Fin.
"Mommy bilang apa barusan?"
"Thank you!" dusta Karina. Karina bahagia dengan keputusan Fin yang lebih memilih Devin daripada menuruti permintaan Queen.
Fin mengerutkan keningnya.
"Perasaan yang Daddy dengar bukan itu!" bingung Fin.
"Salah dengar kali, Dad!" elak Karina. Fin mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Karina.
Lampu sudah kembali hijau. Fin melajukan kembali mobilnya.
Saat sedang fokus pada jalanan, tiba-tiba Fin mendesah.
"Ough, Mom!" pekiknya sedikit mendesah. Fin menengok apa yang istrinya lakukan dengan tangannya.
Fin menyeringai saat di lihatnya, sang istri yang di kenalnya pendiam tengah membimbing tangannya untuk memijat dada milik Karina.
"Ough, kurang ajar!" umpat Fin. Dia tidak bisa mengendalikan mobilnya saat fokus pikirannya saat ini sudah berada di dada Karina.
Fin segera meminggirkan mobil nya dijalanan yang sepi. Dia harus memberi istrinya tersebut pelajaran karena sudah membuyarkan fokusnya.
Cetrek...
Fin melepaskan sabuk pengamannya. Dia keluarkan tangannya dari dalam kaos, Karina. Fin rebahkan tempat duduknya ke belakang, kemudian menarik Karina untuk duduk di atasnya.
Fin menyeringai dengan mata yang fokus menatap Karina.
"Daddy tidak tau alasan Mommy yang tiba-tiba berubah menjadi lebih liar," jedanya.
"Tapi, Daddy suka dengan perubahan Mommy sekarang." ucap Fin dengan seringai di wajahnya dan tangan yang mengelus paha Karina yang rok nya sudah terangkat sampai pangkal paha.
Karina tersenyum, tersipu mendapat pujian dari suaminya.
"Sekarang, Mommy selesaikan apa yang sudah Mommy mulai!" perintah Fin.
__ADS_1
"Ta... tapi ini di dalam mobil, Dad!" panik Karina.
"Tidak masalah, Mommy! Kita masih bisa bersenang-senang di dalam ruang sempit seperti ini!" bisik Fin yang sudah mulai menggoda area leher dari istrinya.