
Karina, Fin dan Devin keluar dari dalam restoran dan menunggu Pak Deni datang.
"Daddy bisa kembali, sebentar lagi Pak Deni datang!" perintah Karina pada suaminya.
"Daddy ikut sama Mommy saja!" jawab Fin dengan wajah datarnya.
"Ini masih jam kerja, Daddyyyyyy!" gerutu Karina.
"Tenang saja, Mommy. Dengan Daddy meliburkan diri pun, perusahaan tidak akan bangkrut!" jawabnya sombong.
"Bukan gituuuuu..." kesal Karina tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.
"Daddy mau melanggar kebijakan yang Daddy buat sendiri?" lanjut Karina mengingatkan dengan kedua tangan yang dia lipat di atas pinggang.
Bukannya takut, apa yang Karina lakukan justru membuat Fin gemas. Ingin sekali Fin menangkap tubuh mungil istrinya kemudian melabuhkan banyak kecupan di atas bibirnya yang saat ini tengah terlipat menggemaskan. Namun Fin menahannya dan kembali memasang tampang masa bodohnya.
Fin pura-pura tidak mendengarkan omelan istrinya dan sibuk mengeluarkan telepon genggam dari dalam saku celananya. Fin kemudian menghubungi seseorang.
"Vera, e-mail kan semua pekerjaan saya! Saya tidak akan kembali ke kantor!" perintah Fin pada sekertaris nya itu. Tanpa menunggu jawaban dari Vera, Fin langsung mematikan panggilannya.
Fin sudah dapat membayangkan bagaimana Renal akan mengumpatnya kalau tau dia bekerja setengah hari. Sudah pasti pertemuan-pertemuan penting dengan klien, Renal lah yang menghandle nya.
Pak Deni sampai di depan restoran. Dia keluar dari dalam mobil dan mulai membukakan pintu mobil untuk sang Nyonya masuk.
Fin sendiri menempatkan Devin pada car seat dan memastikan keamanan nya.
"Pak, untuk hari ini biar saya saja yang menjadi sopir Ibu. Bapak bisa pulang dengan mobil saya!" ucapnya sambil melemparkan kunci mobil nya pada Pak Deni.
Pak Deni menangkap kunci mobil yang Fin lempar. Kemudian dia membungkuk sebelum akhirnya pergi menuju tempat dimana mobil Fin terparkir.
Fin melajukan mobilnya meninggalkan restoran dan pergi menuju Mall yang sebelumnya akan Karina datangi bersama sang anak.
"Daddy beneran nggak apa-apa meninggalkan kantor di jam seperti ini?" tanya Karina pada suaminya.
"Ckck!" decak Fin dengan mata yang tetap fokus pada jalanan.
"Mom, kalau Daddy bangkrut, Mommy nggak mau sama Daddy lagi?" tanyanya pada sang istri.
"Bukan begituuuu... " kesal Karina.
"Maksud Mommy, kalau Daddy bangkrut, bagaimana dengan nasib karyawan? Mereka semua menggantungkan hidupnya di perusahaan yang Daddy kelola. Berapa ribu karyawan yang harus kehilangan sumber penghidupannya kalau sampai perusahaan Daddy bangkrut?" ucap Karina dengan mata yang menerawang melihat ke arah luar jendela.
__ADS_1
Matanya sendu mengingat masa-masa sulit yang pernah di laluinya beberapa tahun silam, saat dia harus terusir dari segala kemewahannya selama ini.
Fin tersenyum bangga dengan tangan mengusap belakang kepala sang istri. Lihatlah bagaimana istrinya yang selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu.
"Jadi, Mommy mau Daddy kembali ke kantor saja?" tanya Fin pada sang istri.
"Ya sudah! Untuk hari ini saja Daddy bisa menemani kita belanja!" ucapnya dengan bibir yang berkerut. Padahal dalam hatinya Karina bersorak bahagia.
Bagaimana tidak bahagia, ini merupakan momen langka dari seorang Grahatama yang pergi menemani istrinya untuk berbelanja kebutuhan rumah tangganya.
Fin menengok ke belakang, tempat sang anak duduk. Tampak Devin tengah fokus melanjutkan kembali membaca bukunya.
"Baby, apa kamu tidak pusing membaca di dalam mobil?" tanya Fin pada anaknya.
"Tidak!" jawab Devin singkat dia masih tetap fokus pada buku yang ada di tangannya.
