
Ternyata apa yang Karina khawatirkan selama di dalam kamar hotel tadi tidak terjadi, Fin tidak melanjutkan aksi panasnya setelah selesai makan siang, saat ini Fin dan Karina tengah turun menuju lantai dasar hotel dan akan kembali ke perusahaan
Namun Fin lupa kalau Renal saat ini tengah menunggunya di restoran hotel yang sama, saat berjalan keluar dari dalam lift iPhone milik Fin berbunyi menampilkan Renal sebagai pemanggil.
"God" ucap Fin tiba-tiba saat melihat layar iPhone nya, Karina yang berjalan di samping Fin langsung menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Kenapa?" tanya Karina bingung.
"Daddy lupa, Renal sedang menunggu di restoran hotel ini juga" terangnya pada Karina sambil menggeser ikon warna hijau ke sebelah kanan.
"Aku ke sana sekarang" jawab Fin singkat kemudian Fin mematikan panggilannya begitu saja, bisa dibayangkan berapa banyak umpatan yang Renal lontarkan untuk Fin? Renal sudah lama menunggu, lalu Fin dengan seenaknya mematikan panggilan dari Renal setelah menjawab dengan seadanya.
"Mommy ke perusahaannya naik taksi saja" tawar Karina pada suaminya.
"Mommy ikut saja hanya bertemu klien untuk acara Kiara, tidak akan lama" putus Fin sambil menggandeng tangannya Karina naik lagi ke dalam lift untuk menuju lantai atas tempat restoran itu berada.
Kalau sudah seperti ini Karina memangnya bisa apa? suaminya lebih mempunyai hak atas dirinya Karina hanya diam dengan tangan yang masih Fin genggam.
Wajah Karina selalu merona tiap kali Fin memperlakukannya dengan lembut, saat berhubungan dengan Ramon pun Karina yang cenderung lebih berinisiatif dalam memberi perhatian seperti yang pasangan-pasangan lain lakukan.
"Memang acara apa?" tanya Karina lembut pada suaminya, mereka masih berada di dalam lift yang hanya diisi oleh Karina dan Fin.
"Untuk acara Ara" jelasnya singkat. Fin berdiri tepat di depan pintu lift dengan tangan kiri dia masukkan ke dalam saku celananya dan tangan kanan menggenggam tangan mungil Karina.
Mereka akhirnya sampai di depan restoran yang Fin maksud tampak Renal di ujung restoran tengah menunggunya dengan seorang pria yang hanya terlihat bagian punggungnya saja, jika dilihat dari arah Fin dan Karina datang, Fin yakin kalau dia adalah perancang pesta untuk Ara anak dari adiknya, Kiara.
"Daddy, Mommy permisi ke toilet" bisiknya pada Fin.
Fin menghentikan langkahnya kemudian menyerongkan tubuhnya untuk menatap Karina.
"Mommy, tau toiletnya di mana?" tanya Fin pada Karina.
Karina tersenyum pada Fin.
"Kan bisa tanya" jawab Karina lembut.
"Oke" Fin masuk ke dalam restoran menghampiri Renal dan pria yang adiknya percaya untuk merancang pesta kelahiran anaknya.
__ADS_1
Karina pun pergi mencari toilet terdekat dari restoran tempat suaminya bertemu dengan klien pilihan Kiara.
Fin terlalu berlebihan mengkhawatirkannya pikir Karina. Dia bukan Devin, hanya mencari toilet bukan hal yang sulit bagi Karina.
Dari sejak dia menikah dengan Fin, Karina merasa Fin terlalu memanjakannya, Karina takut dia mulai bergantung pada Fin.
Padahal sejak tiga tahun ke belakang Karina melakukan segalanya sendiri bahkan dia tidak pernah mengeluh dan cenderung mensyukuri jalan hidup yang telah Tuhan gariskan untuknya.
Dan syukur terbesar Karina adalah saat Devin hadir walaupun dengan perjuangan yang sangat berat saat dia memilih mempertahankan anaknya.
Selain takut bergantung pada Fin, Karina juga belum mengetahui alasan pasti mengapa Fin ingin menikahinya untuk seseorang yang baru pertama kali bertemu sungguh mustahil jika langsung mengajak menikah tanpa ada alasan di balik itu semua.
Karina menemukan toilet hasil perjuangannya bertanya pada petugas Hotel, dia pun bergegas masuk ke dalam bilik toilet dan menyelesaikan keinginan untuk buang air kecil.
