
"Apa tidak ada yang mau Mommy jelaskan?" tanya nya pada Karina.
"Bu... bukan begitu!" elaknya.
"Kan biasanya yang menjemput Mommy Pak Deni!" cicit Karina.
'Pantas saja pas masuk ke dalam mobil yang tercium bau parfum, Daddy!' desisinya dalam hati.
"Nanti Mommy jelaskan semuanya saat tiba di rumah sekarang Devin pasti sudah menunggu di rumah, Kiara." Karina pindah posisi dan duduk di jok sebelah suaminya.
Dia menjulurkan tangannya yang di sambut oleh sang suami. Karina kemudian mencium punggung tangan suaminya. Apa yang di lakukan Karina memang sudah menjadi kebiasaan nya saat akan berangkat ataupun saat pulang bekerja. Fin pun membalas dengan mencium kening Karina. Selanjutnya, Fin mulai menancap gas dan pergi menuju rumah Kiara untuk menjemput sang anak yang sudah sangat dia rindukan.
Karina benar-benar kelelahan. Dia langsung tertidur begitu mobil melaju membelah jalanan Ibu kota yang padat merayap berbarengan dengan jam pulang kerja para karyawan. Fin tersenyum melihat istrinya yang tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka, dia arahkan tangan nya untuk mengusap kepala sang istri. Fin menepi sesaat di tempat yang tidak terlalu ramai. Dia lepas sabuk pengaman miliknya dan keluar dari dalam mobil untuk sampai di sisi luar jok istrinya. Dia atur sandaran tempat duduk istrinya tersebut dengan sedikit menurunkan nya agar Karina nyaman saat tidur dan posisi tidurnya tidak menyakiti lehernya.
Fin kembali pada posisi nya dan melanjutkan kembali perjalanan nya menuju rumah sang adik untuk menjemput anaknya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah megah yang merupakan rumah utama keluarga Grahatama tersebut, Fin hanya terjebak macet kurang dari sepuluh menit setelah itu jalan yang mereka lalui lancar tanpa hambatan. Mobil yang di kendarai nya sudah tiba di halaman rumah sang adik yang luas. Tampak di ujung taman dekat kolam ikan sang anak tengah bermain bersama sang adik dan keponakan nya yang berada dalam stroller.
Devin tengah tertawa bebas sambil berlari kecil. Beberapa meter dari Devin tampak juga Eca yang tengah memperhatikan setiap gerak-gerik dari bos kecil nya tersebut.
Saat Karina bekerja Eca di minta untuk mengawasi dan menjaga Devin, karena keamanan di perusahaannya sudah cukup ketat dan kuat.
"Mom, sudah sampai!" bisiknya sambil mengusap pipi Karina pelan.
Karina bergeming.
"Mommy, kita sudah sampai di rumah, Kiara!" bisik Fin kembali sedikit lebih kencang dengan tangan masih mengelus pipi Karina lembut.
Karina mengerjap kaget. Dia secara tiba-tiba mendudukan tubuhnya dan kepalanya membentur kepala Fin yang tengah condong ke arahnya.
__ADS_1
"Aww," pekik keduanya sambil memegang kening masing-masing dan mengusapnya.
Mata Karina dan Fin saling menatap satu sama lain yang kemudian menyebabkan tawa keduanya pecah mentertawakan kekonyolan mereka.
Karina mengusap ujung matanya yang berair.
"Maaf, Mommy ketiduran!" sesal Karina.
Fin tersenyum.
"Yuk, dia pasti sedang menunggu jemputan!" ajak Fin dengan jari menunjuk anaknya.
Karina tersenyum kemudian keluar dari dalam mobil, Fin merangkul pundak Karina saat berjalan menghampiri sang anak.
"Mommy... Daddy..." teriak Devin dari arah yang cukup jauh kemudian berlari menghampiri kedua orang tuanya.
Fin hujani seluruh wajah dan perut anaknya dengan kecupan yang berhasil menciptakan gelak tawa dari sang anak. Karina hanya menggeleng menyaksikan kelakuan anak dan suaminya tersebut.
"Miss you," bisik Devin di telinga Fin.
Gengsi Devin tinggi. Dia malu kalau orang lain mendengar ungkapan perasaan nya pada sang Daddy. Karina yang sudah tau sifat anaknya hanya pura-pura tidak mendengar nya.
Fin tersenyum. Di tatapnya netra zamrud yang merupakan warisan darinya itu kemudian.
"Miss you too, Baby!" bisiknya kembali.
Fin membawa tangan Karina untuk dia genggam, kemudian berjalan beriringan menuju tempat Kiara dan Ara duduk.
Karina menghampiri Kiara kemudian memeluknya.
__ADS_1
"Maaf, selalu merepotkan dengan menitipkan Devin di sini," ucap Karina sambil menggenggam tangan Kiara.
"No! Devin anak yang baik. Aku benar-benar merindukan Devin. Jadi seharian ini kami bersenang-senang," jelasnya pada Karina.
Fin menghampiri sang adik kemudian memeluknya.
"Abang nggak bawa oleh-oleh buat, aku?" tanya sang adik.
"Ckk," decak Fin.
"Bukannya Devin memberi hadiah satu mobil penuh untuk Aunty, Uncle dan Adiknya?" tanya Fin yang tau dari Raiden kalau anaknya memberi mereka satu mobil full berisi oleh-oleh.
Kiara hanya nyengir kuda, memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil meraih tubuh keponakan nya untuk dia peluk.
Fin membawa Ara untuk di gendongnya. Fin begitu luwes memangku bayi yang baru berusia satu bulan itu. Devin bertepuk tangan melihat Daddy nya memangku adik kesayangan nya.
"Yuk masuk!" ajak Karina.
"Sebentar lagi petang." jelasnya.
Mereka semua masuk ke dalam rumah dengan Ara yang masih di dalam gendongan Fin.
Saat sampai di ambang pintu suara seseorang dari arah belakang tubuh mereka mengalihkan perhatian dan membuat mereka kompak menengok ke belakang
"Hai..." teriaknya.
"I miss..." ucapnya terpotong.
Seseorang tersebut mematung sambil melemparkan tatapan penuh tanya kepada orang yang ada di hadapannya.
__ADS_1