Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Dia bawa kedua anak ku..


__ADS_3

Fin masih terlelap di atas ranjang sang anak. Tangannya memeluk guling roket yang biasa Devin peluk saat tidur. Entah tertinggal atau sengaja di tinggal guling itu tidak Devin bawa pergi.


Fin mengerjap kaget saat telepon genggam miliknya berbunyi. Dia menurunkan guling dari tangannya secara hati-hati.


"Sebentar baby, ada..." setelah berucap demikian, Fin mematung. Dia menatap guling yang sejak tadi di peluknya. Dalam ingatan Fin, dia tertidur sambil memeluk tubuh mungil sang anak. Bau minyak telon yang masih menempel pada guling pun membuat segalanya seakan nyata.


Setelahnya, Fin tersenyum getir sambil menggeleng pelan mentertawakan kelakuannya.


"Iya Renal," jawab Fin.


"Si boy suka kan, hadiahnya?" tanya Renal dengan antusias.


Lagi-lagi Fin tersenyum hampa. Dia menatap kado yang masih terbungkus rapi itu dengan getir. Itu kado yang Renal titipkan untuk Devin.


"Kado itu aku beli saat pulang dari bandara. Kado khusus untuk si kutu buku," celotehnya dengan antusias.

__ADS_1


"Keren banget uncle nya si boy. Uncle limited edition," lanjut Renal membanggakan dirinya sendiri.


Fin kembali tersenyum. Matanya terus menerawang isi dari kamar sang anak. Kamar itu Fin sendiri yang menyiapkannya. Dia meminta arsitek bekerja sesuai perintahnya. Penempatan perabot dan pemilihan warna, Fin yang menentukannya.


"Sini, aku mau ngomong sama si boy," pinta Renal.


"Dia gak di sini," jawab Fin ambigu.


"Kamu gak di rumah?" tanya Renal kembali.


"Karina dan Devin pergi dari rumah ini," lanjut Fin menjelaskan.


"Apa maksud mu?? Bukannya si Kiara bilang, semalam kalian baik-baik saja??" bentak Renal.


"Ya, aku juga berpikir begitu. Tapi buktinya sekarang...," jawab Fin sambil menyugar rambutnya ke belakang secara kasar. Dia frustasi.

__ADS_1


"Dan kamu dengan tololnya hanya diam tanpa berbuat sesuatu?" tanya Renal kasar.


"Dia bilang akan pergi kalau aku sampai nyari-nyari dia!!" bentak Fin tidak terima. Andai saja Karina tidak mengancamnya sudah pasti saat ini Fin akan membawa istrinya itu dengan cara apapun.


"Dia bawa kedua anak ku. Devin dan bayi dalam kandungannya. Kalau dia sampai nekat berbuat sesuatu yang membahayakan keselamatannya, seumur hidup aku gak bisa memaafkan diri ku sendiri" jelas Fin.


Renal sadar kondisi sahabatnya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dia tau seperti apa sahabatnya. Fin tidak mungkin berdiam diri saat badai yang besar seperti sekarang tengah menerpa rumah tangganya. Renal yakin dalam diamnya, Fin tengah merencanakan sesuatu. Dia akan bergerak saat waktunya di rasa tepat.


"Ya sudah, beri Karina waktu untuk merenung," usul Renal pada akhirnya.


Fin mematikan panggilan dari sahabatnya. Dia kembali duduk dalam kesendirian. Di atas nakes samping tempat tidur terdapat sebuah foto yang terbingkai cantik. Foto Devin tengah tersenyum lebar di atas pundak sang Daddy. Foto itu di ambil saat mereka mengunjungi Australia. Tanpa sadar, Fin ikut tersenyum. Betapa dia merindukan saat-saat itu.


Fin mulai menelusuri kamar anaknya. Selain guling berbentuk roket, tas dinosaurus kesayangannya pun, Devin tinggalkan. Fin buka isi dari tas tersebut. Sebuah buku tulis dan beberapa buku bacaan yang selalu sang anak bawa kemanapun dia pergi.


Fin buka buku tulis itu dengan hati-hati. Fin bahkan menarik nafasnya panjang sebelum membaca isi dari diary sang anak. Bagian awal buku tampak sebuah gambar yang Devin beri nama 'aku' dan 'Om'. Gambar itu tampak saling bergandeng tangan.

__ADS_1


"Devin suka om. Om baik ajak Devin makan," tulisnya di bagian awal buku.


__ADS_2