Nikah Dadakan

Nikah Dadakan
Oh my God!


__ADS_3

Renal berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan lunglai. Dasi sudah dia longgarkan dan jas sudah Renal tanggalkan.


Dia lelah. Pagi hari, Renal harus pergi untuk meninjau proyek ke luar kota, sementara siangnya Renal mengambil alih pekerjaan yang seharusnya menjadi pekerjaan Fin.


Renal menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah apartemennya. Tampak Eca tengah menonton televisi dengan tangan terlipat di atas dada dan kaki yang dia buat menyilang. Tubuhnya sendiri dia sandarkan pada sofa.


"Sore, istri!" sapa Renal pada Eca.


"Sore!" jawab Eca singkat dan terkesan datar dengan fokus yang tidak teralihkan.


Renal tidak sakit hati diperlakukan seperti itu oleh Eca yang notabennya sekarang sudah menjadi istrinya.


Renal cukup tau diri. Dia tidak meminta di perlakukan layaknya seorang suami pada umumnya. Eca bertahan di sisinya pun, Renal sudah sangat bersyukur.


Anggap saja perlakuan Eca saat ini adalah karma dari keburukan Renal di masa lalu. Pikir Renal.


"Kamu nggak jadi pergi?" tanya Renal pada Eca.


Tadi siang, Eca meminta izin untuk keluar rumah. Namun, dia tidak menyebutkan akan pergi kemana. Karena dengan meminta izin padanya pun, Renal sudah merasa sangat di hargai sebagai seorang suami.


Eca mematikan televisi, kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas kursi, lalu melipatnya.


Dia menatap Renal yang tengah menutup mata dan menyandarkan tubuhnya pada badan sofa. Kedua tangan Renal di bukanya lebar. Jas dan tas kerja, Renal letakkan begitu saja di atas lantai.


"Gak. Kak Karina pergi dengan Pak Fin." jawab Eca yang sekarang sudah terbiasa memanggil Karina dengan sebutan Kakak.


"Huuusshh..." Renal menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia membuka mata kemudian menegakkan tubuhnya.


Eca menatap Renal dengan heran. Namun dia tidak berani untuk bertanya.


Renal kembali menjatuhkan tubuhnya. Namun kali ini di atas kaki Eca yang terlipat.


Renal berbaring dengan kaki Eca sebagai bantal nya. Lengannya dia letakan di atas wajah untuk menutupi matanya yang terpejam.


Eca yang awalnya ingin menegur Renal mengurungkan niatnya, setelah melihat gurat kelelahan pada wajah suaminya itu.


"Dia yang bucin, aku yang babak belur!" ucap Renal dengan nada kesalnya.


Eca masih diam. Dia hanya menyimak segala tingkah suaminya.


"Awas saja kalau bulan ini gaji ku nggak ada peningkatan!" ancam Renal dengan kesal.


Eca hanya menyunggingkan senyum sinisnya sambil menggeleng pelan dengan mulut berdecak kencang.


Renal mengangkat lengan yang menutupi wajahnya, kemudian melepaskan dasi yang melilitnya dari pagi.


Matanya menatap Eca yang tengah berdecak.


"Uang nya kan buat kamu, yank!" ucap Renal sambil menekan kedua pipi Eca dari posisinya saat ini. Posisi Renal masih berbaring dengan kepalanya bertumpu pada kaki Eca.


"Iiiihhh..." kesal Eca yang tidak suka di perlakukan manis seperti itu. Namun anehnya, wajah Eca tiba-tiba merona saat mendengar Renal memanggilnya dengan panggilan sayang.


Dering telepon menyelamatkan Eca dari rasa malu. Dia malu kalau sampai Renal tau, Eca merona hanya dengan sedikit rayuan seorang playboy yang sekarang menjadi suaminya itu lontarkan.


Renal belum mengangkat panggilan masuk tersebut. Dia hanya menatap layar ponselnya yang bertuliskan nama si pemanggil.


"Teman laknat".


Siapa lagi kalau bukan Fin.

__ADS_1


Ya, sekejam itu Renal menamainya. Kalau saja Fin tau sudah pasti gaji dan bonus untuk nya tidak akan turun.


"Kenapa tidak di angkat?" tanya Eca pada suaminya.


"Pasti mau meminta hal-hal aneh di luar nalar." tebak Renal sambil berbicara pada telepon genggamnya.


"Ckk, sok tau. Siapa tau Pak Fin mau kasih bonus." jawab Eca asal.


"Gak mungkin, yank. Dia kalau mau kasih bonus gak pake acara telepon-teleponan." jawab Renal sambil bangkit untuk duduk.


"Paling di suruh reservasi buat makan malam dia di Singapura. Dia kan gitu, apa yang gak mungkin buat kita, buat dia semuanya jadi mungkin." lanjut Renal mengira-ngira apa yang jadi alasan Fin menghubunginya.


"Ya elah sok tau banget! Angkat dulu, sana!" perintah Eca sambil melempar bantal sofa ke arah Renal.


Eca bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Renal seorang diri.


Renal tidak mengangkat panggilan Fin. Dia meletakkan begitu saja telepon genggamnya di atas meja.


"Bodo ah." ucap Renal sambil berbaring di atas sofa.