Saat ini Karina masih berada di dalam toilet untuk merapikan penampilannya, sekaligus mencuci kedua tangannya. Karina merapikan beberapa anak rambutnya dan menambahkan sedikit lipstik pada bibir yang pada dasarnya sudah berwarna merah itu.
Saat Karina baru beberapa langkah meninggalkan toilet, tiba-tiba saja seorang wanita datang dan menyeretnya dengan cara menarik rambut Karina.
Karina yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba wanita tersebut hanya bisa meronta sambil memegangi tangan wanita yang sedang menarik rambutnya itu, tubuh Karina terseret masuk kembali ke dalam toilet.
Wanita itu melepaskan cengkramannya dari rambut Karina dengan sedikit membantingnya.
Dia tersenyum sinis sambil menepuk-nepuk membersihkan tangannya seolah-olah dia baru saja memegang benda kotor dengan tangannya tersebut.
"Kamu sedang apa di hotel mewah siang-siang begini hah?" tanyanya merendahkan.
"Apa belum cukup dengan kamu menjerat CEO Grahatama Group?" Karina hanya dia menerima tuduhan-tuduhan menjijikkan yang perempuan itu tuduhkan padanya.
"Oh ya... sepertinya dia sudah membuang kamu" dia kembali menghina dengan senyum sinisnya.
"Jangan sampai semakin banyak anak-anak haram yang lahir dari rahim kamu yang bahkan Ibunya sendiri pun tidak mengetahui siapa Ayah dari anak yang dikandungnya" hinanya dengan tidak berperasaan.
Karina mengepalkan tangannya dengan erat, matanya memerah, napasnya memburu dengan gigi yang saling beradu menahan amarah yang sudah di ujung siap untuk di ledakkannya.
"DIAM!" bentak Karina dengan nada sedingin es, Karina mengangkat tangan menunjuk wajah wanita itu, matanya menyiratkan banyak kebencian.
Sudah cukup dia membiarkan orang tersebut menginjak-injak harga dirinya, sudah cukup juga orang itu menghina anaknya sekarang dia tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
PLAKK...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sebelah kanan Karina, Karina yang mendapat tamparan tersebut hanya tersenyum sinis ke arah perempuan itu seolah-olah tamparan tersebut tidak berefek apa-apa bagi Karina.
Wanita itu tidak menghentikan hinaannya.
"Kenapa? kamu tidak terima? faktanya memang begitu Karina, kamu bahkan berpura-pura hilang ingatan disaat kamu bingung yang mana Ayah dari anak yang kamu kandung" lanjutnya.
"ELIZ! saya bilang DIAM!" teriak Karina pada Ibu tiri nya, ya wanita yang menyeret dan menghina Karina itu adalah Eliz, wanita yang telah menghancurkan kedamaian keluarganya dan penyebab sang Ibu harus kehilangan nyawanya.
PLAKK...
"Ini balasan untuk penghinaan yang anak saya terima"
PLAKK...
"Dan ini balasan untuk harga diri saya yang anda injak-injak" ucap Karina usai mendaratkan dua kali tamparan di pipi ibu tirinya.
Entah dari mana kekuatan itu datang, dari dulu Karina tidak pernah meladeni cacian dan hinaan Eliz, karena dia amat sangat menyayangi Ayahnya.
Bagi Karina Ayahnya adalah cinta pertamanya namun sekarang sudah cukup baginya untuk terus mengalah, sekarang Devin adalah segalanya.
Karina pergi begitu saja setelah menghadiahkan tamparan keras untuk Eliz, dia merapikan penampilannya sebelum akhirnya keluar dari dalam toilet.
"Aaaa..." teriak Eliz sambil menghancurkan kaca wastafel yang ada di depannya.
"Anak kurang ajar! lihat saja balasan yang akan kamu terima" teriaknya lagi sambil melempar sepatu heels dua belas cm miliknya ke arah Karina yang dengan anggunnya meninggalkan toilet.
Setelah Karina rasa Eliz tidak melihatnya, dia mengusap dadanya kemudian dia pandangi tangannya yang gemetar setelah menampar Eliz.
Tiba-tiba perhatian Karina teralihkan pada sepasang sepatu hitam yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya.
Mata Karina menyusuri pemilik sepatu tersebut dan sampailah dia pada manik mata hijau yang tengah menetapnya dengan tatapan dingin, dengan kedua tangan berada di saku celananya.
"Da... Daddy..." gugup Karina memanggil nama suaminya.
Fin bergeming.
__ADS_1