"Oh God! Mommy lupa!" Karina menepuk keningnya, kemudian tangannya meraba isi tas untuk mencari telepon genggam nya.
"Kenapa lagi sih?" tanya Fin bingung melihat istrinya yang sibuk sendiri.
"Mommy sudah membuat janji dengan Eca. Mommy kira, Mommy hanya berdua saja sama Devin, makanya Mommy meminta Eca untuk ikut dengan kita," Karina menjelaskan rencana awalnya.
Setelah panggilannya di angkat oleh Eca, Karina menjelaskan semuanya dan meminta maaf atas waktu Eca yang mungkin tersita gara-gara janji yang Karina buat, kemudian Karina juga yang membatalkannya.
Karina membaca tulisan tersebut.
"Nak maaf, Kakek harus pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepada kalian. Ada sesuatu hal yang mengharuskan Kakek untuk pergi secepatnya. Kalau Tuhan mengijinkan, kita pasti akan bertemu kembali walau dalam situasi yang mustahil sekalipun," begitu isi dari pesan yang Kakek yang di titipkan di meja kasir tadi.
Fin yang mendapati istrinya diam sambil membaca pesan yang ditinggalkan Kakek misterius itu, di buat penasaran dengan isinya.
Kebetulan mobil yang Fin kendarai, sudah sampai di depan parkiran Mall yang akan mereka kunjungi.
Karina melepas sabuk pengamannya. Namun saat tangan Karina akan membuka pintu, Fin menahannya.
"Mommy, itu apa?" tanya Fin pada istrinya.
"Ini?" tanya Karina sambil mengangkat secarik kertas yang dipegangnya.
"Nih!" Karina memberikan kertas tersebut pada suaminya.
Fin membaca kata demi kata yang ada di dalam kertas tersebut. Kening Fin berkerut bingung, saat matanya menangkap hal yang tampak tidak asing baginya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Karina takut saat melihat ekspresi tidak biasa dari wajah suaminya.
"Apa ada yang salah?" tanyanya kembali.
"Ini dari siapa?" tanya Fin pada istrinya.
"Dari Kakek Bram, pria tua yang tadi bayarin makan siang Mommy." jawab Karina.
"Kenapa, Dad?" tanya Karina untuk kesekian kalinya.
"Nggak apa-apa! Saat melihat tulisan tangannya, Daddy hanya merasa tidak asing saja." jawab Fin dengan mata yang masih fokus menerawang setiap tulisan yang tercoreng di atas secarik kertas tersebut.
"Hem?" bingung Karina.
"Mungkin beberapa orang memiliki karakter tulisan yang sama!" lanjut Karina.
"Mungkin saja!" acuh Fin, kemudian menyimpan kertas tersebut di atas dashboard mobilnya.
"Terus, siapa Kakek Bram itu?" tanya Fin kembali dan belum membiarkan istrinya untuk keluar dari dalam mobil.
"Ya Tuhan, Daddy! Apa bisa bertanya nya nanti saja saat di dalam Mall?" kesal Karina pada Fin. Menurut Karina, hari ini suaminya terdengar sedikit lebih bawel dari pada hari-hari sebelumnya.
"Nggak Mommy! Jawaban Mommy, menentukan keputusan apa yang akan Daddy ambil. Masuk kedalam Mall atau kembali ke rumah." tegas Fin pada istrinya.
"Kok gitu?" rengek Karina kemudian.
"Ya udah, Mommy tinggal jawab pertanyaan Daddy! Siapa Kakek Bram itu?" tanya Fin kembali pada sang istri.
"Apa Daddy ingat saat Devin hilang tempo hari?" tanya Karina pada suaminya.
"Iya. Kenapa Mommy malah bertanya tentang hal itu? Daddy kan..."
Karina menutup mulut Fin menggunakan tangannya.
"Sssstt... " desis Karina.
"Ckk! Daddy cukup menjawab iya atau tidak! Bukan malah mengomentari pertanyaan, Mommy!"
"Ya sudah! Iya, Daddy ingat!" jawab Fin singkat.
"Nah, Kakek Bram itu, pria tua yang Devin tolong tempo hari." Karina menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Ayo kembali! Ada yang tidak beres dengan Kakek itu!" Fin memberikan keputusan sepihak nya dan bersiap untuk pulang ke rumah.
"DADDY!!" pekik Karina hampir menangis karena kesal.