Renal menyalakan televisi dan memilih saluran yang akan di tonton nya. Eca sendiri pergi entah ke mana. Namun, jas dan tas yang Renal letakan secara sembarangan sudah tidak ada di tempatnya semula. Sepertinya Eca membawa dan menyimpannya.


Drrett... drrett...


Telepon genggam milik Renal berdering kembali. Lagi-lagi Fin yang menghubunginya.


"Ckk... Gak suka banget ya lihat orang rebahan!!" maki Renal pada telepon genggam miliknya.


Renal akhirnya menyerah, kemudian mengangkat panggilan Fin.


"Apaaaaaaaa...???" tanya Renal kesal.


"Mana berani hamba melakukan hal tercela seperti itu, Tuan!" jawab Renal merendah.


"Chh," decih Fin kesal mendengar pembelaan Renal.


Sementara di hadapan Renal, Eca tengah menatapnya dengan tatapan mengolok. Dia meletakan sepiring pancake yang masih panas di atas meja untuk Renal makan. Setelahnya, Eca pergi kembali.


Mata Renal berbinar. Hatinya membuncah melihat bentuk perhatian istrinya. Walaupun terkesan dingin dan acuh namun Eca masih memiliki sisi baik dengan bentuk perhatian yang berbeda dari perempuan lain yang pernah Renal kencani.


"Terima kasih, istri!" teriak Renal sambil tersenyum menatap kepergian istrinya.


"Ckk..." Decak Fin kesal yang merasa di abaikan oleh Renal.


"Maaf, Tuan. Ada hal penting apa yang membuat Tuan secara pribadi menghubungi, saya?" tanya Renal formal.


"Renal, aku gak lagi bercanda!"


"Siapa yang bilang kalau Anda bercanda, Tuan?"


"Renal! Serius!!!"


"Okeeee... Kenapa? Ada hal serius apa memangnya, hem?" tanya Renal pada Fin.


"Cari tau tentang keberadaan, Kakek!" perintah Fin.


"Kakek? Memangnya Kakek kemana?" bingung Renal.


"Queen bilang, tadi pagi Kakek datang ke rumah sakit." jelas Fin.

__ADS_1


"Rumah sakit? Kakek pulang ke Indonesia?"


"Ya. Kamu tau kan apa ke khawatiran, ku?" tanya Fin pada sahabatnya itu.


"Oke. Aku cari tau dulu. Apa gak sebaiknya kamu hubungi, dia?" saran Renal pada Fin.


"Bagaimana pun sifatnya, dia Kakek mu satu-satunya." lanjut Renal.


"Endingnya akan sama, Renal. Dia yang keras kepala akan tetap pada pendiriannya." ucap Fin lirih.


"Terus mau mu sekarang gimana? Gak mungkin kan terus-terusan menyembunyikan tentang anak dan istri, mu!"


"Itu biar jadi masalah ku. Kamu cari tau saja, sudah seberapa jauh Kakek mengetahui tentang kehidupan baru ku. Aku yakin selama ini Kakek diam karena tengah merencanakan sesuatu." ucap Fin pada Renal.


"Oke. Aku urus secepat..."


"Kurang ajar! Kebiasaan. Aku belum selesai ngomong, kamu udah main matiin aja." Ucap Renal sambil melempar telepon genggamnya ke atas sofa.


"Ckk... Ckk... Itu bibir udah kaya emak-emak kompleks." ucap Eca yang datang dari arah belakang Renal.


Eca menyimpan cangkir teh milik Renal di samping pancake yang Eca buat tadi. Cangkir teh milik Eca sendiri, dia pegang sambil sesekali menyeruputnya.


"Dan bibir yang kamu bilang seperti bibir emak-emak kompleks ini sudah berhasil membuat kamu memohon untuk..."


Sebuah bantal sofa kembali melayang membentur wajah Renal. Eca menatap Renal dengan tajam.


"Stop!" ucapnya dingin.


Renal mengatupkan kembali mulutnya. Mata dingin Eca membuat Renal ketakutan. Eca kadang memiliki sisi misterius yang tidak bisa Renal tembus.


"Yank. Kakek Bram pulang ke Indonesia. Jadi mulai besok kamu menjaga Karina dan Devin kembali."


"Memangnya dia berbahaya?" tanya Eca.


"Takutnya, Kakek melakukan hal-hal yang tidak di inginkan." terang Renal sambil mengutak-atik telepon genggam miliknya.


Eca mengangguk, memahami apa yang suaminya khawatirkan.


"Kamu tau Kakek Bram, kan?" tanya Renal pada istrinya.


Eca menggeleng. Dia belum pernah bertemu dengan Kakek Bram sebelumnya.


Ting...


Telepon genggam Eca berdenting menandakan ada pesan yang masuk.


Eca mengerutkan keningnya saat dilihatnya sang suami mengirimkannya sebuah foto.


"Kenapa mengirim gambar?" tanya Eca bingung.


"Itu foto Kakek." jawabnya singkat.


Eca membuka pesan yang dikirimkan suaminya. Alangkah terkejutnya Eca saat melihat sosok Kakek Bram tersebut.


Dia melebarkan matanya tidak percaya.


"Ini Kakek Bram?" tanya Eca sedikit memekik.


"Iya, kenapa?" tanya Renal heran.

__ADS_1


"Oh my God!" pekik Eca dengan tangan yang dia simpan di atas kepalanya.


__ADS_2