Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Tidak mau jadi saksi perpisahan kalian...


__ADS_3

Beberapa Minggu telah berlalu, sejak terakhir kali Fin dan Karina bertemu. Fin benar-benar mengabulkan keinginan Karina untuk bercerai. Dia menandatangani surat cerai yang Karina tinggalkan di rumah Fin.


Sebagai gantinya, Fin meminta Karina untuk menempati rumah yang sudah Fin siapkan untuknya serta mengijinkan dia untuk menemui Devin kapanpun Fin mau. Namun Devin masih enggan bertemu ataupun berbicara dengan Fin. Luka yang Fin torehkan membekas cukup dalam di hati Devin.


Dengan segala luka dan penyesalan, Fin pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Perusahaannya pun, Fin percayakan kepada Raiden, sang adik ipar.


Fin pergi begitu saja. Barang-barangnya pun tidak Fin bawa selain baju yang di pakainya. Barang penting seperti handphone pun, Fin tinggalkan.


#############


"Unuoooo..." Dari dalam kamar mandi terdengar suara Karina yang tengah muntah.


Bi Vina yang memang tinggal bersama Karina bergegas menghampiri keponakannya itu.


"Muntah lagi?" tanya Bi Vina yang tiba-tiba datang dari arah belakang. Dia segera memijat tengkuk Karina dan mengolesinya dengan minyak kayu putih.


Karina menengok sebentar kemudian mengangguk sambil menyeka mulutnya dengan tisu.

__ADS_1


"Apa sebelumnya juga seperti ini?" tanya Bi Vina penasaran. Semenjak Bi Vina tinggal bersama Karina hampir setiap pagi dan malam hari Karina selalu muntah.


Karina menggeleng.


"Sebelumya gak kaya gini, Bi. Hanya sekarang kenapa muntahnya rutin, ya?" bingung Karina sambil bangkit meninggalkan wastafel.


"Apa mungkin gara-gara... " tebak Bi Vina tidak melanjutkan perkataannya.


"Gara-gara apa?" tanya Karina penasaran.


Bi Vina menggeleng.


"Hari ini jadi pergi?" tanya Bi Vina kembali.


"Ya, Bi. Pengacara aku kemarin menelepon kalau hari ini sidang putusan pengadilan. Doakan semuanya lancar, Bi"


"Coba pikirkan kembali Nak. Bibi tidak mau kamu menyesal di kemudian hari," nasehat Bi Vina.

__ADS_1


"Bi, hari ini sidang putusan. Bibi sudah sejak awal bertanya tentang itu. Aku sudah yakin seratus persen dengan keputusan ku. Ini yang terbaik untuk kita semua," jawab Karina dengan percaya diri.


Bi Vina menarik nafasnya dalam. Ingin rasanya dia memberitahu segala masa lalu keponakannya itu. Namun lagi-lagi Fin memintanya untuk diam. Fin sudah berkonsultasi dan membicarakan kondisi Karina dengan Dokter ahli, namun kondisi Karina yang tengah hamil tidak memungkinkan untuk dia mengetahui kebenarannya.


Fakta bahwa semua orang menyembunyikan tentang kebenaran akan membuat Karina hancur dan tidak mempercayai siapapun lagi termasuk Bi Vina. Maka dari itu, Fin lebih memilih mengalah daripada membuat kondisi istrinya lebih terpuruk lagi dengan segala fakta yang baru di ketahui nya.


"Devin ikut?" tanya Bi Vina kembali.


"Ya. Dia berhak tau segalanya. Selain itu, Kakek Bram meminta bertemu dengan Devin. Jadi, pulang dari pengadilan aku ke rumah Kiara dulu," jelas Karina.


"Kalian hati-hati. Minta jemput Pak Deni saja," saran Bi Vina.


"Enggak Bi. Aku sudah bukan bagian dari keluarga Grahatama lagi. Aku menerima rumah ini pun karena Fin terus memaksa," jawab Karina.


"Ya sudah. Kalian hati-hati ya," ucap Bi Vina untuk kesekian kalinya.


"Iya Bibi atau Bibi mau ikut?"

__ADS_1


Bi Vina menarik nafasnya.


"Tidak. Bibi tidak mau jadi saksi perpisahan kalian," jawab Bi Vina dengan wajah sedihnya melihat Karina.


__ADS_2